NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Permintaan Maaf di Balik Kabut Kebencian

Pagi itu, udara di SMA Garuda Kencana terasa sedikit lembap sisa hujan semalam. Karline baru saja turun dari mobilnya di depan gerbang sekolah. Tanpa atribut penyamaran yang lama, ia kini menjadi pusat perhatian setiap pagi. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih, memberikan kesan segar sekaligus tegas.

​Namun, baru saja ia melangkah beberapa meter dari gerbang, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Karline tersentak. Ia hampir saja melayangkan tasnya untuk memukul sebelum menyadari siapa pelakunya.

​"Ikut gue sebentar," ucap Dean dengan suara rendah namun penuh penekanan.

​"Lepasin! Apa-apaan sih!" Karline memberontak, namun Dean tidak peduli dengan tatapan penasaran para siswa yang berlalu lalang. Ia menarik Karline dengan langkah lebar menuju taman sekolah yang terletak di area belakang gedung perpustakaan tempat yang cukup sepi di pagi hari seperti ini.

​Sesampainya di sana, di bawah naungan pohon beringin tua yang rimbun, Dean melepaskan genggamannya. Karline segera mundur beberapa langkah, mengusap pergelangan tangannya yang memerah dengan tatapan yang sangat tidak suka.

​"Mau main hakim sendiri lagi? Atau mau nambah koleksi SP 1 kamu?" tanya Karline ketus.

​Dean terdiam sejenak. Ia melepaskan napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, seolah ia tidak tidur nyenyak setelah pertemuan tak terduga di mansionnya kemarin.

​"Karline, dengerin gue dulu," suara Dean kali ini terdengar berbeda. Tidak ada nada ejekan, tidak ada kesombongan. "Soal kejadian di belakang sekolah tempo hari... soal kata-kata gue yang... yang keterlaluan itu. Gue bener-bener minta maaf."

​Dean melangkah maju sedikit, mencoba mencari kontak mata dengan Karline. "Gue tahu ucapan gue nggak bisa ditarik lagi. Gue tahu gue udah menghina harga diri lo dengan cara yang paling rendah. Tapi jujur, itu cuma karena gue emosi, gue egois karena jabatan gue hampir dicopot. Gue nggak bermaksud beneran mikir kayak gitu tentang lo."

​Karline diam mendengarkan. Ia menatap Dean dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah Dean menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya yang terdengar sangat emosional, Karline justru tersenyum hambar. Senyum yang lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.

​"Sudah selesai bicaranya, Kak?" tanya Karline tenang.

​"Karl, gue serius..."

​"Aku tahu kamu serius," potong Karline dengan nada yang menusuk. "Kamu serius karena sekarang posisimu terancam. Kamu serius minta maaf karena satu sekolah hampir membencimu, karena teman-teman sekelasku mengancam akan menurunkanmu dari jabatan kapten voli, dan karena kamu baru tahu siapa keluargaku, kan?"

​Karline melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam mata cokelat tua milik Dean yang tampak goyah. "Permintaan maafmu itu bukan karena kamu merasa bersalah padaku. Kamu hanya sedang melakukan manajemen kerusakan. Kamu takut citramu sebagai 'Pangeran Sekolah' hancur total karena ulahmu sendiri. Kamu hanya memanfaatkan momen ini supaya orang-orang berhenti memusuhimu."

​"Nggak, Karl! Lo salah paham! Ini bukan soal itu!" bantah Dean dengan nada putus asa.

​"Pria sepertimu tidak cocok untuk dimaafkan, Deandra," ucap Karline, kali ini tanpa menggunakan embel-embel 'Kak'. "Kamu pikir dengan kata 'maaf', luka yang kamu buat di hatiku bisa hilang? Kamu sudah melabeli aku dengan sebutan yang paling menjijikkan bagi seorang perempuan. Dan sekarang kamu berharap aku percaya kamu tulus?"

​Karline tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin di tengah sunyinya taman. "Bagi aku, kamu tetaplah pria bajingan yang sombong. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Jangan pernah berharap aku akan percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut manismu itu."

​Dean tertegun. Ia merasa setiap kata yang diucapkan Karline seperti belati yang menusuk dadanya satu per satu. Ia ingin berteriak bahwa ia benar-benar menyesal, bahwa bayangan wajah menangis Karline terus menghantuinya setiap malam, tapi ia sadar bahwa di mata Karline, ia sudah menjadi sosok monster yang tidak memiliki nilai kepercayaan sedikit pun.

​"Jangan pernah bawa-bawa namaku dalam usaha memperbaiki reputasimu," lanjut Karline sambil menyampirkan tasnya lebih erat. "Urus saja hidupmu yang membosankan itu, Kapten."

​Dengan sentakan kasar, Karline memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Dean sendirian di taman itu. Dean tidak mencoba mengejarnya kali ini. Ia hanya berdiri mematung, mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga kuku-kukunya memutih dan buku jarinya bergetar.

​Ia menatap punggung Karline yang semakin menjauh dengan rasa sesak yang tak tertahankan. Sepertinya, Karline sudah memandang benci teramat dalam padanya, sebuah kebencian yang sudah mendarah daging hingga tak ada lagi ruang untuk setitik pun kepercayaan. Dean sadar, meskipun ia memberikan seluruh dunianya sekarang, Karline mungkin tidak akan pernah percaya lagi padanya.

​Di kejauhan, bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran dimulai. Namun bagi Dean, dunia seolah berhenti di bawah pohon beringin itu, menyisakan dirinya yang tenggelam dalam penyesalan yang terlambat.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!