NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Pagi itu, langit di atas SMA Arcandale tampak tidak menentu. Awan kelabu menggantung rendah, membuat cahaya matahari yang mencoba menembus kabut tampak pucat dan sakit. Di dalam kelas Kimia yang pengap, aroma sisa hujan bercampur dengan bau kertas dan kecemasan siswa yang belum siap menghadapi ujian mendadak.

Kenzie duduk di bangku paling belakang, tangannya bergerak gelisah menyentuh plester di keningnya. Di barisan seberang, Hallen masih terus menoleh ke arahnya, memberikan kedipan mata atau sekadar senyum miring yang kini sudah tidak lagi dihiraukan Kenzie. Namun, perhatian Kenzie sebenarnya tertuju pada Julian.

Julian tampak berbeda hari ini. Kenzie bisa merasakannya. Otoritas yang biasanya ditekan kuat oleh pemuda itu kini terasa bocor, seperti bendungan yang mulai retak. Julian duduk tegak, matanya tertuju ke pintu kelas dengan intensitas yang mengerikan. Jemarinya yang biasanya tenang kini mengetuk meja secara ritmis, sebuah tanda kegelisahan yang sangat manusiawi, namun berasal dari sosok yang Kenzie tahu bukan manusia.

Lalu, pintu terbuka. Pak Andrew, guru Kimia yang sudah mulai botak, masuk diikuti oleh seorang gadis. Langkah kaki gadis itu tidak terdengar, seolah-olah dia berjalan di atas udara. Rambutnya pirang pucat, hampir putih, jatuh di bahunya seperti sutra yang ditenun dari cahaya bulan. Kulitnya seputih salju, tanpa noda dan matanya memiliki warna biru yang begitu dingin hingga membuat siapa pun yang menatapnya merasa seolah-olah mereka sedang tenggelam di danau es.

"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita kedatangan murid pindahan lagi." suara Pak Andrew terdengar jauh bagi Julian. "Silakan perkenalkan dirimu, Nak."

Gadis itu tersenyum. Senyum itu manis, sempurna, namun bagi Kenzie yang sudah hidup empat ratus tahun, senyum itu tampak seperti topeng porselen yang bisa pecah kapan saja.

"Halo semuanya. Namaku Lyana Arabell. Senang bertemu kalian. Aku harap kita bisa menjadi teman baik."

Suaranya merdu, seperti denting lonceng perak, namun di telinga Julian, suara itu adalah ledakan yang menghancurkan dunianya.

Julian terpaku. Jantungnya yang jarang berdetak kencang kini seolah dihantam godam. Fitur wajah itu, garis rahang yang tegas namun lembut, bentuk mata yang sedikit melengkung itu adalah wajah yang ia gendong dua belas tahun lalu saat mereka berlibur ke sudut kota Eropa. Itu adalah wajah putrinya. Lyana Arabell Klein.

"Silakan duduk di bangku kosong di belakang Hallen, Lyana." perintah Pak Andrew.

Namun, yang paling mengejutkan adalah tatapan Lyana. Saat mata mereka bertemu, Julian mencari kilatan pengenalan, rasa bersalah atau bahkan kemarahan. Namun tidak ada. Lyana menatap Julian seolah-olah pemuda itu hanyalah perabot kelas yang membosankan. Ia melewati Julian tanpa jeda, tanpa getaran emosi sedikit pun. Lyana bersikap seolah mereka adalah orang asing total.

Hallen yang biasanya hanya memiliki mata untuk Kenzie, kini tampak ternganga. Ia menatap Lyana yang berjalan mendekat dengan ekspresi kagum yang tak tertutup. Saat Lyana duduk di belakangnya, Hallen bahkan lupa cara bernapas sejenak.

"Wow." gumam Hallen, cukup keras untuk didengar seluruh kelas. "Kenzie, kelihatannya kau punya saingan sekarang. Dia seperti peri yang hidup dari dunia fantasi."

Kenzie tidak peduli dengan komentar Hallen. Matanya terpaku pada Julian. Julian menundukkan kepala, tangannya mengepal kuat di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Kenzie bisa merasakan gelombang energi yang gelap dan berat memancar dari Julian. Ini bukan lagi sekadar rahasia identitas, ini adalah luka lama yang terbuka kembali.

Julian tahu. Ia sudah memprediksikan ini. Sejak ia mencium aroma darah Kenzie di koridor dan UKS, ia tahu bahwa radar kaumnya akan segera menangkap sinyal keabadian yang murni itu. Lyana bukan datang karena kebetulan. Dia pasti datang karena sebuah tujuan. Dia datang karena dia membutuhkan apa yang dimiliki Kenzie untuk menyambung keberadaannya yang cacat.

Sepanjang jam pelajaran, suasana kelas terasa mencekam bagi mereka yang memiliki indra lebih tajam. Lyana adalah anomali yang sangat ahli. Ia berpura-pura mencatat, tertawa kecil pada lelucon bodoh Hallen dan sesekali membetulkan rambutnya. Namun, Kenzie tahu bahwa fokus utama Lyana adalah kepada dirinya.

Setiap kali Lyana menoleh, Kenzie merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu bukan tatapan kagum seperti Hallen, itu adalah tatapan seorang kolektor yang sedang menilai kualitas barang jarahan.

Saat istirahat tiba, Hallen segera beraksi. Ia tidak lagi mengejar Kenzie ke perpustakaan. Sebaliknya, ia berdiri di depan meja Lyana dengan senyum terbaiknya. Mengajak gadis itu untuk berkenalan secara resmi dengannya.

"Hai, Lyana. Aku Hallen, kapten tim basket. Kalau kau butuh pemandu untuk keliling sekolah ini, aku adalah orang yang tepat." ucap Hallen dengan percaya diri yang meluap.

Lyana mendongak, matanya berkilat nakal. "Kapten tim basket? Kedengarannya sangat mengesankan, Hallen."

"Yah, begitulah. Oh, kenalkan, itu Kenzie." Hallen menunjuk ke arah Kenzie yang baru saja berdiri. "Dia juga murid baru dua minggu lalu. Kalian berdua punya sesuatu yang mirip, semacam aura misterius. Tapi kau benar-benar terlihat seperti tidak nyata, Lyana."

Lyana menatap Kenzie. Senyumnya melebar. "Kenzie? Nama yang cantik. Aku merasa kita akan menjadi sangat akrab."

Kenzie tidak membalas. Ia segera melangkah keluar kelas, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Julian mematung di koridor yang sepi. Julian tampak seperti patung batu yang retak. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini dipenuhi oleh kelelahan yang luar biasa.

Baru saja Kenzie akan membuka suara untuk memulai percakapan dengan Julian, suara Hallen di belakangnya langsung menginterupsi.

"Kenzie! Tunggu sebentar!"

Suara Hallen memecah keheningan koridor yang seharusnya menjadi momen konfrontasi antara Kenzie dan Julian. Hallen berjalan mendekat dengan langkah lebar, sementara di sampingnya, Lyana mengekor dengan keanggunan yang menghantui. Julian segera menegakkan punggungnya, topeng tanpa ekspresinya kembali terpasang sempurna, meski Kenzie bisa melihat otot rahang Julian yang mengeras.

"Kenapa buru-buru sekali?" Hallen sampai di depan mereka, wajahnya berseri-seri. "Kebetulan sekali ada Julian di sini. Begini, Pak Andrew memintaku untuk mengenalkan lingkungan sekolah pada Lyana. Dan karena kau juga masih tergolong baru, Kenzie, kupikir akan lebih seru kalau kita pergi bersama-sama."

"Aku tidak tertarik, Hallen. Aku punya urusan di perpustakaan." jawab Kenzie dingin, matanya melirik Julian, memberi kode bahwa mereka harus bicara.

Namun, Lyana melangkah maju. Aroma parfumnya, aroma mawar hitam yang menyengat langsung memenuhi udara di antara mereka. Lyana menyentuh lengan Kenzie dengan ujung jarinya yang sedingin es.

"Oh, ayolah, Kenzie. Jangan menolak." ucap Lyana. Suaranya halus, namun di balik nada manjanya, Kenzie bisa mendengar ancaman yang bergetar. "Aku merasa sangat asing di sini. Akan sangat menyenangkan jika aku memiliki teman sesama murid baru untuk menemaniku, bukan?"

Mata biru Lyana berkilat saat ia menoleh ke arah Julian. "Dan kau, siapa namamu? Kau kelihatannya sangat pintar. Mungkin kau bisa menunjukkan padaku di mana letak laboratorium sains? Aku sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kimia."

"Namanya Julian. Dia memang siswa paling pintar di kelas kita, Lyana. Sayangnya dia tidak pernah merespons jika perempuan mendekatinya. Aku juga tidak pernah melihatnya menyapa perempuan di sekolah ini. Apakah kau seorang gay, Julian?" tanya Hallen dengan menyelidik.

Lyana tertawa pelan mendengarnya. "Mungkin seleranya terlalu tinggi, Hallen. Atau mungkin dia hanya terlalu takut untuk jatuh cinta pada seseorang yang akan meninggalkannya." sahut Lyana dengan nada yang begitu manis namun sarat akan racun. Matanya menatap Julian, menembus topeng ketenangan pria itu.

Julian tidak bergeming. Tatapannya pada Lyana begitu tajam, seolah ia ingin menguliti kebohongan putrinya itu di depan semua orang. "Aku sibuk." jawabnya singkat.

Hallen tertawa canggung, merasa ada ketegangan yang tidak ia mengerti. "Ayolah, Julian! Jangan kaku begitu. Ini hari pertama Lyana. Kenzie, kau juga tidak boleh egois. Anggap saja ini tur selamat datang."

Hallen tanpa permisi menarik lengan Kenzie, memaksanya untuk ikut berjalan. Kenzie ingin memberontak, namun ia menyadari sesuatu. Jika ia pergi sendirian, Lyana mungkin akan mengejarnya di tempat yang tidak terlihat oleh manusia. Di sini, di koridor yang ramai, setidaknya ada saksi mata.

Kenzie akhirnya menurut, meski hatinya dipenuhi kegelisahan. Mereka mulai menyusuri koridor, dengan Hallen yang terus mengoceh tentang sejarah SMA Arcandale yang membosankan. Hallen tampak sangat berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Lyana, memberikan lelucon-lelucon yang hanya dibalas dengan senyum tipis oleh gadis pirang itu.

"Kau tahu, Lyana." Hallen mencondongkan tubuhnya ke arah Lyana saat mereka melewati aula olahraga. "Sekolah ini punya banyak tempat rahasia. Tapi yang paling menarik adalah hutan di belakang sekolah. Sangat berkabut dan misterius, mirip seperti auramu."

Lyana tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Kenzie berdiri. "Hutan? Aku sangat suka hutan. Mungkin suatu saat kau bisa membawaku ke sana, Hallen. Hanya kita berdua. Atau mungkin berempat, bersama Kenzie dan Julian?"

Julian yang berjalan di barisan paling belakang seperti bayangan yang mengintai, akhirnya bersuara. "Hutan itu berbahaya bagi orang yang tidak tahu cara bertahan hidup."

Lyana berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Julian. Senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan yang begitu kosong sekaligus penuh kebencian. "Benarkah? Tapi terkadang, bahaya adalah satu-satunya hal yang membuat kita merasa hidup, bukan begitu, Kenzie?" kali ini tatapannya beralih pada Kenzie.

Hallen yang tidak menyadari subteks di antara mereka, hanya mengangguk setuju. "Benar kata Lyana. Julian, kau terlalu serius. Lihat Kenzie, dia bahkan tidak bicara sejak tadi. Kenzie, kau oke? Keningmu tidak sakit lagi, kan?"

Pertanyaan Hallen membuat fokus Lyana beralih kembali ke kening Kenzie yang tertutup plester. "Ah, keningmu terluka ya? Sayang sekali. Kulit cantik sepertimu seharusnya dijaga dengan sangat baik. Kau tahu, ada beberapa bekas luka yang tidak akan pernah hilang meski kau mencoba menghilangkannya dengan salep paling ampuh sekalipun."

Kenzie mengepalkan tangannya di balik saku seragam. "Luka ini akan sembuh. Segalanya akan sembuh seiring berjalannya waktu."

"Waktu adalah hal yang relatif bagi kita, bukan?" balas Lyana dengan nada rendah yang hanya bisa ditangkap oleh Kenzie dan Julian.

Sepanjang perjalanan mengelilingi sekolah, Hallen terus mencoba memuji Lyana, membandingkannya dengan segala hal indah yang ia tahu, sementara Julian tetap berada dalam jarak yang cukup dekat untuk mengintervensi jika Lyana melakukan gerakan mendadak.

Kenzie menyadari satu hal, tur sekolah ini bukan sekadar bantuan untuk murid baru. Ini adalah sebuah pengintaian. Lyana sedang menandai wilayahnya dan ia baru saja menunjukkan pada Julian dan Kenzie bahwa di sekolah ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Saat mereka sampai di depan perpustakaan, Kenzie menarik lengannya dari genggaman Hallen. "Cukup. Aku harus masuk sekarang."

"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksa lagi. Kita lanjutkan nanti saat jam istirahat makan siang." seru Hallen. Ia kemudian menoleh ke Lyana. "Ayo, Lyana, aku akan menunjukkan kantin padamu. Kau harus mencoba Lemon tea legendaris yang ada di sana."

Lyana mengangguk, namun sebelum pergi, ia sempat melayangkan sebuah senyuman pada Kenzie. Bagi orang biasa, senyuman itu mungkin terlihat seperti lengkungan manis yang terukir di wajahnya yang sangat cantik. Tetapi bagi Kenzie, entah kenapa, ia merasa senyuman itu adalah sebuah peringatan bahwa hidupnya kali ini tidak akan pernah mudah seperti di kehidupannya sebelumnya.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!