Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Bayangan di Balik Hutan
Pagi yang tenang di pegunungan itu perlahan berubah menjadi siang yang hangat. Matahari bersinar di antara celah-celah pepohonan tinggi, menciptakan bayangan panjang di tanah. Goo Yoon berdiri di tengah lapangan latihan sambil memegang pedangnya. Nafasnya masih sedikit berat setelah latihan membaca aura yang ia lakukan bersama dua murid Han Seol.
Han Seol berdiri di dekat batu besar sambil memperhatikan dengan tenang.
“Latihanmu semakin membaik,” kata Han Seol.
Goo Yoon menundukkan kepala dengan hormat. “Semua karena bimbingan Guru.”
Han Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap hutan yang terbentang luas di depan mereka.
Entah mengapa, matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.
Beberapa saat kemudian ia berkata, “Goo Yoon, apa kau masih ingat pelajaran tadi pagi?”
Goo Yoon mengangguk. “Tentang membaca aura lawan.”
“Benar,” jawab Han Seol. “Sekarang kita akan mengujinya.”
Goo Yoon sedikit terkejut. “Mengujinya?”
Han Seol menunjuk ke arah hutan.
“Ada seseorang di sana.”
Goo Yoon langsung menatap ke arah yang ditunjuk gurunya. Namun yang ia lihat hanyalah pepohonan dan semak-semak yang bergoyang pelan karena angin.
“Aku tidak melihat siapa pun.”
Han Seol berkata dengan tenang, “Itulah sebabnya kau harus merasakannya.”
Goo Yoon menarik napas panjang lalu menutup matanya.
Ia mencoba menenangkan pikirannya seperti saat latihan sebelumnya.
Perlahan ia memperluas kesadarannya.
Ia merasakan energi tanah di bawah kakinya.
Energi pepohonan yang hidup di sekitarnya.
Energi hewan kecil yang bergerak di antara semak-semak.
Namun di antara semua energi itu, ada satu yang terasa berbeda.
Energi itu lebih dingin.
Lebih tajam.
Seperti pisau yang tersembunyi di balik bayangan.
Mata Goo Yoon langsung terbuka.
“Guru… aku merasakannya.”
Han Seol tersenyum tipis.
“Bagus. Sekarang katakan di mana dia.”
Goo Yoon memejamkan mata lagi sebentar.
Ia mencoba mengikuti aliran aura itu.
Energinya terasa samar namun jelas berada di satu arah.
Ia menunjuk ke kiri.
“Di sana… di balik pohon besar.”
Han Seol mengangguk puas.
“Tepat sekali.”
Seolah menjawab kata-kata itu, sebuah bayangan tiba-tiba bergerak dari balik pohon.
WHOOSH!
Seorang pria berpakaian hitam melompat keluar dengan pedang di tangannya.
Gerakannya sangat cepat.
Tanpa berkata apa pun, ia langsung menyerang Goo Yoon.
CLANG!
Goo Yoon dengan cepat mengangkat pedangnya dan menangkis serangan itu.
Percikan kecil muncul saat kedua pedang bertabrakan.
Pria itu mundur satu langkah, lalu menyerang lagi dengan gerakan lebih cepat.
SWOOSH!
Pedangnya bergerak seperti kilat.
Namun kali ini Goo Yoon tidak panik.
Ia menutup matanya sejenak.
Dan merasakan aura lawannya.
Gerakan pria itu langsung terasa jelas dalam kesadarannya.
CLANG!
Goo Yoon menangkis serangan berikutnya.
Ia memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya.
WHOOSH!
Pria berpakaian hitam itu terpaksa melompat mundur untuk menghindar.
Han Seol memperhatikan dari kejauhan tanpa ikut campur.
Pertarungan itu hanyalah ujian.
Pria misterius itu kembali menyerang.
Serangannya kali ini lebih ganas.
Pedangnya bergerak dari atas, dari samping, bahkan dari bawah.
Namun setiap kali serangan datang, Goo Yoon sudah merasakannya lebih dulu.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Suara benturan pedang bergema di antara pepohonan.
Goo Yoon mulai bergerak lebih percaya diri.
Ia tidak lagi hanya bertahan.
Ia mulai menyerang balik.
WHOOSH!
Ayunan pedangnya kali ini lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya.
Energi dalam yang ia latih mulai mengalir ke pedangnya.
Pria berpakaian hitam itu tampak sedikit terkejut.
Ia melompat mundur beberapa langkah.
Kemudian ia berhenti.
Beberapa detik mereka saling menatap.
Akhirnya pria itu menurunkan pedangnya.
Han Seol berjalan mendekat.
“Cukup.”
Pria berpakaian hitam itu segera menundukkan kepala.
“Tuan.”
Goo Yoon sedikit bingung.
“Guru… siapa dia?”
Han Seol menjawab dengan santai, “Dia salah satu murid lamaku.”
Goo Yoon terkejut.
“Jadi ini hanya latihan?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Latihan… tapi juga ujian.”
Han Seol menatap Goo Yoon dengan serius.
“Kau lulus.”
Goo Yoon menarik napas panjang.
Meskipun ia berhasil bertahan, pertarungan tadi tetap membuat tubuhnya tegang.
Han Seol berkata, “Hari ini kau telah membuktikan bahwa kau bisa merasakan aura lawan bahkan tanpa melihat mereka.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Namun dunia pendekar jauh lebih kejam dari latihan ini.”
Goo Yoon menatap gurunya.
“Maksud Guru?”
Han Seol memandang hutan yang gelap di kejauhan.
“Di luar sana ada banyak orang yang mengincar teknik Pedang Langit.”
Angin bertiup melewati pepohonan.
Suasana tiba-tiba terasa lebih serius.
Han Seol melanjutkan dengan suara rendah.
“Dan cepat atau lambat… mereka akan datang mencarimu.”
Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat.
Ia tahu perjalanan untuk menjadi pendekar terkuat tidak akan mudah.
Namun ia tidak takut.
Justru hatinya semakin kuat.
Han Seol menatap muridnya dengan tatapan dalam.
Dalam dirinya ia bisa melihat sesuatu yang jarang dimiliki pendekar lain.
Tekad.
Tekad yang suatu hari bisa mengguncang dunia persilatan.
Di kejauhan, hutan kembali menjadi sunyi.
Namun tanpa mereka sadari, di tempat yang lebih jauh lagi, seseorang benar-benar sedang mengawasi mereka.
Dan kali ini…
Itu bukan latihan.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/