NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Jakarta siang itu terasa lebih gerah dari biasanya, namun suasana di gazebo Fakultas Perairan justru sangat riuh. Mika, Siti, Asia, dan Arga sedang menikmati jam kosong setelah mata kuliah Oseanografi. Meja gazebo penuh dengan gelas plastik kopi kekinian dan bungkus camilan. Suara tawa Mika terdengar paling dominan, memecah keheningan koridor fakultas yang biasanya serius.

Mika sedang dalam performa terbaiknya sebagai pencerita. Ia berdiri dari duduknya, memeragakan gerakan seseorang yang sedang gemetar ketakutan di tengah hutan.

"Aduh, sumpah lo semua harus tau!" seru Mika sambil menahan tawa yang hampir meledak. "Si Arga, dia itu kelihatannya aja kaku, rigid, sok pemberani... tapi dia itu takut banget sama uler tau nggak! Hahaha!"

Siti terbahak-bahak sampai tersedak kopinya. "Serius lo, Mik? Si Arga yang badannya kayak binaragawan gitu takut uler tanah?"

"Demi apa pun!" Mika melanjutkan dengan semangat, tidak menyadari suasana di sekitarnya mendadak berubah. "Waktu di Desa Asih itu, ada uler lewat kecil banget, sumpah cuma seukuran jempol gue. Arga langsung loncat ke belakang punggung gue sambil teriak 'Mika, amankan objeknya!'. Gila, gue yang cewek malah disuruh jadi tameng! Hahaha!"

Arga, yang menjadi bahan bullyan, hanya bisa memijat pangkal hidungnya dengan wajah merah padam. "Itu prosedur keamanan, Mik. Gue nggak takut, gue cuma waspada kalau itu spesies Bungarus candidus."

"Halah, alibi!" Mika tertawa makin keras.

Namun, di tengah tawa itu, pandangan Asia yang duduk tepat berhadapan dengan Mika mendadak terkunci pada sesuatu di belakang punggung sahabatnya. Mata Asia membelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka, dan pulpen yang ia pegang jatuh ke lantai gazebo.

"Mik?" bisik Asia pelan, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Apa, As?" jawab Mika masih dengan sisa-sisa tawanya. "Kenapa muka lo? Kaget ya denger Arga penakut?"

"Mika... lo..." Asia menunjuk ke arah belakang Mika dengan jari yang gemetar.

Mika mendengus, ia masih belum mau berbalik. "Apa sih... panggil-panggil! Gue lagi cerita nih, jangan dipotong dulu!"

"Cerita tentang ular memang menarik, tapi saya rasa cerita tentang koordinator yang suka membolos rapat lebih seru."

Suara bariton yang berat, rendah, dan sangat berwibawa itu terdengar tepat di belakang tengkuk Mika. Suara yang selama ini hanya ia dengar lewat sambungan telepon atau dalam bisikan di tengah hutan jati.

Seluruh saraf di tubuh Mika seolah membeku. Tawa yang tadinya meledak-ledak langsung lenyap, berganti dengan rasa dingin yang merambat dari kaki hingga ke ubun-ubun. Aroma parfum woody yang sangat familiar—campuran kayu cendana dan udara pegunungan—meresap ke indra penciumannya.

Mika berbalik perlahan, sangat perlahan, seolah-olah lehernya adalah engsel karatan yang sulit digerakkan.

Di sana, berdiri tegak seorang pria dengan kemeja batik tulis berwarna gelap yang pas di tubuh atletisnya. Kacamata hitam bertengger di hidung bangirnya, namun ia kemudian menurunkannya sedikit, memperlihatkan mata tajam yang kini menatap Mika dengan binar geli sekaligus rindu yang mendalam.

Itu Alvaro. Sang Kepala Desa Asih beneran berdiri di gazebo kampus Jakarta.

Siti hampir terjatuh dari bangkunya. "P-Pak Kades?!"

Arga langsung berdiri tegak, secara otomatis kembali ke mode "mahasiswa teladan". "Selamat siang, Pak Alvaro."

Mika masih mematung. Matanya menatap Alvaro dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria ini terlihat berbeda di Jakarta. Tanpa seragam dinas cokelatnya, Alvaro terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dan modern, mirip pengusaha muda daripada pejabat desa.

"Al... kamu... kok di sini?" tanya Mika dengan suara yang nyaris hilang.

Alvaro tersenyum tipis, jenis senyuman yang biasanya ia simpan hanya untuk Mika di balik pintu tertutup. "Saya ada rapat koordinasi di Kementerian Lingkungan Hidup tadi pagi. Kebetulan lewat sini, jadi saya mampir. Katanya ada mahasiswa yang kangen 'Mama'-nya."

Siti dan Asia langsung saling lirik dengan mata melotot. "Mama?!" bisik Siti kaget.

Mika ingin sekali menghilang ke dalam tanah saat itu juga. Ia teringat kebohongannya tempo hari saat menerima telepon dari Alvaro di kelas. Wajahnya kini jauh lebih merah daripada kepiting rebus.

"Bapak... Bapak beneran ke sini?" Mika mencoba menetralkan suaranya, meski jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan.

"Iya. Saya mau memastikan kalau koordinator saya tidak nakal selama di Jakarta," ucap Alvaro santai. Ia melirik ke arah Arga dan teman-temannya yang lain. "Boleh saya pinjam Mikayla sebentar? Ada urusan administrasi 'kenegaraan' yang harus kami selesaikan."

Siti, yang pertama kali sadar dari keterkejutannya, langsung memberikan jempol. "Silakan, Pak! Bawa aja, Pak! Adminstrasinya mau dibawa sampe besok juga nggak apa-apa!"

Asia menyikut Siti sambil tertawa kecil. "Hati-hati ya, Mik. Jangan sampe 'ular'-nya muncul lagi di Jakarta."

Mika hanya bisa menunduk malu saat Alvaro meraih pergelangan tangannya—sebuah gerakan yang sangat posesif di depan umum—dan menuntunnya meninggalkan gazebo menuju area parkir.

"Alvaro! Kamu gila ya?!" bisik Mika saat mereka sudah agak menjauh dari jangkauan telinga teman-temannya. "Kamu tau nggak, mereka semua kaget banget! Terus apa tadi? Mama? Kamu sengaja ya mau bikin aku malu?"

Alvaro menghentikan langkahnya di bawah pohon rindang dekat parkiran, ia berbalik dan menarik Mika masuk ke dalam dekapan singkat yang tersembunyi. "Aku sudah bilang akan datang, kan? Aku nggak bisa nunggu bulan depan, Mik. Aku rindu sampai rasanya mau gila di Desa Asih sendirian."

Mika terpaku, rasa kesalnya menguap seketika digantikan oleh rasa hangat yang meluap. Ia menyandarkan kepalanya di dada Alvaro. "Aku juga... tapi di sini kampus, Al. Kalau dosen liat gimana?"

"Biarkan saja. Aku sudah resmi menyerahkan laporan akhir kalian. Sekarang, statusku di sini bukan lagi Kepala Desa kamu, tapi pria yang sedang menjemput ratunya untuk makan siang," bisik Alvaro sambil mencium puncak kepala Mika dengan sangat dalam.

Hari itu, gazebo fakultas gempar. Berita tentang "Kepala Desa Ganteng" yang menjemput Mikayla menyebar secepat kilat. Namun bagi Mika, dunia seolah menyempit hanya menjadi milik mereka berdua. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang bising, ia menyadari bahwa janji Alvaro bukanlah sekadar kata-kata. Sang King benar-benar datang untuk menjemputnya, membuktikan bahwa jarak ratusan kilometer hanyalah angka di hadapan cinta yang sudah tertanam di sela-sela pipa filter air Desa Asih.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!