NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Lampu gantung kristal di lobi mansion bergoyang hebat, memantulkan cahaya redup dari senter taktis para penjaga yang kini saling todong. Suasana begitu mencekam, seolah udara di dalam ruangan itu telah berubah menjadi bensin yang hanya menunggu satu percikan kecil untuk meledak.

​Rangga berdiri di puncak tangga, napasnya memburu. Luka tembak di bahunya yang belum sembuh total kembali berdenyut, mengeluarkan darah yang mulai merembes ke kemeja putihnya. Namun, ia tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Baskara Dirgantara, ayahnya sendiri.

​"Masih menggunakan metode lama, Ayah?" suara Rangga parau, penuh dengan kebencian yang telah mengendap selama bertahun-tahun.

"Membunuh orang kepercayaanku, membawa musuhku kembali... kau benar-benar tidak kreatif."

​Baskara tersenyum tenang. Ia berjalan perlahan menuju sofa di tengah lobi, mengabaikan moncong senjata yang mengarah padanya. Ia duduk dengan santai, sementara Rendi berada di sampingnya, menatap Rangga dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

​"Kreativitas itu untuk seniman, Rangga. Dalam bisnis dan kekuasaan, yang dibutuhkan adalah efektivitas," ujar Baskara sambil merapikan lipatan celananya. "Kau telah gagal. Kau membiarkan emosimu mengaburkan logika. Dirgantara Group bukan tempat bermain untuk pria yang sedang mabuk asmara."

​"Dirgantara Group adalah milikku! Aku yang membangunnya saat kau melarikan diri ke Eropa!" teriak Rangga.

​"Milikmu?" Baskara tertawa rendah. "Semua yang kau punya—darah yang mengalir di tubuhmu, otak yang kau gunakan untuk berpikir, bahkan kegilaan yang kau bangga-banggakan itu—semuanya adalah ciptaanku. Aku adalah pemilikmu, Rangga. Dan sekarang, aku datang untuk mengambil kembali asetku."

​Rendi menyela, suaranya melengking penuh dendam. "Serahkan Alya sekarang, Rangga! Tuan Baskara sudah memutuskan. Alya tidak pantas untukmu. Dia akan dibawa pergi, dan kau akan kembali ke sel isolasi tempat kau seharusnya berada!"

​Mendengar nama Alya disebut, sisi psikopat Rangga meledak. Ia tidak lagi memedulikan taktik. Ia melompat dari tangga, menerjang ke arah Rendi, namun pengawal Baskara dengan cepat menahan tubuhnya. Terjadi baku hantam singkat yang brutal di tengah lobi. Rangga menghajar dua orang pengawal dengan membabi buta, menggunakan sikunya untuk menghancurkan hidung salah satu dari mereka, sebelum akhirnya tiga orang lain menindihnya ke lantai.

​"BAWA DIA KE SINI!" perintah Baskara.

​Di dalam kamar, Alya mendengar suara hantaman dan teriakan Rangga. Jantungnya terasa mau copot. Ia tahu, jika ia hanya diam, Rangga akan mati. Ia melihat ke sekeliling kamar, mencari apa pun yang bisa digunakan. Matanya tertuju pada sebuah botol parfum kaca berat dan gunting kecil yang tadi ia gunakan.

​Alya menarik napas panjang. Ia membuka pintu kamar yang ternyata sudah tidak dikunci (karena sistem keamanan yang diretas Baskara). Ia berlari menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke lobi.

​"HENTIKAN!" teriak Alya.

​Semua orang di lobi mendongak. Rangga yang wajahnya sudah berlumuran darah karena ditekan ke lantai, mencoba mendongak. "Alya! Masuk! Kubilang masuk!"

​Baskara berdiri, menatap Alya dengan pandangan menilai. "Jadi... ini wanita yang membuat putraku kehilangan akal sehatnya. Memang cantik, tapi kecantikan adalah komoditas yang murah di dunia ini."

​Alya menuruni tangga dengan langkah pasti, meskipun kakinya gemetar hebat. Ia berdiri di depan Baskara, hanya berjarak beberapa meter.

"Lepaskan Rangga. Ini urusan kalian, jangan sakiti dia lagi."

​Baskara berjalan mendekati Alya. Ia mengangkat tangan untuk menyentuh dagu Alya, namun Alya menepisnya dengan kasar.

​"Jangan sentuh aku," desis Alya.

​Baskara tertegun sejenak, lalu tertawa. "Keberanian yang menarik. Pantas saja Rangga terobsesi padamu. Tapi ketahuilah, Sayang, keberanian tanpa kekuatan adalah cara tercepat untuk mati."

​Baskara menoleh pada Rendi. "Rendi, kau bilang kau menginginkannya? Ambillah. Dia milikmu sekarang. Anggap ini upahmu karena telah setia."

​Rendi memutar kursi rodanya mendekat, matanya berkilat penuh nafsu dan dendam. "Terima kasih, Tuan Besar. Alya... kemarilah. Mari kita selesaikan apa yang kita mulai di telepon tadi."

​"TIDAK! JANGAN SENTUH DIA!" Rangga meraung, ia meronta dengan kekuatan monster, hingga berhasil melepaskan satu tangannya dan menghantam kepala pengawal yang menahannya.

​Rangga berhasil berdiri, meski tubuhnya penuh luka. Ia menyambar sebuah pisau dekoratif yang dipajang di dinding lobi. Matanya merah, pupilnya mengecil. Ia tidak lagi terlihat seperti manusia. Ia adalah predator yang terpojok.

​"Baskara... kau melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu," bisik Rangga dengan suara yang bukan lagi miliknya.

​Rangga menerjang secepat kilat. Sebelum para pengawal sempat menembak, Rangga sudah berada di depan Rendi. Dengan satu gerakan sadis, ia menusukkan pisau itu ke tangan Rendi yang hendak menyentuh Alya.

​"AAAAARGH!" Rendi menjerit histeris.

​Rangga tidak berhenti. Ia menarik rambut Rendi dan menempelkan pisau itu ke lehernya. "Suruh mereka mundur, atau aku akan memenggal kepalanya di depan matamu, Ayah!"

​Baskara tetap tenang, meskipun para pengawalnya mulai panik. "Kau pikir aku peduli pada nyawa Rendi? Dia hanya alat, Rangga. Bunuh saja dia jika itu membuatmu merasa lebih jantan."

​Rangga tertegun. Kekejaman ayahnya bahkan melampaui kegilaannya sendiri. Di saat itulah, Baskara memberi isyarat pada salah satu penembak jitunya di lantai atas.

​DOR!

​Peluru menghantam paha Rangga. Rangga terjatuh, namun ia tetap memegang pisau itu, mencoba merangkak menuju Alya.

​"Rangga!" Alya berlari memeluk Rangga, mencoba melindungi suaminya dengan tubuhnya sendiri. "Cukup, Tuan Baskara! Cukup! Ambillah perusahaan itu! Ambillah semuanya! Tapi biarkan kami pergi!"

​Baskara berjalan mendekat, menatap pemandangan di bawahnya dengan jijik. "Pergi? Tidak ada yang pergi dari keluarga Dirgantara kecuali dalam peti mati.

Rangga akan kembali ke rumah sakit jiwa di Swiss, tempat yang jauh lebih ketat. Dan kau, Alya... kau akan ikut denganku. Aku butuh sandera agar putraku ini tetap patuh di sana."

​"Kau bukan ayah... kau adalah iblis," bisik Alya.

​"Aku adalah Dirgantara," jawab Baskara dingin.

​Namun, Baskara lupa satu hal. Rangga bukan hanya mewarisi kegilaannya, tapi juga kecerdikannya. Sebelum lampu mansion padam, Rangga telah mengaktifkan protokol darurat yang terhubung langsung dengan Interpol—sebuah kartu as yang ia siapkan jika ayahnya kembali dari Eropa.

​Tiba-tiba, suara helikopter terdengar di atas mansion. Lampu sorot besar menyinari kaca-kaca jendela.

​"POLISI INTERNASIONAL! JANGAN BERGERAK! TEMPAT INI SUDAH DIKEPUNG!"

​Baskara mengerutkan kening. "Apa yang kau lakukan, Rangga?"

​Rangga tersenyum sambil memuntahkan darah. "Aku sudah melaporkan semua transaksi gelapmu di Eropa, Ayah. Aku memberikan mereka semua bukti pencucian uang yang kau lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Jika aku jatuh, kau harus jatuh bersamaku."

​Wajah Baskara yang tadinya tenang kini mulai menunjukkan retakan. "Kau berani mengkhianati keluargamu sendiri?"

​"Keluarga?" Rangga tertawa serak. "Kita tidak pernah punya keluarga. Kita hanya punya neraka."

​Pertempuran pecah. Pasukan elit Interpol merangsek masuk melalui jendela dan pintu. Terjadi baku tembak antara pengawal Baskara dan petugas. Di tengah kekacauan itu, Rendi mencoba melarikan diri dengan kursi rodanya, namun ia terjepit di antara reruntuhan guci besar yang pecah.

​Rangga menggunakan kesempatan itu untuk menarik Alya menuju jalur rahasia di balik perapian. "Alya... pergi dari sini... lewat lorong ini, kau akan sampai di dermaga belakang. Ada kapal kecil di sana. Pergilah!"

​"Tidak tanpa kamu, Rangga!"

​"Aku harus menghentikan pria itu, Alya! Dia akan terus memburu kita jika dia tidak dihentikan malam ini!" Rangga mencium Alya untuk terakhir kalinya—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan. "Pergilah! Aku mencintaimu... dengan caraku yang gila, aku mencintaimu."

​Rangga mendorong Alya masuk ke dalam lorong dan menutup pintu rahasianya. Ia kemudian berbalik, mengambil pistol dari lantai, dan berjalan menuju ayahnya yang sedang dikepung petugas.

Bersambung.....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!