⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!
SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA
Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?
Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.
Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?
Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helikopter Konglomerat dan Penolakan Mentah-mentah
BZZZ! BZZZ! BZZZ!
Suara baling-baling yang sangat bising terdengar menderu dari luar, membuat Bella Anindya yang baru saja tersadar langsung berjengit kaget.
Pada akhirnya, Raka tidak pernah mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaannya dari bibir Bella.
"Perhatian orang yang ada di dalam! Kalian sudah dikepung! Segera serahkan sandera dan kami akan memberikan keringanan hukuman!"
Nani?!
Menghadapi teriakan megaphone raksasa yang tiba-tiba menggema itu, Raka merasa ini benar-benar situasi yang sangat absurd dan menyebalkan.
Dia mengintip dari balik jendela kecil. Orang-orang di luar sana sama sekali bukan polisi. Mereka mengendarai helikopter pribadi, dan saat ini posisi helikopter itu nyaris melayang sejajar di udara dengan ketinggian vila resor Raka.
"Gue harus pergi."
Bella yang baru saja siuman dari koma belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih sangat lemah. Dia berjalan tertatih-tatih dengan langkah terhuyung menuju arah pintu.
Di luar pintu, sudah ada orang yang menunggu.
"Papa?"
Sebenarnya Raka sudah menduganya sejak awal. Orang-orang yang datang membuat keributan sebesar ini pastilah utusan dari Keluarga Mahendra. Si parasit Vino Pratama jelas tidak punya kapasitas dan keberanian untuk melakukan aksi sebarbar ini.
Karena Bella sudah terbaring di ranjang dalam waktu yang sangat lama, otot-otot kakinya masih kaku. Baru saja dia melangkah keluar dari pintu, dia langsung jatuh terjerembab.
Melihat hal itu, Raka langsung mengambil langkah seribu, berniat menerjang maju untuk menopang dan memeluk tubuh Bella.
"Lo mau ngapain hah?!"
Namun, gerombolan bodyguard berbadan tegap dari Keluarga Mahendra langsung menerkam dan menekan tubuh Raka dengan kuat, memitingnya hingga dia tidak bisa berkutik sedikit pun.
Akar dari seluruh kekacauan ini sebenarnya harus ditarik mundur hingga beberapa hari yang lalu, saat Inspektur Polisi Roni berhasil melacak informasi mengenai keberadaan Bella.
Polisi yang kebetulan memiliki hubungan dekat dengan generasi penerus penguasa baru Keluarga Mahendra itu langsung menelepon dan membocorkan informasi ini kepada kakak sepupu Bella, yaitu Bagas Mahendra. Sontak saja, seluruh keluarga besar Mahendra dibuat syok dan gempar berjamaah. Pasalnya, selama ini mereka sama sekali tidak pernah menyadari insiden tersebut. Mereka murni mengira bahwa Bella sedang sibuk syuting di lokasi proyek film!
Maka, terjadilah pemandangan epik barusan—Bagas Mahendra secara bar-bar memimpin puluhan bodyguard elit dan menerbangkan helikopter untuk mengepung vila mewah di kawasan resor milik Raka.
"Hebat juga nyali lo, Bocah! Berani-beraninya lo nyulik adik gue!"
Bagas Mahendra bisa duduk di posisi sebagai penguasa baru keluarga jelas bukan tanpa alasan. Dia pasti punya kapabilitas yang mengerikan, dan hari ini, Raka akhirnya berkesempatan melihat langsung kekuatannya.
Puluhan bodyguard profesional itu dalam sekejap langsung membentuk formasi kepungan yang rapat, mengelilingi Raka dengan tampang garang dan aura yang sangat membunuh.
"Hmph!" Raka mendengus dingin di dalam hati.
Sistem ini kan udah ngasih gue badan kekar berotot baja dan kekuatan mutlak. Emangnya kalian pikir, kroco-kroco kayak kalian ini bisa ngelumpuhin gue semudah itu?
Benar saja, hanya dengan sedikit saja Raka mengerahkan tenaga di kedua lengannya, para bodyguard yang menahannya tadi langsung terpental dan tak sanggup menahan kekuatannya.
Hanya butuh tiga pukulan dan dua tendangan kilat, Raka berhasil menerobos kepungan itu tanpa menderita luka segores pun. Dia kini berdiri berhadapan langsung dengan Bagas Mahendra, wajahnya memancarkan senyum yang sangat arogan dan penuh kemenangan.
"Permisi, Bapak yang terhormat. Mohon maaf, barusan Anda ngomong apa ya? Saya kurang denger."
Kalimat Raka terdengar sangat sopan di telinga, tapi kenyataannya setiap kata yang keluar dari mulutnya itu ibarat pisau tajam yang menusuk langsung ke ulu hati Bagas Mahendra.
Bagas merasa sekujur tubuhnya sangat tidak nyaman. Pria di depannya ini dari luar terlihat kurus, bersih, dan seperti Tuan Muda manja, tapi siapa sangka kemampuan bela dirinya sebegitu luar biasa? Kilatan rasa panik sempat melintas sejenak di mata Bagas.
Bella yang menyaksikan adegan baku hantam barusan sampai dibuat ketakutan setengah mati. Dia duduk lemas di tanah dan butuh waktu lumayan lama untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Kini, dia buru-buru merangkak dan memeluk kaki Bagas.
"Kak Bagas! Tolong, kalian jangan pukulin dia! Dia itu temenku!"
"Temen?! Kok Kakak nggak pernah denger lo punya temen modelan begini!"
Bagas hanya mendengar laporan bahwa Bella terbaring koma di dalam rumah sakit jiwa, dan pria bernama Raka Adiyaksa yang selalu setia menjaga di samping ranjangnya ini sangat mungkin adalah dalang utama sekaligus pelaku di balik tragedi tersebut.
"T-Temenku kan banyak Kak, masa iya Kakak harus hafal satu-satu," kilah Bella dengan nada terbata-bata mencoba menutupi fakta.
"Heh." Bagas tertawa sinis. Dia memang tidak kenal, tapi dia sudah lumayan sering mendengar sepak terjang pria bernama Raka Adiyaksa ini.
Tiba-tiba saja di Jakarta muncul seorang anak konglomerat kelas atas yang secara agresif mengakuisisi dan memborong aset-aset raksasa di mana-mana. Siapa coba bos besar lokal yang tidak merasa tersaingi dan waswas? Bagi keluarga aristokrat selevel Keluarga Mahendra, hal semacam ini sangat tidak bisa ditoleransi.
Pemain baru? Aturannya cuma dua: Tunduk dan bergabung dengan kami, atau bersiaplah menjadi musuh kami.
Raka ini tipe orang yang anti-sosial dan tidak pernah basa-basi menjalin koneksi. Dia sama sekali tidak pernah melakukan kunjungan formal ke pintu Keluarga Mahendra. Bagi Bagas, sikap abai Raka itu adalah sebuah sinyal permusuhan yang sangat jelas.
"Lo yang namanya Raka?"
"Bener banget, itu gue." Raka menggunakan jari telunjuknya untuk menyeka pelan sudut bibirnya, menatap lawannya dengan sorot mata yang sedingin es, dihiasi dengan senyum tipis yang penuh misteri.
Bagas sama sekali tidak mau membuang-buang waktu dengan basa-basi. Dia langsung melontarkan interogasi tajam: "Lo udah nyekap dan nyulik adik gue! Biarpun sekarang dia kelihatan baik-baik aja tanpa luka, tapi lo tetep harus ngasih pertanggungjawaban yang jelas ke keluarga gue! Buruan sebutin, gimana cara lo mau nyelesein masalah ini?!"
Raka mendengus meremehkan. "Pertama, gue sama sekali nggak pernah nyulik adik lo. Kalau lo nggak percaya, tanya aja sendiri ke orangnya. Kedua, kalau lo emang mau nuntut sesuatu dari gue, sebut aja apa yang lo mau. Selama gue punya barangnya, bakal gue kasih. TAPI... inget baik-baik, itu itungannya gue lagi ngasih sedekah ke elo!"
Mendengar kalimat arogan nan merendahkan itu, raut wajah Bagas langsung berubah warna saking emosinya.
"Dasar bangsat! Jangan belagu dan nggak tau diri lo!"
"Oh ya? Kalau gitu gue bener-bener harus ngucapin terima kasih nih atas 'pujian' lo, Tuan Muda Bagas! Udah, buruan sebutin lo mau malak apa dari gue, nggak usah pake sungkan-sungkan segala!"
Ucapan Raka benar-benar sarat akan provokasi tingkat tinggi. Ditambah lagi dengan lirikan matanya yang terang-terangan meremehkan Bagas, sukses membuat lawannya itu naik darah sampai ubun-ubun.
"Barang yang gue mau, belum tentu lo sanggup ngasih!"
Bagas berhenti berteriak dan memaki, dia mulai mengubah taktiknya menjadi negosiasi bisnis.
Tujuan kedatangannya hari ini bukan semata-mata murni untuk menyelamatkan Bella. Itu hanyalah alasan dummy. Tujuan aslinya adalah memanfaatkan insiden ini untuk memeras Raka dan memukulnya habis-habisan secara finansial.
Tapi Raka sama sekali tidak merasa gentar. "Coba sebutin."
"Gue minta 27% saham lo di Grand Wijaya Property!"
Begitu Bagas membuka mulutnya, Bella yang berada di sampingnya langsung melongo syok berat. Dia menatap kakak sepupunya itu dengan ekspresi tak percaya. Saham Grand Wijaya Property?! Apa pria ini sudah gila?! Itu adalah aset bernilai lima puluh triliun Rupiah! Terlebih lagi, Bella sendiri bahkan tidak pernah tahu kalau Raka ternyata diam-diam memiliki aset sebesar itu.
Mendengar tuntutan itu, Raka hanya tertawa dingin. Jelas sekali lawannya ini sudah melakukan riset mendalam sebelum datang melabrak ke sini.
Raka tidak langsung menolaknya mentah-mentah. Sebaliknya, dia berpura-pura memasang wajah ragu dan keberatan, dan sengaja membiarkan suasana hening.
Melihat Raka tak kunjung merespons, Bagas mulai kehilangan kesabaran dan melanjutkan serangannya: "Lo udah nyulik adik gue dan lo udah hidup seatap sama dia berhari-hari! Sekarang nama baik dan kehormatan dia udah hancur lebur di mata publik! Kalau gitu lo nikahin aja dia sekalian, nah, saham yang gue minta tadi itung-itung jadi uang mahar buat Keluarga Mahendra."
"Kak?!" Bella menjerit kaget tak kepalang. "Kakak ngomongin omong kosong apaan sih?!"
Raka tertawa sinis di dalam hati. Pertunjukan ini benar-benar semakin menarik.
Ternyata Bagas ini sama sekali tidak mempedulikan nasib adik sepupunya, kan? Di mata pria itu, yang ada hanyalah ambisi untuk memperluas peta kekuasaan bisnisnya.
"Tuan Bagas yang terhormat, 27% saham Grand Wijaya Property itu nilainya setara dengan Lima Puluh Triliun Rupiah. Dan asal lo tau aja, pake duit segede itu... itu lebih dari cukup buat gue ngajak lo hancur bareng-bareng! Sisa duit kembaliannya bahkan masih sanggup buat nyewa buzzer buat ngehancurin reputasi lo sampai ke akar! Probabilitas keberhasilannya 100% mutlak!"
Raka menatap mereka berdua dengan pandangan yang sangat amused. Bukan berarti dia pelit dan sayang untuk mengeluarkan uang sebanyak itu, dan bukan pula karena dia merendahkan nilai Bella. Tapi Raka adalah tipe pria yang pantang membiarkan orang lain menginjak-injak kepalanya.
"Bangsat lo!" Bagas mengamuk luar biasa. "Kalau hari ini lo nolak tawaran gue, besok pagi juga gue bakal langsung nyeret lo ke meja hijau! Gue bakal nuntut lo atas tuduhan penyekapan ilegal dan penganiayaan terhadap adik gue! Liat aja nanti gimana menderitanya hidup lo!"
Bagas sangat percaya diri menggunakan ancaman ini karena dia tahu kelemahan Raka: Raka adalah publik figur yang sedang viral. Dia baru saja dibranding sebagai "Pahlawan Energi Positif". Kalau sampai Raka terseret kasus hukum sekotor ini, harga saham dan reputasi Grup Adiyaksa pasti akan terjun bebas dan hancur lebur.
Tapi sayangnya, Raka sama sekali tidak peduli soal uang, dan dia juga mustahil bisa kalah.
Raka menatap Bagas dengan sorot mata yang sangat tajam dan mematikan. "Lo pastiin lo punya bukti yang kuat!"
Setelah menjatuhkan kalimat itu, Raka langsung berbalik badan, melangkah keluar dari vila, dan dengan santainya naik ke sebuah helikopter yang sudah menunggu di depan pintu.
Ternyata, saat dia sedang sibuk berdebat dan mengulur waktu dengan Bagas tadi, secara diam-diam Raka sudah menyewa helikopter ready stock lewat ponselnya dan memerintahkan pilotnya untuk segera datang menjemput.
Raka tersenyum sinis. Emangnya lo pikir cuma elo doang yang punya helikopter?! Gaya lo sok-sokan pamer harta gitu apa nggak takut disamber petir?!