NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Menantang Maut

Pagi itu, kediaman Bramasta terasa begitu hangat dan damai. Sinar matahari pagi menembus jendela besar kamar Aluna, menyinari wajah gadis itu yang mulai kembali merona. Panas tubuhnya sudah turun, namun kelemasan masih menggelayuti sendi-sendinya. Ia terbangun dalam dekapan Bram yang masih setia menemaninya sepanjang malam.

"Daddy..." gumam Aluna manja, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Bram.

"Sudah merasa lebih baik, Sayang?" suara Bram terdengar rendah dan penuh kasih. Ia mengusap punggung Aluna dengan gerakan protektif.

Aluna mengangguk kecil. Dalam kondisi recovery ini, ingatannya tentang kejadian buruk di kampus terasa kabur, tertutup oleh kenyamanan luar biasa yang diberikan Bram. Ia merasa sangat beruntung memiliki seseorang yang begitu memuja dan menjaganya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa di balik pintu kamar yang tertutup, Anwar sedang menunggu instruksi untuk menghancurkan hidup seseorang.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil dekat kampus, Rio sedang duduk dengan tenang. Di depannya, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan safari—orang-orang suruhan Bram—berdiri dengan tatapan mengancam.

"Dengar, Nak. Ini peringatan terakhir. Ambil uang ini, pindah universitas ke luar kota, dan jangan pernah sebut nama Aluna lagi. Atau, bisnis bengkel ayahmu akan ditutup sore ini karena 'pelanggaran izin' yang tiba-tiba ditemukan," ujar salah satu pria itu sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai dan cek.

Rio menatap amplop itu, lalu beralih menatap kedua pria itu. Alih-alih gemetar atau ketakutan, Rio justru menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Ia menarik napas panjang dan tersenyum—sebuah senyum meremehkan yang sangat tajam.

"Katakan pada bos kalian, Bramasta yang terhormat itu," Rio menjeda kalimatnya, lalu dengan gerakan tenang ia mendorong amplop itu kembali ke tengah meja. "Uangnya terlalu sedikit untuk harga diri seorang manusia. Dan katakan padanya, aku tidak takut pada gertakan preman berseragam jas."

"Kau gila? Kau menantang maut, Rio!" desis pria itu, tangannya mulai mengepal.

"Maut?" Rio terkekeh. "Yang gila adalah pria tua yang mengurung seorang gadis di dalam sangkar emas dan menyebutnya cinta. Aku sudah melihat Aluna menangis karena dia. Dan selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan dia memperlakukan Aluna seperti barang koleksi."

Rio berdiri, menggendong tasnya, dan menatap kedua pria itu dengan sorot mata yang penuh api keberanian. "Silakan hancurkan bengkel ayahku jika itu membuat ego majikan kalian merasa lebih besar. Tapi ingat satu hal: semakin kalian menekan Aluna, semakin dia akan mencari jalan untuk lari. Dan aku akan menjadi jalan itu."

Tanpa menoleh lagi, Rio melangkah pergi. Ia tahu risikonya. Ia tahu ayahnya mungkin akan marah, ia tahu masa depan kuliahnya terancam. Namun, bayangan isakan tangis Aluna di ruang VVIP kemarin memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.

Kembali ke rumah, Aluna mulai mencari sesuatu di bawah bantal dan di dalam saku roknya yang sudah digantung pelayan. Ia ingat ada secarik kertas dari Rio. Ia ingin membacanya kembali untuk memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi saat demam kemarin.

"Cari apa, Sayang?" tanya Bram yang baru saja kembali dari kamar mandi, sudah rapi dengan kemeja kerjanya.

"Kertas... sepertinya ada kertas di saku rokku semalam, Daddy," jawab Aluna jujur, matanya mencari-cari di sekitar nakas.

Bram berjalan mendekat, memeluk Aluna dari belakang dan mencium bahunya yang terbuka. "Kertas? Ah, mungkin itu struk belanja atau brosur kampus yang terbawa. Aku sudah menyuruh pelayan mencuci semua pakaianmu. Mungkin sudah hancur di mesin cuci."

Aluna tertegun. "Hancur?"

"Kenapa? Apa itu penting?" mata Bram menyipit, menatap Aluna melalui cermin besar di depan mereka. Tekanan di pelukan tangannya sedikit mengencang.

Aluna merasakan desiran aneh di dadanya—rasa takut yang mulai muncul kembali. "T-tidak, Daddy. Hanya catatan kuliah biasa."

"Bagus kalau begitu," bisik Bram. "Karena hari ini, aku tidak ingin ada satu pun hal kecil yang mengganggu pemulihanmu. Aku sudah mengatur agar semua dosenmu mengirimkan materi ke email-ku. Kau akan belajar di rumah bersamaku selama beberapa hari ke depan."

Aluna terpaku. Belajar di rumah? Berhari-hari? Itu artinya ia tidak akan bertemu siapa pun. Ia tidak akan bertemu Sarah, dan ia tidak akan pernah tahu apa yang dimaksud Rio dengan "menyelamatkannya".

"Tapi Daddy, aku punya ujian minggu depan..."

"Aku sudah bicara dengan dekan. Kau bisa ujian susulan di sini, dengan pengawas yang aku tunjuk," potong Bram final. Ia memutar tubuh Aluna agar menghadapnya. "Kenapa, Aluna? Kau tidak suka menghabiskan waktu lebih lama dengan Daddy?"

Aluna menatap mata elang Bram yang seolah menguncinya. Di sana ada cinta, tapi juga ada kegelapan yang tak terbatas. Aluna menelan ludah, ia merasa jaring-jaring itu kini menjeratnya lebih kuat dari sebelumnya.

"Aku suka, Daddy... aku hanya..."

"Sshh..." Bram meletakkan jari telunjuknya di bibir Aluna. "Cukup katakan kau mencintaiku, dan semuanya akan baik-baik saja."

"Aku mencintaimu, Daddy," ucap Aluna otomatis, seperti robot yang sudah diprogram.

Bram tersenyum puas. Namun di dalam saku celananya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Anwar masuk: "Target menolak uang dan tantangan tetap berlanjut. Dia mulai memprovokasi kita di depan umum."

Rahang Bram mengeras. Ia merasa terhina, karena untuk pertama kalinya ada manusia yang tidak tunduk akan kekuasaannya.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!