NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. Hadiah Berbisa

Suara terompet perak membelah kabut pagi yang menyelimuti gerbang besi The Velvet Manor. Iring-iringan kereta kencana dengan lambang elang emas kerajaan bergerak pelan, dikawal oleh barisan kavaleri berbaju zirah yang berkilat tertimpa cahaya matahari pucat. Pangeran Valerius tidak datang untuk sekadar berkunjung; ia datang untuk membedah misteri yang ia cium sejak pertemuan terakhir mereka di Istana.

Aira berdiri di puncak tangga agung mansion, mengenakan gaun beludru hitam dengan kerah tinggi yang dihiasi permata zamrud—warna yang sama dengan matanya yang dingin. Di kanannya berdiri Dante, tegak dan otoriter meski bibirnya masih sedikit bengkak. Di kirinya, Zane berdiri diam seperti patung kematian. Di belakangnya, Kael dan Julian menjaga jarak, namun aura protektif mereka memenuhi atmosfer hingga terasa menyesakkan.

"Tegakkan dagu Anda, Nyonya," bisik Dante tanpa menggerakkan bibirnya. "Pangeran adalah pemangsa yang memakan keraguan sebagai sarapannya."

Aira memberikan smirk yang paling meremehkan. "Dia tidak akan menemukan apa pun kecuali kehancurannya sendiri, Dante."

Kereta berhenti, dan Valerius melangkah turun. Ia tampak sangat mempesona dengan jubah bulu cerpelai putih, namun matanya yang kuning seperti serigala langsung mengunci sosok Aira. Namun, yang membuat jantung Aira berdegup kencang adalah apa yang dibawa oleh pawang di belakang Pangeran: seekor Anjing Pemburu Istana raksasa bernama Fenrir.

Anjing itu bukan hewan biasa; ia dikenal memiliki kemampuan supernatural untuk mencium "ketidakselarasan jiwa"—ia bisa mendeteksi jika sebuah tubuh dihuni oleh entitas atau jiwa yang tidak seharusnya ada di sana.

"Isabella yang cantik," Valerius melangkah maju, meraih tangan Aira, dan menciumnya dengan cara yang terlalu lama—bibirnya sengaja menyentuh kulit Aira, seolah sedang mencicipi kebenaran. "Kau tampak lebih... berwibawa sejak terakhir kali kita berdansa. Apakah hutan kabut ini memberimu kekuatan baru?"

Kael menggeram rendah di belakang Aira, tangannya mencengkeram gagang pedang hingga buku jarinya memutih.

"Mansion ini selalu memberikan apa yang kubutuhkan, Pangeran," jawab Aira dingin, menarik tangannya dengan gerakan yang sangat menghina.

Valerius tertawa kecil, lalu ia memberi isyarat pada Fenrir. Anjing raksasa itu mendekat, mengendus-endus udara di sekitar ujung gaun Aira. Tiba-tiba, bulu di punggung anjing itu berdiri tegak. Geraman rendah dan mengerikan keluar dari tenggorokannya. Fenrir mulai menggonggong liar ke arah Aira, matanya yang merah menatap tajam seolah melihat penyusup di balik wajah Isabella.

"Ada apa, Fenrir? Kau mencium bau bangkai di sini?" Valerius bertanya dengan nada menyindir yang tajam. Ia menatap Aira dengan tatapan predator. "Anjing ini tidak pernah salah, Isabella. Ia mencium ada 'jiwa asing' yang sedang bersembunyi di balik sutra hitammu."

Ketegangan di aula itu meledak. Dante melangkah maju satu jentikan jari, auranya yang dominan mencoba menekan insting hewan itu. "Mungkin anjing Anda hanya terganggu oleh aroma minyak mawar yang baru saja kugunakan untuk membersihkan luka para pelayanku, Pangeran. Jangan biarkan insting hewan mengotori perjamuan ini."

Valerius tidak menghiraukan Dante. Ia justru mendekati Aira, mengunci pinggangnya dengan satu tangan dan menariknya mendekat hingga napas mereka beradu. Hasrat yang tersiksa terpancar dari mata keempat pelayan Aira yang kini siap membantai Pangeran jika Aira memberikan perintah.

"Bagaimana jika kita biarkan Fenrir memeriksa setiap sudut kamarmu, Isabella?" bisik Valerius tepat di depan bibir Aira. "Atau mungkin... ia ingin mencicipi darahmu untuk memastikan kau benar-benar von Raven?"

Aira tidak mundur. Ia justru merangkul leher Pangeran, memberikan sentuhan lembut yang mengejutkan, namun ia membisikkan kata-kata yang sangat kejam di telinga Valerius.

"Kau ingin memeriksa kamarku, Valerius? Silakan. Tapi ingat, terakhir kali seorang pria mencoba masuk ke sana tanpa izinku, aku sendiri yang mencabik jantungnya dan memberikannya pada anjing-anjing di hutan."

Aira melepaskan rangkulannya dan memberikan smirk yang mematikan. Ia menoleh ke arah pelayannya. "Kael, bawa anjing berisik ini ke kandang. Beri dia daging mentah agar dia diam. Dante, siapkan perjamuan. Aku ingin Pangeran merasakan keramah-tamahan von Raven yang sebenarnya... sebelum dia menyesal telah menginjakkan kaki di sini."

Valerius tertegun sesaat. Keberanian Aira yang meledak-ledak ini adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang jauh lebih menantang daripada Isabella yang dulu. "Kau benar-benar berubah, Isabella. Dan aku akan mencari tahu apakah perubahan ini karena kau sedang jatuh cinta pada budak-budakmu... atau karena kau bukan lagi wanita yang kukenal."

Di balik cermin besar aula, Isabella asli tertawa melengking, matanya berkilat haus akan kekacauan. "Gunakan mereka, Aira! Biarkan pelayan-pelayanmu yang cemburu itu mencabik Pangeran ini jika dia berani melangkah lebih jauh!"

Malam perjamuan pun dimulai. Aira duduk di kepala meja, diapit oleh Pangeran Valerius yang terus mencoba menyentuh tangannya di bawah meja, dan Dante yang menuangkan anggur dengan aura yang sangat mengancam. Setiap kali tangan Valerius merayap di atas paha Aira, Kael yang berdiri di belakang kursi Aira akan menghunuskan sedikit pedangnya dari sarungnya, menciptakan suara logam yang mencekam.

Aira membiarkan Valerius menyentuhnya, namun ia menatap keempat pelayannya dengan tatapan yang seolah berkata: Bersabarlah, anjing-anjingku. Aku akan membiarkan kalian menghabisi pria ini saat lilin terakhir padam.

Aula perjamuan The Velvet Manor malam ini terasa seperti medan perang yang dibungkus sutra dan emas. Cahaya dari ribuan lilin kristal memantul di permukaan gelas anggur yang bening, namun suasana di meja makan itu begitu berat hingga suara denting perak terdengar seperti dentuman meriam.

Aira duduk di kepala meja, diapit oleh Pangeran Valerius di sisi kanannya. Di belakang kursi Aira, Kael berdiri seperti patung batu, tangannya mencengkeram gagang pedang dengan urat-urat yang menonjol. Di sisi kiri, Dante menuangkan anggur dengan presisi yang mengerikan, setiap gerakannya memancarkan ancaman yang tak terucap. Sementara Zane mengawasi dari sudut remang, dan Julian berdiri di dekat nampan hidangan, matanya yang lebam menatap tajam ke arah Pangeran.

Pangeran Valerius menyesap anggurnya, matanya yang kuning seperti serigala tidak pernah lepas dari leher Aira—mencari bekas luka atau tanda yang bisa membuktikan kecurigaan anjing pemburunya, Fenrir.

"Kau tahu, Isabella," Valerius memulai, suaranya halus namun tajam. "Anjingku tidak pernah menggonggong tanpa alasan. Ia merasa ada 'aroma asing' yang menempel pada jiwamu. Seolah-olah kau adalah sebuah buku tua yang baru saja ditulis ulang oleh tangan yang berbeda."

Valerius mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra putih. Di bawah meja, tanpa bisa dilihat oleh Dante atau yang lain, ia meletakkan tangannya di atas paha Aira. Jarinya mulai merayap naik dengan gerakan yang sangat provokatif, sebuah pelecehan yang dibalut diplomasi.

Aira merasakan tubuhnya menegang. Naluriah Aira ingin berteriak dan menampar pria itu, namun jiwa Isabella di dalam batinnya justru memberikan smirk yang dingin. Aira tidak menarik diri. Ia justru menatap Valerius dengan pandangan yang sangat sensual namun meremehkan.

"Mungkin anjingmu hanya merindukan bau darah yang biasa kau tumpahkan di arena, Valerius," ujar Aira dengan nada yang sangat tenang. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Valerius yang berada di pahanya, bukannya menepis, ia justru mencengkeram tangan Pangeran itu dengan kuku-kukunya yang tajam hingga sutra sarung tangan Valerius sedikit robek.

"Atau mungkin," lanjut Aira, suaranya merendah hingga hanya Valerius yang bisa mendengar, "dia mencium aroma kematian yang sedang menunggumu jika kau terus mencoba menyentuh apa yang bukan menjadi hakmu."

Dante menyadari perubahan posisi tubuh Aira. Ia melangkah maju, memotong pembicaraan dengan menuangkan anggur tambahan ke gelas Pangeran hingga cairannya hampir meluap. "Pangeran, hidangan utamanya sudah siap. Saya harap lidah Anda sama tajamnya dengan pengamatan Anda terhadap Nyonya kami."

Valerius tertawa, menarik tangannya dari paha Aira—memperlihatkan bekas cakaran kecil di sarung tangannya. "Pelayanmu sangat protektif, Isabella. Terutama Kepala Pelayanmu ini. Dia menatapku seolah ingin menyajikan jantungku di atas piring perak ini."

Kael di belakang kursi Aira mengeluarkan suara geraman rendah yang hampir tak terdengar. Aira memberikan isyarat melalui pandangan matanya agar Kael tetap diam. Ia tahu, Valerius sedang memancing mereka untuk meledak agar ia punya alasan untuk menggeledah mansion ini.

"Mereka hanya melakukan tugasnya, Pangeran," ujar Aira. Ia mengambil sepotong daging merah yang masih berdarah dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri dengan cara yang sangat anggun. "Sama seperti anjingmu, mereka tahu siapa yang harus mereka lindungi."

Tiba-tiba, Julian melangkah maju membawa nampan berisi pencuci mulut. Ia meletakkannya di depan Valerius. "Silakan, Pangeran. Ini adalah kreasi khusus saya. Ramuan madu dan bunga belladonna yang sudah diolah... untuk menajamkan indra Anda."

Aira menyadari rencana Julian. Itu bukan racun mematikan, tapi zat yang akan membuat penglihatan Valerius sedikit kabur dan halusinasi. Aira memberikan smirk pada Julian—sebuah pujian bisu atas kelicikannya.

"Minumlah, Valerius," ajak Aira, mengangkat gelasnya. "Mari kita lihat apakah setelah ini kau masih bisa melihat 'jiwa asing' itu, atau kau justru akan melihat malaikat mautmu sendiri."

Valerius ragu sejenak, menatap gelas itu dan menatap Aira. Ketegangan di meja makan itu mencapai titik didih. Keempat pelayan Aira menahan napas, menunggu mangsa mereka menelan umpan tersebut. Di balik cermin aula, Isabella asli tertawa begitu puas hingga lilin-lilin di meja makan sedikit bergetar.

1
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
Anisa675
ngerii-ngeri sedap Aira
Anisa675
emang, strategi Aira beracun bangetttt
Anisa675
santai Kael... rusuh Mulu dah
Anisa675
Keren-keren, bisa berubah secepat itu. strateginya emang gitu kalia ya? jadi kejam tapi ada sisi lembutnya gitu
Anisa675
transformasinya langsung drastislah. kenapa ga dari awal thoooor
Anisa675: ya biar seru ya🤭
total 2 replies
Anisa675
Jangan lemah Aira!!!!
Anisa675
kebayang berapa nyebelinnya Isabella asli ini
Anisa675
kesel banget, hampir aja ketahuan. tapi udah pada curiga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!