raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keringat sang raja dan darah di balik kasih sayang
Lima hari telah berlalu sejak badai peperangan sembilan alam mereda di Lembah Aethelgard. Tubuh Ferdi, yang tadinya hancur dan nyaris kehilangan nyawa, kini telah kembali tegak. Meskipun begitu, sebuah bekas luka besar yang kasar dan berwarna gelap masih melintang di perut kirinya—sebuah piagam bisu dari pertempuran yang hampir meruntuhkan langit.
Fajar baru saja menyembul malu-malu di balik perbukitan Aethelgard. Udara dingin yang menusuk tulang tidak membuat Ferdi gentar. Ia bangun saat Vani masih terlelap dengan napas yang teratur.
Ferdi menatap wajah istrinya sejenak, mengusap helai rambut yang menutupi dahi Vani dengan gerakan sangat pelan, lalu melangkah keluar.
Begitu pintu gubuk terbuka, pemandangan yang menyambutnya adalah kekacauan. Sawah yang dulu hijau kini mengering dan tertutup debu sihir yang hitam. Kebun buahnya hancur, pohon-pohon tumbang seolah baru saja dilewati naga yang mengamuk.
Bau busuk dari peternakan yang tak terurus menyengat hidung. Semua ini adalah akibat dari kekuatannya sendiri saat ia kehilangan kendali di Luxeria.
"Rumah ini... harus hidup kembali," gumam Ferdi.
Ia mengambil cangkul, sapu lidi raksasa, dan berkarung-karung biji-bijian. Selama berjam-jam, Ferdi bekerja bagaikan kerbau yang tak kenal lelah. Ia menyapu debu-debu hitam, mencangkul tanah yang mengeras, dan menata kembali galengan sawah. Ia memperluas area kebun buah, menanam bibit apel, stroberi, dan gandum dengan tangannya sendiri. Keringat membanjiri tubuhnya yang belum pulih total, namun ia tidak berhenti.
Siang harinya, saat matahari tepat di atas kepala, sawah dan kebun itu sudah tampak rapi, menunggu waktu untuk bertunas. Namun, saat Ferdi berjalan menuju peternakan, hatinya mencelos. Kandang-kandang itu kosong. Sapi, babi, ayam, dan domba miliknya telah lari ketakutan atau musnah saat ledakan auranya waktu itu.
Vani pulang dari pasar dengan keranjang sayuran di tangannya. Begitu melihat Ferdi berdiri di tengah sawah yang sudah rapi, ia langsung meletakkan keranjangnya dengan kasar.
"FERDI!" teriak Vani, suaranya melengking membelah keheningan. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau sudah mencangkul?! Kau mau perutmu lubang lagi?!"
"Hanya merapikan sedikit, Vani. Tanah ini butuh napas," jawab Ferdi mencoba tenang.
"Sedikit katamu?! Sawah ini luasnya jadi dua kali lipat! Masuk sekarang! Jangan paksa aku menyeretmu!" Vani mengomel sepanjang jalan saat menuntun Ferdi masuk ke rumah.
Namun, pikiran Ferdi tidak bisa tenang. Ia melihat Vani hanya memasak sayur mayur karena tidak ada lagi stok daging dari peternakan. "Dia butuh nutrisi. Aku tidak bisa membiarkan ratuku hanya makan akar-akaran," batin Ferdi.
Sore harinya, saat Vani sedang sibuk menjahit di ruang tengah, Ferdi berbisik, "Aku ke hutan sebentar, mau cari kayu bakar."
"Tidak! Tidak boleh ke hutan sendirian!" sahut Vani tanpa menoleh.
"Hanya di pinggiran, Vani. Aku janji."
Ferdi tidak menunggu jawaban. Ia menyelinap lewat pintu belakang, langkahnya cepat menuju hutan pedalaman Aethelgard yang dikenal ganas. Tujuannya bukan kayu bakar, melainkan mencari hewan ternak baru.
Di tengah hutan, Ferdi harus berhadapan dengan alam yang liar. Dua ekor kelelawar raksasa menyambarnya dari atas pohon. Ferdi menghantam mereka dengan punggung tangannya hingga jatuh tersungkur. Tak jauh dari sana, seekor laba-laba raksasa dengan delapan kaki yang tajam seperti pedang melompat ke arahnya.
Ferdi berhasil menangkap dua ekor ayam hutan dan dua ekor domba liar. Namun, saat ia mencoba menangkap sapi liar yang kuat, laba-laba itu berhasil menusukkan kaki tajamnya ke paha kanan Ferdi.
"Ugh!" Ferdi mengerang. Darah segar merembes dari pahanya. Dengan satu tebasan tangan kosong yang dialiri energi kegelapan, ia memutus kaki laba-laba itu dan membuatnya kabur ketakutan.
Ferdi berdiri dengan napas terengah-engah. Ia memaksakan diri. Ia menyeret dua ekor sapi, memanggul dua ekor babi liar, dan mengikat domba serta ayam di pundaknya. Total ada delapan hewan: dua jantan dan dua betina untuk masing-masing jenis agar bisa berkembang biak.
Ferdi sampai di rumah saat senja mulai merah. Ia tertatih-tatih, menyeret hewan-hewan itu ke dalam kandang masing-masing. Begitu semua beres, ia mencoba mengatur napasnya. Ia mengusap darah di pahanya dengan tanah agar tidak terlihat terlalu mencolok, lalu mencoba berjalan dengan tegak menuju pintu depan.
Vani sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap. Wajahnya gelap.
"Kau lama sekali cari kayu bakarnya, Ferdi," ujar Vani dingin.
"Tadi... agak jauh ke dalam," jawab Ferdi mencoba tersenyum senormal mungkin.
Ferdi berjalan melewati Vani, mencoba tidak pincang. Namun, darah di pahanya terlalu deras. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak merah pekat di atas lantai kayu yang baru saja disapu Vani.
Tetes... tetes... tetes...
Vani melihat ke bawah. Matanya membelalak. Amarahnya meledak 100 persen.
"FERDIIIIIIII!!! KAU GILA YA?!" jerit Vani. Ia berlari menghalangi jalan Ferdi. "Lihat kakimu! Darah ini darimana?! Kau berkelahi lagi?! Kau bilang mau cari kayu bakar, kenapa kakimu sobek seperti ini?!"
Ferdi terdiam, mencoba menutupi luka itu dengan tangannya. "Bukan apa-apa, Vani. Hanya tergores semak."
"TERGORES SEMAK TIDAK AKAN MEMBUAT LANTAIKU JADI LAUTAN DARAH!" Vani menangis, air matanya tumpah karena rasa takut dan kesal yang bercampur. "Kenapa kau nakal sekali?! Kenapa kau tidak pernah dengar apa kataku?! Aku menyuruhmu istirahat karena aku ingin kau sehat! Bukan karena aku ingin kau jadi pelayan!"
Vani memukul dada Ferdi dengan tangan kecilnya, kepalanya bersandar di dada suaminya sambil terisak hebat. "Kau sok keren... kau merasa paling kuat... tapi kau membuatku jantungan setiap hari! Aku benci punya suami sepertimu! Hiks... aku benci!"
Ferdi menghela napas panjang, ia memeluk Vani erat meskipun pahanya terasa sangat perih. "Aku hanya ingin kau makan daging, Vani. Kandang sudah terisi. Ada sapi, babi, ayam, dan domba. Kita akan punya stok daging yang banyak. Kau tidak boleh hanya makan sayur, kau butuh tenaga untuk terus memarahiku."
Vani tertegun di dalam pelukan Ferdi. Amarahnya perlahan luruh menjadi rasa haru yang menyesakkan. Ia tahu, suaminya yang kaku ini sedang menunjukkan cinta dengan cara yang paling ekstrem.
"Kau bodoh... aku tidak butuh daging kalau itu artinya kau harus berdarah begini," bisik Vani di sela tangisnya.
Vani menyeret Ferdi ke tempat tidur. Ia mengambil kotak obat dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar karena masih kesal.
Vani: (Sambil menuangkan alkohol ke luka Ferdi) "Rasakan ini! Biar kau tahu rasa sakit itu nyata, bukan cuma pajangan!"
Ferdi: (Meringis menahan perih) "Ssshhh... pelan sedikit, Sayang."
Vani: "Jangan panggil aku Sayang! Aku sedang marah! Kau tahu tidak, laba-laba hutan itu beracun? Kalau kakimu membusuk bagaimana?! Kau mau jadi Raja Kegelapan yang jalannya pakai kursi roda?!"
Ferdi: "Kalau begitu, kau yang harus mendorongku ke mana-mana."
Vani: (Mencubit lengan Ferdi) "Bisa-bisanya kau bercanda! Dengar ya, Ferdi. Aku senang kau sayang padaku. Aku senang ada sapi di kandang. Tapi nyawamu itu lebih berharga dari seluruh peternakan di dunia ini! Kau mengerti?!"
Ferdi: "Aku mengerti, Vani. Tapi aku juga tidak tahan melihatmu hanya makan sup wortel setiap hari. Wajahmu jadi pucat."
Vani: (Wajahnya memerah, ia menunduk sambil membalut paha Ferdi dengan sangat rapi) "Pucat karena aku kurang tidur mengurusmu, tahu! Bukan karena kurang daging! Dasar pria batu..."
Setelah luka itu dibalut, Vani berdiri dan mencium kening Ferdi. Amarahnya sudah hilang, berganti dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Sekarang diam di sini. Aku akan masak sup ayam dari ayam yang kau bawa itu. Tapi ingat, besok jangan berani-berani keluar dari pagar rumah tanpa seizinku, atau aku akan menyuruh Irfan untuk merantai kakimu ke tempat tidur!"
Ferdi tersenyum tipis. "Siap, Ratu-ku."
Malam itu, aroma sup ayam yang harum memenuhi gubuk kecil mereka. Meskipun kaki Ferdi sakit dan Vani masih sesekali mengomel, kebahagiaan terasa sangat nyata di Lembah Aethelgard. Sebuah peternakan baru telah dimulai, sama seperti cinta mereka yang selalu lahir kembali dari setiap tetes darah dan air mata.