Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melodi Palsu di Balik Perut Rata
Seminggu telah berlalu sejak janji suci yang penuh racun itu diucapkan. Kehidupan di Universitas California kini memiliki tontonan harian yang lebih dramatis daripada serial televisi mana pun: kehidupan pernikahan Zeus dan Nomella Sterling.
Di mata dunia, mereka adalah definisi dari couple goals. Setiap pagi, mereka turun dari mobil dengan tangan yang saling bertautan, dan setiap malam, jendela penthouse mereka menjadi saksi bisu dari pergulatan dua jiwa yang entah sedang saling mencintai atau saling menghancurkan.
Rutinitas mereka telah berubah. Panggilan Sayang, Hubby, dan Wifey mengalir semulus sutra dari bibir mereka, seolah-olah mereka telah berlatih selama bertahun-tahun. Namun, yang paling membuat seisi kampus gempar adalah transformasi Zeus Sterling menjadi sosok "Calon Ayah" yang luar biasa protektif dan narsis.
Siang itu, di koridor utama yang ramai, Zeus berjalan dengan lengan merangkul bahu Nomella. Tiba-tiba, ia berhenti di tengah jalan, membuat mahasiswa lain ikut berhenti karena penasaran. Tanpa rasa malu, Zeus berlutut di depan Nomella.
"Hai, jagoan Papa," bisik Zeus, wajahnya sejajar dengan perut Nomella yang masih rata sempurna di balik blazer mahalnya.
Nomella hanya bisa memutar matanya, mencoba menahan rasa ingin menendang wajah tampan suaminya itu. "Zeus, kita sedang di koridor. Berhenti bersikap konyol."
"Sshhh, Mommy jangan galak-galak. Nanti anak kita jadi pemarah sepertimu," sahut Zeus dengan nada hangat yang memuakkan, sementara tangannya mengusap lembut perut Nomella. Ia mendongak, menatap Nomella dengan binar mata yang terlihat sangat tulus, seolah ada nyawa sungguhan di balik kain itu. "Bagaimana kabarmu di dalam sana, Nak? Apa Mommy memberimu makan yang enak hari ini?"
"Ooooohhh!" suara koor dari para mahasiswi yang lewat terdengar seperti simfoni pujian bagi Zeus. Mereka tampak meleleh melihat pemandangan Sang Matahari yang begitu memuja calon anaknya.
.
.
Di kelas pun, sandiwara itu tidak berhenti. Saat dosen sedang menjelaskan teori ekonomi makro, Zeus tidak mencatat. Ia justru sibuk mengusap punggung tangan Nomella dan sesekali mendekatkan telinganya ke arah perut Nomella, berpura-pura mendengarkan sesuatu.
"Dia baru saja menendang, Mella," bisik Zeus dengan wajah penuh kekaguman yang dibuat-buat.
"Zeus, dia baru berusia beberapa minggu dalam narasimu. Mana mungkin dia menendang? Itu mungkin hanya asam lambungku karena belum makan siang," balas Nomella melalui sela-sela giginya yang terkatup.
"Kau tidak punya perasaan," gumam Zeus, kembali mengusap perut itu. "Jangan dengarkan Mommy, Nak. Papa di sini."
Namun, dinamika mereka berubah drastis begitu pintu penthouse tertutup dan mereka hanya berdua. Di luar, Zeus adalah ayah yang hangat di ranjang, ia adalah pria yang menuntut dan dingin jika egonya tersentuh.
Malam itu, setelah melewati malam panas yang melelahkan yang kini menjadi rutinitas wajib bagi Zeus untuk membuktikan bahwa jarinya tidak pendek—mereka berbaring berdampingan dengan napas yang masih teratur.
"Kau tahu, aktingmu di kantin tadi benar-benar menjijikkan," ujar Nomella, memecah keheningan. "Bicara pada perutku seolah-olah ada orang di sana. Kau benar-benar sudah gila, Zeus."
Zeus, yang baru saja selesai menunjukkan dominasinya, menoleh dengan tatapan dingin yang tajam. Kehangatan Sang Ayah menguap seketika. "Aku hanya memastikan semua orang percaya pada kebohongan yang kau buat sendiri, Mella. Jika aku tidak berakting total, orang akan mulai bertanya kenapa perutmu tidak membesar."
"Lalu sampai kapan? Kau ingin aku pura-pura hamil sembilan bulan?"
"Kenapa tidak?" Zeus bangkit, duduk di tepi tempat tidur dengan punggung yang penuh goresan baru dari Nomella. "Bukankah kau yang ingin pernikahan ini? Kau yang ingin masuk ke dalam hidupku. Sekarang nikmati saja perannya sebagai ibu dari anak imajinasiku."
"Kau pria gila yang kesepian, Zeus. Kau mulai percaya pada kebohonganmu sendiri karena kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk diajak bicara secara tulus," desis Nomella.
Perdebatan sengit kembali pecah. Nomella menghina betapa narsisnya Zeus yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, sementara Zeus membalas dengan mengatakan betapa haus kekuasaannya Nomella yang menggunakan tubuhnya sebagai alat tawar-menawar.
Jika Zeus kalah berdebat, ia akan mendiamkan Nomella dengan cara yang paling menyakitkan: memunggungi gadis itu dan membiarkan kedinginan merayap di antara mereka, seolah-olah keintiman beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Namun, keesokan paginya, Zeus akan kembali menjadi pria yang berbeda.
Saat sarapan, Zeus akan kembali berlutut di depan kursi Nomella, mencium perut datar itu dengan penuh hikmat sebelum mereka berangkat ke kampus. Ia bahkan mulai membeli perlengkapan bayi—sepatu mungil, mainan kayu, hingga buku cerita dan menatanya di salah satu ruangan kosong di apartemen mereka.
"Apa yang kau lakukan dengan semua barang ini?" tanya Nomella saat menemukan Zeus sedang menata box bayi yang sangat mewah.
"Aku hanya ingin anakku memiliki yang terbaik," jawab Zeus tanpa menoleh. Suaranya terdengar begitu tenang, begitu ayah, hingga Nomella merinding.
Zeus seolah sudah lupa siapa dia sebenarnya. Ia seolah-olah telah menelan bulat-bulat identitas barunya sebagai seorang suami dan calon ayah yang sempurna. Ia menciptakan dunia fantasi di mana ia bukan lagi seorang adik yang membunuh kakaknya, melainkan seorang pria yang sedang membangun masa depan.
Bagi Nomella, ini adalah pemandangan yang paling mengerikan sekaligus memikat. Ia melihat seorang monster yang sedang mencoba menjadi manusia melalui sebuah kebohongan besar. Dan di setiap usapan tangan Zeus di perutnya, di setiap panggilan "Nak" yang diucapkan Zeus di depan publik, Nomella bisa merasakan benang merah yang mengikat mereka semakin kencang, menyeretnya masuk ke dalam labirin kegilaan yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
"Selamat pagi, Anak Papa," ujar Zeus keesokan harinya di parkiran kampus, mengabaikan tatapan tajam Nomella. "Hari ini kita akan belajar banyak, oke?"
Zeus tersenyum lebar pada mahasiswi yang lewat, memamerkan kebahagiaannya yang sempurna, sementara Nomella hanya bisa mematung, menyadari bahwa ia bukan lagi sedang bermain sandiwara, melainkan sedang terjebak dalam delusi yang dibuat oleh seorang pria yang terlalu narsis untuk mengakui bahwa dia sedang hancur.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰