Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Pintu kelas kembali berderit terbuka, memutus ketegangan yang baru saja mereda antara Hallen dan Julian. Semua pasang mata seketika beralih ke sosok yang muncul di ambang pintu.
Lyana melangkah masuk. Gadis yang biasanya tampil dengan keanggunan yang angkuh dan riasan sempurna itu kini tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu. Lyana masih mengenakan seragam SMA Arcandale yang rapi, namun seragam itu tidak lagi mampu menyembunyikan kehancuran di baliknya. Di lehernya yang jenjang, bekas cengkeraman kuku yang menghitam terlihat jelas, kontras dengan kulitnya yang sepucat salju.
Namun yang paling mengerikan adalah punggung tangannya. Luka sayatan yang tampak kasar seperti dicabik oleh sesuatu yang tajam terlihat meradang. Memar keunguan menjalar hingga ke balik lengan seragamnya, menceritakan sebuah kekerasan yang tidak masuk akal bagi seorang gadis dari keluarga terpandang.
Seluruh kelas mendadak senyap. Suasana hening yang mencekam menyelimuti ruangan, hanya diiringi oleh suara langkah kaki Lyana yang kaku.
Julian yang sejak tadi mematung di dekat jendela, seketika membeku. Buku di tangannya hampir saja terlepas. Napasnya tertahan di tenggorokan. Sebagai seorang Aethern, Julian bisa merasakan sisa-sisa energi gelap yang masih menempel di luka-luka itu. Itu bukan luka biasa. Itu adalah jejak amukan Stefanny.
Julian merasakan dorongan hebat untuk berlari, mencengkeram bahu Lyana dan menuntut penjelasan. Hatinya perih melihat putrinya itu hancur sebagai samsak pelampiasan. Julian tahu persis watak Stefanny, jika eksperimen darah The Constant itu gagal dan Julian yakin bahwa eksperimen itu memang gagal, maka Stefanny akan mencari objek untuk menyalurkan kemurkaannya. Dan Lyana adalah satu-satunya orang yang paling dekat untuk disakiti.
Kenzie yang duduk tak jauh dari sana, merasakan resonansi yang sama. Ia bisa mencium aroma mawar busuk dan darah segar yang menguar dari tubuh Lyana. Rasa bersalah yang aneh menyelinap di dada Kenzie. Kenzie tahu luka-luka itu ada karena darahnya menolak bersatu dengan ramuan Stefanny. Lyana menanggung hukuman atas sesuatu yang bahkan tidak bisa ia kendalikan.
Sementara Hallen yang sebelumnya fokus pada Kenzie, langsung berdiri dengan gerakan kasar hingga kursinya berdecit nyaring di lantai. Wajahnya yang tadinya sedih kini berubah menjadi penuh keterkejutan dan kekhawatiran yang murni.
"Lyana?!" Hallen menghadangnya di tengah kelas. "Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu? Luka-luka ini, siapa yang melakukan ini padamu?"
Hallen mencoba meraih tangan Lyana untuk memeriksa sayatan di punggung tangannya, namun Lyana dengan halus menarik tangannya kembali. Ia menunduk sejenak, membiarkan rambut pirangnya menutupi sebagian luka di lehernya, sebelum akhirnya mendongak dan menampilkan senyuman misteriusnya yang biasa. Senyum yang kini terasa seperti topeng yang retak.
"Aku tidak apa-apa, Hallen." suara Lyana terdengar serak, namun ia berusaha tetap terdengar tenang. "Aku hanya sedikit ceroboh. Aku terjatuh saat mencoba mendaki bukit di belakang mansionku dua hari lalu. Aku tidak sadar kalau medannya sangat licin saat hujan. Itulah mengapa aku tidak masuk sekolah dua hari kemarin."
"Terjatuh?" Hallen bertanya dengan nada tidak percaya. "Luka di lehermu itu tidak terlihat seperti jatuh, Lyana! Itu seperti—"
"Hallen." Lyana memotong, suaranya sedikit lebih tajam namun tetap tenang. Ia menatap Hallen dengan mata yang tampak kosong, seolah-olah jiwanya sedang berada di tempat lain. "Jangan berlebihan. Aku hanya kurang beristirahat. Aku senang melihatmu baik-baik saja dan Kenzie juga."
Lyana melirik sekilas ke arah Kenzie, lalu beralih ke arah Julian yang masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di balik senyumnya, Lyana sedang mengirimkan pesan bisu kepada Julian, Lihat apa yang dilakukan mu padaku!
Julian mengepalkan tangannya di balik buku. Ia ingin berteriak bahwa Lyana pasti berbohong, ia ingin menyeret Lyana keluar dan menyembuhkannya dengan energi Aethern-nya, namun ia teringat pada peringatan Robert semalam. Kota ini sedang bersiap menelan mereka. Jika ia bertindak gegabah sekarang, ia hanya akan mempercepat kehancuran.
Lyana berjalan melewati Hallen yang masih terpaku, lalu duduk di bangkunya yang berada di barisan paling belakang. Ia mengeluarkan buku pelajarannya seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang terjadi, mengabaikan tatapan heran dan ngeri dari teman-teman sekelasnya.
Kenzie bisa merasakan getaran kebencian yang mulai tumbuh di dalam diri Lyana. Bukan kebencian pada Hallen, melainkan kebencian yang terarah pada dua sosok abadi di ruangan itu. Kenzie menyadari bahwa hari ini, topeng-topeng di SMA Arcandale tidak hanya mulai retak, tapi mulai hancur berkeping-keping.
"Hallen, duduklah." bisik Kenzie pelan, menarik ujung jaket Hallen. "Biarkan dia sendiri dulu."
Hallen kembali duduk dengan perlahan, namun matanya terus melirik ke arah Lyana dengan gelisah. Pagi itu, pelajaran dimulai, namun tak ada satu pun dari mereka berempat yang benar-benar mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Mereka semua sedang menunggu kapan badai yang dibawa oleh Seraphine dan Stefanny akan benar-benar menghantam mereka.
...•••...