Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Celine duduk di tepi ranjang, laptop masih terbuka di pangkuannya. Cahaya layar memantul di mata, fokusnya tajam, jarinya bergerak cepat di keyboard.
Sementara Dirga suaminya, berdiri di ambang pintu kamar, menatapnya beberapa detik, dan entah mengapa, pemandangan itu justru membuat darahnya naik.
Bukan karena Celine tampak cantik dengan riasan di wajah, bukan juga karena sikap manja Celine. Namun, karena Celine terlihat begitu sibuk, seolah punya dunia sendiri.
Dirga akhirnya menutup pintu pelan, lalu berjalan mendekat.
"Sayang!"
Celine tidak menoleh, hanya berkata, "Aku harus selesaiin ini malam ini. Besok deadline.”
Dirga tidak menjawab. Dia naik ke ranjang, duduk tepat di belakang Celine, lalu menempelkan tubuhnya dari belakang. Celine seketika langsung menegang.
“Dirga!”
Suaranya datar, tapi jelas ada keengganan. Dirga mulai mengecup pelan bagian belakang lehernya. Satu kali, lalu satu kali lagi. Celine menutup mata sesaat, lalu membuka lagi, tapi tetap menatap layar.
“Aku serius.”
“Aku juga serius,” bisik Dirga. Tangannya naik, melingkari pinggang Celine. Jari-jarinya mengusap pelan, seolah sedang mengingat bentuk tubuh yang sudah dia hafal. Celine menghela napas, menahan diri.
“Aku capek. Maaf aku lagi nggak mood.”
Dirga berhenti, tapi dia tidak mundur, hanya menunduk, bibirnya mendekat di telinga Celine.
“Kamu selalu punya mood buat kerja. Terus buat aku gimana?"
Kalimat itu membuat Celine akhirnya menoleh. Tatapannya tajam.
“Karena kerjaan aku nggak bikin drama,”
Dirga tertawa kecil, dia meraih pergelangan tangan Celine pelan, menahan gerak jari-jari itu dari keyboard.
Celine pun langsung menarik tangannya.
“Jangan.”
Dirga menatapnya, mata Dirga panas, tapi wajahnya tetap tenang. “Aku cuma pengen kamu liat aku sebentar.”
Celine terdiam. Dirga mendekat, menunduk, lalu mencium bibir Celine singkat, tapi cukup untuk mengacaukan napasnya.
Celine memalingkan wajah, menghindar. Dirga tidak memaksa ciuman kedua. Dia hanya menahan Celine tetap dekat dengan pelukan dari belakang, lalu berbisik, “Aku kangen istri aku.”
Celine menatap layar lagi. “Istri kamu lagi kerja.”
Dirga menghela napas, jelas kesal, tapi dia menahan. Tangannya turun, menutup laptop itu perlahan.
Dirga seolah sedang memutus akses Celine ke dunia lain. Celine pun langsung menatapnya, kaget.
“Dirga!”
Dirga mengangkat alis. “Sekarang kamu liat aku.”
Celine membuka mulut, ingin marah, tapi Dirga sudah lebih dulu menariknya, memutar tubuh Celine sampai mereka saling berhadapan.
Dirga menahan pinggang Celine, memposisikan Celine duduk menghadapnya di ranjang. Sikapnya dominan, seperti biasa.
Sedangkan Celine menatapnya dengan wajah yang tidak senang. “Kamu keterlaluan.”
Dirga menatap balik, suaranya rendah.
“Aku suami kamu.”
Celine mendengus.
“Itu bukan alasan buat ganggu aku tiap aku kerja.”
Dirga terdiam beberapa detik. Lalu dia berkata, “Aku bukan ganggu kamu.”
Dirga mendekat, hidungnya hampir menyentuh hidung Celine.
“Aku cuma kamu paham yang aku butuhkan sebagai seorang suami.”
Celine membeku. Untuk malam ini, perkataan Dirga tidak seperti godaan. Namun, tuntutan.
Celine masih menahan diri. “Aku cuma lagi ngejar deadline kerja. Bukan ninggalin kamu.”
Dirga mengusap pipi Celine, dengan gerakan lembut penuh perhatian.
“Tapi aku ngerasa kalah sama laptop kamu.”
Celine menatapnya, kesal sekaligus bingung.
“Kamu cemburu sama kerjaan aku?”
Celine bertanya, nyaris tidak percaya.
Dirga mengangguk tipis. Lalu, tanpa banyak bicara, dia menarik Celine masuk ke pelukannya, erat, dan hangat.
Celine sempat melawan kecil. “Dirga, aku ...."
“Sebentar aja, satu menit.”
Celine terdiam. Dirga menunduk, mengecup pelipis, kening, pipi, dan ciuman cuping kecil yang tidak menuntut.
Celine perlahan melunak, walau masih menjaga jarak. Lalu, menatapnya seraya berkata, “Aku cuma pengen kamu ngerti. Aku lagi banyak beban.”
Dirga mengangguk, masih memeluknya.
“Oke.”
Celine berkedip, seolah tidak menyangka Dirga akan langsung setuju. Dirga menghela napas, lalu menyandarkan dahinya ke dahi Celine.
“Tapi kamu juga harus ngerti,” kata Dirga, suaranya serak.
“Aku juga punya beban.”
Celine menelan ludah.
“Beban apa?”
Dirga menatapnya.
“Kangen kamu.”
Dirga meraih pinggang Celine, tapi Celine langsung menepis tangan itu.
“Dirga. Jangan.”
Dirga malah menunduk, mengecup lehernya singkat. Celine menutup mata, menahan emosi.
“Aku bilang jangan.”
Dirga tertawa kecil, suara rendah.
“Kamu marah?”
Celine menoleh tajam.
“Iya. Aku marah.”
Dirga seperti tidak percaya.
“Cuma gara-gara aku pengen peluk istri aku?”
“Bukan peluk.”
Celine membalas cepat, suaranya meninggi.
“Kamu ganggu! Dari tadi kamu ganggu!”
Dirga diam sebentar. Lalu dia mengulurkan tangan lagi, kali ini mengambil laptop Celine dari pangkuannya.
Celine reflek menahan.
“Dirga!”
Celine berdiri mendadak, membuat Dirga ikut berdiri.
“Ngapain sih kamu? Kamu pikir kerjaan aku main-main?”
Dirga menatapnya, rahangnya mengeras.
“Aku cuma mau kamu berhenti sebentar.”
Celine tertawa sinis, tapi matanya mulai basah karena marah.
“Aku capek, Dirga. Aku bener-bener capek. kamu bukannya bantu, malah bikin aku tambah stres.”
Dirga menghela napas berat.
“Aku stres juga, Cel.”
Celine menatapnya, tajam.
“Stres kamu apa? Karena aku nggak ngasih kamu perhatian lima menit?”
Dirga tersentak. Matanya mengeras, tapi bukan marah, lebih seperti terpukul.
“Aku bukan minta lima menit,” katanya pelan.
Celine mendengus.
“Ya terus?”
Dirga melangkah mendekat. Aura dominannya terasa, membuat Celine refleks mundur setengah langkah. Namun, kali ini Celine tidak takut. Celine justru menatap balik, menantang.
“Kalau kamu mau marah, marah. Tapi jangan ganggu aku kayak aku ini benda yang bisa kamu ambil kapan kamu mau.”
Kalimat itu membuat Dirga berhenti. Tangannya yang tadi sempat terangkat, turun pelan.
“Aku butuh kamu jadi suami, bukan jadi orang yang nuntut aku terus.”
Dirga menatap Celine lama. Lalu suaranya keluar, berat dan rendah.
“Aku ngerasa kamu nggak butuh aku.”
Celine tertawa kecil. "Aku butuh kamu. Tapi kamu nggak pernah muncul di saat aku butuh. Kamu munculnya pas kamu pengen.”
Hening seketika. Kalimat itu menggantung, menghantam keras dada Dirga. Detik berikutnya, dia mengusap wajahnya, frustrasi.
“Oke aku salah!" ujar Dirga, lalu keluar dari kamar, meninggalkan Celine dalam keheningan.
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..