Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Seratus Daun
Distrik Timur Kota Daun Gugur dipenuhi oleh aroma herbal yang tajam dan menyengat. Ini adalah Pasar Seratus Daun, pusat perdagangan tanaman spiritual terbesar di radius ratusan mil. Para petani fana, tentara bayaran, hingga murid-murid sekte pinggiran berkumpul di sini untuk menjual hasil panen dan buruan mereka.
Jian Chen, yang masih mengenakan jubah hitam dan topi bambu bercadar, berjalan melintasi deretan tenda dan kios kayu. Meskipun ia memiliki 499 Koin Emas—jumlah yang lebih dari cukup untuk membeli pil tingkat rendah yang sudah jadi—ia sama sekali tidak berniat melakukannya. Di mata seorang mantan Alkemis Tingkat Dewa, pil buatan para "guru" di kota ini hanyalah sampah beracun yang akan mengotori Meridian Primordial-nya yang berharga.
Ia hanya membutuhkan bahan mentah.
Matanya yang tajam menyapu setiap kios dengan kecepatan luar biasa. Pengetahuan alkimianya yang membentang selama sepuluh ribu tahun memungkinkan dia untuk mengidentifikasi usia, kualitas, dan esensi tersembunyi dari setiap batang rumput hanya dengan satu lirikan.
"Terlalu muda... layu karena cara panen yang salah... esensinya bocor..." gumam Jian Chen dalam hati, terus berjalan melewati puluhan pedagang yang meneriakkan dagangan mereka.
Langkahnya akhirnya terhenti di depan sebuah lapak kumuh yang dijaga oleh seorang pria tua berpakaian compang-camping. Di atas selembar kain kotor, tergeletak tumpukan akar berwarna abu-abu yang tampak seperti kayu bakar busuk, dan beberapa kelopak teratai berwarna merah kehitaman yang sudah mengerut kering.
"Tuan, apakah Anda tertarik? Ini adalah Akar Giok Putih dan Teratai Api... meskipun kondisinya sedikit buruk karena saya terjebak badai di Hutan Binatang Iblis," pria tua itu tersenyum canggung, memperlihatkan giginya yang ompong.
Beberapa kultivator yang lewat mencibir. "Orang tua, kau menjual kayu bakar basah dan bunga mati, namun masih berani menyebutnya herbal spiritual? Bahkan babi pun tidak akan memakannya!"
Namun, Jian Chen tidak mempedulikan ejekan mereka. Di balik cadar bambunya, matanya berkilat gembira.
Orang-orang fana yang bodoh, batinnya. Ini bukanlah Akar Giok Putih yang layu, melainkan 'Akar Tulang Besi' yang telah tumbuh di atas tanah yang menyerap darah Binatang Iblis selama seratus tahun. Warna abu-abunya bukan karena busuk, melainkan karena kalsium darah yang memadat. Dan teratai itu... itu adalah 'Teratai Api Padam' (Withered Fire Lotus). Kelopaknya mengerut karena ia menyegel seluruh energi elemen api murninya di dalam bijinya!
"Berapa harga untuk semuanya?" suara serak Jian Chen terdengar dari balik cadarnya.
Pria tua itu terkejut. "E-eh... lima puluh Koin Emas untuk semuanya, Tuan."
Jian Chen mengeluarkan sebuah kantong kecil dan melemparkannya ke pangkuan pria tua itu. Bunyi gemerincing logam emas yang berat membuat pria itu membelalakkan matanya.
"Di dalamnya ada seratus Koin Emas. Ambil semuanya, dan tutup lapakmu hari ini," kata Jian Chen datar. Dengan sapuan tangannya, seluruh tumpukan herbal itu menghilang ke dalam Cincin Penyimpanan-nya dalam sekejap mata.
Pria tua itu dan para kultivator di sekitarnya terkesiap. Menghilangkan barang dalam sekejap? Itu adalah ciri khas dari Cincin Penyimpanan! Kultivator berjubah hitam ini pasti seorang senior tingkat tinggi yang eksentrik!
Tanpa mempedulikan tatapan kagum dan iri dari sekelilingnya, Jian Chen segera berbalik dan meninggalkan pasar. Ia telah mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk meracik Pil Tulang Api—sebuah pil tingkat dua yang dirancang khusus untuk memperkuat tubuh fisik dan melebarkan meridian secara ekstrem.
Kembali ke kamar penginapan sewaannya yang sepi, Jian Chen mengunci pintu rapat-rapat. Ia mengayunkan tangannya, dan Kuali Naga Hitam yang berat mendarat di atas lantai kayu dengan suara dentuman tumpul.
Kuali itu berdiri setinggi lutut, terbuat dari Bintang Besi Hitam yang memancarkan aura kuno. Sembilan ukiran naga di dinding kuali itu seolah menatapnya hidup-hidup.
"Formasi Api Inti di dalam kuali ini sudah hancur," Jian Chen meraba dasar kuali yang dingin. "Kultivator biasa membutuhkan Api Bumi (Earth Fire) atau Api Inti Binatang Iblis untuk meracik pil tanpa formasi bawaan. Tapi sekarang aku berada di Tingkat Lima Kondensasi Qi... aku bisa memadatkan Qi Sejati menjadi api."
Jian Chen duduk bersila di depan kuali. Ia mengangkat tangan kanannya.
Weng!
Energi spiritual di dalam Meridian Primordial-nya bergolak. Qi berwarna keperakan mengalir deras ke telapak tangannya. Dengan panduan kesadaran jiwanya yang setingkat Kaisar, Qi perak itu mulai bergesekan satu sama lain dalam kecepatan mikroskopis yang mengerikan, menghasilkan panas ekstrem yang membakar udara di sekitarnya.
Puff!
Segumpal lidah api tiba-tiba menyala di telapak tangannya. Namun, api itu tidak berwarna merah atau kuning. Api itu berwarna perak transparan! Ini adalah Api Qi Sejati murni.
"Masih kurang," gumam Jian Chen. "Api fana ini tidak akan mampu melelehkan Akar Tulang Besi yang keras."
Ia memejamkan matanya, menyelam ke dalam lautan jiwanya. Ia menyentuh setetes Darah Primordial yang melayang di sana, menarik seutas tipis energi pembawa kekacauan (Chaos) dari darah tersebut, lalu mengalirkannya ke dalam nyala api perak di tangannya.
Seketika, nyala api perak itu bergetar hebat. Warnanya berubah secara drastis, dari perak transparan menjadi hitam kelam yang memancarkan pendaran merah darah di intinya. Suhu di dalam ruangan itu tidak meningkat, melainkan turun secara paradoks, karena Api Primordial Hitam ini tidak membakar dengan panas biasa, melainkan dengan hukum penghancuran dan peleburan absolut!
"Pergi!"
Jian Chen menjentikkan jarinya. Bola api hitam pekat itu melesat dan masuk ke dasar Kuali Naga Hitam.
ROOOAARR!
Sebuah ilusi suara raungan naga bergema rendah di dalam ruangan. Kuali Bintang Besi Hitam itu langsung merespons Api Primordial. Sembilan naga yang terukir di permukaannya seolah menggeliat, mata mereka menyala merah. Kuali kuno ini akhirnya dibangunkan oleh api yang layak untuknya!
Jian Chen tidak membuang waktu. Dengan jentikan tangannya, sepuluh potong Akar Tulang Besi dan lima kelopak Teratai Api Padam melayang ke udara dan jatuh ke dalam kuali secara berurutan.
"Pemurnian!"
Kedua tangan Jian Chen menari di udara, membentuk segel-segel rumit yang meninggalkan bayangan buram. Ia menembakkan untaian Qi ke dalam kuali untuk mengendalikan suhu dan aliran Api Primordial Hitam. Di dalam kuali, proses yang biasanya memakan waktu tujuh hari tujuh malam bagi alkemis fana, terjadi hanya dalam hitungan menit.
Akar Tulang Besi yang sekokoh baja langsung meleleh menjadi cairan berwarna perak abu-abu di bawah jilatan Api Primordial. Teratai Api Padam hancur, melepaskan cairan merah delima yang mendidih buas.
"Menyatulah di bawah perintahku!"
Jian Chen mendengus dingin. Niat Membunuh dan kesadaran spiritualnya menghantam cairan di dalam kuali seperti godam raksasa. Energi elemen api yang liar itu merintih dan langsung tunduk, melebur secara sempurna dengan cairan tulang besi.
Keringat mulai mengucur deras dari dahi Jian Chen. Wajahnya pucat. Meracik pil dengan presisi sempurna menggunakan tubuh yang baru mencapai Tingkat Lima memberikan beban luar biasa pada lautan jiwa fananya.
"Kondensasi!" teriaknya parau, menyelesaikan segel terakhir.
Di dalam Kuali Naga Hitam, cairan yang telah berpadu itu meledak dalam cahaya terang, lalu menyusut dan berputar dengan kecepatan gila, sebelum akhirnya terpecah menjadi sepuluh gumpalan padat berbentuk bulat.
Ding! Ding! Ding!
Suara benturan logam yang merdu terdengar dari dalam kuali, menandakan bahwa pil telah berhasil dibentuk. Api Primordial Hitam di dasar kuali padam seketika.
Jian Chen menghembuskan napas panjang, mengusap keringat di matanya, dan melambaikan tangannya. Tutup kuali terbuka. Sepuluh butir pil seukuran mata naga melayang keluar, memancarkan cahaya merah keperakan yang indah. Permukaan pil itu sangat halus, tanpa cacat, dan dihiasi oleh tiga garis urat yang menyerupai awan menyala.
"Pil Tulang Api... Kelas Sempurna (Perfect Grade) 100%," Jian Chen tersenyum tipis. "Di Benua Bintang Jatuh, bahkan seorang Master Alkemis dari ibu kota kerajaan hanya bisa menghasilkan pil dengan kemurnian paling tinggi 70%."
Tanpa ragu, Jian Chen memasukkan dua butir Pil Tulang Api Kelas Sempurna ke dalam mulutnya, sementara delapan butir sisanya ia simpan ke dalam botol giok di Cincin Penyimpanan-nya.
Begitu pil itu masuk ke perutnya, energi elemen api dan esensi penguatan tulang mengalir dengan patuh dan hangat, meresap ke dalam Meridian Primordial-nya dan menembus langsung ke sumsum tulangnya. Tulang-tulangnya berdenting samar, memadat dan semakin kuat. Kultivasinya yang baru saja mencapai Tingkat Lima Awal kini sepenuhnya stabil dan kokoh bagai gunung batu. Kekuatan fisiknya bertambah dari dua ribu kilogram menjadi dua ribu dua ratus kilogram tanpa perlu mengorbankan fondasinya sedikit pun.
"Sempurna," Jian Chen mengepalkan tinjunya, merasakan energi murni yang mengalir di setiap inci tubuhnya. Ia menatap ke luar jendela, melihat matahari yang mulai condong ke barat.
"Klan Jian... Paman Kedua... Turnamen Klan tidak perlu menunggu dua bulan. Aku sudah selesai mempersiapkan diriku hari ini. Mari kita lihat wajah kalian saat si 'Sampah' kembali dan mengambil alih segalanya."