NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17 : Jimmy Duplikat

Alice melangkah keluar dari kamar utama dengan perasaan yang berkecamuk hebat. Pintu kayu jati yang berat itu tertutup di belakangnya, mengunci suara isak tangis palsu Crystal yang masih menggema di dalam sana.

Alice berdiri mematung di lorong yang dingin, meski karpet persia menutupi setiap inci lantai mansion ini. Dadanya sesak. Rasa kecewa, sedih, menyesal, dan benci melebur menjadi satu cairan pahit yang sulit ia telan.

​Di balik wajahnya yang tetap terlihat anggun dan tenang, Alice menyimpan bara kebencian yang tak pernah padam untuk Jimmy Kusuma.

Setiap kali ia menatap wajah suaminya—atau lebih tepatnya, mantan suaminya—ingatan tentang masa lalu mereka menghantamnya seperti palu godam.

Alice mengenang bagaimana mimpinya menjadi seorang chef profesional di Paris dipupuskan secara paksa oleh perjodohan bodoh antara keluarga besar mereka.

Ambisi dan gairahnya akan dunia kuliner harus dikubur hidup-hidup di bawah tumpukan kontrak pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

​Bahkan yang lebih menyakitkan, Alice tidak pernah bisa melupakan malam kelam di mana Jimmy merampas segalanya darinya.

Kenangan tentang bagaimana ia dipaksa dan dikuasai oleh Jimmy masih sering menghantui tidurnya. Baginya, Jimmy bukan hanya seorang suami yang posesif, tapi juga seorang pencuri yang merenggut kebebasan dan harga dirinya.

​Namun, hidup adalah ironi yang kejam. Alice menarik napas panjang, meraba bahunya yang tadi sempat bersandar pada Jimmy. Ia sangat membenci pria itu, namun sel-sel di tubuhnya seolah memiliki ingatan sendiri yang mengkhianati hatinya.

Tadi, saat ia menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Jimmy, rasa lelah yang menghimpitnya seharian seolah menguap begitu saja.

Ada rasa nyaman yang tak masuk akal, sebuah kebutuhan fisik yang muncul dari kedalaman instingnya untuk mencari perlindungan pada pria yang paling ia benci.

​Secara hukum, mereka sudah bukan lagi pasangan suami istri. Dua tahun lalu, Alice akhirnya berhasil memenangkan gugatan cerai setelah perjuangan panjang.

Namun, perceraian itu hanyalah selembar kertas yang tak berarti di hadapan kenyataan. Alice tetap tinggal di Mansion Kusuma karena hak asuh Crystal jatuh ke tangannya, dan Jimmy tidak akan pernah membiarkan putri tunggalnya, juga Alice berada di luar jangkauan radar kekuasaannya. Terpenting Alice tidak akan tahan mendengar tangisan Crystal yang mencari sang daddy.

​Alice teringat masa-masa kehamilannya yang terasa seperti kutukan sekaligus berkah yang aneh. Sejak usia tiga bulan di dalam kandungan, bayi perempuan yang kini bernama Crystal itu sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai "penggemar berat" Jimmy.

Saat itu, tubuh Alice selalu lemas tak berdaya. Ia mengalami mual yang ekstrem, gampang lelah, dan insomnia akut yang membuatnya hampir gila karena kekurangan istirahat.

​Namun, seolah ada sihir yang bekerja, semua gejala itu akan hilang seketika jika Jimmy datang.

Alice mengenang setiap pagi saat Jimmy akan memeluknya dari belakang dengan sangat erat, tidak membiarkannya bergerak sedikit pun hanya demi memaksanya meminum segelas susu segar, memberi makan bayi dalam perutnya yang seolah hanya mau menerima asupan jika sang Daddy yang memberikannya.

​Anehnya, setiap kali Jimmy memeluknya, menyuapinya, atau sekadar mengusap pelan perut dan pucuk kepalanya, tubuh Alice kembali normal.

Mualnya hilang, lemasnya lenyap. Bahkan hingga hamil tua, Alice tidak pernah bisa tidur jika Jimmy tidak membelai lembut tubuhnya sampai ia terlelap.

Tubuhnya membutuhkan kehadiran Jimmy, sementara jiwanya menjerit ingin lari sejauh mungkin. Sebuah ketergantungan biologis yang dirancang oleh bayi di dalam rahimnya.

​"Dasar iblis kecil," gumam Alice pahit, merujuk pada Crystal.

​Ia sadar betul bahwa putrinya itu bukan anak biasa. Crystal memiliki bakat manipulasi yang jauh melampaui usianya.

Tangisannya tadi bukan karena ketakutan, melainkan sebuah proklamasi perang. Crystal sedang menegaskan bahwa Jimmy adalah miliknya, dan tidak ada ruang bagi siapapun, bahkan ibunya sendiri, untuk berbagi kehangatan itu.

​Alice merasa tertolak dan terhina. Bagaimana bisa anak yang ia kandung dengan penuh penderitaan selama sembilan bulan, kini justru menjadi orang pertama yang menendangnya keluar dari kehidupan Jimmy?

​Dengan langkah yang gontai namun penuh tekad, Alice melangkahkan kakinya menuju lift pribadi di ujung koridor. Ia tidak ingin berlama-lama di lantai ini, tempat di mana aroma parfum maskulin Jimmy masih tertinggal dan godaan untuk kembali masuk ke pelukannya sangat besar.

Ia butuh pelarian. Ia butuh pengingat bahwa ia masih memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

​Alice menuju ke lantai tiga, area yang didedikasikan sepenuhnya untuk kedelapan anak kembarnya. Meskipun Crystal adalah fokus utama di mata Jimmy, Alice memiliki tujuh putra lain yang merupakan duplikat fisik dari pria itu.

Tujuh anak laki-laki yang memiliki mata, rahang, dan aura yang sama dengan Jimmy Kusuma, namun setidaknya mereka tidak memiliki sifat manipulatif yang mematikan seperti adik perempuan mereka.

​Lorong lantai tiga itu sunyi, hanya ada beberapa pengasuh yang berjaga di depan pintu kamar masing-masing anak. Alice melewati kamar-kamar itu satu per satu, hingga ia tiba di depan kamar besar di ujung lorong—kamar milik putra sulungnya.

​Pintu terbuka pelan. Di dalam sana, dalam remang cahaya lampu tidur, seorang bocah laki-laki berusia dua tahun tampak sedang duduk di atas tempat tidurnya, membaca sebuah buku tebal tentang strategi bisnis—kebiasaan yang ia tiru persis dari ayahnya.

​Bocah itu mendongak. Matanya yang tajam dan dingin menatap Alice. Itu adalah tatapan yang sama dengan yang diberikan Jimmy saat sedang melakukan negosiasi bisnis. Tajam, intimidatif, namun memiliki sisi lembut yang tersembunyi jauh di dalam.

​"Mommy? Kenapa belum tidur?" suara bocah itu terdengar lebih dewasa dari usianya.

​Alice tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendekat, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, memeluk putra sulungnya itu dengan sangat erat.

Ia membenamkan wajahnya di dada kecil sang putra, menghirup aroma sabun yang sama dengan yang digunakan Jimmy.

​Ia sedang mengganti pelukan Jimmy dengan duplikatnya. Ia mencari kenyamanan yang dilarang oleh Crystal melalui anak-anaknya yang lain.

​"Biarkan Mommy di sini sebentar," bisik Alice pelan, suaranya parau.

​Putra sulungnya hanya terdiam, namun tangannya yang kecil mulai mengusap lembut punggung Alice, persis seperti yang sering dilakukan Jimmy saat Alice sedang merasa sedih.

Alice memejamkan matanya rapat-rapat. Di ruangan ini, ia merasa bisa sedikit bernapas. Ia tidak perlu menghadapi tatapan menang Crystal atau dominasi Jimmy.

​Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Alice tahu bahwa ini hanyalah penundaan sementara. Esok pagi, saat matahari terbit di Menara Kusuma, ia akan kembali menjadi pion dalam permainan yang dijalankan oleh mantan suaminya dan putri kecilnya yang berhati iblis.

​Alice meringkuk lebih erat, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang bisa ia miliki tanpa harus membayar harga yang terlalu mahal kepada pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Di lantai bawah, Crystal mungkin sedang tersenyum puas dalam dekapan Jimmy, namun di lantai ini, Alice bersumpah tidak akan membiarkan putrinya menang begitu saja di masa depan.

​Kebencian ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan di Mansion Kusuma, menanti saat yang tepat untuk meruntuhkan kerajaan yang dibangun Jimmy dan mungkin, suatu hari nanti, menyadarkan putrinya bahwa tidak ada ratu yang bisa bertahta selamanya di atas penderitaan ibunya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!