Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Sekte Awan Biru
Tawa meremehkan meledak dari mulut Lin Feng, menggema di sela-sela pepohonan mati Lembah Kabut Beracun. Dua murid berjubah putih di sisinya ikut tertawa, menatap Jian Chen seolah ia adalah pelawak paling menyedihkan di dunia.
"Merangkak pergi? Menjadikan lembah ini kuburan kami?" Lin Feng mengusap air mata tawa dari sudut matanya. Ia menggelengkan kepala, menatap pemuda berjubah hitam itu dengan belas kasihan palsu. "Sepertinya membunuh katak bodoh tadi telah membuatmu gila. Kau hanyalah kultivator liar tanpa latar belakang, berani mengancam murid inti dari Sekte Awan Biru?"
Lin Feng melangkah maju, melepaskan aura Qi-nya yang berwarna biru pucat. Udara di sekitarnya berputar, meniup kabut racun menjauh dari tubuhnya.
Kondensasi Qi Tingkat Enam Awal!
Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, mencapai Tingkat Enam membuatnya berhak bersikap arogan. Dua murid di belakangnya juga melepaskan aura mereka—keduanya berada di Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak.
"Wu Di, Zhao Ming," Lin Feng memberi isyarat dengan dagunya. "Patahkan keempat anggota tubuhnya. Jangan langsung dibunuh. Aku ingin mencabut Cincin Penyimpanan-nya saat dia masih bisa merasakan sakit."
"Baik, Kakak Senior Lin!"
Kedua murid itu menghunus pedang panjang mereka secara serentak. Keduanya memancarkan Qi elemen angin, membuat pergerakan mereka seringan daun yang tertiup badai. Mereka melesat dari sisi kiri dan kanan, mengapit Jian Chen dengan kecepatan yang sangat mengesankan bagi standar kultivator fana.
"Teknik Pedang Badai Kembar!" teriak mereka bersamaan.
Bilah pedang mereka mengunci jalan keluar Jian Chen, mengincar urat nadi di kaki dan pergelangan tangannya. Ini adalah teknik kombinasi sekte yang dirancang untuk melumpuhkan musuh tanpa ampun.
Namun, di mata seorang Kaisar Pedang yang telah memahami Hukum Kekosongan, gerakan mereka selambat siput yang merayap di atas lumpur.
"Mati untuk sekte yang tidak berguna. Betapa menyedihkannya."
Jian Chen tidak menghindar. Ia membiarkan kedua bilah pedang itu mendekat hingga berjarak kurang dari satu inci dari kulit lengannya. Tepat pada sepersekian detik yang mustahil itu, tubuhnya berkedip.
Langkah Bayangan Kosong!
Trang!
Pedang Wu Di dan Zhao Ming hanya menebas bayangan ilusi yang perlahan memudar, saling berbenturan satu sama lain di udara kosong. Keduanya membelalakkan mata, rasa dingin yang fatal merayap di punggung mereka.
Di mana dia?!
"Terlalu lambat."
Sebuah bisikan mematikan terdengar tepat dari belakang mereka berdua. Sebelum Wu Di maupun Zhao Ming sempat berbalik, kedua tangan Jian Chen melesat ke depan, mencengkeram bagian belakang leher mereka dengan kekuatan fisik murni 2.200 kilogram.
KRAAAAAK!
Tidak ada teknik yang rumit. Tidak ada ledakan Qi yang memukau. Hanya suara tulang leher yang diremukkan layaknya ranting kering.
Mata kedua murid itu melotot keluar dari rongganya, tubuh mereka seketika lemas. Jian Chen melempar mayat mereka ke tanah seolah membuang dua karung sampah.
Tawa Lin Feng terhenti seketika. Senyum angkuhnya membeku, digantikan oleh kengerian yang membuat darahnya terasa sedingin es. Dua juniornya yang berada di Tingkat Lima Puncak tewas dalam satu tarikan napas? Bahkan Lin Feng sendiri tidak akan bisa melakukan itu!
"K-kau... apa yang kau lakukan?! Sihir apa yang kau gunakan?!" Lin Feng mundur selangkah, tangannya gemetar saat ia menarik pedang spiritualnya yang memancarkan cahaya biru terang. "Aku adalah cucu dari Tetua Ketujuh Sekte Awan Biru! Jika kau berani menyentuhku, klan dan seluruh keluargamu akan diratakan dengan tanah!"
"Ancaman basi," Jian Chen mencabut pedang baja spiritual dari sarung di pinggangnya. Bilah pedang itu memantulkan cahaya suram dari kabut ungu di sekitarnya. "Apakah orang-orang dari sekte besar selalu berbicara sebanyak ini sebelum mati?"
Mendengar provokasi itu, amarah dan ketakutan di dalam hati Lin Feng meledak. Ia menggigit ujung lidahnya untuk menenangkan diri, membakar sebagian Qi darahnya.
"Jangan sombong, Keparat! Mati kau! Seni Pedang Awan Membelah Surga!"
Lin Feng melompat tinggi ke udara. Qi Tingkat Enam miliknya meledak maksimal, membungkus pedangnya dalam pusaran angin tajam yang mengoyak kabut. Serangan ini membawa kekuatan lebih dari tiga ribu kilogram, cukup untuk membelah batu karang raksasa menjadi dua.
Jian Chen mendongak, matanya tenang tanpa riak. Ia menyalurkan Qi peraknya ke dalam pedang baja spiritualnya, lalu memadukannya dengan setitik Niat Pedang Kekosongan.
Pedang di tangannya mulai berdengung nyaring, bergetar hebat seakan mulai tidak mampu menahan tekanan dari hukum absolut yang mengalir di dalamnya dalam waktu yang lama.
"Tebasan Pemutus Fana."
Jian Chen mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas dalam satu garis vertikal yang sangat sederhana, menyambut pusaran badai pedang Lin Feng.
Sring!
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara benturan yang memekakkan telinga.
Satu garis cahaya perak yang sangat tipis membelah pusaran badai biru Lin Feng layaknya pisau panas yang memotong mentega. Garis itu terus melaju tanpa hambatan, memotong pedang spiritual tingkat rendah Lin Feng menjadi dua bagian yang terpotong rapi, dan akhirnya... melewati tubuh pemuda arogan itu.
Lin Feng mendarat di tanah dengan bunyi debuk yang pelan. Ia berdiri mematung membelakangi Jian Chen.
"M-mustahil... Niat Pedang... di Alam Kondensasi... Qi...?"
Itu adalah kalimat terakhir Lin Feng. Tubuhnya terbelah menjadi dua dari tengah kepala hingga ke selangkangan. Darah dan organ dalam tumpah membanjiri tanah bebatuan.
Jian Chen membuang pedang spiritualnya yang kini retak penuh celah akibat dipaksa menahan Niat Pedang Kekosongan berhadapan dengan serangan tingkat tinggi. Ia lalu berjalan menghampiri ketiga mayat itu.
Tanpa rasa kasihan, ia menempelkan tangannya ke udara di atas genangan darah mereka.
"Seni Melahap Surga Primordial—Lumatkan!"
Pusaran hitam di Dantiannya berputar rakus. Esensi darah, Qi murni yang tersisa di meridian mereka, dan bahkan aura kehidupan dari tiga murid sekte—satu Tingkat Enam dan dua Tingkat Lima—disedot masuk layaknya badai kelaparan.
Energi kultivator jauh lebih murni dibandingkan binatang iblis. Dantian Jian Chen bergemuruh hebat. Kultivasinya yang berada di Tingkat 5 Awal dengan cepat meroket.
Menengah... Akhir... Puncak!
"Kondensasi Qi Tingkat Lima Puncak," gumam Jian Chen sambil menarik napas panjang, menstabilkan Qi yang bergejolak di tubuhnya.
Bangkai ketiga murid sekte itu kini telah berubah menjadi mumi kering yang tak bisa dikenali. Jian Chen mengambil tiga Kantong Penyimpanan (Spatial Bag) dari pinggang mereka. Meskipun jauh lebih rendah dari Cincin Penyimpanan miliknya, kantong-kantong ini berisi lebih dari seribu koin emas, belasan botol pil pemulihan standar, dan sebuah Token Giok berwarna biru dengan ukiran nama 'Lin Feng'.
"Token Jiwa," Jian Chen menyipitkan mata. "Sekte Awan Biru pasti akan tahu cucu tetua mereka mati di lembah ini. Tapi saat mereka tiba, aku sudah lama pergi."
Ia meremukkan token itu menjadi debu, melemparkan kantong-kantong itu ke dalam cincinnya, lalu menatap Bunga Jiwa Ungu yang memancarkan cahaya menenangkan di tangannya.
"Sekarang, saatnya membuka Lautan Kesadaran."
Jian Chen segera menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar pohon raksasa. Ia membersihkan bagian dalamnya, menutup pintu masuk dengan bongkahan batu, dan duduk bersila di tempat yang kering.
Di Benua Bintang Jatuh, seorang kultivator baru bisa memadatkan jiwa mereka dan membuka Lautan Kesadaran (Sea of Consciousness) ketika mereka mencapai Alam Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul). Memiliki Lautan Kesadaran berarti memiliki Indra Spiritual (Divine Sense), kemampuan untuk melihat, mendengar, dan merasakan segala sesuatu dalam radius tertentu tanpa menggunakan panca indra fisik.
Bagi Jian Chen yang baru berada di Tingkat Lima Kondensasi Qi, mencoba membuka Lautan Kesadaran adalah tindakan melawan hukum alam yang bisa membuat otaknya meledak. Namun, ia memiliki sisa jiwa Kaisar, Darah Primordial, dan sekarang... Bunga Jiwa Ungu.
Tanpa keraguan, Jian Chen menelan Bunga Jiwa Ungu itu bulat-bulat.
BZZZZT!
Seketika, energi dingin dan menyejukkan yang luar biasa masif meledak bukan di perutnya, melainkan langsung menyambar ke arah otaknya. Rasanya seolah-olah kepalanya dimasukkan ke dalam bongkahan es abadi, sementara jutaan jarum tajam menusuk dari dalam.
Rasa sakit dari menempa jiwa jauh lebih menyiksa daripada menempa fisik. Jian Chen menggertakkan giginya hingga berdarah. Matanya tertutup rapat, wajahnya pucat pasi.
"Buka untukku!" raungnya dalam hati.
Di pusat lautan jiwanya yang fana, energi ungu dari bunga itu berputar liar, mencoba menghancurkan batasan ruang spiritual. Di saat yang kritis ini, setetes Darah Primordial memancarkan cahaya merah pekat, menyelimuti energi ungu tersebut, membimbingnya, dan melindungi otak rapuh Jian Chen dari kehancuran.
KRAAAK!
Sebuah suara retakan tak kasat mata bergema di dalam kepalanya. Batas fana telah dipatahkan!
Sebuah ruang hampa bercahaya ungu keperakan terbuka di dalam benak Jian Chen. Itu tidak sebesar Lautan Kesadaran miliknya saat menjadi Kaisar, yang bisa menutupi sebuah planet, namun untuk ukuran kultivator fana, ini adalah mukjizat!
Jian Chen membuka matanya. Tidak ada Qi yang meledak, namun atmosfer di dalam gua itu mendadak menjadi sangat berat.
Ia tidak menoleh, namun ia bisa "melihat" dengan sangat jelas setiap butiran debu yang melayang di belakang punggungnya. Ia mengirimkan Indra Spiritual-nya menembus batu gua.
Sepuluh meter... Lima puluh meter... Seratus meter... Tiga ratus meter!
Indra Spiritual-nya menyebar bagai jaring laba-laba tak terlihat, menembus kabut beracun dan rintangan fisik, hingga mencapai radius lima ratus meter. Dalam radius itu, ia bisa mendengar detak jantung serangga di bawah tanah, melihat pergerakan angin, dan mengunci target dengan presisi absolut yang tidak bisa ditipu oleh ilusi apa pun.
"Lautan Kesadaran berhasil dibentuk," Jian Chen tersenyum tipis. Seutas darah mengalir dari hidungnya akibat kelelahan mental, namun ia segera mengusapnya. "Mulai sekarang, setiap serangan diam-diam dalam radius lima ratus meter adalah lelucon di mataku."
Beristirahat selama beberapa jam untuk memulihkan staminanya, Jian Chen bangkit. Ia mendorong batu penutup gua hingga hancur.
Dengan kultivasi Tingkat 5 Puncak dan Indra Spiritual yang baru terbentuk, ia kini benar-benar memiliki modal mutlak untuk mengguncang Ibu Kota Kerajaan Angin Langit. Perjalanannya melintasi sisa lembah ini tidak akan menjadi apa-apa selain tamasya yang membosankan.