NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB II—PELINDUNG

Para burung bersahutan di luar jendela, seakan berlomba menunjukkan siapa yang memiliki suara paling merdu dalam menyambut menyambut pagi. Bunyi alarm ikut memecah suasana, nyaring dan memaksa hari untuk benar-benar dimulai.

Chandra membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa berat, seperti terdapat lem tak kasat mata yang menahannya tetap menempel di ranjang. Perasaan itu selalu datang setiap pagi. Rasa enggan yang sulit dijelaskan, seolah dunia di luar sana menunggunya bukan dengan pelukan, melainkan tatapan tajam dan cemohan.

Ia menatap langit-langit kamar cukup lama, sebelum suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

“Cah Bagus…”panggil ibunya lembut dari luar.

Suara itu selalu punya efek aneh. Beban yang melekat di punggungnya seolah sirna.

“Iya, Bu…Chandra sudah bangun kok,” jawabnya, berusaha terdengar biasa saja.

Ia duduk perlahann, mengusap wajahnya, lalu berjalan membuka pintu. Aroma masakan dari dapur langsung menyambut indera penciumannya. Hangat, akrab dan aneh, tapi aroma itu tak pernah membuatnya bosan. Seolah hanya aroma masakan pagi inilah yang membuat ia merasa masih dapat bernapas tanpa merasa dinilai.

Beberapa menit kemudian, setelah bersiap ia duduk di kursi meja makan. Ia makan seperti biasa dengan lahap dan tenang tanpa suara. Setelah selesai, ia langsung membereskan piringnya sendiri, lalu mengambil tas.

“Assalamualaikum Bu, aku berangkat,” ucapnya sambil mencium tangan ibunya.

“Waalaikumsalam, Nak. Hati-hati di jalan,” jawab sang ibu dengan senyum yang selalu sama hangatnya.

Rutinitas yang begitu sederhana, bahkan terlihat membosankan baginya. Namun hanya momen seperti inilah yang membuat hati Chandra terasa sedikit tenang sebelum harus kembali menghadapi derita dunia luar.

Di depan rumah, mobil sudah menunggu. Surya, pamannya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, paman yang konyol nan tegas. Memiliki badan yang begitu gagah, jika orang pertama kali bertemu denganya akan mengira Surya itu seorang tentara ataupun polisi yang padahal tidak ia hanya seorang pebisnis menengah mewarisi bisnis ayahnya dulu.

Surya melambaikan tangan dari kursi kemudi. Di bagian dalam mobil belakang, Baskara duduk santai dengan lambaian tangan dan senyum yang terlalu khas.

Baskara merupakan anak Surya, dari sudut pandang Chandra, Baskara ialah seorang sepupu atau kakak yang garing dan merepotkan. Kakak yang tak kalah rupawan dengan Chandra, tubuh tinggi dengan otot-otot di dalamnya dan wajah yang elok dengan model rambut french cut. Otaknya juga tak kalah dengan fisiknya. Mungkin adanya kata sempurna dan populer itu karena keberadaan Baskara Suradipa.

Chandra membuka pintu belakang dan duduk di samping Baskara.

“Pagi Mas, pagi Yah.” sapanya singkat tanpa banyak menoleh.

“Pagi, Le.” jawab Surya ramah.

Baskara langsung merangkul pundaknya “Chan, ini masih pagi loh. Senyum dulu kek, mas butuh suntikan hari ini biar mas semangat hehe.”

Chandra menarik sudut bibirnya sekilas. “Ini, sudah kan? Puas?.”

Baskara terkekeh puas. “Nah gitu, mas jadi semangat setelah dapat suntikan senyum darimu hahaha.”

Chandra memalingkan wajah ke arah jendela, menyembunyikan perasaan kecil yang sebenarnya hangat di hatinya. Ia senang diperlakukan seperti itu, hanya saja ia tak pernah tahu bagaimana cara membalasnya.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Surya menepuk kepala mereka satu per satu “Semangat sekolahnya, belajar yang benar. Ini uang saku kalian.”

“Iya Yah.” jawab Baskara cepat.

“Aku nggak mau, Yah.” ucap Chandra pelan.

Keduanya langsung menoleh kaget karena tak percaya.

Chandra menghela napas kecil. “Maksudnya…uang kemarin masih ada.”

Surya tertawa lega. “Ayah kira kamu nggak mau dengar nasihat ayah. Sudah, simpan saja. Kalau kamu nggak ambil, masmu terpaksa juga nggak dapat jatah saku.”

“Lah kok aku kena imbas si yah!” protes Baskara “Chan, terima saja lah sekali-kali pake jajan. Ayolah demi masa depan sakuku plis.”

Mendengar rengekan kakaknya, terpaksa Chandra menerima uang saku itu.

Sebelum mereka berdua turun surya menyisipkan kata “Pulang nanti naik angkutan atau ojek ya, ayah masih ada kerjaan.” ujar Surya sebelum mobil melaju pergi.

Mereka turun dari mobil dan sekarang berdiri di depan gerbang. Murid-murid lain mulai berdatangan.

“Mas…kamu masuk duluan saja,” kata Chandra yang tiba-tiba sambil menundukan kepala “Nanti mas malu bareng aku.”

Baskara berhenti melangkah. “Malu? Kenapa malu Chan?”

Chandra menatap ke tanah hingga dagunya hampir menyentuh dada “Dari dulu mereka lihat aku dengan aneh, tatapan mereka selalu tajam. Aku tahu mas selalu bela aku. Tapi sekarang kita sudah SMA…mas punya urusan sendiri.”

Baskara terdiam sesaat, lalu menepuk pelan kepala adiknya.

“Dengar ya…urusanmu itu urusanku. Urusanku biar jadi urusanku sendiri. Kamu nggak perlu mikirin itu. Aku ini kakakmu. Hal itu nggak akan berubah cuma karena kita naik kelas, dasar bodoh.”

Chandra tak menjawab, akan tetapi ia tak lagi berusaha menjauh.

Mereka masuk bersama. Sepanjang jalan, Baskara mulai bercerita berbagai macam, dari film aneh yang ia tonton semalam sampai manga yang belum sempat ia selesai baca. Ceritanya meloncat ke mana-mana, tak jelas arahnya, tapi cukup untuk membuat Chandra sedikit lupa pada lirikan-lirikan di sekitarnya.

Tiba di depan kelas Chandra, Baskara berhenti.

“Sudah, masuk sana. Nanti mas lanjut ceritanya. Semangat ya.”

Chandra hanya mengangguk kecil tanpa menoleh, lalu masuk kedalam kelas.

Baskara tetap berdiri sebentar, memastikan adiknya benar-benar masuk. Setelah itu ia berbalik menuju kelasnya sendiri, menarik napas dengan pelan ia berkata dalam hatinya.

Sebagai kakak, mungkin aku tak bisa mengubah cara dunia memandangnya. Tapi setidaknya, aku bisa memastikan dirinya tak berjalan sendirian dan aku bisa memastikan dia dapat merasakan sosok kakak yang selalu berada di sisinya. Bukankah itu sudah semestinya yang dilakukan oleh seorang kakak?

Baskara tetap melanjutkan langkahnya menuju ke dalam kelasnya sendiri dan ia melanjutkan perkataannya dalam hati

Aku berharap bukan aku saja yang berada disisinya, aku harap ada orang lain yang mau menerimanya dan selalu berada disisinya saat dirinya senang ataupun susah, satu saja cukup, aku harap suatu saat hal itu datang padanya.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!