Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28- Retakan Kecil
Alea masih mematung di tempatnya. Lengannya masih dalam cengkeraman tangan Aksa yang hangat, namun perlahan cengkeraman itu melonggar seiring dengan embusan napas panjang pria itu. Aksa seolah baru sadar kalau tindakannya barusan terlalu impulsif dan mungkin sedikit terlalu intim untuk ukuran pria sedingin dia yang biasanya selalu menjaga jarak aman dari siapa pun.
“Duduk dulu, Al. Aku nggak mau bicara sambil lihat kamu gemetaran kayak mau pingsan gitu,” ucap Aksa. Suaranya nggak lagi bernada perintah dingin seperti biasanya, tapi lebih ke arah permohonan yang tulus.
Alea menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih berantakan. Ia menarik kursi kayu di belakang meja kasir dan duduk dengan kaku, sementara tangannya masih sedikit gemetar. Aksa menarik kursi kecil di depannya, duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat hingga Alea bisa mencium aroma kopi pahit yang kuat bercampur dengan aroma antiseptik rumah sakit yang samar namun tajam.
“ Jadi? Apa alasan mendesak itu sampai kamu hilang empat hari tanpa satu pun huruf yang masuk ke ponselku?” tanya Alea. Nadanya masih dingin, meski api kemarahan yang tadi meledak-ledak kini mulai padam, menyisakan abu kekecewaan yang masih hangat.
Aksa menunduk sebentar, mengusap wajahnya yang terlihat sangat kuyu dengan telapak tangannya. “Malam setelah aku terakhir bertemu kamu di sini, Ibuku kena serangan jantung mendadak. Aku panik, Al. Benar-benar panik yang nggak pernah aku bayangkan sebelumnya.”
Alea tertegun. Kalimat makian yang sudah ia susun rapi di kepalanya mendadak buyar, menguap begitu saja.
“Kenapa... kenapa nggak kasih tahu?”
“Ponselku hancur, Al. Waktu aku lari mengejar ambulans, ponsel itu jatuh di aspal dan terlindas mobil lain di parkiran rumah sakit. Hancur berkeping-keping. Dan bodohnya, di zaman yang serba digital ini, aku nggak hafal nomor siapa-siapa selain nomor kantorku sendiri. Aku benar-benar terputus dari dunia luar selama dua hari di rumah sakit, menunggu Ibu sadar di ruang ICU.”
“Dua hari?” Alea menyipitkan mata, mencoba mencerna informasi itu. “Lalu dua hari sisanya ke mana? Kenapa baru hari kelima kamu muncul?”
Aksa menghela napas berat, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang keras. “Begitu Ibu sudah stabil dan bisa ditinggal, kantorku nggak mau tahu. Ada masalah teknis besar di proyek luar kota yang harus aku bereskan secara langsung hari itu juga. Aku nggak punya pilihan, Al. Aku terbang ke Surabaya saat itu juga, ngurusin masalah lapangan yang berantakan, dan baru bisa mendarat lagi di Jakarta tadi subuh.”
Alea memperhatikan kemeja hitam Aksa yang memang terlihat sangat kusut, dengan beberapa noda yang nggak jelas asalnya, mungkin noda kopi atau debu proyek. Ini bukan Aksa yang biasanya selalu tampil necis, rapi, dan berwibawa seolah baru keluar dari ruang rapat penting.
“Aku baru sempat beli ponsel baru dan urus kartu SIM tadi pagi pas mendarat, Al. Selesai dari situ, aku nggak pulang ke rumah untuk mandi atau ganti baju. Aku langsung ke sini,” tambah Aksa pelan. Matanya yang merah menatap Alea dengan tulus. “Aku tahu aku salah karena nggak nemu cara buat kasih kabar. Tapi sumpah, kamu orang pertama yang aku datangi begitu aku injak Jakarta lagi.”
Alea membuang muka ke arah deretan rak buku fiksi di sampingnya. Rasa marah yang tadi membara sekarang berubah jadi rasa malu yang menggelitik. “Tetap saja, Aksa. Kamu bikin aku ngerasa, aku ini cuma gangguan sepele buat kamu. Aku ngerasa dibuang lagi kayak sampah. Kamu memicu semua hal buruk yang pernah dilakukan Hanif padaku.”
“Al, dengar.” Aksa mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat jarak mereka semakin tipis. “Kalau aku anggap kamu gangguan sepele, aku nggak bakal bela-belain ke sini dalam kondisi kucel begini. Aku cuma mau mastiin lampu gudang itu sudah mati dan kamu, kamu nggak benci aku selamanya.”
Alea menoleh kembali, menatap wajah Aksa yang tampak lebih tirus dari biasanya. Ia baru sadar, pria yang selama ini terlihat seperti robot tanpa celah ini, ternyata bisa retak juga. Sifat perlente yang selama ini jadi pelindungnya seolah runtuh, memperlihatkan sisi manusia yang juga bisa panik, takut, dan kacau.
“Ternyata kamu bisa berantakan juga ya?” sindir Alea pelan, tapi nadanya sudah jauh lebih lembut.
Aksa tersenyum tipis, jenis senyum lelah tapi lega karena melihat Alea tidak lagi mengusirnya. “Aku manusia, Al. Bukan mesin. Maaf kalau selama ini aku terlihat terlalu kaku sampai kamu mikir aku nggak punya perasaan atau sengaja ingin mempermainkanmu.”
“Ya habisnya kamu itu aneh! Datang tiba-tiba, bantu tiba-tiba, terus hilang tiba-tiba. Gimana aku nggak kena trigger?” Alea memainkan ujung bajunya. “Aku pikir kamu sengaja menghilang karena kamu sudah bosan sama aku.”
“Bosan?” Aksa mengernyit, seolah kata itu tidak pernah ada dalam kamusnya kalau sudah urusan dengan Alea. “Aku justru datang ke sini setiap hari karena toko ini satu-satunya tempat yang bikin kepalaku tenang.”
Aksa kemudian teringat sesuatu. Ia meraih kantong plastik yang tadi ditaruhnya di atas meja. “Oh iya, ini…aku beli di dekat bandara tadi. Bubur ayam. Masih hangat. Aku ingat kamu kalau sudah jam begini suka lupa sarapan karena terlalu asyik menata buku.”
Alea menatap mangkuk plastik transparan di dalam kantong itu. Jantungnya mendadak mencelos. Sebenarnya, Alea itu benci bubur. Sejak kecil, tekstur nasi yang lembek dan berair selalu sukses membuat perutnya mual. Namun, melihat tampang Aksa yang sudah kayak orang nggak tidur setahun demi bisa sampai ke sini tepat waktu, Alea nggak sanggup bilang tidak.
“Makasih,” gumam Alea pelan.
“Sama-sama. Dimakan ya, Al? Biar tenaga kamu balik lagi buat mengomel,” goda Aksa.
Alea membuka tutup mangkuk itu dengan tangan sedikit gemetar. Aroma kaldu yang kuat menusuk hidungnya. Ia menelan ludah, menatap gumpalan nasi putih lembek itu dengan ngeri. Ia menyendok sedikit bubur, lalu memasukkannya ke mulut.
“Kok cuma diaduk saja? Masih panas?” tanya Aksa yang memperhatikannya dengan teliti.
Alea menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap mangkuk itu, lalu menatap wajah Aksa. “Aksa...”
“Ya?”
“Sebenarnya... aku itu nggak suka bubur. Sama sekali nggak suka teksturnya.”
Aksa terdiam. Tangannya yang baru saja mau meraih botol air mineral membeku di udara. “Kenapa nggak bilang dari tadi? Kalau tahu gitu, aku bisa cari nasi uduk atau roti tadi di jalan.”
Alea tertawa kecil, melihat ekspresi Aksa yang sedikit patah itu ternyata menghibur. “Ya gimana mau bilang? Kan aku nggak tau kamu mau ke sini, apalagi kamu datang-datang sudah dalam kondisi kacau begitu, terus dengan wajah tulus kasih aku bubur ini sebagai tanda maaf. Mana tega aku menolak pemberian orang yang baru mendarat?”
Aksa menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pangkal hidungnya. “Satu lagi kesalahanku hari ini. Sok tahu soal seleramu.”
“Nggak apa-apa,” sela Alea cepat, ia menyendok sedikit bubur itu lagi dan memasukkannya ke mulut. “Lihat, kan? Aku tetap makan. Ini bentuk apresiasi karena kamu sudah bela-belain memikirkanku di tengah jadwalmu yang gila itu.”
Aksa memperhatikan Alea dengan tatapan melembut. “Jangan dipaksa kalau benar-benar mual, Al. Sini, biar aku saja yang habiskan.”
“Eh, jangan! Ini jatah sarapanku.” Alea menjauhkan mangkuknya sambil sedikit bercanda. “Walaupun aku nggak suka bubur, tapi kalau ini bubur permintaan maaf dari kamu, rasanya jadi… ya, lumayanlah.”
“Lumayan karena lapar atau lumayan karena kasihan lihat aku?” goda Aksa, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Dua-duanya,” jawab Alea jujur, yang kemudian diikuti tawa kecil dari keduanya. Suasana kaku yang menyelimuti toko sejak pagi tadi perlahan mencair sepenuhnya. Rasa sakit hati Alea yang tadinya terasa double, kini sedikit teralihkan oleh semangkuk bubur ayam yang tidak ia sukai.
“Lain kali, tanya dulu ya, Pak CEO,” ucap Alea sambil menunjuk Aksa dengan sendok plastiknya. “Aku lebih suka nasi uduk atau lontong sayur. Ingat, ya?”
Aksa mengangguk pelan, tatapannya lekat pada Alea. “Dicatat. Nasi uduk, bukan bubur. Ternyata memimpin ribuan karyawan jauh lebih mudah daripada menebak selera makananmu.”
Alea bergumam pelan sambil melanjutkan perjuangannya menghabiskan bubur, sementara Aksa berdiri untuk menuju ke gudang guna menyelesaikan misinya. Ada keretakan kecil yang ia lihat dari diri Aksa hari ini, tapi anehnya, keretakan itu justru membuat pria itu terasa lebih nyata dan jauh lebih bisa ia percaya daripada sosok bos besar yang selalu terlihat tanpa celah selama ini.