"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir kehilangan
Suasana hangat penuh haru itu mendadak sirna dalam hitungan detik. Alat monitor jantung di samping ranjang Azeus tiba-tiba berbunyi nyaring, mengeluarkan nada statis yang memekakkan telinga. Garis di layar yang tadinya bergelombang pelan, kini tampak melambat dan hampir datar.
"Den Zeus! Den!" pekik Irwan panik. Ia langsung menghambur keluar pintu, berlari kesetanan di koridor rumah sakit meneriakkan kode darurat.
Kondisi Azeus memburuk drastis. Tubuhnya yang tadi lunglai kini tampak kejang sesaat sebelum akhirnya benar-benar kaku. Napasnya terhenti, dan wajahnya kian memutih, nyaris kebiruan. Ia hampir saja kehilangan nyawanya di depan mata sang Ayah dan Aluna.
"Azeus! Bangun, Nak! Jangan tinggalkan Papa!" Ayah Azeus berteriak histeris, mengguncang bahu putranya dengan tangan gemetar hebat.
Tak lama, pintu terbanting terbuka. Dua dokter berlari masuk diikuti barisan perawat yang mendorong peralatan resusitasi. Salah satunya adalah dr. Gathan. Wajah Gathan yang biasanya sedingin es kini tampak sangat tegang. Ia langsung melompat ke sisi ranjang, melakukan kompresi dada dengan ritme yang cepat dan kuat.
"Siapkan defibrillator! Charge ke 200 joule!" terah Gathan lantang. Keringat mulai bercucuran di dahi dan pelipisnya, membasahi jas putih yang ia kenakan.
Suasana di dalam kamar VVIP RS Pendidikan itu berubah menjadi sangat mencekam. Suara mesin yang menderu, instruksi medis yang saling bersahutan, dan bunyi hantaman listrik pada dada Azeus menciptakan kengerian yang nyata.
Aluna hampir jatuh di lantai, menangis histeris sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat karena takut akan kabar buruk yang mungkin menjemput pria obsesifnya. Ia melihat bagaimana tubuh Azeus terangkat setiap kali Gathan memberikan kejutan listrik, namun layar monitor masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Jangan pergi, Kak... Aku mohon, jangan tinggalkan aku sekarang," isak Aluna parau di sela-sela doanya yang tak terputus.
Gathan terus berjuang, menekan dada Azeus dengan sisa tenaganya, matanya menatap tajam pada layar monitor jantung, berharap sebuah mukjizat muncul di tengah keputusasaan mereka semua.
...
Suasana mencekam di kamar VVIP itu perlahan mereda seiring dengan bunyi beep yang kembali teratur pada monitor jantung. Garis yang tadi hampir datar kini membentuk gelombang ritmis, menandakan jantung Azeus kembali memompa darah ke seluruh tubuhnya.
dr. Gathan menjauh dari ranjang, melepaskan sarung tangan latex-nya yang basah oleh keringat. Wajahnya yang pucat pasi perlahan kembali tenang setelah baru saja seolah berperang dengan malaikat maut demi nyawa sahabatnya sendiri. Gathan mengatur napasnya sejenak, lalu menoleh ke arah Ayah Azeus yang masih gemetar di pojok ruangan.
"Dia sudah stabil, Om. Kita berhasil melewati masa kritisnya," ucap Gathan dengan suara bariton yang serak namun mantap.
Ayah Azeus mendekat dengan sisa tenaga, menatap Gathan penuh harap.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Gath? Kenapa bisa separah ini?"
Gathan menghela napas panjang, menatap Azeus yang baru saja melewati masa kritisnya. Sebagai calon dokter spesialis, ia menjelaskan Kondisi Medis Azeus secara detail:
"Azeus mengalami Gastritis Erosif Hemoragik Akut yang sangat parah. Sederhananya, dinding lambungnya bukan cuma meradang, tapi sudah mengalami pengikisan hebat sampai terjadi perdarahan internal yang luas di dalam saluran cerna. Tadi jantungnya sempat berhenti karena dia mengalami Syok Hipovolemik—tubuhnya kekurangan cairan dan oksigen secara mendadak akibat perdarahan itu, ditambah tekanan darahnya anjlok karena rasa nyeri yang melampaui ambang batas manusia," jelas Gathan tenang namun tegas.
Gathan melirik Aluna yang masih terisak, kembali menatap Ayah Azeus.
"Stres psikologis yang luar biasa dan pola makan yang tidak ada sama sekali selama berminggu-minggu membuat produksi asam lambungnya menjadi racun bagi tubuhnya sendiri. Jika tadi kita terlambat lima menit saja melakukan Resusitasi Jantung Paru (CPR), Azeus tidak akan pernah bangun lagi."
Mendengar penjelasan detail itu, Ayah Azeus hanya bisa terduduk lemas di sofa. Beliau baru sadar bahwa ambisinya membentuk Azeus menjadi pemimpin perusahaan hampir saja membunuh putra tunggalnya.
"Sekarang dia harus menjalani perawatan intensif. Tidak boleh ada tekanan, tidak boleh ada tumpukan berkas, dan yang terpenting..." Gathan melirik Aluna lagi.
"...dia butuh alasan untuk tetap bertahan hidup"
.
Setelah pertarungan antara hidup dan mati itu mereda, dr. Gathan dan tim medis melangkah keluar dengan sisa peluh yang membasahi dahi mereka. Suara mesin Monitor Jantung yang berbunyi ritmis kini menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan kamar VVIP tersebut.
Ayah Azeus duduk kembali di sisi ranjang, bahunya yang biasanya tegap kini tampak lunglai. Ia menggenggam erat tangan Azeus, mengusap punggung tangan putranya yang tertancap jarum infus dengan sisa-sisa jemari yang gemetar. Di matanya, pria gagah yang hampir kehilangan nyawa ini bukan lagi seorang CEO sukses, melainkan bocah 12 tahun yang dulu sering ia abaikan demi ambisi bisnisnya.
"Maafkan Papa, Nak... Papa hampir membunuhmu," bisik sang Ayah parau, menyuarakan penyesalan terdalamnya di hadapan Tuhan.
Aluna, yang sejak tadi terisak di pojok ruangan, berusaha menghapus kasar air matanya. Isakannya masih tersisa, membuat dadanya sesak karena bayangan garis datar di monitor tadi. Saat Ayah Azeus menoleh dan menyuruhnya duduk di kursi sebelah ranjang, Aluna menurut dengan langkah gontai.
Suasana menjadi sangat sunyi dan sakral. Ayah Azeus menatap wajah pucat putranya lama sekali, lalu beralih menatap manik mata Aluna yang sembab.
"Aluna," panggil Ayah Azeus dengan suara rendah yang sangat serius.
"Kamu sudah lihat sendiri betapa hancurnya Azeus tanpa kamu. Dia mencintaimu dengan cara yang salah, dengan obsesi yang bisa membunuh dirinya sendiri seperti ini."
Ayah Azeus menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang mempersiapkan sebuah keputusan besar untuk Masa Depan Keluarga.
"Papa ingin bertanya padamu sekarang. Apa kamu siap jika menikah dengan Azeus? Menikah dengan pria yang mungkin selamanya akan bersikap posesif dan dominan padamu? Dia butuh seseorang yang bisa menjinakkan 'singa' di dalam dirinya, dan Papa tahu cuma kamu yang bisa."
Aluna tertegun. Pertanyaan itu menghantam jantungnya lebih keras dari apa pun. Ia menatap Azeus yang masih terpejam dengan bantuan masker oksigen. pria yang hampir merusak hidungnya karena cemburu, namun juga pria yang hampir mati karena merindukannya.
Di dalam kamar rumah sakit yang sunyi itu, Aluna harus memilih. lari dari cinta yang menyesakkan ini, atau menjadi satu-satunya pelabuhan bagi jiwa Azeus yang haus akan kasih sayang.
.
Gathan melangkah keluar dari unit gawat darurat dengan napas yang masih memburu. Ia segera merogoh ponsel di saku jas putihnya, jemarinya yang masih sedikit gemetar menekan ikon grup WhatsApp mereka. Tanpa buang waktu, ia langsung melakukan panggilan suara grup ke dua sahabat dodolnya, Raka dan Dion.
"Halo! Gath? Tumben lo telepon siang-siang? Lagi suntuk ya di Rumah Sakit?" suara Dion terdengar santai, disusul tawa Raka di latar belakang.
"Azeus kritis," potong Gathan dengan nada dingin yang menusuk.
"Dia baru aja hampir mati di depan mata gue. Jantungnya sempet berhenti karena pendarahan lambung hebat. Kalau kalian masih mau liat muka sombongnya, buruan ke sini sekarang."
Seketika, tawa di seberang telepon mati total. Sunyi yang mencekam menyusul, sebelum akhirnya terdengar suara benda jatuh dan teriakan panik Raka yang menyuruh Dion cepat-cepat menyalakan motor. Gathan mematikan sambungan, ia tahu dua sahabatnya itu pasti akan melesat bagai orang gila membelah kemacetan.
Di dalam kamar VVIP, suasana hening menyelimuti kepedihan. Ayah Azeus perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari pucat Azeus. Ia menyentuh pipinya yang basah, baru menyadari bahwa ia telah menangis sejak tadi. sebuah pemandangan langka bagi pria setangguh dirinya yang biasa memimpin ribuan karyawan di Kantor Pusat.
Beliau menatap Aluna sejenak, memberikan ruang bagi gadis itu untuk menjaga Azeus. Dengan langkah yang terasa berat dan bahu yang sedikit membungkuk, Ayah Azeus memutuskan untuk keluar dari ruangan. Ia tidak ingin putranya atau siapa pun melihat sisi hancurnya lebih lama lagi.
Begitu pintu jati itu tertutup, Irwan yang setia berjaga di lorong langsung berdiri tegak. Ia tertegun melihat sang CEO besar keluar dengan wajah sembab dan mata yang memerah karena duka. Tanpa sepatah kata pun, Irwan merogoh saku jasnya dan memberikan sehelai sapu tangan bersih kepada atasannya.
Ayah Azeus menerima sapu tangan itu, menekan matanya yang perih, lalu bersandar di dinding koridor rumah sakit yang dingin.
"Dia hampir pergi, Irwan... Aku hampir kehilangan satu-satunya alasan aku bekerja selama ini," bisiknya dengan suara serak.
Irwan hanya menunduk, memberikan Dukungan Moral dalam diam. Di koridor yang sunyi itu, sang penguasa bisnis baru saja menyadari bahwa kekayaan setinggi langit pun tak akan mampu membeli kembali nyawa yang sudah di ujung tanduk.