NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Menerima Takdir

"Tenang, tenang, Zira. Saya akan bertanggung jawab atas semua ini, "ujar Nathan dengan nada serius.

"Saya tidak mau jadi perusak hubungan orang, Pak. Lagipula, Pak Nathan kan sudah punya tunangan," sahut Zira.

"Belum tunangan. Itu hanya rencana dari Abi saya. Ya, saya dijodohkan dengan Ning Salwa, tapi takdir berkata lain," jawab Nathan.

"Mari, saya antar kamu pulang," lanjutnya.

Dalam perjalanan pulang, Nathan dan Zira terdiam tanpa sepatah kata. Setibanya di rumah, Zira langsung masuk ke dalam. "Assalamualaikum, Ma," katanya. Namun, ia terkejut menemukan Papa Alex di sana. "Zir, Papa kangen kamu," ujar Papa Alex. Meskipun Zira memiliki rasa marah yang mendalam terhadapnya, ada secercah rasa sayang yang tetap tertinggal. "Pa, Zira juga kangen," balas Zira sambil memeluknya.

Papa Alex memperhatikan wajah Zira yang terlihat sedih dan lelah. "Kamu kenapa, Nak? Kenapa matamu bengkak seperti habis menangis?" tanya Papa Alex penuh kekhawatiran. Mama Sarah yang ada di sana juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa ini, Nak? Kamu kenapa seperti ini? Gus Nathan, kamu pasti tahu alasannya, kan?" Mama Sarah menoleh ke arah Nathan karena Zira hanya bisa diam dan menangis.

Nathan terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Hm... Ibu, pertama-tama saya minta maaf. Jujur, saya tidak bermaksud melakukannya," kata Nathan dengan suara rendah.

"Melakukan apa, Gus?" tanya Mama Sarah dengan nada bingung.

Dengan berat hati, Nathan menjawab, "Saya... saya telah melakukan hubungan suami istri dengan Zira."

"Apa?! Saya pikir kamu berbeda dari laki-laki lain, tapi ternyata sama saja!" seru Mama Sarah dengan kemarahan yang meluap-luap. Mendengar itu, Papa Alex seketika kehilangan kontrol dan menghajar Nathan dengan pukulan keras. "Dasar lelaki tak tahu malu! Berani-beraninya kamu berbuat seperti itu pada anak saya!" teriak Papa Alex sambil memukul wajah Nathan berulang kali.

Namun, Nathan tidak melawan. Sambil menahan rasa sakit, ia berkata dengan tegas, "Saya dipengaruhi oleh obat, Pa. Saya tidak berniat melakukannya. Tapi saya akan bertanggung jawab atas semua ini. Saya akan menikahi Zira."

Papa Alex dengan tegas berkata, "Gus, kamu harus segera menikahi anak saya." Namun, Mama Sarah mencoba menghentikannya, "Sudah, Mas, kasihan Nathan. Dia sudah babak belur seperti itu." Sementara itu, Zira yang masih menangis memohon, "Papa, tolong, kasihan Gus dan Nathan."

Aryan yang berada di dekat Zira mencoba menenangkannya, "Kakak jangan terus menangis, nanti aku juga ikut nangis." Dengan penuh kesungguhan, Nathan akhirnya berkata, "Baik, Om. Saya akan menikahi Zira sekarang."

Namun sebelum itu, Nathan meminta izin untuk menghubungi orang tuanya di Bandung. Papa Alex hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan. Nathan segera menghubungi keluarganya melalui telepon. "Abi, apakah Abi dan Umi bisa ke Jakarta sekarang?" tanyanya.

Abi Adam, dengan nada penasaran, menjawab, "Ada apa, Nat?" Nathan menjelaskan dengan singkat, "Ini soal penting, Abi. Nathan akan menikah sekarang."

Abi Adam terkejut dan bertanya lagi, "Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah, Nak?" Nathan mencoba menenangkan dan berkata, "Ceritanya panjang, Bi. Nanti Nathan ceritakan semuanya dari awal sampai akhir kalau Abi sudah ada di Jakarta. Nathan tunggu. Assalamu'alaikum." Sebelum memutuskan sambungan telepon.

Abi Adam pun membalas salamnya, "Wa'alaikumsalam." Mendengar percakapan itu, Umi yang berada di samping Abi tampak khawatir. "Ya Allah, Bi. Kenapa dengan anak kita? Umi jadi cemas," ucapnya pelan.

Abi Adam berusaha meredakan kegelisahan Umi, "Kita pergi ke Jakarta dulu, Mi. Nanti Nathan akan menjelaskan semuanya jika kita sudah sampai di sana."

"Terus bagaimana dengan Putri, Bi? Belum pulang sekolah, kan?" tanya Umi Aisyah. "Putri kita titipkan dulu sama Mbak Ndalem, Mi. Kita berkemas apa adanya saja," jawab Abi Adam.

Sementara itu, Nathan mengirimkan alamat rumah Zira, tempat akad akan berlangsung. Abi Adam memperhatikan pesan itu dengan seksama. "Bi, siapa yang kirim pesan?" tanya Umi Aisyah penuh rasa ingin tahu.

"Nathan, dia mengirimkan alamat tempat akadnya akan dilaksanakan," jawab Abi Adam sambil menunjukkan isi pesan kepada Umi Aisyah. Melihat itu, Umi Aisyah terkejut. Bi, ini kan alamat rumah Zira. Umi ingat betul tempat ini, kata Umi Aisyah yakin.

"Apa maksud Umi rumah Aryan yang dulu diajar ngaji sama Nathan? "tanya Abi Adam heran." Iya, Bi, benar sekali. Tapi sekarang kayaknya sudah nggak, soalnya Bang Nathan akhir-akhir ini sibuk banget," jawab Umi Aisyah.

"Apa jangan-jangan Nathan nikah sama Zira ya, Bi?" tanya Umi Aisyah mencoba menebak dengan nada penuh penasaran. Kita ke Jakarta dulu saja. Kita akan tahu jawabannya di sana, sahut Abi Adam mantap.

Pagi itu, Umi Aisyah dan Abi Adam tiba di rumah Zira sekitar pukul 10. Mereka memberi salam, "Assalamualaikum," sambil memasuki rumah. Mama Sarah langsung menyahut, "Waalaikumsalam. Ada apa ya kalian kemari? Tadi saya dengar dari suaminya Zira kalau Nathan mau menikah. Maksudnya gimana?" tanyanya pada Umi Aisyah.

Melihat suasana yang tegang, Mama Sarah mengarahkan pertanyaan langsung pada Nathan. "Nathan, bisa jelaskan ke Umi dan Abi kamu soal ini? Saya sendiri nggak sanggup bicara tentang hal yang memalukan ini."

Dengan berat hati, Nathan menunduk dan mulai bicara. "Abi, Umi... Nathan mohon maaf atas semua ini. Nathan gagal menjaga nama baik keluarga kita. Terjadi kesalahan antara Nathan dan Zira, yang membuat kami harus menikah. Tapi Nathan benar-benar waktu itu dalam pengaruh obat..."

Belum selesai Nathan berbicara, Abi Adam langsung menampar pipi anaknya dengan keras hingga tampak memerah. "Astaghfirullahaladzim, Nathan! Abi nggak pernah mengira kamu bisa berbuat seperti ini. Sekalipun dalam pengaruh obat, kamu tetap harus bisa mengendalikan diri!" ucapnya dengan nada tegas dan penuh kecewa. Umi Aisyah yang mendengarkan pengakuan itu tak kuasa menahan tangisnya.

"Jeng, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kelakuan anak saya ini. Sungguh, kami tak pernah membayangkan ini akan terjadi..." ujar Umi Aisyah dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah Jeng, mungkin ini memang sudah takdir," jawab Mama Sarah dengan nada datar. Lalu Papa Alex menambahkan, "Saya sudah mengurus ke KUA, penghulu bilang bisa datang jam 2 siang nanti."

Nathan hanya menunduk lesu, mengangguk pelan tanda menyetujui keputusan tersebut. Sementara itu, di lantai atas rumah, Zira sedang video call dengan dua sahabatnya, Aliya dan Zita.

"Assalamualaikum, guys," kata Zira membuka percakapan.

"Waalaikumsalam, Zira," balas keduanya serempak.

Aliya segera bertanya dengan penasaran, "Lo kenapa tuh? Matanya sembap gitu?"

"Iya, habis nangis ya? Cerita dong ke kita. Jangan dipendam," timpal Zita mencoba menenangkan.

Zira menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Guys, gue mau nikah jam 2 siang nanti. Tolong kalian datang ya nemenin gue."

"What?! Lo jangan bercanda deh, Zira! Nggak percaya, kan Zit?" sahut Aliya dengan nada tak percaya.

"Iya, gak mungkin deh. Lagi pula Lo kan jomblo,” tambah Zita setengah tak percaya.

"Gue serius! Gue beneran mau nikah. Gue gak bohong!" jawab Zira dengan nada yang terdengar sungguh-sungguh.

"Sama siapa coba?" tanya Zita lagi, kini lebih penasaran.

"Sama Pak Nathan..." jawab Zira lirih sambil meneruskan, "Tapi tolong jangan tanya kenapa. Ceritanya panjang banget dan gak mungkin gue bahas di sini."

Aliya tersentak mendengar nama Nathan disebut. "Hah?! Bukannya Pak Nathan itu udah tunangan? Kok malah nikah sama kamu?"

Zira hanya bisa menghela napas panjang sambil berkata, "Kalau kalian penasaran banget sama ceritanya, datang aja ke rumah gue jam 2 siang nanti ya... Gue butuh teman curhat…"

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!