"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Senyum Mici dan Jejak yang Tersembunyi
[POV: Vaya]
Setelah badai gairah dan emosi di kamar tadi pagi, suasana apartemen terasa lebih tenang, meski ada kecanggungan yang menggantung di udara. Aku duduk di karpet ruang tengah, memperhatikan Miciella yang sedang asyik menyusun balok warna-warni. Wajahnya sudah tidak pucat lagi, tawanya sudah kembali nyaring.
"Mama! Pasang! Pasang ini!" Mici menyodorkan sebuah balok merah padaku dengan mata bulatnya yang berbinar.
Aku tersenyum tulus, sesuatu yang kini mulai sering kulakukan tanpa paksaan. Aku mengambil balok itu dan memasangnya di puncak menara kecil buatannya. "Hore! Menaranya jadi tinggi banget, ya?"
"Tinggi kayak Papa!" seru Mici sambil bertepuk tangan.
Aku tertegun mendengar ucapannya. Mataku beralih pada Narev yang sedang duduk di meja makan tidak jauh dari kami, menyesap kopinya sambil menatap kami berdua. Tatapannya tidak lagi tajam atau mengintimidasi seperti tadi pagi; kini matanya terlihat hangat, seolah sedang menonton pemandangan paling berharga di dunia.
"Papa tinggi banget ya, Mici?" sahut Narev sambil berjalan menghampiri kami. Dia duduk di sebelahku, tangannya tanpa ragu merangkul pundakku. "Tapi menara ini bisa runtuh, kalau cintanya Papa ke Mama nggak akan pernah runtuh."
"Ih, gombal!" aku menyenggol lengannya, mencoba menutupi debaran jantungku.
Narev terkekeh, lalu dia mencium pelipisku di depan Mici. "Mici, hari ini kita main ke taman, mau? Mama sudah mulai jago lho jagain Mici."
"Mau! Taman! Taman!" Mici melompat kegirangan.
Melihat kebahagiaan itu, sebagian diriku merasa sangat nyaman. Rasanya begitu nyata. Namun, di sudut pikiranku yang paling gelap, suara Rian semalam masih menggema. “...Istri karena perjodohan yang kamu paksakan Narev! ... Vaya, kamu menangis padaku di telepon....”
Jika benar aku dulu sangat membenci Narev, kenapa sekarang aku bisa merasa sebahagia ini? Apakah aku benar-benar mencintai Rian dulu? Dan apa yang sebenarnya Narev lakukan sampai aku bisa berakhir "terjebak" di pernikahan ini?
Sore harinya, saat Narev sedang sibuk di ruang kerjanya dan Mici sedang mandi bersama Bi Inah, aku menyelinap ke arah meja kecil di dekat pintu masuk—tempat tas kerjaku diletakkan. Aku teringat semalam Tristan, atau mungkin asistennya, sempat menyelipkan sebuah kartu nama ke dalam saku gaun hitamku sebelum Narev menarikku pergi.
Aku merogoh saku gaun yang tergantung di laundry bag. Ketemu.
Sebuah kartu nama sederhana bertuliskan: Rian Aditya – Firma Hukum Global. Di baliknya ada tulisan tangan yang terburu-buru: “Temui aku di kafe biasa, jam 10 pagi esok. Aku punya bukti dokumen yang kamu minta sebelum ingatanmu 'hilang'.”
Tanganku gemetar. Dokumen yang aku minta? Jadi, Vaya versi dewasa memang sedang merencanakan sesuatu sebelum "lompatan waktu" ini terjadi?
"Lagi cari apa, Sayang?"
Aku tersentak hebat hingga kartu nama itu hampir terjatuh. Narev berdiri di ambang pintu dapur, memegang gelas air putih. Matanya menyipit, menatap tanganku yang tersembunyi di balik punggung.
"Eh, nggak... cuma cari... ikat rambut. Kayaknya ketinggalan di saku gaun," aku mencoba bicara senormal mungkin, meski jantungku berdegup seperti genderang perang.
Narev berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depanku, jaraknya sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya. Dia meletakkan gelasnya, lalu tangannya terangkat untuk membelai pipiku.
"Kamu kelihatan gelisah sejak pulang dari pesta kemarin, Vaya. Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya lembut, tapi ada nada menyelidik yang tidak bisa disembunyikan.
"Nggak ada, Narev. Mungkin cuma capek karena Mici sempat sakit kemarin," aku memaksakan senyum.
Narev menatap mataku dalam-dalam, seolah sedang mencoba mencari kebohongan di sana. "Aku sudah bilang, kan? Jangan ada rahasia di antara kita. Aku tidak suka jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."
"Iya, Narev. Aku tahu."
Narev mencium keningku lama. "Bagus. Karena aku tidak segan-segan menghancurkan siapa pun yang mencoba masuk di antara kita lagi. Ingat itu, Cebol."
Setelah Narev pergi, aku mengembuskan napas panjang yang sedari tadi kutahan. Aku segera menyembunyikan kartu nama itu di dalam casing ponselku.
Aku harus tahu kebenarannya. Aku harus tahu apakah kebahagiaan yang kurasakan sekarang adalah nyata, atau hanya sebuah ilusi indah yang dibangun di atas penderitaan Vaya yang asli. Maafkan aku, Narev, tapi aku tidak bisa hidup dalam ketidaktahuan ini selamanya.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa