Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Sang Pemburu dan Jebakan
Semakin dalam Jiang Chen melangkah, semakin tebal kabut di antara pepohonan. Udara menjadi dingin dan berat, dan suara-suara aneh terdengar dari segala arah. Ini adalah wilayah di mana bahkan para pemburu berpengalaman pun akan bergerak dengan sangat hati-hati. Bagi Jiang Chen, ini baru mulai menarik.
Aauuuu!
Sebuah lolongan panjang dan serak memecah keheningan, diikuti oleh beberapa lolongan balasan dari arah yang berbeda.
Jiang Chen berhenti. Matanya menyapu sekeliling. Di dalam bayang-bayang pepohonan, sepasang-sepasang mata hijau menyala mulai muncul. Satu, dua, lima... sepuluh. Dalam sekejap, ia telah dikepung oleh selusin serigala hitam legam seukuran anak sapi. Bulu mereka gelap gulita, dan taring mereka yang meneteskan liur tampak setajam belati.
"Serigala Taring Bayangan," gumam Jiang Chen. Monster tingkat tiga yang terkenal karena kecepatan dan serangan kelompok mereka yang terkoordinasi. Bagi peserta biasa, dikepung oleh selusin serigala ini adalah hukuman mati.
Namun, di mata Jiang Chen, hanya ada sedikit ketertarikan.
Seekor serigala yang sedikit lebih besar dari yang lain, dengan bekas luka di moncongnya—sang alpha—menggeram rendah, dan serentak, seluruh kawanan itu melesat maju. Mereka tidak menyerang secara membabi buta, melainkan bergerak dalam formasi yang cerdas, menutup semua jalur pelarian Jiang Chen.
Jiang Chen tidak bergerak. Tepat saat serigala pertama melompat untuk menerkam lehernya, tubuhnya bergetar.
Langkah Bayangan Berkabut.
Sosoknya langsung menjadi kabur. Serigala itu hanya menggigit udara kosong. Dalam sekejap, Jiang Chen telah muncul kembali di sisi kawanan, tepat di samping sang alpha.
Sang alpha terkejut dan hendak berbalik, tetapi sudah terlambat.
Pukulan Fondasi Agung.
Sebuah pukulan yang tampak sederhana, tanpa Qi yang meledak-ledak, menghantam sisi kepala serigala alpha itu.
KRAKK!
Suara retak tengkorak yang mengerikan terdengar. Sang alpha bahkan tidak sempat melolong saat tubuh besarnya terlempar dan jatuh ke tanah dengan keras, mati seketika.
Kehilangan pemimpin mereka, koordinasi kawanan itu langsung kacau balau. Mereka berhenti sejenak dalam kebingungan. Keheningan singkat itulah yang dibutuhkan Jiang Chen.
Sosoknya melesat ke dalam kawanan yang panik itu seperti hantu kematian. Setiap kali ia melayangkan pukulan, seekor serigala akan jatuh. Ia tidak membuang satu gerakan pun. Setiap pukulannya mendarat di titik vital—mata, leher, atau tengkorak.
Dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh kawanan Serigala Taring Bayangan terbaring mati di lantai hutan.
Jiang Chen berjalan dengan tenang di antara bangkai-bangkai itu, mengeluarkan belati kecil dan dengan terampil mengambil setiap inti monster berwarna hijau dari dahi mereka. Ia menambahkan dua belas inti monster tingkat tiga ke dalam kantongnya. Koleksinya mulai terlihat lumayan.
Ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan ladang pembantaian di belakangnya.
Setelah beberapa saat, ia mendengar suara pertempuran di depan. Penasaran, ia melambat dan mendekat dengan diam-diam. Di sebuah area terbuka kecil, ia melihat pemandangan yang tak terduga.
Hong Mengyao sedang bertarung sengit dengan seekor Babi Hutan Lapis Baja, monster tingkat empat yang terkenal dengan pertahanannya yang luar biasa. Pedang panjang Hong Mengyao menari-nari, meninggalkan jejak cahaya perak di udara. Setiap serangannya cepat dan ganas, menunjukkan bahwa latihannya memang membuahkan hasil.
Namun, pertahanan babi hutan itu terlalu tebal. Setiap tebasan pedangnya hanya meninggalkan goresan dangkal dan percikan api di kulit monster yang sekeras batu itu. Pertarungan itu jelas menguras banyak energinya.
Jiang Chen tidak berniat ikut campur. Ia hanya bersandar di sebatang pohon, menonton dengan santai seolah sedang menonton pertunjukan.
Setelah pertarungan sengit selama hampir sepuluh menit, Hong Mengyao akhirnya menemukan celah. Dengan teriakan keras, ia menusukkan seluruh Qi tingkat limanya ke dalam satu serangan yang ditujukan ke mata babi hutan itu.
Pedangnya berhasil menembus, dan monster raksasa itu meraung kesakitan sebelum akhirnya ambruk.
Hong Mengyao terengah-engah, dahinya dibasahi keringat. Ia bersandar pada pedangnya untuk menopang diri. Saat itulah ia merasakan ada yang mengawasinya. Ia menoleh dengan waspada dan melihat Jiang Chen bersandar di pohon, menatapnya dengan ekspresi datar.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" serunya, campuran antara malu dan marah. Malu karena sisi lelah dan berantakannya terlihat, dan marah karena merasa dimata-matai.
"Hanya lewat," jawab Jiang Chen acuh tak acuh.
"Kau... kau sudah di sana sejak kapan?" tanyanya, merasa semakin terhina.
"Sejak kau mulai membuang-buang energimu dengan menusuk cangkang kura-kura," kata Jiang Chen. Ia kemudian berbalik untuk pergi. "Teknik pedangmu terlalu mencolok, banyak gerakan yang tidak perlu. Kau bisa saja mengalahkannya dalam tiga jurus jika kau menyerang persendian di kaki belakangnya, bukan pelindung kepalanya yang paling tebal."
Setelah memberikan "nasihat" yang lebih mirip kritik pedas itu, ia berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Hong Mengyao membeku di tempat, wajahnya memerah karena marah. "Kau...!"
Ia ingin membalas, tetapi ketika ia memikirkan kembali kata-kata Jiang Chen, ia menyadari bahwa itu benar. Ia memang menghabiskan sebagian besar energinya untuk menyerang bagian yang paling keras dari monster itu. Persendian kaki belakang... kenapa ia tidak memikirkannya?
Perasaan kompleks yang membingungkan kembali menyelimuti hatinya. Pria ini... semakin ia mencoba membencinya, semakin ia menemukan sisi dirinya yang dalam dan tak terduga.
Sementara itu, Jiang Chen terus berjalan lebih dalam, mengikuti jejak samar yang ditinggalkan oleh kelompok Zhang Wei. Ia tahu mereka sedang menunggunya.
Akhirnya, ia tiba di sebuah lembah kecil yang dipenuhi kabut tebal yang aneh. Intuisi bahayanya memberitahunya bahwa ada sesuatu yang salah dengan tempat ini.
"Formasi, ya?" gumamnya dengan senyum tipis. Formasi yang sangat kasar, tetapi cukup untuk menjebak seorang kultivator biasa.
Ia melangkah masuk ke dalam lembah tanpa ragu-ragu.
Begitu ia berada di tengah, pemandangan di sekelilingnya tiba-tiba berubah. Kabut menjadi sangat tebal hingga ia tidak bisa melihat lebih dari satu meter di depannya. Energi spiritual di udara menjadi kacau.
"Jiang Chen! Selamat datang di Kuburan Kabut Beracun!"
Suara Zhang Wei yang penuh kemenangan menggema dari segala arah. Tiba-tiba, dari atas tebing di sekeliling lembah, Zhang Wei dan sepuluh junior elit keluarga Zhang lainnya muncul. Mereka semua berada di tingkat lima, dengan Zhang Wei di tingkat enam.
"Ini adalah formasi yang khusus kami siapkan untukmu," lanjut Zhang Wei dengan tawa jahat. "Kabut ini tidak hanya mengacaukan indra, tetapi juga mengandung racun lambat yang akan melumpuhkan *Qi*-mu. Semakin lama kau di dalam, semakin lemah kau jadinya. Menyerahlah sekarang, dan aku mungkin akan memberimu kematian yang cepat!"
Di belakangnya, para junior keluarga Zhang yang lain menatap Jiang Chen seperti serigala menatap domba yang terperangkap.
Di tengah kabut beracun, dikepung oleh selusin ahli, Jiang Chen hanya berdiri diam. Kemudian, di bawah tatapan bingung mereka, ia tersenyum.
"Hanya ini? Aku sedikit kecewa," katanya. "Formasi yang menyedihkan dan racun tingkat rendah. Kalian benar-benar membuang-buang waktuku."
Dengan satu langkah, ia menghentakkan kakinya ke tanah.
BOOM!
Sebuah gelombang energi yang tak terlihat meledak darinya, bukan ke arah para pengepungnya, tetapi ke tanah di bawah kakinya. Tanah itu retak, dan tiga batu di titik-titik yang berbeda di lembah itu hancur berkeping-keping.
Seketika, kabut tebal yang memenuhi lembah itu mulai menipis dengan cepat, seolah ditiup oleh angin tak terlihat. Formasi Kuburan Kabut Beracun, yang telah mereka siapkan dengan susah payah, hancur hanya dengan satu hentakan kaki.
Senyum kemenangan di wajah Zhang Wei dan para pengikutnya membeku, digantikan oleh kengerian dan ketidakpercayaan mutlak.