Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
....
"KEBAKARAN! TOLONG KEBAKARAN!" pekik seorang wanita paru baya tepat di daun telinga gadis yang tenga tertidur di dalam kelas
"Mana kebakaran, mana? TOLONG! Ke—"
"HAHAHA!" tawa siswa-siswi di kelas tersebut pecah saat melihat tingkah gadis itu yang jingkrak-jingkrak minta tolong.
"Aw, aduh s-sakit buk.." telinga gadis itu di tarik oleh wanita paru baya yang tak lain wali kelasnya sendiri
"Enak banget ya tidur di kelas, sedangkan mulut ibu hampir berbusa menjelaskan materi di dep—" ucapan sang guru terhenti saat melihat gadis tersebut kembali tertidur.
"NIGISTA KANAYA PUTRI BANGUN!"
______
"Mohon maaf ada apa ya ibu memanggil saya?" pertanyaan itu muncul dari bibir mamanya Nigista, Arabella namanya.
"Begini bu, mohon maaf sebelumnya saya selaku wali kelas Gista tidak bisa mempertahankannya berada di sekolah ini lagi karena sudah sangat banyak ulah yang sudah dia perbuat bahkan saya sering di tegur kepala sekolah karena ulahnya."
Mendengar ucapaan sang wali kelas membuat wanita paru baya tersebut menatap horor Nigista, gadis itu seketika menundukan pandangannya.
"Oh iya buk gapapa bu, saya selaku orang tuanya Gita mohon maaf atas tingkah laku buruknya ini. Anak ini emang gak cocok bersekolah." ucap Arabella. "Gista, ayo pulang bikin malu aja."
Bruk!
Tubuh Gista di dorong oleh mamanya saat tiba di rumah hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Harus berapa kali kau mempermalukan saya, Gista?"
"Maaf ma ..."
"Maaf? Enak banget kau bilang maaf, kau gak tau berapa banyak uang yang saya habiskan hanya untuk menyekolahkan anak sialan sepertimu ini, harusnya kau mati saja."
"Aghkk! Sakit ma." Gista meringis kesakitan saat rambutnya di tarik, dan ia di seret ke gudang.
Ctas!
Hukuman Gista baru di mulai, ia selalu mendapatkan siksaan jika melakukan kesalahan sekecil apapun.
"M-maaf ma, ampun sakit ma ..." Gista meringis kesakitan saat satu cambukan berhasil mendarat di tubuhnya
Ctas!
Rintihan kesakitan terus muncul dari bibir Gista namun wanita baya itu tak sekalipun merasa kasihan padanya
Ctas!
"AGHHH!" Gista tak bisa menahan rasa sakit di tubunnya lagi hingga ia menjerit kesakitan saat cambuk mamanya kembali mengenai kulit tubuhnya
Tap.
Tap.
Tap.
Langkah kaki terdengar dari atas, gadis cantik dengan rambut di gerai menghampiri sumber suara yang mengusik aktifitas belajarnya.
"Mama cukup!" teriakan gadis tersebut berhasil menghentikan Arabella yang mencambuk Gista
"Masuk ke kamarmu lagi Adara, jangan hentikan mama. Anak sialan ini harus di lenyapkan, dia sudah mempermalukan mama." ucap Arabella pada putrinya, Adara.
Adara putri tertuanya Arabella, dan Gista? Gista merupakan saudari kembar Adara namun Arabella tak pernah menganggap Gista ada, entah kenapa wanita itu sangat membenci putri bungsunya itu.
"Gista buat kesalahan apalagi ma? Kenapa mama semarah ini?" ucap Adara. "mama gak boleh marah-marah kayak gini nanti darah mama naik lagi, mama baru keluar dari rumah sakit loh."
Mendengar ucapan penuh perhatian dari putri tersayangnya, Arabella seketika melepaskan cambuk di tangannya. Wanita paru baya itu menghampiri putri tersayangnya.
"Cuma kamu yang bisa ngertiin mama, dar. Mama kesal, dia sudah mempermalukan mama." ucap Arabella, wanita paru baya tersebut menarik napas berat. "Dia dikeluarin dari sekolah lagi."
Deg
Mendengar ucapa sang mama membuat mata Adara melebar. "Mama serius?"
"Mama serius dara, anak ini emang bisanya nyusahin saja. Lebih baik dia mati biar hidup kita bisa damai.."
Wanita paru baya itu kembali mengambil cambuk, lalu mendaratkan benda itu pada punggung Gista lagi.
Ctas!
Tak ada suara rintihan dan desisan dari mulut Gista lagi, gadis itu sudah benar-benar habis tenaga untuk sekedar berteriak.
"Mama dara mohon stop.. kasihan Gista, ma." air mata Adara sudah tak dapat ia bendung lagi saat melihat kondisi saudari kembar yang sangat memprihatinkan.
Bruk
Tubuh Gista sudah merosot kelantai, Adara langsung menghampiri Gista saat mamanya meninggalkan gudang. Adara memampa Gista ke kamar, setelah tiba di sana ia langsung mengobati luka bekas cambukan.
"S-sakit dar.." lirih Gista saat Adara ngobati lebam di punggungnya
"Tahan sta, ini demi kesembuhan lo."
Gista terkekeh saat mendengar ucapan saudari kembarnya itu."Percuma di obatin dar, sakitnya masih berbekas di hati."
Ucapan Gista barusan berhasil menusuk hati Adara, rasanya ada benda tajam yang menghantam hatinya. Sesakit itukah yang Gista rasakan selama ini?
"Sebenarnya apasih yang terjadi la? Kenapa lo bisa di keluarin dari sekolahan."
"Biasa dar, gue ketiduran di sekolah lagi." ucap Gista, suaranya terdengar lirih. Ia sadar jika memang salah dalam hal ini, namun cara mamanya memberitahunya itu juga salah.
"Astaga sta, pantes mama marah lo baru satu bulan pindah ke sekolah itu." adara menepuk jidatnya, ia benar-benar kaget mendengarnya.
"Gue emang salah,"
Adara menghela napas berat. "Apa karena bisikan itu lagi, sta?"
Gista mengangguk, ucapan saudari kembarnya itu tak salah.
"Sudah, sudah, lo istirahat aja. Ini bukan sepenuhnya salah lo, nanti gue akan ngobrol sama mama biar pindahin lo kesekolahku aja."
Gista mengangguk. "Iya dar, gue capek gonta-ganti sekolah mulu."
Adara memeluk Gista. "Jangan nyerah ya sta? Lo itu anak istimewa yang di percaya Allah buat bantu banyak orang, jadi jangan sedih ya gue yakin lo pasti bisa."
"Tapi gue capek, boleh nyerah gak sih? Mama pasti senang kalo gue gak ada ya dar?"
Air mata kembali mengalir dari mata Adara saat mendengar ucapan Gista, ia mengeratkan pelukan.
"Jangan ngomong kayak gitu sta.."
_____
"Enggak dara, mama gak mau lagi sekolahin anak sialan itu buang-buang uang saja."
"Plis ma. Kasihan Gista, dia juga butuh sekolah."
"Perempuan seperti dia itu gak pantes bersekolah dara cuman buang-buang uang, mending dia di rumah bantu mama bersih-bersih rumah." ucap Arabella yang kerap di panggil Bella
"Tap—"
"Cukup dara, mama sibuk gak ada waktu buat debat sama kamu. Kamu keluar sekarang juga jangan ganggu mama lagi kerja."
Dengan terpaksa Adara pergi dari sana, saat tiba diluar ruangan mamanya itu ia melihat sudah ada Gista berada di ambang pintu.
"Mama benar dar, gue gak pantes buat sekolah, jadi lo gak perlu bujuk-bujuk mama lagi." setelah mengatakan itu Gista pergi dari sana
Setelah kejadian satu minggu yang lalu, di mana Gista di keluarin dari sekolah gadis itu tak bersekolah lagi. Mamanya tak mau mengeluarkan sepeser uang lagi untuk menyekolahkan Gista, Gista tak menyalahkan mamanya. Apa yang dikatakan mamanya itu benar, ia bersekolah hanya membuang-buang uang. Sudah 12 sekolah yang mengeluarkan Gista karena tingkah anehnya, pantas saja mamanya tak ingin menyekolahkannya lagi.
Tapi ini bukan sepenuhnya salah Gista, ia juga ingin menjadi manusia normal namun apalah dayanya ia sering bergadang karena mendapat bisikan-bisikan ditelinganya hal itu yang menyebabkannya tak bisa tidur jika dimalam hari oleh karena itu ia sering ketiduran di sekolah.
"GISTA TUNGGU!" Adara mengejar Gista namun gadis itu sudah melesat pergi meninggalkan halaman rumah dengan menggunakan motornya
Di perjalan, Gista kembali mendengar bisikan itu lagi hingga membuat motor yang ia gunakan itu tak seimbang dan..
Brak