NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

BAB 35

PERANG DI MEJA KACA

​Lantai teratas Aratama Tower kini tak lagi terasa seperti rumah bagi visi-visi besar. Sejak kepemimpinan beralih ke tangan dewan direksi baru pasca-skandal Haryo, atmosfernya berubah menjadi dingin dan transaksional. Adrian tidak ada di sana untuk melindungi idealisme proyek, dan bagi para petinggi baru yang hanya memikirkan neraca saham, Green Oasis adalah beban biaya yang terlalu bengkak.

​Aisha Humaira melangkah menyusuri koridor marmer itu dengan langkah yang tegap, meski jantungnya berdegup kencang. Di bawah ketiaknya, ia mendekap bundel cetak biru yang telah ia kerjakan siang dan malam. Ia tahu, hari ini adalah penghakiman bagi karya yang menjadi napas perjuangannya dan Adrian.

​Di dalam ruang rapat yang pengap oleh aroma kopi mahal dan ego, lima orang pria berjas gelap duduk melingkar. Di tengah meja, sebuah maket Green Oasis tampak seperti permata yang sedang dikelilingi oleh pemangsa.

​"Selamat pagi, Nona Aisha," sapa Baskoro, yang meski sempat diperiksa polisi, berhasil lolos dengan jaminan dan kini duduk sebagai konsultan strategis direksi baru. Senyumnya seperti silet—tipis dan melukai. "Silakan duduk. Kami punya waktu sepuluh menit sebelum memutuskan masa depan galian tanah di Jakarta Selatan itu."

​Aisha duduk, meletakkan dokumennya. "Saya dengar ada wacana penghentian proyek. Saya di sini untuk meluruskan mengapa itu adalah kesalahan fatal."

​"Bukan wacana, Nona," sela salah satu direktur keuangan, seorang pria berkacamata tebal bernama Gunawan. "Itu adalah keputusan logis. Desain Anda terlalu idealis. Sistem filtrasi air mandiri, panel surya terintegrasi di setiap balkon, dan penggunaan material kayu daur ulang bersertifikat... itu semua memakan biaya tiga puluh persen lebih tinggi dari hunian vertikal standar. Investor ingin pengembalian cepat. Kita akan mengubah Green Oasis menjadi Aratama Residence: blok beton standar, unit lebih kecil, tanpa taman gantung, dan material standar pasar."

​Darah Aisha mendidih. "Itu bukan hanya mengubah desain, Pak Gunawan. Itu membunuh jiwa bangunan ini. Green Oasis dirancang untuk menjadi paru-paru kota, hunian yang manusiawi bagi semua kalangan. Jika Anda mengubahnya menjadi blok beton padat, Anda hanya menambah kemacetan dan polusi."

​Baskoro tertawa kecil. "Nona Aisha, Anda arsitek, bukan aktivis lingkungan. Tugas Anda adalah membuat apa yang kami perintahkan. Adrian Aratama sudah jatuh karena dia terlalu banyak bermimpi. Jangan ikuti jejaknya jika Anda masih ingin memiliki karier di industri ini."

​Aisha menatap Baskoro dengan tajam. Ia teringat Adrian yang kini sedang berpeluh sebagai kuli, menghancurkan egonya demi sebuah kebenaran. Jika Adrian bisa mengorbankan segalanya, mengapa ia harus takut kehilangan posisinya?

​"Pak Adrian tidak jatuh karena mimpi-mimpinya," suara Aisha tenang namun penuh kekuatan. "Dia jatuh karena dia memercayai orang yang salah. Dan sekarang, Anda ingin menghancurkan satu-satunya warisan yang bisa membersihkan nama Aratama Group di mata publik."

​Aisha membuka bundel dokumennya, menampilkan data demografi dan riset pasar terbaru. "Lihat ini. Generasi sekarang tidak mencari kotak beton. Mereka mencari kualitas hidup. Jika Anda membangun blok standar, Anda akan bersaing dengan sepuluh pengembang lain yang menawarkan hal serupa. Tapi jika Anda mempertahankan Green Oasis, Anda memegang monopoli pasar untuk hunian berkelanjutan. Nilai jual kembalinya akan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun."

​"Terlalu lama," potong Gunawan. "Kami butuh arus kas sekarang."

​"Maka potonglah gaji direksi, bukan kualitas betonnya!" sahut Aisha tegas. "Jika Anda menurunkan kualitas material, seperti yang coba dilakukan Haryo, Anda sedang membangun bom waktu. Biaya pemeliharaan jangka panjang akan meledak dan citra perusahaan akan hancur selamanya."

​Rapat itu berubah menjadi ajang perdebatan panas. Aisha berdiri sendirian melawan sekumpulan pria yang hanya melihat angka di atas kertas. Berkali-kali ia dipojokkan, dihina secara halus sebagai "wanita emosional", dan diancam pemutusan kontrak. Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia teringat tangan Adrian yang kapalan. Ia teringat mata ayahnya yang kini mulai menaruh harapan.

​"Saya tidak akan menandatangani revisi desain ini," Aisha menutup dokumennya dengan keras. "Jika Anda ingin menghancurkan Green Oasis, silakan cari arsitek lain. Tapi saya pastikan, bersama mundurnya saya, seluruh data riset lingkungan dan sertifikasi hijau yang saya pegang akan saya tarik kembali. Dan Anda harus memulai semuanya dari nol, yang artinya kerugian waktu enam bulan lagi."

​Skakmat. Para direksi itu terdiam. Enam bulan penundaan berarti denda penalti yang luar biasa besar dari pemerintah provinsi.

​Aisha keluar dari ruang rapat dengan tubuh yang gemetar karena adrenalin. Ia berjalan cepat menuju lift, namun sebelum pintu tertutup, Baskoro mencegatnya.

​"Kau pikir kau menang, Aisha?" desis Baskoro. "Kau hanya menunda kematian proyek ini. Tanpa pendanaan dari bank yang sudah saya pegang kendalinya, kau hanya memegang kertas-kertas cantik yang tak berharga."

​Aisha menatap Baskoro dengan tenang. "Dulu, Bapak saya kalah karena dia sendirian. Tapi sekarang, kebenaran punya banyak kawan yang tak Anda lihat."

​Sore itu, Aisha tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke lokasi proyek renovasi sekolah tempat Adrian bekerja. Ia menemukan Adrian sedang duduk di pinggir jalan, membasuh wajahnya dengan air keran setelah shift-nya berakhir.

​"Adrian," panggil Aisha.

​Adrian menoleh, matanya yang lelah seketika berbinar melihat Aisha, meski ia tampak sungkan karena pakaiannya yang penuh debu semen. "Aisha? Kenapa kau di sini? Bukankah kau harusnya ada di kantor?"

​Aisha duduk di sampingnya, mengabaikan debu yang menempel di roknya. "Mereka mencoba membunuh Green Oasis, Adrian. Mereka ingin mengubahnya menjadi penjara beton yang dingin."

​Adrian terdiam, menatap tangannya yang kasar. "Baskoro?"

​"Ya. Dia di sana, menghasut direksi lain. Aku sudah bertahan sejauh yang aku bisa, tapi mereka memegang kunci pendanaan."

​Adrian menarik napas panjang. Ia melihat bangunan sekolah di depannya yang hampir selesai ia kerjakan dengan tangannya sendiri. "Selama sebulan ini, aku belajar satu hal di sini, Aisha. Bahwa kekuatan sebuah bangunan bukan ada pada siapa yang mendanainya, tapi pada siapa yang membutuhkannya."

​Adrian menoleh ke arah Aisha, sebuah kilatan cerdas yang dulu sering ia gunakan di ruang rapat kini kembali, namun dengan sentuhan ketulusan yang baru. "Jangan lawan mereka di ruang rapat. Mereka punya kendali di sana. Lawan mereka di mata publik."

​"Maksudmu?"

​"Publikasikan desain aslimu. Ceritakan visi kita. Biarkan calon pembeli yang menuntut direksi untuk tidak mengubah apa pun. Jika ribuan orang sudah memesan unit karena janji 'hijau' itu, direksi tidak akan berani mengubah satu bata pun karena takut pada tuntutan konsumen dan penarikan massal."

​Aisha terpana. "Crowdsourcing dukungan... itu cerdik. Tapi aku bisa dipecat karena membocorkan rahasia perusahaan."

​Adrian meraih tangan Aisha—untuk pertama kalinya ia berani melakukannya, sebuah sentuhan yang bukan untuk menggoda, melainkan untuk menguatkan. "Kau bilang padaku di masjid waktu itu, jangan takut jatuh untuk hal yang benar. Jika kau dipecat, kita bangun perusahaan kita sendiri. Aku kuli yang hebat sekarang, dan kau adalah arsitek terbaik yang pernah aku kenal."

​Aisha merasakan air mata haru mengalir. Di tengah ancaman pengangguran dan tekanan korporat, ia justru merasa paling aman di samping pria yang kini hanya memiliki sepasang sepatu butut dan kemeja kusam ini.

​Malam itu, di rumahnya, Aisha mulai menyusun kampanye digital. Ia mengunggah video presentasi Green Oasis, menjelaskan filosofi di balik setiap lekuk bangunannya, dan mengapa desain asli ini sangat penting bagi ekosistem kota.

​Dalam waktu singkat, unggahan itu menjadi viral. Tagar #SaveGreenOasis mulai menggema. Masyarakat Jakarta yang haus akan ruang terbuka hijau memberikan dukungan luar biasa.

​Aisha tahu, besok pagi ia akan menghadapi badai yang lebih besar di kantor. Ia mungkin akan kehilangan pekerjaannya, meja kerjanya, dan gajinya yang besar. Namun, saat ia melihat Adrian yang kini sedang sholat di samping ayahnya di ruang tamu, ia sadar bahwa ia telah memenangkan sesuatu yang lebih besar: harga diri.

​Ia menatap maket kecil Green Oasis di meja belajarnya. Proyek itu bukan lagi sekadar tumpukan beton dan besi. Itu adalah simbol dari cintanya yang tumbuh di tempat yang paling tidak terduga, dan simbol dari perubahan seorang pria yang sedang berjuang memantaskan diri.

​"Kita tidak akan membiarkan mereka menghancurkannya, Adrian," bisiknya. "Demi kota ini, dan demi apa yang telah kita mulai."

1
Fittar
mantap...
victoria harus diberi pelajaran
Fittar
bersatu pasti kalian kuat adrian aisha
Fittar
good job adrian
Fittar
semangat adrian dan aisha
Fittar
semangat adrian
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!