Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Menekan Emosi Personal
Sawitri menghentikan langkahnya secara mendadak.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Ndari dengan sorot mata sedingin es di puncak Merapi.
"Kau mau kuajari? Membelah perut manusia itu sebetulnya jauh lebih logis daripada menganyam tikar pandan."
Wajah Ndari pucat pasi seketika, darah seolah terhisap habis dari wajahnya.
Gadis batur itu mundur dua langkah dengan gemetar, nyaris tersandung akar pohon beringin.
"Boten, Ndara! Kulo ampun!" jerit Ndari panik sambil menggeleng kuat-kuat.
"Kulo mending disuruh masak oseng terong pedas seumur hidup daripada pegang belati berdarah!"
Mendengar kata 'oseng terong', napas Sawitri tertahan.
Langkah kakinya terhenti sepenuhnya, mematung di tengah jalan tanah setapak.
Tari...
Nama sahabat polisinya di kehidupan modern itu melintas di benaknya tanpa permisi, menghantam dadanya dengan keras.
Dulu, setiap kali Sawitri dan Tari menyelesaikan sebuah kasus, Tari selalu memaksanya memasak sayur lodeh dan oseng terong untuknya.
"Kamu bukan cuma punya pisau bedah di otakmu, Wit. Tapi tanganmu itu tangan koki bintang lima," puji Tari sambil tertawa lebar di dapur apartemennya waktu itu.
Rasa nyeri yang asing dan menyesakkan tiba-tiba meremas ulu hati Sawitri.
Ia bukan lagi dr. Sawitri Sp.F di Jakarta yang dikelilingi lampu neon steril dan meja bedah baja.
Ia kini terperangkap di tubuh putri buangan Mataram, hidup di pesanggrahan reot yang atapnya bocor saat hujan.
"Ndara? Ndara Ayu sakit?" tegur Ndari cemas, melihat wajah majikannya berubah kaku bak arca batu.
Sawitri menarik napas panjang, menekan emosi personalnya itu dalam-dalam hingga terkunci di sudut tergelap akalnya.
"Aku baik-baik saja," suaranya kembali datar, rasional, dan tanpa celah.
"Satu hal yang pasti, Ndari. Tutup mulutmu rapat-rapat di depan Nyi Inggit soal kejadian pembedahan tadi sore."
Ndari mengangguk cepat, matanya masih memancarkan sisa ketakutan.
"Nggih, Ndara. Kulo paham. Nyi Inggit pasti pingsan di tempat kalau dengar Ndara membelah perut orang mati."
Sawitri kembali melangkah menuju pesanggrahan yang tampak samar ditelan temaram senja.
Logikanya tahu betul, Nyi Inggit tidak akan sanggup menerima realita tabu ini.
Di era di mana jasad manusia disakralkan secara spiritual, membedah perut jenazah pasti akan dianggap sebagai penistaan maut yang berujung pada hukuman pancung.
Tiga hari kemudian.
Kabut pagi masih menggantung pekat bak selimut abu-abu di lereng pesanggrahan terpencil itu.
Embun menetes dari ujung daun pisang, memecah keheningan fajar yang membeku.
Di tengah pelataran tanah liat yang basah, Sawitri bergerak dalam diam mutlak.
Ia mengenakan pakaian longgar dari kain belacu putih murni yang dijahit serampangan oleh Ndari.
Kuda-kudanya kokoh mencengkeram tanah, ritme napasnya diatur dalam frekuensi yang mematikan.
Satu pukulan tajam membelah udara, disusul tangkisan kilat, dan diakhiri sapuan kaki yang presisi.
Ini sama sekali bukan tarian keraton yang gemulai, melainkan jurus dasar bela diri Tarung Derajat.
Ia sedang memaksa tubuh ringkih ini membangun kembali memori otot petarungnya.
"Gusti Pangeran Maha Suci! Ndara Ayu!"
Pekikan melengking memecah konsentrasi Sawitri seketika.
Nyi Inggit berlari keluar dari ambang pintu dapur, tangannya gemetar hebat memegang irus kayu.
"Pakaian apa niku, Ndara? Ya ampun, mirip sekali dengan kain kafan orang mati!"
Mata tua Nyi Inggit berkaca-kaca menatap ngeri pada setelan putih longgar yang membalut tubuh majikannya.
Sawitri menurunkan kepalan tangannya perlahan tanpa tergesa-gesa.
Ia mengatur ritme napasnya kembali normal, mengabaikan tatapan ngeri pengasuhnya.
"Kain ini ringan. Keringat jauh lebih mudah menyerap, Nyi."
"Boten pantes, Ndara! Jika ada batur Kadipaten yang kebetulan lewat, kita bisa dituduh melakukan tirakat sesat!"
Belum sempat Sawitri menimpali, terdengar suara ketukan keras dan berisik dari arah gerbang bambu depan.
"Kulo buka dulu. Ndara kedah cepat ganti baju!" Nyi Inggit mendorong pelan punggung Sawitri menuju bilik tidurnya.
Sawitri mendengus pelan, namun ia tidak membantah.
Ia melangkah masuk dan segera meraih kebaya lawasan berwarna ungu gelap, merangkapnya menutupi pakaian belacu putihnya.
Baru saja ia mengaitkan peniti tembaga terakhir di dadanya, suara isak tangis yang riuh terdengar dari arah halaman.
Sawitri menyibak tirai rami kamarnya dan melangkah keluar ke teras pendopo kecilnya.
Lebih dari sepuluh orang warga desa berlutut di pelataran tanah liatnya yang sempit dan basah.
Di barisan paling depan, Kang Karyo memeluk erat buntalan kain tebal berisi bayi merah yang tertidur pulas.
Nyi Inggit mundur merapat ke dinding bambu, wajah tuanya dilanda kebingungan total melihat kerumunan itu.
"Matur sembah nuwun, Gusti Tabib!" seru Kang Karyo dengan suara serak dan bergetar.
Pria desa berpakaian lusuh itu membenturkan dahinya ke tanah berbatu dengan keras.
"Kulo datang membawa saudara sedarah kulo. Kami semua siap menjadi abdi dalem Ndara Ayu seumur hidup!"
Sawitri berdiri di undakan teratas pendopo kayunya dengan postur tegak paripurna.
Tidak ada senyum bangga, tak ada kilat haru di wajah pucatnya yang menatap datar ke bawah.
"Bangun," perintah Sawitri tegas, suaranya tak lebih keras dari desiran angin, namun berhasil memotong semua isak tangis di sana.
"Kulo boten berani, Ndara! Hutang nyawa harus dibayar nyawa!" bantah Kang Karyo keras kepala, enggan mengangkat wajahnya dari lumpur.
Sawitri menuruni satu anak tangga kayu yang berderit menahan berat badannya.
Matanya yang tajam bak elang mengunci punggung Kang Karyo.
"Aku Tabib. Aku bukan tengkulak nyawa."
Kata-kata itu meluncur dingin, menghujam tajam tanpa bisa dibantah.
"Menjadi abdi dalemku berarti kau membuang kedaulatan masa depan anakmu."
Sawitri melipat kedua lengannya di dada.
"Aku membelah ibunya agar anak itu bisa hidup bebas, bukan untuk melahirkan batur baru di tanah ini."
Kang Karyo tersedak oleh tangisnya sendiri, tak mampu menyanggah kelugasan argumen yang membekukan itu.
Sawitri menoleh sedikit ke arah Ndari yang mematung di dekat tempayan air.
"Ndari, berikan lembaran daun lontar itu padanya sekarang."
Ndari tersentak sadar, lalu buru-buru berlari menyerahkan sepotong daun lontar berisi ukiran aksara Jawa.
"Itu resep jamu pelancar air susu ibu untuk diserahkan pada perempuan yang menyusui bayimu."
Sawitri membalikkan badan, kembali menaiki undakan pendopo.
"Dan pastikan bayi itu dijemur saat matahari terbit agar tidak kuning. Pulanglah."
Sawitri mendorong pintu kayu jati tua itu hingga tertutup rapat dengan suara debuman pelan.
Meninggalkan kerumunan warga desa yang merinding ngeri sekaligus dipenuhi takjub pada wibawa sang Ndara Ayu.
Setengah bulan berlalu dengan cepat tanpa disadari.
Rumor tentang "Ndara Tabib Sakti" dari pesanggrahan tanah buangan menyebar laksana api melahap jerami kering di musim kemarau.
Warga dari berbagai desa silih berganti datang meminta pengobatan, membawa barter ubi, telur, hingga kepingan uang kepeng perunggu murni.
Tenggok bambu yang dianyam rapat di sudut kamar Nyi Inggit kini mulai berat oleh kepingan harta.
"Ndara Ayu," Nyi Inggit menghampiri Sawitri yang sedang duduk hening di teras samping.
Siang itu matahari bersinar sangat terik, panasnya memanggang atap ijuk pesanggrahan hingga menebarkan bau gosong yang samar.
"Kepingan uang kita sudah terkumpul lumayan banyak. Bagaimana kalau besok kulo ke Pasar Kotagede?"
Sawitri tidak menoleh sedikit pun.
Matanya sibuk menganalisis gulungan Serat Triguna Usada, kitab pengobatan Jawa kuno yang baru dibelinya secara barter dari seorang tabib keliling.
"Untuk apa?" tanya Sawitri tanpa setitik pun minat.
"Membeli kain sutra atau minimal kain tenun halus, Ndara. Cuaca sangat panas, kebaya lawasan Ndara sudah terlalu tebal dan berbulu."
"Tidak usah membuang uang."
Sawitri memutar gulungan lontar di tangannya dengan sangat hati-hati agar tidak patah.
"Kain lusuh ini masih bisa dipakai. Uangnya simpan untuk membeli stok akar Somjawa dan pisau perak yang baru."
Nyi Inggit menghela napas panjang hingga dadanya naik turun, hafal betul dengan sekeras apa batu kepala sang majikan.
"Ngapunten... Ndara Tabib wonten?"
Sebuah suara pria yang berat, sopan, namun sangat berwibawa menyela dari arah pintu gerbang bambu yang terbuka separuh.
Sawitri mengangkat wajahnya perlahan dari kitab kuno itu.
Di balik pagar, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan beskap lurik berpotongan rapi dan blangkon bermotif ksatria.
Itu sama sekali bukan warga desa biasa yang mencari obat gatal atau demam.
"Kulo buka pintunya," bisik Ndari gugup, bergegas berlari menunduk menuju gerbang.
Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan langkah terukur, menundukkan kepalanya sedikit ke arah teras.
"Sembah kulo, Ndara Ayu. Kulo Ki Padmo, diutus langsung dari kediaman agung Ki Jayaningrat di pusat kota Kadipaten."
Sawitri meletakkan gulungan lontarnya di atas meja kayu dengan gerakan pelan.
Mata forensiknya langsung bekerja otomatis, memindai fisik Ki Padmo dari ujung kepala hingga ujung alas kakinya.
"Tangan bersih tanpa bekas kapalan pekerja kasar, otot leher tegap, dan sepatu kulit yang terawat. Ini pelayan kasta tinggi," batin Sawitri merangkai deduksi dengan cepat.
"Ada urusan mendesak apa?" tanya Sawitri langsung memotong pada intinya, bahkan tanpa repot menyilakan tamunya duduk di tikar.
Ki Padmo sedikit tersentak ke belakang.
Ia sudah malang melintang menemui puluhan tabib keraton, tapi tak ada satupun yang seketus dan sedingin gadis belia ini.
Bahkan wajah pucat Sawitri tidak menyiratkan setitik pun keramahan atau rasa segan pada tamu terhormat.
"Kulo diutus mencari Ndara Tabib pesanggrahan yang tersohor itu. Ini perihal putra bungsu majikan kulo, Den Bagus Kusuma."
Ki Padmo menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap penuh hormat.
"Beliau sering menjerit kesakitan memegangi kepalanya tanpa henti. Semakin hari nyerinya semakin menyiksa, bahkan kemarin sore beliau pingsan total."
"Berapa usia tepatnya?" Sawitri memotong kalimat itu bagai tebasan pedang.
"D-delapan tahun, Ndara Ayu."
"Keluhan penyerta? Apa dia sering memuntahkan makanannya tiba-tiba tanpa sebab? Apakah pandangannya mengabur?"
Rentetan pertanyaan medis itu meluncur bagai peluru tajam yang menghujam Ki Padmo bertubi-tubi.
"Gusti... Leres, Ndara! Den Bagus sering muntah tiba-tiba, menolak menelan nasi secuil pun!" jawab Ki Padmo takjub, rasa skeptisnya mulai terkikis habis.
"Tahun lalu," Sawitri mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam menembus bola mata pria tua itu.
"Apakah kepalanya pernah terbentur benda keras dengan sangat kuat?"
Ki Padmo membelalak lebar, mulutnya setengah terbuka kehabisan kata-kata.
"Gusti nu agung... dari mana Ndara bisa tahu detail itu? Leres, musim hujan tahun lalu, beliau terpeleset dan kepalanya membentur batu gilang di taman keraton!"
Sawitri bersandar kembali ke kursi goyang kayunya.
Wajahnya tetap datar sempurna, sama sekali tak ada senyum kemenangan di bibirnya.
"Gejala subdural hematoma kronis," sebut Sawitri di dalam kepalanya yang dingin.
"Ada pendarahan perlahan di otaknya. Gumpalan darah mati itu terus membesar dalam setahun dan kini menekan saraf vitalnya secara fatal."
"Jadi... apakah ada racikan jamu atau rajah mantra yang bisa menyelamatkan beliau, Ndara Tabib?" tanya Ki Padmo dengan suara memelas penuh harap.
"Air jamu tidak akan bisa menembus tengkorak manusia."
Sawitri meraih secarik kertas merang kusam dan sebatang arang hitam dari laci mejanya.
"Ada gumpalan darah kotor yang membeku di dalam batok kepalanya. Itu sumber rasa sakitnya, dan itu yang harus dihancurkan."
Ia mencoretkan beberapa aksara Jawa dengan gerakan tangan yang sangat luwes.
"Bawa anak itu kemari besok pagi."
Sawitri mengangsurkan kertas merang itu ke arah udara, memaksa Ki Padmo mendekat untuk mengambilnya.
"Aku akan menggunakan teknik tusuk jarum perak bersuhu panas di titik saraf kepalanya untuk memecah gumpalan darah itu. Resep ini hanya jamu pereda mual sementara."
Tangan Ki Padmo yang menerima kertas merang itu mendadak kaku sekeras kayu.
Tusuk jarum perak berapi?
Ditusukkan ke dalam kepala rapuh anak lelaki pewaris tunggal berusia delapan tahun?
Oleh seorang gadis belia yang menatapnya dengan mata yang seperti tanpa jiwa ini?
"Ndara... Ndara akan menancapkan besi jarum ke kepala... Apakah, apakah tindakan itu mboten mengancam nyawa Den Bagus?" Ki Padmo bertanya ragu, nada suaranya berubah sangat berhati-hati.