Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayangan di Balik Kabut
Pagi itu udara di kaki Gunung Cheonma terasa dingin dan lembap. Kabut tipis menyelimuti pepohonan tinggi yang menjulang di sekitar jalan setapak. Goo Yoon berdiri di depan gerbang batu tua yang menjadi pintu masuk menuju tempat ujian berikutnya.
Gerbang itu tampak kuno, dipenuhi ukiran naga dan harimau yang seakan hidup. Di atasnya tertulis dua kata besar:
“Ujian Ketekunan.”
Beberapa murid lain yang juga mengikuti ujian berdiri di sekitar tempat itu. Wajah mereka penuh ketegangan. Sebagian terlihat percaya diri, sebagian lagi tampak gugup.
Seorang tetua berjubah abu-abu melangkah maju. Rambutnya putih panjang, dan matanya tajam seperti elang.
“Mulai dari titik ini,” katanya dengan suara berat, “kalian akan memasuki Hutan Kabut. Di dalamnya terdapat banyak rintangan. Siapa pun yang berhasil mencapai puncak tebing sebelum matahari terbenam akan lulus ujian tahap kedua.”
Suasana langsung menjadi tegang.
“Dan ingat,” lanjut sang tetua, “tidak semua musuh di dalam hutan adalah binatang.”
Beberapa murid saling menatap.
Kalimat itu terasa aneh.
Namun sebelum mereka sempat bertanya, gong besar berbunyi.
GONGGG!
“Ujian dimulai!”
Semua peserta langsung berlari memasuki hutan.
Daun-daun basah berderak di bawah kaki mereka. Kabut semakin tebal semakin dalam mereka masuk.
Goo Yoon tidak berlari secepat yang lain. Ia memilih berjalan stabil sambil mengamati sekitar.
“Tempat ini terasa aneh…” gumamnya.
Tiba-tiba—
GRRRAAA!
Seekor serigala besar melompat keluar dari semak-semak.
Matanya merah, taringnya panjang.
Seorang murid di depan Goo Yoon panik.
“A-apa itu?!”
Serigala itu langsung menyerang.
Namun sebelum mengenai korban—
WHACK!
Sebuah tongkat kayu menghantam kepalanya.
Serigala itu terpental dan jatuh ke tanah.
Yang memukulnya adalah Goo Yoon.
Ia memegang tongkat sederhana yang ia ambil dari tanah.
“Kalau panik, kamu akan mati,” katanya datar kepada murid itu.
Murid itu terdiam, lalu buru-buru mengangguk dan lari pergi.
Serigala itu mencoba bangkit kembali.
Namun Goo Yoon tidak memberi kesempatan.
SWISH!
Tongkatnya bergerak cepat, menghantam leher serigala.
Hewan itu langsung roboh dan tidak bergerak lagi.
Goo Yoon menghela napas.
“Ini baru awal…”
Ia melanjutkan perjalanan.
Semakin jauh ia masuk, semakin terasa bahwa hutan ini bukan hutan biasa. Kabut bergerak aneh, seakan hidup.
Kadang terdengar suara langkah padahal tidak ada siapa pun.
Kadang bayangan bergerak di antara pepohonan.
Tiba-tiba Goo Yoon berhenti.
Ia merasakan sesuatu.
Aura.
Ada seseorang di dekatnya.
“Keluar saja,” kata Goo Yoon tenang.
Beberapa detik berlalu.
Lalu dari balik pohon muncul seorang pemuda dengan pakaian murid yang sama.
Namun tatapannya tajam dan penuh niat buruk.
“Heh… kamu ternyata sadar juga,” katanya sambil tersenyum miring.
“Kenapa mengikuti aku?” tanya Goo Yoon.
Pemuda itu menyeringai.
“Karena kalau aku mengalahkanmu sekarang, pesaingku berkurang satu.”
Ia mengeluarkan pedang pendek.
“Di ujian seperti ini… tidak ada yang melarang peserta saling menjatuhkan.”
Angin dingin berhembus di antara mereka.
Goo Yoon mengangkat tongkatnya perlahan.
“Aku tidak punya waktu untuk ini.”
Pemuda itu tertawa.
“Kamu pikir kamu kuat?”
Dalam sekejap ia menyerang.
SWOOSH!
Pedangnya mengarah langsung ke dada Goo Yoon.
Namun—
TAP!
Tongkat Goo Yoon menangkisnya dengan gerakan sederhana.
Pemuda itu terkejut.
“Cepat juga…”
Ia menyerang lagi, kali ini lebih cepat.
CLANG! CLACK!
Beberapa serangan beruntun dilancarkan.
Namun Goo Yoon menangkis semuanya dengan gerakan tenang.
Dalam hatinya ia berpikir.
Gerakannya cepat… tapi tidak stabil.
Saat pedang itu kembali menyerang—
THUD!
Tongkat Goo Yoon menghantam pergelangan tangan lawannya.
“AAGH!”
Pedang itu terlepas dan jatuh.
Sebelum pemuda itu sempat bereaksi—
WHACK!
Tongkat Goo Yoon mengenai bahunya.
Pemuda itu langsung jatuh berlutut.
“Kamu kalah,” kata Goo Yoon.
Pemuda itu menggertakkan gigi.
“Ini belum selesai…”
Namun Goo Yoon sudah berjalan pergi.
Ia tidak ingin membuang waktu.
Di kejauhan, melalui kabut tebal, ia bisa melihat sesuatu.
Sebuah tebing tinggi menjulang.
Di atasnya terlihat sebuah bendera merah berkibar.
Itulah tujuan ujian.
Namun saat Goo Yoon melangkah mendekat…
Kabut tiba-tiba bergerak liar.
Dan dari dalam kabut itu muncul bayangan besar.
Langkah berat mengguncang tanah.
DUM… DUM… DUM…
Sosok raksasa perlahan keluar dari kabut.
Seekor beruang hitam raksasa, jauh lebih besar dari beruang biasa.
Matanya bersinar merah.
Goo Yoon menatapnya dengan serius.
Ia menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Jadi ini penjaga terakhir…”
Beruang itu mengaum keras.
ROOOAAARRR!
Pertarungan besar akan segera dimulai.
Dan Goo Yoon tahu…
Ujian ini belum benar-benar dimulai.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/