Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Sore itu suasana kantor mulai berubah. Satu per satu karyawan merapikan meja kerja mereka. Suara kursi yang digeser, laci yang ditutup, dan komputer yang dimatikan terdengar bersahutan di berbagai sudut ruangan. Jam kerja hampir selesai, dan sebagian besar orang sudah bersiap untuk pulang.
Lampu di beberapa meja bahkan sudah dimatikan. Beberapa pegawai berjalan menuju lift sambil mengobrol santai, seolah beban kerja hari itu sudah benar-benar mereka tinggalkan di kantor.
Di tengah suasana itu, Yanti dan Risa sudah berdiri di samping meja mereka sambil menenteng tas. Wajah keduanya terlihat lega setelah melewati hari kerja yang cukup melelahkan.
"Vi, ayo pulang," kata Yanti sambil melirik ke arah meja Novita.
Novita masih menatap layar komputernya dengan fokus. Jarinya bergerak cepat di keyboard, memasukkan beberapa angka terakhir ke dalam tabel data.
"Sebentar lagi," jawabnya tanpa menoleh. "Tinggal satu data lagi."
Risa mendekat dan menyandarkan pinggulnya ke meja Novita sambil melipat tangan.
"Kamu kan masih training," katanya. "Kerjaan itu juga bukan yang penting-penting amat. Besok juga bisa diselesaikan."
Novita tersenyum kecil sambil tetap mengetik.
"Aku tahu," katanya tenang. "Tapi kalau sekarang selesai, besok nggak numpuk."
Yanti menghela napas panjang lalu menggeleng.
"Dasar rajin banget," katanya setengah mengeluh. "Nanti kalau kebiasaan begini, kamu malah dikasih kerjaan terus sama atasan."
Novita tertawa kecil.
"Tenang saja. Ini benar-benar tinggal satu lembar kok."
Risa menatap jam di dinding kantor.
"Ya sudah, kami duluan ya. Tapi jangan lama-lama."
Yanti menambahkan dengan nada setengah bercanda.
"Iya. Lebih baik pulang sebelum Pak Andra lewat lagi. Daripada kamu berpapasan sama beliau."
Novita langsung mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
"Iya, iya. Sebentar lagi selesai."
"Janji?" tanya Risa sambil menyipitkan mata.
"Janji."
Akhirnya Yanti dan Risa berjalan menuju lift sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati pulangnya!" seru mereka.
"Iya!" balas Novita.
Setelah mereka pergi, suasana kantor menjadi jauh lebih sepi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung lembut dan sesekali langkah kaki orang yang masih berjalan di koridor.
Novita kembali fokus pada pekerjaannya. Ia menatap data di layar dengan teliti lalu memasukkan angka-angka terakhir yang diperlukan. Jarinya bergerak cepat namun tetap hati-hati.
"Sedikit lagi..." gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian ia menekan tombol enter terakhir.
"Yes, selesai!" bisiknya sambil menghembuskan napas lega.
Novita segera menyimpan file tersebut lalu mematikan komputernya. Ia merapikan beberapa dokumen di mejanya, memasukkan buku catatan ke dalam tas, lalu berdiri.
Kantor kini hampir kosong. Lampu di beberapa ruangan sudah dimatikan dan sebagian meja sudah benar-benar ditinggalkan pemiliknya.
"Akhirnya pulang juga," gumamnya.
Ia menggantungkan tas di bahunya lalu berjalan menuju lift.
Namun begitu keluar dari lorong kantor, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di depan sana berdiri seseorang yang sangat ia kenal.
Pak Andra.
Pria itu baru saja keluar dari ruangannya. Posturnya tegap dengan jas yang masih rapi seperti di pagi hari.
Jantung Novita langsung berdegup lebih cepat.
"Aduh..." batinnya.
Ia segera menundukkan kepala dan memberi salam dengan sopan.
"Selamat sore, Pak," ucapnya pelan.
Andra berhenti berjalan. Tatapannya turun ke arah Novita dengan ekspresi dingin.
Beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa.
Koridor terasa semakin sunyi.
Kemudian ia berkata singkat.
"Harusnya kamu minta maaf."
Novita langsung mengangkat kepala dengan bingung.
"Maaf, Pak?"
Andra menatapnya tanpa ekspresi.
"Tadi siang di lift."
Seketika Novita teringat kejadian itu.
Ia langsung menundukkan kepala lagi.
"Maaf, Pak. Saya tidak memberi salam tadi siang."
Andra tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar lalu kembali berjalan melewati Novita begitu saja.
Langkah sepatunya terdengar tegas di lantai koridor.
Novita berdiri kaku beberapa detik.
"Ya ampun..." gumamnya pelan.
Setelah Andra benar-benar pergi, ia akhirnya menghembuskan napas panjang.
"Untung saja..." katanya lirih.
Tadi siang ia sempat mengira pria itu adalah Arya. Sekarang ia merasa jauh lebih lega karena ternyata bukan.
"Berarti memang cuma mirip," pikirnya.
Namun rasa kesal tetap muncul di hatinya.
"Atasan macam apa sih..." gerutunya pelan.
Ia berjalan menuju parkiran dengan langkah agak cepat.
"Bukannya kasih contoh yang baik, malah hobinya menekan pegawai," lanjutnya dalam hati.
Begitu sampai di parkiran, Novita langsung mengenakan helmnya lalu menyalakan motor.
Mesin motor meraung pelan ketika ia memutar gas.
Perjalanan menuju kosnya tidak terlalu jauh. Angin sore menyapu wajahnya sepanjang jalan.
Namun pikirannya masih teringat pada kejadian barusan.
"Cuma gara-gara salam saja..." gumamnya kesal.
Beberapa menit kemudian ia sampai di depan kosnya.
Ia memarkir motor lalu naik ke kamar kecil yang sudah ia tempati hampir setahun.
Begitu masuk kamar, ia langsung meletakkan tas di meja.
"Ah, capek..." katanya sambil meregangkan bahu.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mandi.
Air dingin dari shower terasa sangat menyegarkan setelah seharian bekerja.
Namun bahkan saat mandi pun ia masih menggerutu.
"Dasar Pak Andra menyebalkan," katanya sambil menyabuni rambut.
"Semoga saja besok beliau sakit perut," tambahnya dengan nada setengah bercanda.
Setelah selesai mandi, Novita mengenakan pakaian rumah yang nyaman.
Perutnya mulai terasa lapar.
Ia membuka kotak makan yang tadi ia beli di warung dekat kos.
Menu makan malamnya sederhana.
Orek tempe dan telur dadar.
Namun aroma masakan rumahan itu langsung membuat perutnya berbunyi.
"Lumayan," katanya sambil duduk santai di lantai.
Ia mulai makan dengan lahap.
Setiap suapan terasa nikmat karena ia benar-benar lapar.
Meski makanannya sederhana, Novita tetap merasa bersyukur.
"Yang penting kenyang," katanya sambil tersenyum kecil.
Setelah beberapa suapan, ia berkata sendiri dengan nada penuh harapan.
"Kalau sudah gajian nanti..."
Ia berhenti sejenak lalu tersenyum.
"Aku mau beli ayam satu ekor."
Bayangan masakan favoritnya langsung muncul di kepala.
"Masak gulai ayam."
Ia tertawa kecil sendiri.
"Wah, pasti enak itu."
Novita kembali melanjutkan makan malamnya dengan perasaan jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Hari yang cukup melelahkan akhirnya berakhir dengan sederhana, tapi hangat.
Setelah selesai makan, Novita menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memegang ponsel.
Layar ponselnya tiba-tiba menyala.
Sebuah notifikasi muncul.
Grup Admin Kantor.
Novita mengangkat alisnya sedikit.
"Lagi..." gumamnya.
Ia membuka aplikasi pesan dan melihat isi percakapan di grup tersebut.
Untuk ukuran grup kantor, isinya justru jauh dari kata serius.
Pesan paling atas berasal dari seseorang yang bertanya tentang tempat makan baru.
Di bawahnya ada yang membahas drama televisi semalam.
Lalu ada juga yang mengirim foto kucing peliharaan.
Novita menghela napas sambil tertawa kecil.
"Ini grup kantor atau grup ibu-ibu arisan sih..." gumamnya.
Ia menggulir layar ponselnya perlahan.
Meski terlihat seperti grup rumpi, ternyata di sela-sela obrolan santai itu tetap ada informasi penting yang dibagikan.
Kadang ada file pekerjaan.
Kadang pengumuman mendadak.
Kadang juga perubahan jadwal.
"Multifungsi juga," katanya pelan.
Ia kembali membaca beberapa pesan yang masuk sambil tersenyum tipis.
Setidaknya, di tengah hari kerja yang melelahkan, obrolan ringan di grup itu kadang cukup menghibur.
Novita kemudian meletakkan ponselnya di samping dan meregangkan tubuh.
Besok pagi ia harus kembali menghadapi kantor.
Dan tentu saja...
Pak Andra.