tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pemangsa di Balik Kabut Belerang
Suara gesekan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat, lebih berat, dan jauh lebih nyata.
Itu bukan sekadar derik batu yang melapuk oleh cuaca, melainkan suara cakar-cakar bergerigi yang menancap dan ditarik paksa dari permukaan pilar batu kuno. Bunyinya beresonansi di udara yang lembap dan beku, memantul dari lengkungan gapura reruntuhan hingga menciptakan ilusi bahwa suara itu datang dari segala arah.
Genevieve berdiri mematung di samping sisa-sisa bongkahan es yang baru saja ia hancurkan. Napasnya seketika tertahan di pangkal tenggorokan. Udara dingin di dasar Jurang Hitam tiba-tiba terasa jutaan kali lebih mencekik. Tangannya yang terbalut sisa kain linen mencengkeram gagang kulit *Nightfang*—belati meteorit yang baru saja ia rebut—begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, mencari jangkar pada realitas di tengah teror tak kasat mata yang kini mengintainya dari atas.
Matanya yang berwarna biru kristal menyapu ke atas, menembus kabut putih tebal yang mengepul dari permukaan Sungai Umbra. Ia tidak bisa melihat apa-apa di langit-langit kegelapan reruntuhan itu, namun insting purbanya menjeritkan satu peringatan mutlak: sesuatu yang masif sedang merayap di atas sana, tepat di atas kepalanya.
"Sistem," panggil Genevieve secara mental. Suara batinnya dipenuhi oleh fokus tajam yang memotong rasa paniknya. "Pindai ancaman vertikal. Apa yang sedang bergerak di atas pilar ini?"
Panel biru langsung berpendar di sudut pandangannya, memancarkan cahaya yang ia harap tidak bisa dilihat oleh apa pun yang ada di kegelapan sana.
**[Memindai Anomali Biologis...]**
**[Peringatan Kritis: Deteksi entitas biologis tak dikenal di ketinggian 12 meter dari posisi Tuan Rumah. Ukuran estimasi: Setara dengan beruang dewasa, namun memiliki struktur anatomi memanjang.]**
**[Analisis Perilaku: Entitas bergerak dengan pola berburu mengendap-endap. Mengandalkan deteksi termal (panas tubuh) dan getaran suara. Visi optik diperkirakan buta atau sangat terbatas di lingkungan tanpa cahaya.]**
**[Kalkulasi Ancaman: Sangat Fatal. Tuan Rumah saat ini memancarkan sinyal panas yang sangat kontras akibat mantel bulu serigala dan peningkatan sirkulasi darah.]**
Genevieve membaca deretan teks itu, dan darahnya seolah membeku lebih cepat daripada udara di sekitarnya.
*Deteksi termal.* Mantel bulu Serigala Salju yang ia kenakan untuk menyelamatkannya dari hipotermia kini berubah menjadi suar raksasa yang meneriakkan posisinya. Di tengah suhu dasar jurang yang nyaris membekukan apa pun, kehangatan tubuhnya di balik mantel itu terlihat seperti api unggun yang menyala terang di mata sang predator. Ia tidak bisa melarikan diri; langkah kakinya yang pincang akan menciptakan getaran suara, dan lari hanya akan memicu insting mengejar makhluk tersebut. Ia juga tidak bisa membuang mantelnya, karena suhu ekstrem akan membunuhnya dalam hitungan menit sebelum monster itu sempat menyentuhnya.
Setetes keringat dingin meluncur dari pelipis Genevieve, melewati goresan luka kecil di pipinya akibat serpihan es tadi. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras, menyalurkan rasa takutnya menjadi rasa sakit yang bisa ia kendalikan. Pikirannya berpacu gila-gilaan, menyisir setiap variabel di lingkungannya.
Lalu, matanya tertuju pada aliran Sungai Umbra di sisi kanannya.
Sungai itu berwarna hitam pekat, namun kabut tebal yang mengepul dari permukaannya adalah bukti bahwa air tersebut dihangatkan oleh aktivitas geotermal pasif di kedalaman kerak bumi. Air itu hangat. Air itu memancarkan panas secara konstan ke udara. Jika ia bisa memosisikan dirinya tepat di bibir sungai, atau bahkan merendam sebagian tubuhnya di perairan dangkal yang bergolak itu, panas tubuhnya akan tersamar oleh radiasi termal yang jauh lebih besar dari sungai tersebut.
Namun, bergerak ke sana berarti ia harus meninggalkan perlindungan bayang-bayang pilar batu dan menyeberangi jarak sekitar lima meter ruang terbuka.
Suara cakar yang menggores batu terdengar semakin turun. Sesuatu yang berbobot berat merayap menuruni pilar utama reruntuhan, mengirimkan rontokan kerikil dan debu es yang berjatuhan menimpa pundak Genevieve. Bau anyir yang memualkan—kombinasi antara daging busuk dan asam belerang—mulai menguar tajam, menutupi aroma pinus dan darah serigala di mantelnya.
Genevieve tidak punya waktu lagi untuk menimbang risiko. Dengan sebelah tangan memegang *Nightfang* dan tangan lainnya menahan sisi tulang rusuknya yang retak, ia mulai melangkah mundur.
Satu langkah. Ujung sepatu botnya menyentuh lantai batu bersalju dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada kerikil yang bergesekan. Ia menyalurkan seluruh berat tubuhnya dengan sangat lambat. Otot-otot pahanya bergetar hebat menahan ketegangan. Rasa sakit dari pergelangan kaki kirinya yang terkilir kembali meledak, berdenyut hebat melawan sensasi terbakar dari Lumut Darah Beku. Namun, ekspresi Genevieve sekeras topeng pualam. Ia menolak membiarkan rasa sakit mengkhianati langkahnya.
Dua langkah. Tiga langkah. Kabut tebal dari Sungai Umbra mulai membelai punggungnya. Bau belerang dari air hitam itu menyengat hidungnya, sebuah aroma yang saat ini terasa seperti pelukan keselamatan.
Tepat ketika ia mencapai tepian batu yang basah oleh cipratan air sungai yang hangat, makhluk itu akhirnya menampakkan wujudnya dari balik tirai kabut pekat di atas.
Mata Genevieve melebar, napasnya tercekat di dada. Makhluk yang turun dari langit-langit reruntuhan itu adalah sebuah horor biologis yang seolah ditarik langsung dari mimpi buruk paling gelap di Aethelgard. Hewan itu memiliki struktur tubuh melengkung panjang seperti lipan raksasa, namun badannya dilapisi oleh karapas seputih tulang yang memancarkan kilau kebiruan. Ia memiliki enam pasang kaki yang diakhiri oleh cakar-cakar seperti kait besi, memungkinkannya menempel pada dinding vertikal dengan mudah.
Yang paling mengerikan adalah bagian kepalanya. Makhluk itu tidak memiliki mata. Bagian wajahnya rata, hanya terdiri dari celah memanjang yang dipenuhi oleh tentakel-tentakel halus yang terus bergetar, merasakan setiap perubahan suhu dan pergerakan udara di sekitarnya. Tepat di bawah tentakel itu, sepasang rahang vertikal yang dipenuhi taring bergerigi meneteskan cairan asam yang mendesis saat menyentuh salju.
Ini adalah *Abyssal Crawler*, penyapu dasar jurang yang hidup dalam kegelapan abadi, buta namun tak pernah meleset dalam berburu.
Monster itu merayap turun hingga tubuhnya sepenuhnya menempel pada pilar batu di dekat bongkahan es sang ksatria. Kepalanya yang mengerikan berayun ke kiri dan ke kanan, tentakel-tentakel termalnya meraba udara secara agresif. Ia tahu ada mangsa di sini. Sisa panas dari keberadaan Genevieve sebelumnya di dekat es itu masih tertinggal tipis di udara.
Genevieve perlahan menurunkan postur tubuhnya hingga ia setengah berjongkok di bibir sungai berbatu. Ia membiarkan ujung mantel bulu serigalanya menyentuh air Sungai Umbra yang hitam dan hangat. Kabut tebal dari sungai itu segera menyelimutinya, menyamarkan tanda termalnya ke dalam lautan panas geotermal sungai yang bergolak. Ia menahan napas, dadanya terasa mau meledak oleh tekanan udara yang tertahan di paru-parunya. Tiga tulang rusuknya yang retak menjeritkan protes, menyebarkan rasa ngilu yang menusuk langsung ke sumsum tulang belakangnya. Namun, ia tidak bergeming. Ia menjadi satu dengan bebatuan.