NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Revano Axel Victoria

“Lama banget sih, Bun,” gerutu Freya sambil melipat tangan di depan dada saat melihat Bunga akhirnya keluar dari toilet.

“Hehehe… maaf, gue buang air besar juga,” ucap Bunga cengengesan tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Ayo kita pergi,” lanjutnya santai sambil menyeret tangan Freya keluar dari sana.

Saat mereka baru saja keluar dari area toilet, langkah mereka tiba-tiba terhenti. Di depan lorong itu berdiri Adrian yang menatap mereka dengan tajam, seolah sudah menunggu sejak tadi.

“Puas lo berdua!” ucap Adrian dengan nada penuh emosi.

“Lo tanya kita?” ucap Bunga sambil menunjuk dirinya sendiri, tak lupa memasang senyum meremehkan.

“Siapa lagi kalau bukan kalian!” ucap Adrian dengan suara yang sedikit meninggi.

“Lo gak usah bicara sekencang itu, gue gak budek,” balas Freya kesal sambil menatap Adrian dingin.

Namun Adrian seolah tak peduli. Ia tetap meninggikan suaranya. “Gara-gara kalian gue putus sama Rania.”

“Lo berdua putus karena kesalahan lo sendiri, jadi lo jangan salahin kita,” ucap Bunga dengan nada tegas.

“Salahin aja diri lo itu,” tambah Freya tanpa ragu.

“Dasar kalian junior yang kurang ajar!” bentak Adrian kesal.

“Memangnya lo siapa sampai harus gue hormati?” ucap Bunga dengan nada sinis.

“Emang lo presiden yang harus gue hormati?” sahut Freya tak kalah tajam.

“Dasar cowok brengsek, baru aja putus udah celilitan sama cewek,” ucap Bunga lagi sambil menyilangkan tangan.

Freya kemudian melangkah sedikit lebih maju. Tatapannya berubah dingin dan serius.

“Ingat ya, ini pertama kalinya gue kasih lo peringatan. Kalau lo sampai ganggu Rania lagi, gue akan menghabisi lo. Paham!” ucap Freya dengan nada rendah namun penuh tekanan.

“Emang lo bisa apa, hah? Ngancam gue segala,” balas Adrian dengan nada meremehkan.

“Gak perlu lo tahu siapa gue. Tapi kalau lo langgar apa yang gue bilang, jangan harap lo bisa hidup tenang,” ancam Freya.

“Sorry, gue gak mempan dengan ancaman kecil lo itu, bocil,” ucap Adrian mengejek.

“Terserah lo percaya atau gak. Tapi lo jangan dekat sahabat gue lagi,” ucap Freya tegas. Ia kemudian menarik tangan Bunga. “Yuk, Bun. Kita pergi dari sini. Malas gue lihat buaya berkedok manusia.”

Tanpa menunggu balasan lagi, Freya langsung menarik Bunga menjauh dari tempat itu. Langkah mereka cepat meninggalkan Adrian yang masih berdiri di lorong sekolah.

“Dasar junior kurang ajar. Dia kira gue terhasut dengan ancamannya,” gumam Adrian sambil menatap sinis ke arah sahabat Rania yang sudah semakin menjauh.

Beberapa saat kemudian ia menghela napas kesal.

“Gue harus bisa balikan lagi sama Rania.”

Ia mengepalkan tangannya, wajahnya dipenuhi penyesalan bercampur kesal.

“Arghh… kenapa gue gak tahu sih kalau Rania anak miliarder. Kalau gue tahu, gue gak akan secepat ini menjalankan misi gue.”

Adrian menggeram pelan, pikirannya dipenuhi berbagai rencana yang kini terasa berantakan.

••

“Lama banget sih kalian,” ucap Balqis saat melihat Freya dan Bunga akhirnya menghampiri mereka.

“Ini nih, bocah tengil. Dia lanjut buang air besar lagi,” jawab Freya kesal lalu langsung duduk di samping Rania.

Sementara itu, Bunga hanya cengengesan tanpa rasa bersalah sebelum akhirnya duduk di samping Lara.

“Tau gak? Tadi kami berdua debat sama Adrian,” ucap Bunga tiba-tiba.

Ucapan itu langsung membuat Rania menatapnya.

“Lo debatin apaan?” tanya Bintang penasaran.

Bunga pun mulai menceritakan dengan cukup detail tentang apa yang terjadi antara dirinya, Freya, dan Adrian saat mereka keluar dari toilet. Sesekali Freya ikut menambahkan cerita dengan nada kesal.

“Kalian tenang saja, gue gak akan termakan sama ucapan Adrian lagi,” ucap Rania setelah mendengar cerita Bunga.

“Harus itu!” sahut Balqis tegas.

“Masih ada kok cowok ganteng di sekolah ini. Jangan sama cowok brengsek itu lagi,” ujar Lara mencoba menghibur.

Rania tidak menanggapinya. Namun dalam hatinya ia berjanji, suatu saat nanti jika ia memilih kekasih lagi, ia ingin seseorang yang benar-benar tulus kepadanya.

“Kalau lo mau, gue ada lihat cowok ganteng di sekolah ini, Ran. Satu angkatan juga ada,” ujar Bintang santai.

“Lo gak usah cariin gue pacar. Kalau kalian mau, cariin saja Bunga,” ucap Rania. Saat ini ia benar-benar tidak ingin memikirkan soal hubungan lagi.

“Bin, lo tahu?” ucap Bunga pada Bintang. “Gue kok gak lihat cowok ganteng ya?”

“Iyalah gue tahu. Gue kan masuk grup Most Wanted sekolah. Mereka juga jarang terlihat. Biasanya mereka punya ruangan khusus, mungkin mereka gak mau diganggu,” jelas Bintang sambil tertawa kecil.

“Serius emang ada?” ucap Bunga dengan wajah tidak percaya.

“Iya ada, Bun. Rata-rata di grup itu pengagum rahasia mereka,” jawab Bintang.

“Kasih masuk gue dong,” ucap Bunga antusias.

“Oke, nanti gue kasih masuk lo,” ucap Lara.

Sementara Balqis dan Freya hanya menatap mereka dengan malas.

Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran akan dimulai. Mereka berlima pun beranjak menuju kelas masing-masing.

Rania berjalan menuju kelasnya bersama Lara dan Bintang.

Selama perjalanan menuju kelas, Rania kembali memasang wajah datar. Menurut sahabat-sahabatnya, ia kembali menjadi Rania yang dingin seperti dulu.

Di dalam kelas, Rania hanya termenung dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah ke mana.

Lara yang melihat keadaan Rania merasa tidak tega. Ia pun tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.

Ia mendekati Rania.

“Rania,” ucapnya pelan.

Rania menoleh, lalu sedikit menaikkan alisnya.

“Ran, temanin gue dong,” ajak Lara.

“Kemana?”

“Galeri seni. Gue ingin lihat teman gue tampil nyanyi,” jawab Lara dengan wajah antusias.

“Nyanyi?” tanya Rania singkat.

“Iya. Mumpung jam kosong. Ibu Melati hari ini juga ikut rapat,” jawab Lara. Ia lalu menggoyangkan lengan Rania. “Mau ya, plis.”

Lara benar-benar berharap Rania mau ikut dengannya. Ia ingin Rania sedikit melupakan masalahnya.

Rania menatapnya datar, lalu melirik sekeliling kelas.

“Lo sama Bintang saja?” ucapnya sambil menatap Bintang yang sedang asyik bermain ponsel.

Lara langsung melirik Bintang.

“Bintang tidak bisa, Ran. Iya kan Bin, lo gak bisa temanin gue?”

Bintang yang tiba-tiba diseret ke dalam percakapan itu langsung menatap Lara. Lara mengedipkan mata memberi kode.

Walaupun bingung, Bintang akhirnya mengangguk.

“Tuh, Ran. Bintang gak bisa.”

Rania menghela napas berat sebelum akhirnya berkata, “Baiklah.”

Lara langsung tersenyum puas.

Mereka berdua lalu keluar dari kelas menuju galeri seni tempat pertunjukan teman Lara akan berlangsung.

Saat mereka sampai di sana, sudah cukup banyak murid yang berkumpul di depan galeri. Suasana terlihat cukup ramai.

Lara mengajak Rania duduk di barisan paling depan agar bisa melihat penampilan temannya dengan jelas.

Tak lama setelah mereka duduk, teman Lara terlihat sedang tampil di podium.

“Ran, itu teman gue,” ujar Lara sambil menunjuk dengan antusias.

Rania hanya mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian, penampilan teman Lara selesai dan ia turun dari podium.

“Baik, selanjutnya—”

Belum sempat MC melanjutkan ucapannya, suara tepuk tangan yang sangat meriah langsung memenuhi ruangan. Suaranya begitu gemuruh hingga membuat ucapan MC hampir tidak terdengar.

“Rame amat pendukungnya. Siapa ya selanjutnya?” ucap Lara heran melihat antusias penonton.

“Yang akan tampil salah satu Most Wanted sekolah ini,” sahut murid yang duduk di samping Lara.

“Most Wanted sekolah? Cowok atau cewek?” tanya Lara.

“Cowok. Makanya banyak kaum hawa datang ke sini buat lihat dia tampil,” ucap murid itu sambil tertawa kecil. “Itu dia,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah panggung dengan penuh antusias.

Sosok yang ditunjuk hanya menampilkan senyum tipis. Namun senyum sederhana itu saja sudah cukup membuat para siswi berteriak histeris.

“Lo tau namanya siapa?” tanya Lara lagi penasaran.

Belum sempat murid di sampingnya menjawab, suara MC kembali menggema melalui pengeras suara.

“Selanjutnya, Revano Axel Victoria.”

Suara tepuk tangan langsung menggema memenuhi ruangan galeri seni. Para siswi berteriak memanggil nama Revano dengan penuh semangat.

Revano berjalan naik ke atas panggung.

Tatapan matanya tajam, rahangnya tegas membuat wajahnya terlihat dingin. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menambah kesan liar pada penampilannya yang santai. Ia tampan, namun auranya jelas bukan tipe pria yang mudah didekati.

“Silakan, Revano,” ucap sang MC mempersilakannya.

Revano hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum menatap para murid yang memenuhi ruangan.

Dalam pikirannya, ia sempat heran. Ia tidak menyangka akan ada sebanyak ini orang yang datang.

Matanya menyapu ruangan satu per satu dengan ekspresi datar.

Hingga akhirnya tatapan Revano berhenti pada satu sosok.

Rania.

Gadis itu duduk di barisan depan dengan wajah datar, tidak berteriak seperti siswi lainnya.

Tatapan Revano tertahan sejenak pada gadis itu.

"Revano, silakan." tegur seorang guru seni.

Revano yang sempat terdiam langsung menarik pandangannya dari arah Rania. Ia mengambil mikrofon dengan santai, lalu berdiri tegak di tengah panggung.

Suasana galeri seni perlahan menjadi lebih tenang.

Musik mulai mengalun pelan.

Revano memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mulai bernyanyi. Suaranya rendah namun jelas, membuat beberapa siswi langsung bersorak kecil. Banyak yang sudah mengangkat ponsel mereka untuk merekam.

“Gila… suaranya bagus juga,” bisik Lara takjub.

Rania tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah panggung dengan ekspresi datar, meski dalam hati sedikit terkejut mendengar suara Revano.

Di atas panggung, Revano kembali membuka matanya. Tatapannya tanpa sadar mencari wajah yang tadi sempat ia lihat.

Dan lagi-lagi matanya berhenti pada Rania.

Gadis itu duduk diam, berbeda dengan siswi lain yang tampak begitu antusias.

Hal itu membuat Revano sedikit mengangkat alisnya, seolah merasa penasaran.

Sementara Lara yang duduk di samping Rania mulai menyenggol lengannya pelan.

“Ran… kayaknya dia dari tadi lihat ke arah sini deh.”

Rania mengerutkan kening kecil. “Lo salah lihat."

Lara justru terkekeh pelan.

“Serius, Ran. Kayaknya dia lihat lo.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!