NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti Kasus Derby

Pagi itu, apartemen mewah di pusat kota itu masih menyimpan sisa-sisa ketegangan dari ledakan amarah Morgan semalam. Serpihan kristal dan buku-buku yang berserakan telah dibersihkan oleh staf kebersihan pribadi yang datang saat fajar, namun aura dingin di ruangan itu tetap tidak bisa disingkirkan. Morgan Bruggman duduk di kursi kerjanya yang baru, menghadap tiga monitor besar yang memancarkan cahaya biru neon ke wajahnya yang tampak pucat namun tajam.

Matanya yang memerah karena kurang tidur tidak sedikit pun mengurangi ketelitiannya. Sebagai seorang brilian di bidang ekonomi, Morgan memiliki kemampuan analisis data yang melampaui rata-rata. Jemarinya yang panjang bergerak dengan ritme yang konstan di atas papan ketik, menembus lapisan-lapisan transaksi digital yang tersembunyi di balik cangkang perusahaan cangkang dan akun-akun anonim.

"Mari kita lihat, seberapa dalam lubang yang kau gali, Derby Neeson," bisik Morgan dengan nada yang begitu dingin hingga suaranya seolah membekukan udara di sekitarnya.

Awalnya, Morgan hanya berniat mencari celah hukum untuk menjauhkan Derby dari Liana. Namun, semakin dalam ia menggali, semakin busuk bau yang ia temukan. Morgan menemukan jejak transaksi di sebuah situs taruhan balap liar bawah tanah. Derby ternyata bukan sekadar peserta; ia adalah pemain tetap dalam balapan liar taruhan tinggi di kawasan industri tua di pinggiran kota.

Morgan menarik napas tajam saat melihat log aktivitas Derby. Pria itu telah kalah dalam jumlah yang sangat besar dalam tiga bulan terakhir. Kerugiannya mencapai angka yang tidak masuk akal untuk seorang pengangguran yang hanya mengandalkan pesona jalanan.

"Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?" gumam Morgan. Ia memperbaiki letak kacamata bacanya, lalu beralih ke penyelidikan aliran dana perbankan.

Morgan menggunakan koneksinya di dunia finansial untuk melacak sumber dana yang masuk ke akun judi kakap yang sering dikunjungi Derby di luar negeri. Selama hampir dua jam, Morgan berkutat dengan deretan angka dan kode transfer bank yang rumit. Hingga akhirnya, sebuah nama muncul di layar monitor tengahnya.

Nama Pemilik Rekening: Liana Shine.

Morgan terpaku. Tubuhnya seketika menegang, dan tangannya yang memegang tetikus (mouse) bergetar halus. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap nama itu dengan tatapan yang bercampur antara rasa tidak percaya dan amarah yang kembali mendidih. Setiap transaksi yang dilakukan Derby untuk membayar hutang judi dan modal balapan liarnya berasal dari rekening pribadi Liana. Gadis itu tidak hanya memberikan hatinya, tapi ia membiarkan dirinya dirampok secara finansial oleh pria yang ia sebut sebagai "cinta sejatinya".

"Bodoh," desis Morgan, suaranya parau oleh kepedihan. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Liana yang semalam membela Derby mati-matian, menyebut pria itu mencintainya apa adanya. "Kau pikir dia mencintaimu, Liana? Dia hanya mencintai saldo rekeningmu."

Morgan mencetak seluruh bukti transaksi tersebut. Suara mesin cetak yang berderit di sudut ruangan terasa seperti dentuman palu hakim di telinganya. Ia mengumpulkan lembaran-lembaran kertas itu, menyusunnya dengan rapi di dalam sebuah map kulit berwarna hitam. Kekecewaan Morgan terhadap Liana kini mencapai puncaknya. Ia merasa pengabdiannya untuk menjaga Liana selama ini dikhianati oleh kenaifan gadis itu. Namun, di balik rasa sakit itu, sisi pragmatis Morgan mulai mengambil alih. Ia mengusap permukaan map kulit itu dengan ibu jarinya, sebuah gestur posesif yang berbahaya.

"Kau bilang aku hanya mencintai aturan, Liana," ucap Morgan pelan pada ruangan yang kosong. Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota, sambil mendekap map itu di dadanya. "Maka aku akan menggunakan aturan dan bukti ini untuk menghancurkan delusimu. Aku tidak akan membiarkanmu kembali padanya, meskipun aku harus menjadi iblis di matamu."

Pintu kamar Liana terbuka. Gadis itu keluar dengan wajah sembap, mengenakan kaos kebesaran yang terlihat kontras dengan kemewahan apartemen tersebut. Ia terhenti saat melihat Morgan sudah berdiri di ruang tengah dengan setelan jas lengkap, siap untuk pergi ke kampus.

Liana mencoba menghindari kontak mata. Ia berjalan menuju dapur dengan langkah yang diseret, berusaha bersikap acuh tak acuh seperti ancamannya semalam.

"Liana," panggil Morgan. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti semalam, melainkan datar dan penuh otoritas yang menindas.

Liana berhenti, namun tidak menoleh. "Apa lagi? Mau menceramahiku tentang etika pagi ini?"

Morgan berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di atas lantai porselen menciptakan tekanan psikologis yang membuat Liana secara tidak sadar merapatkan tangannya di dada. Morgan berhenti tepat di belakang Liana.

"Aku punya sesuatu yang mungkin ingin kau lihat," ucap Morgan. Ia mengulurkan map hitam itu ke hadapan Liana.

Liana berbalik, menatap map itu dengan curiga. "Apa ini? Kontrak tambahan? Atau daftar hukuman baru?"

"Bukti cinta pria yang kau bela semalam," sahut Morgan dingin. Ia menyilangkan tangannya di dada, membiarkan Liana mengambil map tersebut.

Liana membukanya dengan ragu. Saat matanya menangkap deretan transaksi perbankan dan foto-foto Derby di tempat perjudian, wajahnya seketika memucat. Jemarinya gemetar hebat saat melihat namanya sendiri tertera sebagai pengirim dana untuk taruhan balapan liar.

"Ini ... ini tidak mungkin," bisik Liana, air mata kembali menggenang di matanya. "Derby bilang dia butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya ... dia bilang usahanya sedang jatuh..."

"Ibundanya sudah meninggal lima tahun yang lalu, Liana. Dan satu-satunya 'usaha' yang ia jalani adalah mempertaruhkan uangmu di aspal jalanan setiap malam minggu," Morgan melangkah maju, memperkecil jarak hingga Liana bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang tajam. "Dia tidak mencintaimu. Dia mencintai akses yang kau berikan ke kekayaan keluarga Shine."

Liana melempar map itu ke atas meja makan. "Kau pasti memalsukan ini! Kau benci padanya, jadi kau mencari cara untuk memfitnahnya!"

Morgan mencengkeram pergelangan tangan Liana, menariknya hingga gadis itu terpaksa menatap matanya. Tidak ada lagi kelembutan di sana. Yang ada hanyalah Morgan sang negosiator ulung yang sedang memegang kendali penuh.

"Aku tidak membuang waktuku untuk memalsukan sampah, Liana," tekan Morgan. Ia mendekatkan wajahnya, suaranya sangat rendah dan mengancam. "Dengarkan aku baik-baik. Bukti ini akan tetap tersimpan bersamaku. Jika kau berani melangkah keluar dari apartemen ini untuk menemuinya lagi, atau jika kau berani membuat drama lagi di kampus seperti kemarin, aku akan menyerahkan bukti ini langsung kepada Liam."

Liana terkesiap. "Kau tidak akan melakukan itu. Kak Liam akan membenciku!"

"Liam tidak akan membencimu. Dia akan mengurungmu di luar negeri, dan dia akan memastikan Derby Neeson membusuk di penjara karena penipuan dan pencucian uang," Morgan melepaskan tangan Liana dengan sentakan yang dingin. "Simpan pembelaanmu. Mulai hari ini, setiap sen yang kau keluarkan akan berada di bawah pengawasanku secara langsung. Kau tidak akan memberikan satu rupiah pun lagi pada pria itu."

Liana terjatuh di kursi dapur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak. Ia merasa dunianya runtuh. Pria yang ia anggap sebagai pelarian ternyata hanyalah benalu, dan pria yang kini menjadi suaminya berubah menjadi penjaga penjara yang paling kejam.

Morgan mengambil tas kerjanya. Ia merapikan letak kacamatanya, kembali ke mode dosen yang sempurna seolah konfrontasi barusan tidak pernah terjadi.

"Saya tunggu di mobil dalam lima menit. Kita ada jadwal kuliah umum pagi ini," ucap Morgan profesional. Ia berjalan menuju pintu, namun berhenti sejenak untuk menoleh. "Dan Liana ... jangan pernah berpikir untuk menghubungi dia lagi. Aku sudah memutus akses komunikasimu dari server apartemen ini."

Morgan keluar dari apartemen, meninggalkan Liana yang hancur dalam kesendiriannya. Di dalam lift, Morgan menatap pantulan dirinya di dinding logam. Tangannya yang terluka mengepal kuat. Ia tahu Liana akan membencinya lebih dari apa pun setelah ini. Namun, bagi Morgan, dibenci oleh Liana jauh lebih baik daripada melihat Liana dihancurkan oleh pria rendahan seperti Derby.

Pertahanan perasaan Morgan tetap teguh, namun di balik itu, ia mulai menikmati kekuasaan barunya. Ia tidak lagi hanya menjaga Liana untuk Liam; ia menjaga Liana untuk dirinya sendiri, dengan senjata bukti pengkhianatan Derby yang tersimpan rapat di dalam tasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!