NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:47.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 1

Jam sebelas malam Miranda masih duduk di teras dengan menggunakan mantel lusuhnya. Udara makin dingin menembus kulit, hujan turun rintik-rintik. Mata Miranda tertuju pada gerbang, tetapi orang yang dia tunggu tak kunjung tiba.

Miranda duduk di kursi, kepalanya tertunduk, matanya terasa berat. Baru saja ia memejamkan mata, terdengar klakson mobil dari luar pagar. Suara itu membuatnya tersentak dan segera berdiri.

Miranda bangkit lalu membukakan gerbang. Mobil Avanza terbaru masuk ke garasi, mobil itu adalah milik Raka, suaminya, yang baru dibeli sebulan lalu. Lampu mobil masih menyala terang.

Miranda menutup kembali gerbang, kemudian menghampiri Raka yang sedang asyik bermain ponsel. Ia mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya sebagai bentuk hormat.

Raka memberikan tangannya tanpa menoleh sedikit pun, dan Miranda mencium tangan itu dengan takzim. Wajah Raka tetap datar, matanya tidak lepas dari layar ponsel.

Raka masih asyik dengan ponselnya. Miranda berjongkok lalu membukakan sepatu dan kaos kaki Raka. Setelah itu ia mengelap kaki suaminya, kemudian memberikan sandal rumah dengan pelan.

Raka bangkit dan melangkah masuk ke rumah. Sikapnya dingin seolah Miranda tidak ada di dekatnya. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, hanya langkah tanpa perhatian.

“Mas mau makan atau mau mandi? Kalau mau makan aku akan panaskan sop dagingnya, Mas,” tanya Miranda sambil membawakan tas kerja Raka.

“Aku sudah makan, jadi aku mau mandi,” jawab Raka dengan nada dingin tanpa melihat wajah istrinya.

“Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi, Mas.”

“Hm,” Raka hanya membalas dengan gumaman, tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus fokus pada ponselnya seakan dunia di sekitarnya tidak penting.

Raka menaruh ponselnya sebentar lalu membuka baju dan melemparkannya secara sembarang. Kemudian ia membuka celana, memakai handuk, dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah seharian bekerja, rapat maraton, dan mengecek lapangan, tubuh Raka sangat lelah. Mandi air hangat membuat badannya kembali segar dan sedikit lebih ringan.

Setelah mandi ia keluar dari kamar mandi. Tampak celana dan baju tidur sudah tersedia rapi di atas kasur. Baju kotor tadi sudah tidak ada, dan Miranda juga tidak terlihat.

Raka memakai baju dan celana lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mengambil ponselnya dan kembali berbalas pesan dengan seseorang, wajahnya tampak lebih hidup.

Sikap Raka sangat berbeda saat membalas pesan dibanding saat berhadapan dengan Miranda. Di depan layar ponsel ia bisa tersenyum, bahkan tertawa kecil tanpa beban.

Raka tampak cekikikan saat membalas sebuah pesan. Namun wajahnya berubah masam ketika Miranda masuk ke kamar membawa satu gelas air hangat.

“Mas, ini air hangatnya,” ucap Miranda sambil menaruh gelas di atas nakas dekat tempat tidur.

Miranda lalu merebahkan dirinya di kasur, di samping Raka. Sementara itu Raka masih asyik dengan ponselnya, seolah kehadiran istrinya tidak berarti.

“Mas, aku tidur dulu ya,” ucap Miranda pelan.

“Kamu bisa tidak ganggu aku? Dari tadi ngomong terus,” ketus Raka dengan nada kesal.

“Maaf, Mas,” jawab Miranda lirih lalu memejamkan matanya.

Raka melihat Miranda, istrinya, lalu menggelengkan kepala seolah kecewa. Padahal Miranda tidak melakukan apa-apa selain menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Raka kembali tersenyum saat terus berbalas pesan hingga tak terasa waktu berjalan cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lebih.

“Ah, sial, sudah jam satu. Besok aku ada acara penting,” gumamnya pelan.

Ia lalu menaruh ponselnya di nakas dan ikut tertidur. Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara hujan dari luar jendela.

Jam tiga malam Miranda bangun, hal yang sudah rutin ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Tubuhnya bergerak otomatis seperti mesin yang terlatih.

Ia harus bangun sebelum subuh karena banyak pekerjaan menantinya. Hari-harinya selalu dimulai lebih awal daripada penghuni rumah yang lain.

Di rumah itu ada Raka suaminya, Rina ibu mertua, Budi ayah mertua, Lela kakak ipar, dan Lusi adik ipar. Dua lelaki dan empat perempuan tinggal bersama.

Seharusnya pekerjaan rumah bisa dibagi rata dan Miranda tidak terlalu lelah. Namun semua penghuni rumah seolah menyerahkan seluruh beban pada Miranda seorang.

Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa mengeluh. Tepatnya ia tidak bisa mengeluh, karena jika mengeluh ia akan dimarahi habis-habisan.

Miranda bangkit menyibak selimut, melihat Raka masih tidur lelap. Saat itu ponsel Raka berdering pelan, terlihat ada pesan masuk dengan nama Lina dan emotikon hati.

Mata Miranda sempat melihat layar ponsel, tetapi ia memilih fokus pada daya baterai yang tinggal sepuluh persen. Ia khawatir suaminya akan kesulitan di kantor.

Miranda tidak mau Raka mendapat masalah hanya karena ponsel kurang daya. Walau ia tidak begitu memahami pekerjaan suaminya, ia tahu ponsel sangat penting.

Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Miranda mengambil ponsel itu lalu mengisi dayanya. Ia melakukannya dengan penuh perhatian seperti biasa.

Setelah itu Miranda berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat tahajud dua rakaat. Ia tidak bisa memperbanyak rakaat karena waktu sempit.

Setelah salat ia tidak lupa berdoa. Keinginan Miranda hanya satu, hidup sederhana dan membangun keluarga bahagia bersama suami yang ia cintai.

Walau sudah sepuluh tahun rumah tangganya tidak ada perkembangan, Miranda tidak pernah lelah berdoa. Harapan kecil itu selalu ia genggam erat.

Selesai berdoa Miranda menuju dapur lalu menyalakan kompor. Ia menanak nasi, sambil menunggu ia memotong sayuran dengan gerakan terampil dan cepat.

Tangannya bergerak cekatan tetapi tidak menimbulkan suara berarti. Gerakannya cepat namun presisi, bagaikan penari yang sudah terlatih bertahun-tahun.

Dalam waktu singkat sayur asam, telur goreng, sambal, dan lalapan sudah selesai. Tinggal disajikan di meja makan untuk seluruh penghuni rumah.

Miranda melangkah ke tempat cuci baju. Tampak tumpukan baju sudah menggunung, itu bukan cucian seminggu melainkan hanya satu hari saja.

Itu adalah cucian semua penghuni rumah. Semuanya malas mencuci dan akhirnya pekerjaan itu selalu diserahkan pada Miranda tanpa rasa bersalah.

Miranda menyalakan keran mesin cuci. Sambil menunggu tabung terisi air, Miranda memilah-milah baju sesuai warna dan jenis kainnya.

Baju berwarna terang didahulukan, sedangkan yang gelap belakangan. Ia melakukan semua itu dengan teliti agar tidak ada pakaian yang rusak.

Miranda memutar tombol dan mesin cuci pun menyala. Suara putarannya menjadi teman setia setiap pagi buta yang ia jalani seorang diri.

Terdengar azan subuh dari masjid dekat rumah. Miranda segera masuk ke kamarnya, sementara Raka masih tertidur lelap tanpa terganggu sedikit pun.

Miranda melaksanakan salat subuh dengan cepat. Setelah salam ia langsung bangkit tanpa berdoa panjang, karena pekerjaan masih menumpuk menunggu.

Ia membuka lemari lalu melihat kalender, hari itu hari Rabu. Miranda memilih baju seragam Raka berwarna biru muda dan celana hitam yang sudah disetrika.

Saat mempersiapkan baju seragam, ponsel Raka kembali berdering. Di layar tertera nama Lina dengan jelas, membuat tangan Miranda berhenti sejenak.

Ponsel terus berdering dan hati Miranda mulai bertanya-tanya. Siapa Lina, kenapa sejak semalam terus menghubungi suaminya tanpa henti.

Apakah dia rekan kerja Mas Raka, atau seseorang yang lain. Kalau rekan kerja, mengapa subuh begini masih membahas pekerjaan

1
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
"C"
bagus novelnya
nunik rahyuni
tim marketing nya yg serba bisa 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
waaah waaah ...aq jg jualan mie ayam jg lho..ayo mbak mir kita bagi resep🤣🤣🤣
Riss Taa
bagus...semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!