Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Cahaya portal biru memudar perlahan, meninggalkan hembusan angin dingin yang bercampur bau asap dan lava. Ling Chen dan Qing Lin muncul di sebuah bukit kecil di pinggiran Kekaisaran Api Agung, tepat di luar wilayah istana utama. Langit di atas mereka berwarna jingga merah seperti api abadi, gunung-gunung berapi menyala di kejauhan, dan udara terasa panas menyengat—sangat berbeda dari kelembaban segar Pulau Dewa Laut.
Qing Lin menarik napas dalam, tangannya masih menggenggam tangan suaminya erat. Jubah biru lautnya kontras dengan pemandangan api di sekitar, membuatnya terlihat seperti dewi air yang tersesat di dunia api.
“Ini… tempat asalmu,” bisiknya, matanya menyapu pemandangan dengan rasa ingin tahu dan sedikit gugup. “Rasanya… sangat kuat. Api di mana-mana.”
Ling Chen mengangguk, matanya tertuju ke arah istana yang samar-samar terlihat di horizon. “Ya. Di sinilah aku dulu diusir seperti anjing. Dan di sinilah Yue Yan menungguku.”
Dia menarik Qing Lin lebih dekat, mencium kening istrinya pelan. “Kau tak perlu takut. Kau istriku sekarang. Yue Yan… dia akan mengerti. Aku yakin.”
Qing Lin tersenyum tipis, meski ada kekhawatiran di matanya. “Aku percaya padamu. Aku hanya… ingin bertemu dengannya. Wanita yang membuat hatimu tak pernah padam selama ini.”
Mereka berjalan menuruni bukit, menuju gerbang kota terdekat. Tak lama, patroli pengawal kekaisaran melihat mereka. Beberapa langsung mengenali Ling Chen—mantan pengawal yang dulu diusir, tapi sekarang auranya jauh lebih kuat, Realm Inti Emas tingkat 7 dengan qi api-air yang aneh.
“Pangeran… bukan, Ling Chen?!” seru salah satu pengawal, matanya melebar. “Kau… kembali?!”
Ling Chen mengangguk tenang. “Aku kembali. Bawa kami ke istana. Aku ingin bertemu Putri Yue Yan.”
Pengawal itu ragu sejenak, tapi aura Ling Chen yang menekan membuat mereka tak berani menolak. Mereka mengawal keduanya dengan kereta api khusus, menuju Istana Api Abadi.
Di istana, kabar kedatangan Ling Chen menyebar cepat seperti api liar. Para elder berbisik-bisik, jenderal-jenderal mengerutkan kening, dan Huo Zhan—yang kini menjadi Jenderal Agung—langsung marah besar.
“Dia berani kembali?!” geram Huo Zhan di aula kecilnya. “Dan membawa wanita lain? Ini penghinaan!”
Tapi sebelum dia bisa bertindak, pintu aula utama terbuka lebar.
Yue Yan berdiri di ambang pintu, jubah merah menyala seperti api abadi, rambut panjangnya terurai indah. Matanya melebar saat melihat Ling Chen—dan Qing Lin di sampingnya.
“Chen’er…” suaranya bergetar, air mata langsung mengalir di pipinya. Dia berlari, tak peduli tatapan semua orang, langsung memeluk Ling Chen erat.
“Chen’er… kau kembali… kau benar-benar kembali…”
Ling Chen memeluknya balik, tangannya membelai rambut Yue Yan dengan lembut. “Yan’er… maafkan aku terlambat. Aku janji akan kembali, dan sekarang aku di sini.”
Yue Yan mundur sedikit, menatap wajah suaminya yang dulu, lalu ke Qing Lin yang berdiri di samping dengan sopan. Matanya penuh pertanyaan, tapi tak ada amarah—hanya rasa ingin tahu dan sedikit cemburu yang lembut.
“Dia… siapa?” tanyanya pelan.
Ling Chen menggenggam tangan Qing Lin, lalu menarik Yue Yan lebih dekat. “Ini Qing Lin… istriku. Kami bertemu di Pulau Dewa Laut. Dia yang menyelamatkanku, berjuang bersamaku, dan… kami menikah di sana dengan restu Guru kami.”
Yue Yan terdiam sejenak. Matanya beralih dari Ling Chen ke Qing Lin, lalu kembali lagi. Air mata masih mengalir, tapi senyum kecil muncul di bibirnya.
“Aku… mengerti. Kau tak pernah bohong padaku. Kau bilang akan kembali lebih kuat, dan kau bawa… keluarga baru.”
Dia melangkah maju, mengulurkan tangan ke Qing Lin. “Selamat datang, saudariku. Terima kasih telah menjaga suamiku selama ini.”
Qing Lin terkejut, tapi langsung membalas genggaman tangan Yue Yan. “Terima kasih telah menunggunya. Aku… senang bertemu denganmu, Kak Yue Yan. Chen sering bercerita tentangmu.”
Yue Yan tersenyum lebih lebar, lalu memeluk Qing Lin erat. “Kita bertiga sekarang. Tak ada lagi perpisahan.”
Ling Chen memeluk keduanya dari belakang, hatinya penuh. “Terima kasih, Yan’er. Terima kasih, Qing Lin. Kalian… adalah segalanya bagiku.”
Tapi momen itu tak bertahan lama.
Huo Zhan masuk ke aula dengan langkah berat, auranya meledak marah. “Ling Chen! Kau berani kembali setelah diusir?! Dan sekarang bawa dua istri?! Ini penghinaan bagi kekaisaran!”
Yue Yan melepaskan pelukan, auranya langsung meledak—Realm Raja Api awal. “Jenderal Huo Zhan! Ini urusan keluarga kekaisaran. Kau tak punya hak ikut campur!”
Huo Zhan tertawa dingin. “Keluarga kekaisaran? Dia dulu pengawal rendahan! Dan sekarang bawa wanita asing dari mana? Ayahmu pasti tak akan setuju!”
Ling Chen melangkah maju, trisula di tangan bercahaya. “Huo Zhan… aku kembali bukan untuk balas dendam. Aku kembali untuk membuktikan bahwa fitnahmu salah. Dan sekarang, dengan kekuatan ini, aku akan lindungi Yan’er dan istriku. Jika kau menghalangi… kau akan menyesal.”
Qing Lin berdiri di sisi Ling Chen, pedang air kristalnya siap. Yue Yan di sisi lain, api merah menyala di telapak tangannya.
Huo Zhan mengerutkan kening, merasakan aura ketiganya yang tak biasa—gabungan api dan air yang sempurna. “Kalian bertiga… kalian sudah berubah. Tapi ini belum selesai. Kaisar akan memutuskan!”
Dia berbalik pergi dengan amarah, tapi Ling Chen tahu—konflik baru saja dimulai lagi.
Yue Yan menarik tangan Ling Chen dan Qing Lin. “Ayo ke paviliunku. Ayah pasti sudah tahu kau kembali. Kita hadapi bersama.”
Ling Chen mengangguk, memeluk kedua istrinya dari sisi. “Bersama. Selamanya.”
Di aula itu, tiga jiwa yang pernah terpisah kini bersatu—api, air, dan cinta yang tak terpadamkan. Kekaisaran Api Agung akan bergetar lagi, tapi kali ini, Ling Chen tak lagi sendirian.