NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan Tak Bernama

Universitas Nusantara pagi itu terasa lebih bising dari biasanya. Bukan karena suara mesin kendaraan atau musik dari kantin, melainkan karena getaran halus dari ribuan bisikan yang merambat di sepanjang koridor fakultas. Bagi Leah Ramiro, setiap langkah yang ia ambil terasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca.

Ia menundukkan kepala, membiarkan rambut hitamnya menutupi sebagian wajahnya. Namun, telinganya tidak bisa berbohong.

"Lihat, itu dia," bisik seorang mahasiswi di dekat loker, suaranya cukup keras untuk menembus keheningan yang Leah coba ciptakan. "Katanya dia sengaja 'menjual diri' ke Jeff Chevalier supaya perusahaan kakaknya tidak bangkrut."

"Benarkah? Wah, aku kira dia tipe gadis yang berkelas. Ternyata cuma piala bergilir untuk orang kaya," sahut temannya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti derit pintu tua yang berkarat.

Leah mencengkeram tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Piala bergilir. Menjual diri. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti pusaran air yang menyesakkan. Ia ingin berhenti, berbalik, dan meneriakkan kebenaran—bahwa ia adalah sandera, bukan sukarelawan. Bahwa ia sedang mengorbankan jiwanya demi ribuan orang yang bahkan tidak ia kenal. Namun, ia tahu itu sia-sia. Di dunia ini, gosip yang skandal jauh lebih menarik daripada kebenaran yang tragis.

Di belakangnya, dengan jarak lima meter yang konsisten, Denzel berjalan dengan langkah yang tenang namun penuh kewaspadaan. Ia mendengar semuanya. Setiap bisikan, setiap tawa sinis, dan setiap kata hinaan yang ditujukan pada Leah.

Denzel merasakan amarah yang membara di balik dadanya, sejenis kemarahan yang bisa membuat seorang pria melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Ia ingin sekali menghampiri sekumpulan mahasiswa itu, mencengkeram kerah baju mereka, dan memaksa mereka menelan kembali kata-kata kotor itu. Namun, ia tidak bisa. Ia mengenakan topeng asisten yang kaku. Dan lebih dari itu, ia memiliki Seraphina yang berjalan di sampingnya.

"Denzel, kau dengar itu?" tanya Seraphina, suaranya mengandung nada cemas sekaligus penasaran. "Orang-orang membicarakan Leah dan Jeff. Mereka bilang... hubungan mereka hanya untuk uang. Apa itu benar?"

Denzel tidak menoleh. Matanya tetap terkunci pada punggung Leah yang tampak rapuh di kejauhan. "Orang-orang selalu bicara tentang hal yang tidak mereka pahami, Sera. Jangan dengarkan mereka."

"Tapi Jeff sering sekali datang ke sini sekarang. Dia membawa bunga, dia membawa pengawal... itu memang terlihat seperti dia sedang menandai wilayahnya," lanjut Seraphina. Ada kilatan rasa tidak nyaman di matanya. Sebagai teman Leah, ia merasa kasihan, namun sebagai kekasih Denzel, ia merasa ada sesuatu yang tidak sinkron dalam cara Denzel bereaksi terhadap gosip ini.

Denzel berhenti sejenak. Ia menatap Seraphina dengan tatapan yang sangat tajam, hingga gadis itu tersentak. "Sera, jika kau benar-benar menganggap Leah temanmu, kau seharusnya tidak ikut menyebarkan bisikan tak bernama ini. Leah sedang melalui masa yang sulit."

Seraphina terdiam, wajahnya memerah karena malu. "Maaf, Denzel. Aku tidak bermaksud begitu."

Mereka sampai di depan aula besar tempat kelas makroekonomi akan dimulai. Leah sudah duduk di barisan paling pojok, mencoba menghilang di antara bayang-bayang. Namun, bangku di sekitarnya sengaja dikosongkan oleh mahasiswa lain, seolah-olah ia memiliki penyakit menular.

Denzel berdiri di pintu masuk, memantau ruangan itu. Ia melihat Jeff Chevalier masuk dengan gaya angkuhnya. Jeff tidak menuju ke bangkunya sendiri; ia langsung menghampiri Leah, meletakkan tangannya di sandaran kursi Leah, dan membungkuk untuk membisikkan sesuatu.

Dari kejauhan, itu terlihat seperti interaksi pasangan yang intim. Namun Denzel tahu, dari cara bahu Leah yang mendadak kaku, bahwa Jeff sedang memberikan tekanan psikologis.

"Lihatlah mereka," bisik seorang mahasiswa pria di barisan depan. "Leah benar-benar tahu cara mengamankan masa depannya. Dari asisten pribadi ke pewaris takhta Chevalier. Hebat sekali taktiknya."

Denzel mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia berjalan masuk ke dalam aula, melewati barisan mahasiswa itu. Saat ia melewati pria yang baru saja bicara, Denzel sengaja menyenggol bahunya dengan cukup keras hingga pria itu hampir terjatuh dari kursi.

"Hei! Apa-apaan kau?" teriak mahasiswa itu.

Denzel berhenti, berbalik, dan menatap pria itu dengan tatapan predator yang sedang mengunci mangsanya. "Maaf. Lantainya licin, sama seperti mulutmu."

Suasana aula mendadak hening. Kehadiran Denzel yang biasanya tenang kini memancarkan aura ancaman yang sangat nyata. Mahasiswa itu menelan ludah, melihat otot-otot di leher Denzel yang menegang, dan memutuskan untuk diam.

Denzel melanjutkan langkahnya menuju tempat duduk di belakang Seraphina, namun matanya tetap tertuju pada Leah. Ia melihat Leah menoleh sekilas ke arahnya. Ada rasa terima kasih yang singkat di mata gadis itu, namun segera digantikan oleh kepedihan saat ia melihat Denzel duduk di samping Seraphina.

Sepanjang jam kuliah, bisikan-bisikan itu tidak berhenti. Mereka seperti dengung lebah yang tidak terlihat namun terus menyengat. Gosip itu mulai berkembang; ada yang bilang Leah sudah bertunangan secara rahasia, ada yang bilang keluarga Ramiro sedang dalam proses penggabungan paksa dengan Chevalier, dan yang paling menyakitkan, ada yang mulai membandingkan Leah dengan ibunya—mengatakan bahwa sifat "penggoda" itu turun-temurun.

Leah mencoret-coret bukunya dengan kasar. Ia merasa ingin berteriak. Ia merasa ingin lari keluar dari ruangan itu, naik ke atap gedung, dan melompat agar semua kebisingan ini berakhir. Namun, ia melihat bayangan Denzel di sudut matanya. Pria itu tetap di sana, menjaga pintu, menjaga koridor, menjaga dirinya dengan cara yang paling sunyi yang ia bisa.

Selesai kuliah, Leah segera berlari keluar. Ia tidak ingin bicara dengan siapa pun. Namun, di koridor luar, ia dihadang oleh sekelompok gadis dari fakultas hukum yang terkenal suka bergosip.

"Wah, sang putri sedang terburu-buru," ucap salah satu dari mereka, menghadang jalan Leah. "Ingin menemui 'investor'-mu, ya? Berapa harga satu malam bersamamu sekarang, Leah? Mungkin kami bisa mengumpulkan uang saku kami untuk menyewamu sebagai tutor."

Tawa pecah di koridor itu. Leah terpaku, wajahnya memucat pasi. Ia merasa seluruh kekuatannya menguap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak punya jawaban. Ia merasa benar-benar hancur.

Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menyelimuti Leah. Denzel sudah berdiri di sana, tepat di depan gadis-gadis itu. Ia tidak berteriak. Ia tidak memaki. Ia hanya menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang begitu dingin hingga suhu di koridor itu seolah turun beberapa derajat.

"Nona-nona," suara Denzel rendah namun bergetar karena amarah yang ditahan. "Gelar hukum yang sedang kalian kejar seharusnya mengajarkan tentang pencemaran nama baik. Jika saya mendengar satu kata lagi yang keluar dari mulut kalian tentang Nona Ramiro, saya pastikan tim pengacara keluarga Ramiro akan memberikan kalian pelajaran yang tidak akan pernah kalian lupakan di ruang sidang."

Gadis-gadis itu terdiam, ketakutan melihat intensitas di mata Denzel. Mereka segera menyingkir, bergumam tidak jelas, dan menghilang di antara kerumunan.

Denzel berbalik ke arah Leah. Untuk sesaat, topeng asistennya retak. Ia ingin meraih tangan Leah, ingin menariknya ke dalam pelukannya dan mengatakan bahwa ia akan menghancurkan siapa pun yang menyakiti Leah. Namun, ia melihat Seraphina mendekat dari kejauhan.

"Pergilah, Leah," bisik Denzel, suaranya parau. "Masuk ke mobil. Aku akan menyusul setelah mengantar Sera."

Leah menatap Denzel dengan mata yang basah. "Kenapa kau masih melakukan ini, Denzel? Biarkan saja mereka. Biarkan aku hancur sekalian."

"Karena tugas saya belum selesai, Leah," jawab Denzel, kembali ke nada datarnya yang menyiksa. "Dan karena saya tidak akan membiarkan siapa pun mengotori apa yang saya lindungi dengan nyawa saya."

Leah berlari menuju parkiran, hatinya hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa bisikan tak bernama itu memang menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa satu-satunya pria yang membelanya adalah pria yang tidak bisa lagi ia miliki.

Denzel berdiri di koridor yang mulai sepi, menatap ke arah Leah pergi. Ia merasakan beban kekhawatiran yang luar biasa. Gosip ini bukan hanya sekadar bicara kosong; ini adalah serangan sistematis terhadap mental Leah. Dan ia tahu, Jeff Chevalier pasti ada di balik penyebaran rumor ini—sebuah taktik untuk membuat Leah merasa terisolasi dari dunia luar sehingga hanya Jeff yang menjadi satu-satunya tempatnya berpijak.

"Kau bermain kotor, Jeff," gumam Denzel, matanya berkilat penuh dendam. "Tapi kau lupa satu hal. Bayangan tidak pernah takut pada kegelapan."

Malam itu, bisikan-bisikan itu terus menghantui Leah dalam tidurnya. Namun di paviliun bawah, Denzel duduk di depan komputernya, mulai melacak sumber-sumber penyebar rumor di media sosial kampus. Jika ia tidak bisa memeluk Leah secara nyata, ia akan membersihkan jalanan yang dilalui Leah dari setiap duri yang berani melukainya, meski ia harus melakukannya dalam kesunyian yang paling dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!