NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: API DI HUTAN

Malam turun cepat di hutan, membawa dingin yang menusuk tulang.

Aldric mendirikan tenda darurat dari ranting-ranting besar dan daun-daun kering—cukup untuk melindungi mereka dari angin malam, tapi tidak dari kelembaban yang merayap dari tanah. Elara terbaring di atas tumpukan daun kering, tubuhnya menggigil hebat meskipun Sera sudah menutupinya dengan jubah kering dari perbekalan Mira.

"Aku bisa lihat lukanya," bisik Sera, menyingkap kain di kaki Elara. Luka di pergelangan kaki—awalnya hanya terkilir—kini bengkak merah keunguan. Garis-garis hitam mulai merambat naik ke betis. "Ini infeksi. Infeksi berat. Dari selokan tadi, mungkin."

Aldric berlutut di sampingnya. Ia meraba dahi Elara—panas. Sangat panas.

"Elara." Ia menepuk pipinya lembut. "Elara, buka mata."

Elara mengerang, matanya terbuka sedikit. Tatapannya kosong, tidak fokus.

"Aldric?" Suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku... dingin..."

"Aku tahu. Sebentar lagi kau akan hangat." Aldric menoleh ke Sera. "Kita butuh air bersih. Dan tanaman obat. Apa kau tahu apa pun yang bisa membantu?"

Sera mengerutkan kening. "Aku bukan tabib. Tapi dulu, di desaku, orang tua menggunakan daun sambang colok untuk luka infeksi. Rasanya pahit, tapi manjur."

"Apa kau tahu bentuknya?"

"Daunnya lebar, uratnya merah. Tumbuh di dekat sungai biasanya."

Aldric mengangguk. "Jaga dia. Aku cari."

"Aldric, malam-malam begini? Hutan ini—"

"Aku tidak peduli." Ia sudah berdiri. "Aku tidak akan biarkan dia mati."

Dari sudut tenda, Ren terbangun. Anak kecil itu mengucek mata, lalu melihat Aldric bersiap pergi.

"Om mau ke mana?"

"Om cari obat buat Tante Elara."

Ren duduk, matanya tiba-tiba berbinar aneh—bukan binar biasa, tapi seperti ada cahaya redup di sana. "Om, teman Ren bilang... Om harus panggil dia."

Sera menoleh. "Teman? Ren, kau mimpi?"

"Bukan mimpi." Ren menggeleng. "Teman Ren baik. Dia temenin Ren sejak di bawah tanah. Dia bilang namanya Varyn. Dia mau bantu Om."

Dunia Aldric berhenti.

Varyn? Varyn bisa muncul dalam mimpi Ren? Tapi Ren bahkan tidak pernah bertemu Varyn secara langsung—ia selalu tidur saat Varyn ada.

"Ren," Aldric berlutut di depan anak itu, "Varyn bilang apa?"

Ren memejamkan mata, seperti mendengarkan sesuatu. Lalu matanya terbuka—dan untuk sesaat, mata itu berubah merah.

"Nak."

Suara itu. Suara Varyn. Keluar dari mulut Ren.

Sera menjerit pelan, mundur terkesiap. Elara terbangun setengah sadar, melihat pemandangan aneh itu. Tapi Aldric justru tersenyum—lega, haru, tak percaya.

"Varyn?"

"Ren anak istimewa," suara itu melanjutkan. "Dia bisa jadi jembatan antara aku dan dunia atas. Aku tidak bisa mengirim avatar lagi—butuh terlalu banyak kekuatan. Tapi melalui dia, aku bisa bicara."

"Kau bisa bantu kami?"

"Bantu? Tentu. Tapi ada harga."

"Apa pun."

"Ren harus tetap bersamamu. Setiap kali kau butuh bicara padaku, kau harus membuatnya tidur. Tapi hati-hati—semakin sering kau gunakan, semakin besar risikonya."

"Risiko apa?"

"Dia bisa kehilangan jiwanya. Tersesat di antara dunia. Atau—" suara itu berhenti, "—aku bisa menguasai tubuhnya selamanya."

Aldric terdiam. Ini risiko besar. Menggunakan anak kecil sebagai alat komunikasi dengan iblis.

Tapi di sampingnya, Elara merintih kesakitan.

"Aku terima," katanya. "Tapi jangan coba-coba ambil alih dia. Jika itu terjadi, aku akan membunuhmu."

Varyn tertawa—tawa Ren, tapi aneh, dalam. "Aku suka ancaman itu. Kau memang murid kesayanganku."

Mata Ren berkedip, kembali normal. Anak itu menggeleng bingung.

"Om? Kok Ren jadi ngantuk?"

"Tidurlah, Nak." Aldric mengusap rambutnya. "Om urus Tante Elara dulu."

Ren mengangguk, merebahkan diri lagi. Dalam hitungan detik, ia tertidur.

Aldric menatap Sera. "Jaga mereka. Aku cari obat."

"Aldric—"

"Aku cepat."

Ia melesat keluar tenda, menghilang dalam gelap.

Hutan malam adalah makhluk hidup yang bernapas.

Pepohonan berbisik, dedaunan bergemerisik, dan di kejauhan, suara serigala melolong panjang. Aldric melesat di antara batang-batang pohon dengan kecepatan iblis, matanya yang tajam menembus gelap. Ia mencari sungai—air mengalir, tempat tumbuhnya tanaman obat.

Baunya samar, tapi cukup. Air.

Ia mengikuti bau itu, melewati semak belukar, melompati batu-batu besar. Akhirnya, sungai kecil muncul di depannya—airnya jernih, berkilau di bawah sinar bulan.

Aldric berjongkok di tepian, mencari daun sambang colok. Lebar, urat merah—ia ingat deskripsi Sera. Matanya menyapu semak-semak di sekitar sungai.

Di sana.

Sekelompok tanaman dengan daun lebar tumbuh di dekat batu besar. Aldric meraihnya, memetik beberapa helai. Tapi saat ia berbalik—

Craak!

Suara ranting patah di belakangnya.

Aldric membeku. Ia menajamkan indra—tiga orang. Mungkin empat. Napas tertahan, langkah hati-hati. Pengejar.

Mereka lebih cepat dari dugaannya.

Aldric merendahkan tubuh, menyatu dengan bayangan. Matanya mengintip lewat celah semak.

Empat penjaga kerajaan—bukan prajurit biasa, ini pasukan elit. Baju besi ringan, pedang terhunus, obor kecil di tangan. Mereka menyisir tepi sungai dengan metode pencarian yang terlatih.

Mereka tahu kita di sekitar sini.

Salah satu penjaga berhenti, mengendus-endus. "Aroma sungai," gumamnya. "Tapi ada bau lain. Manusia."

"Berapa?"

"Tiga—mungkin empat. Termasuk yang terluka."

Pemimpin rombongan—pria dengan luka di wajah—menganggut. "Sebar. Mereka pasti dekat sini."

Aldric menggenggam daun obat di tangannya. Jika ia bertarung, mungkin bisa mengalahkan mereka. Tapi suara pertarungan akan menarik lebih banyak pengejar. Jika ia lari, mereka akan menemukan tenda dan Elara.

Pilihan sulit.

Lalu dari kejauhan, suara lain terdengar—raungan panjang, dalam, menggetarkan hutan.

Para penjaga berhenti. Mereka saling pandang.

"Apa itu?"

"Serigala?"

"Serigala biasa tidak seramai itu."

Raungan kedua—lebih dekat. Dan ketiga. Dan keempat. Tiba-tiba, hutan dipenuhi raungan dari segala arah.

Aldric mengerutkan dahi. Ini bukan serigala biasa. Ini—

Dari balik pepohonan, mata-mata merah mulai bermunculan. Makhluk-makhluk berkaki empat dengan tubuh hitam legam, sebesar serigala tapi dengan tanduk di kepala. Hound of the Abyss—anjing neraka dari dunia bawah.

Varyn.

Iblis tua itu mengirim bantuan.

Para penjaga berteriak, mencoba bertahan. Tapi puluhan anjing neraka menerjang mereka dari segala arah—cakar, taring, kegelapan. Pertarungan sengit berlangsung hanya beberapa menit. Ketika debu turun, tidak ada penjaga yang tersisa.

Hanya mayat-mayat berserakan, dan anjing-anjing neraka yang menatap Aldric dengan hormat.

Salah satu—yang terbesar—mendekat, menundukkan kepala. Dari mulutnya keluar suara Varyn.

"Terima kasihku pada Ren," suara itu bergema. "Tanpa dia, aku tidak bisa mengirim mereka. Sekarang pergilah. Mereka akan memberimu waktu."

Aldric mengangguk, lalu berlari kembali ke tenda.

Saat ia tiba, Elara semakin parah.

Garis hitam di kakinya sudah mencapai lutut. Napasnya tersengal, tidak sadarkan diri. Sera berusaha membersihkan luka dengan air seadanya, tapi tidak banyak membantu.

"Aldric! Kau dapat—" Sera melihat daun di tangannya. "Itu! Cepat tumbuk!"

Aldric menumbuk daun itu dengan batu hingga lumat. Sera mengompreskannya ke luka Elara. Dalam beberapa menit, warna hitam mulai surut—perlahan, tapi nyata.

"Akan sembuh," bisik Sera lega. "Dia akan sembuh."

Aldric duduk di samping Elara, memegang tangannya. Tangan itu dingin, tapi mulai menghangat.

"Terima kasih," katanya pada Sera.

"Jangan berterima kasih. Kita satu tim." Sera tersenyum lelah. "Tapi kita harus pindah. Suara tadi—"

"Aku sudah urus. Sementara ini kita aman."

Sera menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Apa yang kau lakukan di luar tadi?"

Aldric menceritakan tentang anjing neraka, tentang Varyn, tentang Ren yang menjadi jembatan. Sera mendengarkan dengan mata membelalak.

"Jadi Ren... bisa bicara dengan iblis?"

"Tampaknya begitu. Mungkin karena ia lahir di dunia bawah? Atau mungkin memang punya bakat khusus."

"Aku tidak tahu apakah ini berkah atau kutukan."

"Aku juga tidak tahu." Aldric menatap Ren yang tidur nyenyak. "Tapi untuk sekarang, ini keselamatan kita."

Menjelang subuh, Elara sadar.

Ia membuka mata, melihat Aldric duduk di sampingnya, tertidur dengan posisi duduk. Tangannya masih menggenggam erat tangan Elara.

"Aldric..." bisiknya.

Aldric langsung terbangun. "Kau sadar! Bagaimana rasanya?"

"Kakiku... sakit, tapi tidak seperti tadi. Aku—" Ia melihat kompres daun di kakinya. "Kau menyelamatkanku."

"Aku hanya cari daun. Sera yang tahu."

"Tapi kau yang pergi ke hutan malam-malam." Elara tersenyum lemah. "Kau berubah, Aldric. Dulu kau pangeran manja yang takut gelap."

"Aku sudah melewati gelap yang lebih dalam dari hutan ini." Aldric tersenyum tipis. "Gelap di dalam diriku sendiri."

Elara meraih wajahnya. "Apa yang mereka lakukan padamu di bawah sana?"

Aldric diam. Lalu perlahan, ia bercerita. Tentang Varyn, tentang transformasi, tentang harga kemanusiaan yang ia bayar. Elara mendengarkan dengan air mata mengalir.

"Kau mengorbankan dirimu... untuk kembali padaku?"

"Untuk kembali dan membalas. Untuk menyelamatkanmu."

Elara menariknya ke dalam pelukan. "Aku tidak pantas. Aku—"

"Kau pantas. Kau lebih dari pantas." Aldric memeluknya erat. "Kau satu-satunya yang tersisa dari hidupku dulu."

Mereka berpelukan dalam diam, merasakan hangat satu sama lain.

Di sudut tenda, Sera berpura-pura tidak melihat. Ren masih tidur, sesekali tersenyum dalam mimpi.

Fajar merekah di ufuk timur saat mereka keluar dari tenda.

Anjing-anjing neraka masih berjaga di sekeliling—penjaga setia dari dunia bawah. Melihat Aldric, mereka menunduk hormat.

"Kita harus pindah," kata Aldric. "Pengejar mungkin kirim regu baru. Anjing-anjing ini bisa membunuh beberapa, tapi tidak bisa melawan seluruh pasukan."

"Ke mana?" tanya Sera.

Aldric mengeluarkan peta kusut dari dalam jubah—pemberian Mira. "Ada desa kecil di utara. Namanya Oakhaven. Desa itu terpencil, tidak banyak dijaga. Mungkin kita bisa berlindung di sana sementara."

Elara berjalan pincang, tapi lebih baik. "Berapa lama?"

"Tiga hari jalan kaki. Dengan keadaan kita, mungkin empat."

Sera menghela napas. "Perjalanan panjang."

"Tapi kita bisa." Aldric menatap mereka satu per satu. "Kita sudah melewati neraka bersama. Perjalanan ini tidak akan mengalahkan kita."

Ren terbangun, mengucek mata. "Om, Ren lapar."

Aldric tersenyum—senyum kecil, tapi tulus. "Nanti Om cari makanan. Sekarang, kita jalan dulu."

Mereka bersiap, memunguti perbekalan seadanya. Anjing-anjing neraka mulai menghilang satu per satu, kembali ke dunia bawah—tanda bahwa Varyn menarik mereka.

"Selamat tinggal, teman-teman," bisik Ren melambaikan tangan.

Sera dan Elara saling pandang. Anak ini benar-benar istimewa.

Mereka mulai berjalan ke utara, meninggalkan sungai dan tenda darurat. Di belakang mereka, hutan perlahan sunyi—tapi tidak tenang. Karena di balik pepohonan, mata-mata lain mengawasi.

Mata yang bukan milik anjing neraka.

Mata manusia.

Di istana Nivalen, Darius menerima laporan dengan wajah merah padam.

"Regu pertama musnah? SEMUA?"

"Anjing-anjing, Yang Mulia," lapor komandan baru. "Makhluk-makhluk hitam dengan mata merah. Mereka menyerang tanpa ampun."

Darius meremas pegangan singgasana hingga hampir patah. "Apa lagi? Apa lagi yang bisa dilakukan monster itu?"

Dari bayang-bayang, suara Shadow Council terdengar.

"Dia semakin kuat. Semakin banyak ia menggunakan kekuatan iblis, semakin dalam ia terjerumus. Pada akhirnya, ia akan menjadi monster sejati—dan saat itu, ia akan lebih mudah dikendalikan."

Darius menoleh. "Apa maksudmu?"

"Iblis punya kelemahan. Jika ia terus menggunakan kekuatan itu, kemanusiaannya akan habis. Dan saat ia sepenuhnya iblis, ia akan kehilangan kendali. Saat itulah kita bisa menangkapnya."

"Berapa lama?"

"Tergantung seberapa sering ia bertarung. Bisa minggu, bisa bulan."

Darius tersenyum—senyum jahat. "Kalau begitu, kita kejar terus. Buat ia bertarung. Buat ia kehilangan kendali."

"Itu rencana bagus."

Darius bangkit dari singgasana, berjalan ke jendela. Di luar, matahari terbit cerah, tapi hatinya gelap.

"Kau akan jadi milikku, Elara," bisiknya. "Atau tidak sama sekali."

--- BERSAMBUNG KE BAB 16: DESA OAKHAVEN ---

Empat hari perjalanan melewati hutan, sungai, dan bukit. Empat hari kelaparan, kelelahan, dan ketakutan. Tapi akhirnya, di kejauhan, asap mengepul dari cerobong-cerobong kecil—Oakhaven, desa terpencil yang mungkin menjadi tempat berlindung.

Namun saat mereka memasuki desa itu, sambutan yang mereka terima bukanlah keramahan.

Penduduk desa menatap mereka dengan curiga. Di dinding-dinding rumah, poster buronan bergambar wajah Aldric dan Elara terpampang—lengkap dengan hadiah menggiurkan.

"Sepuluh ribu koin emas," bisik seorang petani. "Cukup untuk hidup tujuh turunan."

Aldric merasakan bahaya. Tapi sebelum ia sempat bereaksi, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Pria-pria desa keluar dengan membawa cangkul, sabit, dan pentungan.

"Menyerahlah, monster," kata kepala desa. "Atau kami akan mengantarmu ke istana—dalam keadaan hidup atau mati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!