Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
.
.
.
Koridor itu akhirnya kembali sunyi.
Setelah percakapan yang terasa terlalu panjang—atau mungkin terlalu singkat—Bella tak benar-benar ingat bagaimana ia bisa sampai memutuskan untuk kembali ke ruang pesta. Yang ia tahu, saat langkahnya berbalik menjauh dari Melvin, ada sesuatu yang tertinggal di belakangnya.
Sesuatu yang terasa… berat.
Seolah-olah sebagian kecil dari dirinya masih berdiri di sana, di bawah cahaya lampu redup koridor itu, menatap mata kelam seorang pria yang terlalu berbahaya untuk dipahami.
Langkah Bella terdengar pelan di lantai marmer, gaunnya bergesekan lembut mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Jantungnya belum sepenuhnya tenang.
Bahkan, semakin ia mencoba mengabaikannya… justru semakin terasa jelas.
Tatapan itu.
Senyuman itu.
Dan cara pria itu berbicara… seolah-olah setiap kata yang keluar bukan sekadar percakapan biasa, melainkan sesuatu yang sengaja diarahkan—tepat padanya.
Bella menghembuskan napas pelan.
“Tenanglah…” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.
Ia menegakkan bahunya, mencoba mengembalikan sikap anggun yang selama ini selalu melekat padanya. Ia adalah Arabella Winston. Seorang wanita bangsawan. Ia tidak boleh terlihat goyah hanya karena satu percakapan dengan seorang pria asing… meskipun pria itu—
Bella menahan pikirannya sendiri.
“Cukup.”
Dengan satu langkah terakhir, ia mendorong pintu besar menuju ruang makan.
Suasana di dalam ruangan itu terasa… berbeda.
Masih sama megahnya.
Lampu-lampu gantung kristal berkilauan di atas kepala para tamu, suara dentingan gelas dan percakapan ringan memenuhi udara, aroma makanan mewah masih menggoda indera.
Namun entah kenapa… semuanya terasa lebih dingin.
Begitu Bella melangkah masuk, beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.
Bukan dengan kekaguman.
Bukan juga dengan sapaan hangat.
Melainkan… bisikan.
Halus.
Pelan.
Namun cukup jelas untuk membuatnya mengerti.
“…itu dia…”
“…benar-benar berani datang…”
“…setelah semua yang terjadi…”
Bella menghentikan langkahnya sejenak.
Dadanya terasa sedikit sesak, tapi wajahnya tetap tenang. Ia sudah terbiasa dengan ini. Sejak penolakannya terhadap Brandon Launster, sejak rumor demi rumor mulai beredar, sejak orang-orang mulai memilih sisi mereka—
Ia tahu ini akan terjadi.
Namun mengetahui… tidak membuatnya lebih mudah.
Bella kembali berjalan.
Setiap langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, tapi ia tidak membiarkan itu terlihat. Kepalanya tetap tegak, dagunya terangkat sedikit, dan matanya lurus ke depan.
Seperti biasa.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun di dalam hatinya…
Ada sesuatu yang mulai retak perlahan.
“Bella!”
Suara ceria itu memecah ketegangan yang menyelimuti dirinya.
Darwin.
Pria itu langsung berdiri dari kursinya saat melihat Bella mendekat, wajahnya menunjukkan kelegaan yang tak bisa disembunyikan.
“Aku mencarimu tadi. Kau menghilang begitu saja.” katanya sambil mendekat.
Bella memaksakan senyum kecil.
“Aku hanya… butuh udara segar sebentar.”
Darwin menatapnya lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya.
“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun entah kenapa, Bella hampir saja menjawab dengan jujur.
Hampir saja.
Tapi ia hanya mengangguk.
“Tentu saja.”
Darwin tidak langsung percaya, tapi ia juga tidak memaksa. Ia hanya menghela napas pelan, lalu menarik kursi untuk Bella.
“Duduklah. Helena tadi menanyakanmu juga.”
Bella mengangguk kecil, lalu duduk di antara mereka.
Helena tersenyum tipis saat melihatnya, meskipun senyum itu tidak sehangat biasanya.
“Kau melewatkan beberapa hal menarik,” katanya ringan.
“Benarkah?” Bella mencoba terdengar santai.
Helena mengangguk, lalu sedikit mendekat.
“Rumor tentangmu… semakin berkembang.”
Kalimat itu diucapkan pelan.
Tapi cukup untuk membuat tangan Bella yang berada di atas meja mengepal perlahan.
“Apa yang mereka katakan sekarang?” tanyanya dengan nada yang tetap tenang.
Helena ragu sejenak.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara lain terdengar dari meja sebelah.
“Oh, kau belum dengar?”
Bella tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara.
Salah satu wanita bangsawan yang dulu cukup sering tersenyum padanya… kini bahkan tidak berusaha menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.
“Mereka bilang… Nona Winston tidak hanya menolak Lord Launster, tapi juga bermain-main dengan beberapa pria lain.”
Tawa kecil terdengar.
“Dan tentu saja… sekarang ia mulai mencari target baru.”
Hening.
Udara di sekitar Bella terasa membeku.
Darwin langsung menoleh tajam ke arah sumber suara itu. “Jaga ucapanmu.”
Wanita itu hanya mengangkat bahu santai.
“Aku hanya menyampaikan apa yang semua orang katakan.”
Bella mengangkat tangannya sedikit, menahan Darwin.
“Sudahlah.”
Suaranya tenang.
Terlalu tenang.
“Tidak perlu dilayani.”
Ia tersenyum tipis, meskipun matanya tidak menunjukkan kehangatan sedikit pun.
“Aku tidak bisa menghentikan orang untuk berbicara, bukan?”
Wanita itu tampak sedikit terkejut dengan respon Bella yang begitu… tenang.
Namun ia hanya mendengus pelan, lalu kembali ke percakapannya sendiri.
Darwin menatap Bella dengan penuh kekhawatiran.
“Kau tidak perlu mendengarkan mereka.”
Bella menatap gelas di depannya.
“Aku tidak.”
Jawaban itu singkat.
Namun di dalam dirinya, ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Karena untuk pertama kalinya… kata-kata itu terasa berbeda.
Biasanya, ia bisa mengabaikannya.
Biasanya, ia tidak peduli.
Tapi sekarang…
Ada satu pikiran yang mengganggunya.
Satu sosok yang tanpa sadar muncul di benaknya.
Melvin.
Apakah dia juga akan mempercayai semua itu?
Apakah pria itu—dengan tatapan tajam dan senyum misteriusnya—akan melihatnya seperti yang mereka katakan?
Bella menelan ludahnya pelan.
Ia tidak suka perasaan ini.
Tidak suka bagaimana satu pria bisa membuatnya mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan.
Di sisi lain ruangan—
Seseorang berdiri dalam bayangan.
Tak jauh dari pilar besar yang membatasi ruang makan dan koridor.
Matanya tertuju pada satu titik.
Bella.
Melvin menyandarkan tubuhnya santai, segelas anggur masih berada di tangannya. Namun sejak tadi… ia bahkan belum benar-benar meminumnya.
Tatapannya tidak berpindah.
Ia melihat semuanya.
Setiap bisikan.
Setiap tatapan sinis.
Setiap kata yang diarahkan pada gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Ia merasa kesal.
Bukan kesal yang biasa.
Bukan kesal yang dingin dan terkendali.
Tapi sesuatu yang lebih… tajam.
Lebih personal.
“…menarik,” gumamnya pelan.
Bibirnya melengkung tipis, tapi matanya tidak tersenyum.
Ia melihat bagaimana Bella tetap duduk dengan anggun.
Bagaimana gadis itu tidak membalas.
Tidak menyerang.
Tidak juga menunjukkan kelemahan.
Seolah-olah semua yang terjadi… tidak menyentuhnya sama sekali.
Namun Melvin tahu.
Ia tahu tatapan itu.
Ia tahu bagaimana seseorang bisa menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan.
Dan entah kenapa…
Hal itu justru membuatnya semakin tertarik.
“Jadi, ini yang kau hadapi setiap hari, hm…”
Ia mengangkat gelasnya sedikit, memperhatikan cairan merah di dalamnya.
“Dan kau masih bisa berdiri dengan kepala tegak seperti itu…”
Senyumnya berubah.
Lebih dalam.
Lebih berbahaya.
“Menarik sekali, Nona Winston.”
Kembali di meja—
Bella akhirnya berdiri.
“Aku butuh sedikit udara.”
Darwin langsung ikut berdiri. “Aku temani—”
“Tidak.”
Bella tersenyum kecil.
“Kali ini… aku ingin sendiri.”
Darwin ragu.
Namun akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah. Tapi jangan terlalu lama.”
Bella mengangguk, lalu berjalan menjauh.
Sekali lagi.
Menjauh dari keramaian.
Menjauh dari bisikan.
Namun kali ini… bukan karena ingin menghindar.
Melainkan karena ia butuh waktu.
Untuk memahami satu hal.
Perasaan ini.
Yang perlahan mulai berubah.
Yang tidak lagi sekadar rasa penasaran.
Dan yang paling berbahaya…
Ia mulai menyadari—
Bahwa pria bernama Melvin Blastorios itu… telah masuk terlalu dalam ke dalam pikirannya.
Tanpa izin.
Tanpa peringatan.
Dan mungkin…
Tanpa jalan keluar.
Di kejauhan—
Sepasang mata masih mengawasinya.
Dan kali ini…
Melvin tidak berniat untuk tetap diam.
cerita nya keren👍👍👍