NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Fakta ini membuat jantung Genevieve berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak sendirian dalam menemukan rahasia ini. Apakah ini adalah regu pencari dari ibukota? Atau penyelundup? Tidak, penyelundup biasa tidak akan bisa melewati badai salju dan monster-monster di dasar Jurang Hitam hanya untuk berkemah di reruntuhan dingin. Orang yang datang ke sini pasti sangat terlatih, dan memiliki tujuan yang sangat spesifik.

Ia segera berdiri, matanya menyisir ruangan dengan kewaspadaan yang dilipatgandakan. Nightfang tergenggam erat, bilah meteoritnya siap memotong apa saja yang melompat dari kegelapan.

Tatapan Genevieve akhirnya jatuh pada satu-satunya jalan keluar dari ruangan melingkar ini—sebuah pintu ganda raksasa yang terbuat dari perunggu hitam di ujung balairung. Pintu itu tertutup rapat, dihiasi oleh relief Naga Berkepala Tiga berukuran masif.

Namun, bukan kemegahan pintu itu yang menarik perhatiannya, melainkan apa yang tergeletak di lantai, tepat tiga meter di depan pintu perunggu tersebut.

Sebuah mayat.

Genevieve mendekati sosok tak bernyawa itu dengan langkah yang sama ringannya dengan bayangan. Ia berhenti pada jarak aman, mengamati mayat tersebut dengan tatapan dingin dan kalkulatif, menekan setiap rasa jijik yang mungkin muncul.

Mayat itu tidak membeku seperti ksatria di luar sana, melainkan mengering dan menjadi mumi akibat udara bawah tanah yang dingin namun minim kelembapan. Mayat tersebut mengenakan pakaian kulit pelindung cuaca ekstrem berwarna abu-abu gelap, pakaian yang sangat mahal dan biasa dipakai oleh pasukan khusus atau pemburu bayaran kelas atas di Aethelgard.

Genevieve menajamkan matanya, memperhatikan detail di sekitar mayat itu. Sosok itu tergeletak tengkurap, tangan kanannya terulur ke depan seolah berusaha menggapai pintu perunggu, sementara tangan kirinya mencengkeram erat lehernya sendiri. Tidak ada genangan darah di sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda serangan dari monster atau bekas sabetan pedang. Tubuh itu utuh, pakaian pelindungnya tidak robek.

Kematiannya sangat spesifik.

"Sistem," perintah Genevieve, suaranya sedingin es. "Pindai tubuh tersebut. Apa penyebab kematiannya?"

[Memindai Sisa-Sisa Biologis...]

[Identifikasi: Mayat pria dewasa. Perkiraan waktu kematian: 6 hingga 8 bulan yang lalu.]

[Penyebab Kematian: Asfiksia akut akibat paparan neurotoksin gas. Terdapat residu senyawa beracun (Kategori: Serbuk Kematian Paru) di sekitar rongga pernapasan dan pakaian korban. Racun ini memicu penyempitan saluran napas secara instan, mencekik korban dalam hitungan detik.]

Mata Genevieve beralih dari mayat itu menuju ubin-ubin batu segi enam di sekitar pintu perunggu.

"Jebakan," bisiknya pelan, sebuah senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya. Ruangan ini tidak sesunyi kelihatannya. Para pembangun peradaban kuno ini telah memastikan bahwa rahasia mereka tidak bisa diakses hanya dengan mendobrak pintu.

Pria malang di depannya ini kemungkinan besar adalah seorang pramuka atau agen elit yang berhasil selamat dari keganasan Jurang Hitam, berkemah di ruangan ini, namun mati konyol saat mencoba membuka jalan ke ruangan selanjutnya. Ia telah menginjak ubin yang salah, atau memicu mekanisme pertahanan kuno yang melepaskan gas beracun tanpa suara.

Genevieve tidak berniat menyusul jejak pria itu ke neraka.

Ia memiringkan kepalanya, matanya yang analitis mulai membedah pola ubin di lantai. Ruangan ini berbentuk lingkaran, dan ubin-ubin segi enam itu disusun menyebar dari pusat ruangan (meja bundar) menuju pintu perunggu. Sebagian besar ubin berwarna abu-abu gelap yang seragam, namun jika diperhatikan dengan sangat teliti di bawah cahaya kristal ungu yang redup, ada beberapa ubin yang memiliki tepian logam yang sangat tipis dan berkarat di sela-sela natnya.

Mayat pria itu tergeletak persis di atas salah satu ubin bertingkat logam tersebut.

"Mereka menggunakan mekanisme tekanan berat (pressure plate)," gumam Genevieve, menganalisis situasi dengan rasionalitas seorang ahli bedah. "Sangat kuno, tapi sangat mematikan. Gasnya pasti dilepaskan dari celah-celah pilar di dekat pintu begitu beban yang cukup menekan ubin yang salah."

Ia membutuhkan cara untuk memetakan ubin yang aman tanpa harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk mengujinya.

Genevieve menoleh kembali ke arah meja bundar raksasa di tengah ruangan. Ia berjalan kembali ke sana, menahan erangan tertahan saat pinggangnya diputar. Di atas meja tersebut, berserakan beberapa puing batu kecil yang dulunya adalah bagian dari ukiran peta topografi yang runtuh dimakan usia. Ia mengumpulkan beberapa bongkahan batu tersebut, memilih yang memiliki berat setara dengan sekepal tangan pria dewasa.

Kembali ke batas area ubin di depan pintu, Genevieve mulai melakukan pengujian dengan metode eliminasi. Ia mengambil satu batu dan melemparnya dengan hati-hati ke atas ubin abu-abu polos di sebelah kanan mayat.

Batu itu jatuh berdebum, berguling pelan, lalu berhenti. Tidak ada reaksi. Ubin itu tidak turun.

"Beban batu itu tidak cukup berat untuk memicu pelat tekanan," pikir Genevieve, menggigit bibir bawahnya. "Mekanisme ini dirancang untuk bereaksi terhadap berat tubuh manusia dewasa. Aku tidak bisa mengujinya dengan batu."

Ia menghela napas panjang, menatap pintu perunggu yang tertutup rapat. Berjalan membabi buta dan melompati ubin adalah tindakan bunuh diri; pergelangan kakinya yang cedera tidak akan sanggup menopang pendaratan yang akurat. Ia membutuhkan solusi yang menggunakan kecerdasannya, bukan kebetulan semata.

Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada mayat mumi tersebut. Jika pria ini mati karena memicu jebakan, lalu bagaimana dengan ubin-ubin lain yang mengarah ke pintu?

Genevieve berjongkok, mengamati area di sekitar pintu dengan sangat saksama. Mata kristal birunya menyisir debu yang menutupi lantai. Di sinilah letak perbedaan antara orang biasa dan seorang survivor yang teliti. Karena udara di ruangan ini stagnan dan tidak ada angin, debu yang terkumpul selama berabad-abad membentuk lapisan tipis yang tidak terganggu.

Namun, ada satu jalur tak kasat mata di mana lapisan debu itu sedikit lebih tipis, menunjukkan bahwa udara pernah terdorong dari arah tertentu.

"Sistem, aktifkan visi termal tingkat rendah dan tunjukkan pola aliran debu atau residu gas di area tiga meter di depan pintu," perintahnya.

[Memproses... Mengaktifkan Filter Visual Khusus.]

Seketika, pandangan Genevieve dilapisi oleh filter kebiruan. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bahwa dari empat celah kecil di pangkal pilar yang mengapit pintu perunggu, terdapat jejak residu kimiawi berbentuk kabut tipis yang mengendap di lantai. Sisa-sisa gas beracun yang membunuh pria itu.

Namun, yang paling penting adalah pola ukiran pada ubin lantai itu sendiri. Dengan filter visual dari Sistem, Genevieve akhirnya bisa melihat apa yang disembunyikan oleh para pembangun kuno. Beberapa ubin tidak memancarkan hawa dingin yang sama dengan ubin lainnya. Ubin-ubin yang menjadi pelat tekanan (termasuk yang diinjak oleh mayat tersebut) memiliki ruang kosong di bawahnya yang berisi mekanisme logam mekanis, sehingga suhu permukaannya sedikit lebih hangat daripada ubin batu solid biasa yang menempel langsung ke tanah beku.

Peta jebakan itu kini terbentang jelas di matanya. Ubin yang aman memancarkan warna biru tua yang membeku, sementara ubin jebakan memiliki semburat kemerahan yang samar akibat kantung udara di bawahnya.

Genevieve tersenyum tipis, sebuah ekspresi dominasi yang anggun di tengah keputusasaan. Ia telah memecahkan teka-teki mematikan peninggalan masa lalu tanpa harus mengambil satu langkah pun.

Dengan sangat hati-hati, ia mulai melangkah maju. Ia meletakkan kakinya tepat di tengah-tengah ubin biru yang membeku, melewati mayat agen elit itu tanpa menoleh sedikit pun. Langkah demi langkahnya ditarik dengan presisi seorang penari di atas es yang retak. Kiri, depan, serong kanan, depan lagi. Ia menari di atas barisan maut dengan keanggunan seorang Lady dari House Blackwood.

Tepat saat ia berdiri di depan pintu perunggu ganda raksasa itu, ia akhirnya melepaskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Ia telah selamat melintasi ladang ranjau.

Kini, tantangan terakhir menantinya: pintu itu sendiri.

Tidak ada gagang pintu, tidak ada lubang kunci konvensional. Di tengah-tengah perpotongan kedua daun pintu perunggu itu, tepat di bawah ukiran Naga Berkepala Tiga, terdapat sebuah celah sempit berbentuk garis lurus.

Genevieve meraba celah tersebut. Ukurannya sangat presisi, panjang dan tipis. Memori tentang belati yang baru saja ia ambil melintas di benaknya. Para ksatria zaman dahulu sering kali menjadikan senjata utama mereka sebagai kunci akses ke wilayah-wilayah rahasia faksi mereka.

Tanpa ragu, Genevieve menarik Nightfang dari balik ikat pinggangnya. Bilah meteorit hitam kebiruan itu memantulkan cahaya ungu ruangan dengan sangat indah. Ia memegang gagang belati itu dengan kedua tangannya, lalu menyisipkan bilahnya secara horizontal ke dalam celah di tengah pintu perunggu.

Bilah itu masuk dengan sangat pas, seolah diciptakan khusus untuk menyatu dengan pintu tersebut. Genevieve mendorongnya hingga pangkal gagang, lalu menggunakan seluruh sisa tenaga di bahunya, ia memutar gagang belati itu ke arah kanan.

KLAK!

Suara logam berat yang terlepas dari penguncinya bergema keras di dalam balairung. Sistem mekanis kuno di dalam pintu perunggu mulai bekerja. Roda gigi raksasa yang telah terdiam selama ratusan tahun berputar lamban dengan suara derit yang memekakkan telinga.

Secara perlahan, kedua daun pintu perunggu hitam itu mulai bergeser terbuka ke dalam, melepaskan hembusan udara yang sangat dingin dan berbau harum aneh—bau kertas tua, logam, dan keabadian.

Genevieve mencabut Nightfang dari celah yang kini terbuka, matanya menatap tajam menembus celah pintu yang semakin melebar. Sang Lady telah melampaui jebakan kematian pertama di perut bumi, dan apa pun rahasia yang tersembunyi di balik pintu ini, ia akan mengklaimnya sebagai senjata untuk menghancurkan mereka yang membuangnya.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!