Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Mangsa yang Menjadi Pemburu
Lembah Pedang Patah yang tadinya hening kini dipenuhi suara langkah sepatu bot yang menginjak debu logam. Wang Hu berjalan di depan, tangannya memegang pedang giok yang memancarkan cahaya biru redup. Di belakangnya, dua pengikutnya, Xiao Fang dan pengikut lainnya, tampak waspada namun penuh keserakahan.
"Tunggu," Wang Hu mengangkat tangannya. Ia berhenti tepat di depan tumpukan senjata yang telah diserap oleh Li Chen. "Lihat ini."
Xiao Fang membungkuk, mengambil sebilah pedang yang sudah menjadi rapuh seperti biskuit. Begitu ia menyentuhnya, pedang itu hancur menjadi debu putih di tangannya. "Kakak Senior, ini aneh. Pedang ini tidak hanya berkarat... esensi logamnya benar-benar hilang. Seolah-olah ada sesuatu yang menyedot nyawanya."
Mata Wang Hu menyipit. "Mungkinkah ada Binatang Pemakan Logam yang baru lahir? Jika kita bisa menangkapnya dan menjadikannya peliharaan kontrak, kita akan kaya raya!"
Di balik tumpukan perisai besar yang berjarak hanya lima meter, Li Chen menahan napas. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dikepung. Seni Penelan Bintang tidak hanya mengubah energinya, tapi juga mendinginkan emosinya menjadi sedingin es.
Tiga orang. Wang Hu di Tahap 4 Pembersihan Sumsum. Dua lainnya di Tahap 6 Pengumpulan Qi. Secara logika, aku kalah jauh, pikir Li Chen.
Namun, ia merasakan dorongan dari pusaran hitam di perutnya. Energi dari Serigala Taring Besi yang ia serap tadi masih mendidih, meminta untuk dilepaskan. Li Chen memegang gagang pedang patah yang ia temukan. Dengan satu pikiran, ia mengalirkan sedikit Qi hitamnya ke dalam besi tua itu. Logam berkarat itu mulai bergetar, memancarkan aura hitam yang tipis dan tajam.
"Siapa di sana?!" Wang Hu berteriak, merasakan fluktuasi energi yang tiba-tiba.
Li Chen tidak menunggu. Ia melompat keluar dari persembunyiannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang pelayan.
"Li Chen?!" Wang Hu terkejut sejenak, namun keterkejutannya dengan cepat berubah menjadi seringai kejam. "Sampah? Jadi kau yang bersembunyi di sini? Dan apa itu... kau memegang sampah logam?"
"Kakak Senior, lihat matanya!" teriak Xiao Fang.
Mata Li Chen saat ini tidak lagi hitam kecokelatan, melainkan memiliki pusaran merah gelap yang berkilat di tengah kegelapan pupilnya. Sebelum mereka bisa bereaksi lebih lanjut, Li Chen sudah berada di depan Xiao Fang.
"Terlalu lambat," bisik Li Chen.
Ia mengayunkan gagang pedang patah itu. Meskipun tidak memiliki bilah yang utuh, aura hitam yang memanjang dari logam itu menebas seperti silet.
CRAAK!
Baju zirah kulit Xiao Fang robek seperti kertas. Ia terlempar ke belakang, dadanya terbuka lebar dengan luka hitam yang tidak mengeluarkan darah, melainkan mengeluarkan asap tipis. Xiao Fang berteriak, bukan karena luka fisiknya, tapi karena ia merasakan Qi-nya sendiri sedang disedot keluar melalui luka tersebut.
"Apa yang kau lakukan?!" Wang Hu murka. Ia menghunuskan pedang gioknya. "Kau berlatih ilmu hitam! Kau mengkhianati sekte!"
"Sekte yang membiarkanku mati kedinginan? Sekte yang membiarkanmu menginjakku setiap hari?" Li Chen tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan dalam. "Jika ini ilmu hitam, maka aku akan menjadi kegelapan yang menelan kalian semua."
Wang Hu menyerang. Sebagai murid Tahap 4 Pembersihan Sumsum, kekuatannya jauh di atas Li Chen secara kuantitas. Pedang gioknya memancarkan Teknik Pedang Azure, menciptakan gelombang tekanan udara yang bisa membelah batu.
KLANG!
Li Chen menangkis serangan itu dengan pedang patahnya. Benturan itu menciptakan percikan api hitam dan biru. Li Chen tergelincir mundur beberapa meter, tangannya mati rasa, namun ia justru tersenyum lebar.
"Pedangmu... rasanya sangat lezat," ujar Li Chen.
Saat pedang mereka bersentuhan, Seni Penelan Bintang bekerja secara otomatis. Melalui titik kontak pedang, Li Chen mulai menarik energi dari pedang giok milik Wang Hu. Pedang giok yang tadinya bersinar terang mulai meredup, retakan kecil mulai muncul di permukaannya.
Wang Hu panik. Ia merasakan senjatanya—yang ia beli dengan ribuan batu energi—sedang sekarat. "Lepaskan! Dasar iblis!"
Ia menendang dada Li Chen, mengirim pemuda itu berguling di tanah. Wang Hu tidak memberi kesempatan; ia melompat ke udara, memegang pedangnya dengan kedua tangan untuk serangan penghancur.
"Mati kau, sampah!"
Li Chen berguling dan bangkit dengan satu lutut. Ia tahu ia tidak bisa menahan serangan ini secara langsung. Di saat kritis itu, suara Kaisar Pedang kembali bergema di kepalanya.
"Jangan menahan serangannya. Telan serangannya. Tubuhmu adalah lubang tanpa dasar."
Li Chen melepaskan pedang patahnya. Ia berdiri dengan tangan terbuka, membiarkan dadanya terekspos sepenuhnya terhadap tebasan pedang Wang Hu.
"Dia sudah gila!" teriak pengikut Wang Hu yang tersisa.
BUM!
Pedang giok itu menghantam tepat di tengah dada Li Chen. Ledakan energi biru terjadi, menciptakan kawah kecil di bawah kaki mereka. Namun, tidak ada suara tulang patah. Tidak ada darah yang menyembur.
Wang Hu membelalakkan mata. Ujung pedangnya tertahan di kulit dada Li Chen, tertutup oleh lapisan kabut hitam yang sangat pekat. Ia merasa seolah-olah sedang menghujamkan pedangnya ke dalam rawa yang tak berdasar. Energi dari serangannya tidak meledak, melainkan tersedot masuk ke dalam tubuh Li Chen.
"Terima kasih atas energinya, Kakak Senior," ucap Li Chen pelan.
Wajah Li Chen memerah, pembuluh darah di lehernya menonjol saat ia memproses energi besar dari seorang kultivator Pembersihan Sumsum. Dengan satu raungan, ia meledakkan energi itu kembali keluar melalui telapak tangannya.
"Telapak Penelan Surga!"
DUARRR!
Wang Hu terpental seperti peluru meriam, menghantam dinding tebing lembah hingga retak. Pedang gioknya hancur berkeping-keping, kehilangan seluruh energinya. Ia jatuh ke tanah, terbatuk darah, wajahnya pucat pasi. Seluruh kultivasi yang ia bangun selama bertahun-tahun terasa goyah, seolah-olah fondasinya baru saja dicuri.
Li Chen berjalan mendekat dengan langkah berat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang terbakar di salju.
"Jangan... jangan bunuh aku..." rintih Wang Hu, harga dirinya hancur berkeping-keping bersama pedangnya. "Ayahku adalah Penatua di Aula Logistik... Jika kau membunuhku, kau tidak akan selamat..."
Li Chen berhenti di depan Wang Hu. Ia menatap ke bawah, memandang pria yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Rasa lapar di Dantiannya berbisik untuk menghisap habis sisa kultivasi Wang Hu, untuk mengubahnya menjadi mayat kering.
Namun, Li Chen menahan diri. Bukan karena belas kasihan, tapi karena ia mendengar suara langkah kaki lain yang lebih berat mendekat ke arah lembah. Patroli sekte yang sebenarnya telah tiba karena kebisingan pertarungan ini.
"Membunuhmu sekarang terlalu mudah," bisik Li Chen di telinga Wang Hu. "Aku ingin kau melihatku naik ke puncak. Aku ingin kau merasakan ketakutan setiap kali kau melihat bayanganku."
Li Chen mengambil potongan pedang giok yang hancur—sisa-sisa energi di dalamnya masih cukup berharga—dan dengan cepat menghilang ke dalam hutan lebat sebelum murid patroli mencapai lokasi.
Beberapa menit kemudian, beberapa murid berpakaian putih mendarat di lembah. Mereka menemukan Xiao Fang yang pingsan dan Wang Hu yang gemetar ketakutan di samping tumpukan debu logam.
"Apa yang terjadi di sini?!" teriak salah satu murid patroli.
Wang Hu hanya bisa menunjuk ke arah hutan, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Di dalam pikirannya, ia hanya melihat sepasang mata merah yang haus darah.
Sementara itu, jauh di dalam gua tersembunyi di tengah hutan, Li Chen duduk bersila. Ia memuntahkan seteguk darah hitam—reaksi karena menyerap energi yang terlalu besar bagi tubuhnya saat ini. Namun, aura di sekitarnya semakin kuat.
Ia menatap liontin hitamnya yang kini bersinar dengan urat-urat merah yang halus.
"Lembah Pedang Patah hanyalah permulaan," gumamnya. "Dunia ini luas, dan ada begitu banyak energi yang menunggu untuk kutelan."
Ia tahu, mulai besok, ia tidak bisa lagi bersembunyi sebagai pelayan biasa. Ia telah menunjukkan taringnya, dan segera, seluruh Sekte Pedang Azure akan tahu bahwa sampah yang mereka buang telah kembali sebagai monster.