Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Amukan Serigala
Hawa dingin malam menyapu koridor luar The Velvet Manor, membawa aroma tanah basah dan pinus yang tajam. Aira baru saja keluar dari ruang kerja setelah menghancurkan mental Dante, namun ia tidak sempat menghirup napas lega. Di ujung lorong yang gelap, sesosok bayangan besar berdiri tegak. Mata itu tidak biru es seperti Dante, juga tidak gelap misterius seperti Zane. Mata itu berkilat amber, buas, dan penuh dengan dendam yang mendidih.
Kael.
Tanpa sepatah kata pun, Kael melangkah maju. Langkahnya berat, menghantam lantai kayu dengan suara yang mengancam. Sebelum Aira sempat mengeluarkan perintah ket ketatnya, tangan kasar Kael sudah menyambar pergelangan tangan Aira.
"Ikut aku," geram Kael. Suaranya serak, seperti gesekan batu yang pecah.
Aira mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Kael seperti borgol besi. "Lepaskan, Kael! Aku belum memberimu izin untuk menyentuhku!"
Kael tidak berhenti. Ia justru menarik Aira lebih kasar, menyeretnya menuruni tangga menuju pintu belakang yang mengarah ke kandang kuda. "Izin? Kau membiarkan Dante berlutut di bawah kakimu berjam-jam. Kau membiarkan Zane mencicipi darahmu di hutan. Dan aku? Kau hanya memberiku goresan pedang dan perintah untuk membersihkan lantai?"
Kael membanting pintu kandang kuda. Aroma jerami, kuda, dan kulit pelana menyerbu indra penciuman Aira. Di sana, seekor kuda hitam raksasa—Storm—sudah siap dengan pelana. Kael mengangkat tubuh Aira dengan satu sentakan kuat, mendudukkannya di atas punggung kuda, lalu ia sendiri melompat ke belakang Aira, mengurung tubuh mungil wanita itu di antara kedua lengannya yang kekar.
"Kael, kau gila! Turunkan aku!" seru Aira panik.
"Aku memang gila, Isabella! Dan kau yang membuatku begini!" Kael menghentakkan kakinya ke perut kuda. Storm meringkik keras dan melesat keluar dari kandang, menembus kabut malam menuju jantung hutan dengan kecepatan yang mematikan.
Angin malam menampar wajah Aira, membuat rambut hitam panjangnya terbang liar. Di belakangnya, ia bisa merasakan dada bidang Kael yang panas menempel erat di punggungnya. Dekapan Kael begitu posesif, lengannya yang berotot memegang kendali kuda sekaligus mengunci pinggang Aira agar tidak terjatuh. Ketegangan yang menyiksa ini bercampur dengan adrenalin yang memacu jantung.
"Kau ingin kebebasan, bukan?" bisik Kael di telinga Aira, suaranya teredam oleh deru angin. "Di sini, tidak ada Dante yang mengaturmu. Tidak ada Julian dengan racunnya. Hanya ada kau, aku, dan hutan ini."
Kael memacu kuda semakin kencang, melompati dahan-dahan pohon yang tumbang di tengah kegelapan. Aira merasa seolah-olah ia sedang terbang menuju kematian. Namun, di dalam ketakutannya, ia merasakan sesuatu yang lain—sebuah hasrat yang tertahan yang mulai terpancing oleh keliaran pria ini.
Mereka berhenti di tepi tebing yang menghadap ke lembah berkabut. L
Kael tidak segera melepaskan dekapannya meskipun kuda mereka telah berhenti di tepi jurang yang curam. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma mawar yang kini bercampur dengan bau keringat dan adrenalin dari pacuan kuda yang gila tadi. Tubuh Aira yang mungil terasa begitu rapuh namun sekaligus begitu kuat di dalam pelukannya yang kasar.
"Kau gemetar, Isabella," bisik Kael, suaranya parau dan berat, bergetar tepat di kulit leher Aira. "Apakah kau takut padaku? Ataukah kau takut pada dirimu sendiri yang mulai menikmati cara kasarku memperlakukanmu?"
Aira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membiarkan kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada bahu Kael yang keras seperti batu karang. Ia menatap bulan yang tampak berdarah di balik kabut tebal. Di dalam hatinya, Aira merasakan peperangan antara identitas aslinya yang ingin lari dan identitas Isabella yang haus akan dominasi ini.
Kael menarik Aira turun dari kuda dengan satu sentakan, menjatuhkannya ke atas hamparan lumut yang dingin di bawah pohon tua yang dahannya menyerupai cakar iblis. Kael mengurung tubuh Aira dengan kedua tangannya, matanya yang berwarna amber berkilat dengan kegilaan yang murni.
"Hukum aku, Nyonya," tantang Kael, suaranya rendah dan berbahaya. Ia mengambil tangan Aira dan meletakkannya di lehernya yang berdenyut kencang. "Cekik aku seperti kau mencekik Dante dengan kata-katamu. Atau gunakan belati ini untuk merobek dadaku. Tapi jangan pernah mengabaikanku lagi."
Aira menatap Kael. Ia melihat seekor serigala yang sedang memohon untuk dijinakkan, namun dengan cara yang paling brutal. Aira perlahan menarik sudut bibirnya, membentuk smirk yang sangat dingin.
"Kau pikir dengan membawaku ke tempat sunyi ini, kau bisa memilikiku, Kael?" Aira bertanya, suaranya kini kembali dingin dan penuh dengan smirk yang menyiksa. "Kau hanyalah seekor anjing yang mencoba menggigit tangan majikannya karena merasa lapar akan perhatian. Kau cemburu melihat Dante berlutut, bukan?"
Kael mencengkeram pinggang Aira lebih kuat, kukunya hampir menembus kain sutra gaunnya. "Dante adalah pria tua yang hanya tahu cara memuja bayanganmu. Zane adalah pengecut yang bersembunyi di balik rahasia. Tapi aku... aku adalah satu-satunya yang berani menyentuhmu seperti ini. Aku adalah satu-satunya yang tahu bahwa di balik topeng kejammu, kau adalah wanita yang merindukan kehancuran.
"
"Kau ingin dihukum, Kael? Karena kau membawaku keluar tanpa izin?" Aira merangkul leher Kael, menarik pria besar itu hingga kening mereka bersentuhan. "Kau pikir dengan menculikku ke sini, kau akan mendapatkan perhatianku?"
Aira tiba-tiba menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, sebuah tindakan kekejaman fisik yang spontan. Kael mengerang, namun ia tidak mundur; ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Aira.
"Kau hanyalah seekor binatang yang haus akan cambukan," bisik Aira dengan nada yang sangat sensual namun menghina. "Dan jika kau ingin aku memberikan perhatianku, maka kau harus membuktikan bahwa kau bisa tetap diam saat aku membiarkan pria lain menyentuhku di depan matamu. Bisakah kau melakukannya, Serigala?"
Kael mematung. Ide melihat Aira dengan pria lain adalah siksaan neraka baginya, namun perintah Aira adalah candu yang tidak bisa ia tolak. Ia mencium leher Aira dengan liar, meninggalkan tanda baru di atas tanda-tanda yang sudah ada, seolah sedang mencoba menghapus jejak Dante dan Zane.
"Aku akan melakukannya..." bisik Kael parau. "Aku akan diam... selama kau menjanjikan bahwa pada akhirnya, akulah yang akan merobek pakaianmu dan menghancurkan sisa-sisa kesucianmu."
Aira tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kemenangan gelap. Ia tahu, ia baru saja merantai serigala yang paling liar di mansion ini dengan rantai kecemburuan yang tidak akan pernah putus.
Di balik semak-semak, bayangan Isabella asli menonton dengan mata yang berkilat merah. "Bagus, Aira... kau membuat mereka saling membenci demi satu lirikan matamu. Teruslah seperti ini, dan kau akan melihat bagaimana mereka akan saling membantai untukmu sampai nanti."
Aira mendorong Kael menjauh dan naik kembali ke atas kuda dengan keanggunan seorang penguasa. "Bawa aku pulang, Kael. Dan pastikan Dante melihatmu menuntun kudaku seperti pelayan rendahan. Itu adalah hukumanmu untuk malam ini."
Kael menunduk, ia mengambil kendali kuda dan mulai berjalan kaki menuntun Aira kembali ke mansion di bawah sinar rembulan yang pucat—sebuah simbol penyerahan diri total sang serigala kepada Nyonya Menor-nya yang baru.
Lanjuutt