NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Restoran itu bernuansa klasik dengan pencahayaan kuning hangat yang romantis.

Rizal telah memesan meja di sudut yang paling tenang.

Di atas kain taplak meja putih bersih, vas bunga mawar kecil bersanding dengan kotak beludru merah yang sedari tadi ia raba.

Ia merapikan kemejanya berkali-kali, jantungnya bertalu-talu membayangkan senyum Intan saat ia berlutut nanti. Namun, saat pintu kaca restoran terbuka, bukan sosok Intan yang anggun menyapa lembut yang ia lihat.

Intan melangkah masuk dengan gaun pendek yang berani, lengannya menggelayut manja pada lengan Hadi.

Sahabat karib Rizal itu berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan jam tangan mewah yang Rizal tahu takkan pernah terbeli oleh gajinya setahun.

"Intan? Kenapa kamu datang bersama Hadi?" tanya Rizal dengan wajah kebingungan.

Bukannya menjawab, Intan melangkah maju hingga tepat di depan meja.

Tanpa aba-aba, ia meraih gelas air es yang tersedia di atas meja.

BYUR!

Air dingin itu menyiram wajah Rizal, membasahi kemeja rapinya hingga lepek.

Rizal terkesiap, tetesan air jatuh dari ujung hidungnya.

Seluruh pengunjung restoran kini menoleh ke arah mereka.

"Sadar diri, Rizal! Kamu itu lelaki miskin. Apa kamu benar-benar berpikir kalau aku, yang cantik dan kaya raya ini, pantas bersanding dengan pria yang makan siangnya saja harus dikurangi demi sepotong logam kuning ini?"

Intan menyambar kotak beludru dari meja, membukanya, dan tertawa mengejek melihat cincin sederhana di dalamnya.

Hadi tertawa terbahak-bahak, tawanya memenuhi ruangan, menusuk telinga Rizal.

"Kamu itu bodoh, Zal! Selama ini kamu sibuk kerja lembur, Intan bersamaku. Kami sudah melakukan segalanya di belakangmu. Dia mencintaiku, bukan pecundang sepertimu!"

Hadi merampas cincin itu dari tangan Intan, melemparnya ke lantai, lalu dengan sengaja menginjaknya dengan sepatu pantofel mahalnya hingga lingkaran emas itu bengkok tak berbentuk.

"Orang miskin itu cocoknya sama yang miskin. Jangan mimpi ketinggian," hina Hadi sambil meludah ke arah lantai.

Rizal mengepalkan tinjunya, matanya memerah menahan tangis dan amarah yang bergejolak. Harga dirinya hancur berkeping-keping di bawah sepatu sahabatnya sendiri.

"CUKUP!!"

Sebuah teriakan yang penuh otoritas menggelegar dari arah pintu masuk.

Suara itu begitu dingin dan bertenaga hingga Intan dan Hadi seketika terdiam membeku.

Aisyah melangkah masuk dengan wajah sedikit emosi.

Ia berjalan dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menuju singgasananya.

Aisyah berdiri di samping Rizal yang masih basah kuyup.

Tanpa ragu, ia mengeluarkan sapu tangan sutranya dan mengusap wajah Rizal di depan semua orang.

"M-mama? Kenapa Mama di sini?" tanya Intan, suaranya mulai bergetar ketakutan.

Aisyah mengabaikan pertanyaan itu. Ia menatap tajam ke arah Hadi, lalu beralih pada Intan.

"Aku datang untuk melihat bagaimana seorang putri yang kubesarkan dengan kemewahan ternyata memiliki moral yang lebih rendah daripada sampah di jalanan."

Aisyah kemudian menoleh pada Rizal, menggenggam lengan pria yang baru saja dipermalukan seperti itu.

"Rizal, jangan biarkan manusia-manusia dangkal ini menginjak harga dirimu lagi," ucap Aisyah pelan namun tegas. Ia kemudian menatap Intan dan Hadi dengan senyum sinis yang mematikan.

"Intan, mulai detik ini, semua kartu kredit, akses mobil, dan fasilitas atas namamu di bawah kendali perusahaan Papa Taufik semuanya saya bekukan."

Wajah Intan mendadak pucat pasi. "Mama! Mama tidak bisa melakukan itu!"

"Tentu saja Mama bisa, Intan. Apa kamu lupa siapa pengganti papamu sekarang? Siapa CEO pengganti mendiang papa kamu?"

Intan menunduk ketakutan saat mendengar amarah Aisyah.

Aisyah mengambil sapu tangan dan membersihkan wajah Rizal.

Aisyah mengusap sisa air di pipi Rizal dengan gerakan yang sangat tenang, seolah ia sedang membersihkan debu dari sebongkah berlian yang baru saja ditemukan di lumpur.

Keteguhan tangan Aisyah kontras dengan tubuh Rizal yang masih sedikit bergetar karena syok dan amarah yang tertahan.

"Mama! Mama tidak bisa melakukan ini hanya karena si miskin ini!" teriak Intan.

"Aku putri kandung Papa Taufik! Mama hanya orang asing yang beruntung dinikahi Papa!"

Aisyah menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, tatapannya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Intan berdiri.

"Putri kandung?Aisyah terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat berkuasa.

"Kamu itu hanya anak pungut yang diasuh oleh suamiku. Papa Taufik memang menyayangimu, tapi dia tidak buta. Dia tahu kalau kamu hanya bisa menghamburkan uang tanpa tahu cara menghargai manusia. Itulah sebabnya dalam surat wasiatnya, seluruh kendali holding company dan aset pribadi jatuh ke tanganku sampai kau menikah dengan pria yang 'pantas' menurut standar perusahaan."

Wajah Intan yang tadinya merah padam karena amarah, seketika berubah pucat pasi.

Bibirnya bergetar, kata-kata "anak pungut" itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun.

Di sampingnya, Hadi yang tadi tertawa jemawa, kini perlahan melepaskan rangkulannya dari pinggang Intan, seolah takut ikut terseret ke dalam lubang kehancuran.

"Anak pungut?" Intan terbata, matanya berkaca-kaca karena syok.

"Mama bohong! Papa tidak mungkin..."

"Papa Taufik sangat menyayangimu, Intan. Itulah sebabnya dia merahasiakan ini darimu agar kamu tidak merasa rendah diri. Tapi melihat kelakuanmu malam ini, mama menjadi sadar bahwa darah yang mengalir di tubuhmu memang tidak memiliki kehormatan sedikit pun."

Aisyah kemudian berbalik sepenuhnya menghadap Rizal.

Ia menggenggam jemari Rizal yang masih dingin dan basah.

Suasana restoran yang tadinya bising oleh bisik-bisik pengunjung kini hening total, seolah semua orang sedang menahan napas menyaksikan drama tingkat tinggi ini.

"Rizal," panggil Aisyah, suaranya kini melunak namun penuh penekanan.

"Kamu pria yang tulus. Kamu punya integritas yang tidak akan pernah dimiliki oleh pemuda manja seperti Hadi atau wanita tak tahu untung seperti Intan."

Rizal menatap Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ia menarik napas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sempat berserakan di lantai restoran itu.

"Terima kasih, Ma," suara Rizal rendah namun stabil.

Ia tidak lagi menatap Intan, tidak juga melirik Hadi.

Baginya, kedua orang di hadapannya itu kini hanyalah bayangan asing yang tak lagi memiliki tempat di hatinya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Intan yang masih mematung, Rizal berbalik.

Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai porselen, meninggalkan aroma pengkhianatan yang menyesakkan dada.

Ia berjalan keluar, membiarkan angin malam menyapu sisa air es di wajahnya, merasa jauh lebih ringan meski hatinya baru saja patah.

Di dalam restoran, suasana mencekam. Aisyah tetap berdiri dengan anggun, seolah ia adalah satu-satunya orang yang berhak bernapas di sana.

Ia mengangkat tangan kanannya sedikit, memanggil pelayan dengan isyarat jari yang tenang.

"Tagihan meja ini, dan semua kerugian akibat keributan tadi, masukkan ke rekening saya," ujar Aisyah dingin saat pelayan itu datang dengan gemetar.

Setelah urusan pembayaran selesai, Aisyah membuka tas branded-nya.

Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua yang tampak sudah berumur.

Dari dalamnya, ia menarik selembar foto kusam dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan wajah Intan yang pucat.

Di foto itu, terlihat seorang wanita dengan pakaian lusuh sedang menggendong bayi di sebuah pemukiman kumuh, wajah wanita itu sangat mirip dengan Intan, namun tanpa polesan kosmetik mahal.

"Ini ibumu yang sebenarnya, Intan. Seorang pelayan di rumah lama Papa Taufik yang terpaksa menyerahkan bayinya karena kemiskinan," ucap Aisyah, suaranya setajam sembilu.

"Papa Taufik mengadopsimu karena belas kasihan, memberimu nama Baskoro, dan mengangkat derajatmu setinggi langit."

Intan menggeleng histeris, air matanya mulai luruh merusak riasan wajahnya yang mahal.

"Tidak mungkin! Mama bohong! Ini pasti rekayasa!"

Aisyah tidak peduli. Ia memperbaiki letak blazernya dan menatap Intan untuk terakhir kalinya dengan tatapan kosong.

"Mulai detik ini, kamu bukan lagi putri Taufik Baskoro. Nama itu terlalu suci untuk disandang oleh wanita yang tidak tahu cara menghormati ketulusan. Semua fasilitas rumah, mobil, dan pengawal akan ditarik malam ini juga. Silakan cari jalan hidupmu sendiri bersama pria pilihanmu ini."

Aisyah melirik Hadi yang kini tampak ciut dan mulai melangkah mundur, mencoba menjauh dari Intan seolah-olah wanita itu adalah wabah penyakit.

"Selamat menikmati kemiskinan yang selama ini kau hina, Intan."

Dengan gerakan elegan, Aisyah berbalik dan melangkah pergi.

Bunyi langkah sepatu hak tingginya berirama tegas, meninggalkan Intan yang jatuh terduduk di lantai sambil meraung memanggil nama papanya, sementara para pengunjung restoran menatapnya dengan pandangan sinis dan jijik.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!