NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 kematian

Saka merasakan paru-parunya seperti terbakar. Cairan merah kental merembes dari sela jemarinya yang berusaha menekan luka tusuk di perutnya. Di lorong gelap itu, ia sendirian. Pandangannya mulai mengabur, lampu jalanan yang remang-remang tampak seperti bintang-bintang yang jatuh menjauh darinya. Dingin mulai menjalar dari ujung kaki, tanda bahwa nyawa perlahan-lahan meninggalkan raganya.

Dalam sisa kesadarannya, Saka hanya mengingat penyesalan. Ia menyesal telah menjadi pecundang, menyesal telah kehilangan orang-orang yang ia cintai karena arogansi dan kebodohannya, dan yang paling menyesakkan adalah bayangan Anita, gadis yang dulu selalu mendukungnya namun ia sia-siakan hingga maut menjemputnya dalam kehampaan.

"Saka... Saka, bangun!"

Suara itu lembut, tapi penuh desakan. Saka mengerutkan kening. Apakah kematian terasa seperti suara omelan yang familiar?

"Saka! Kalau Pak Budiman lihat kamu tidur lagi di jamnya, kamu bisa diskors!"

PLAK!

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Saka tersentak. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, jantungnya berdegup kencang seperti baru saja lari maraton. Alih-alih lorong gelap yang berdarah, ia melihat permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-x. Bau debu kapur dan aroma minyak wangi bunga melati yang sangat ia kenal menusuk hidungnya.

Ia menoleh ke samping. Di sana berdiri Anita. Anita yang asli. Bukan Anita yang ada dalam ingatannya yang sudah dewasa dan penuh kesedihan, melainkan Anita versi SMA dengan kuncir kuda dan seragam putih abu-abu yang rapi.

"Anita?" bisik Saka parau. Suaranya terdengar jauh lebih muda.

"Iya, ini aku. Kamu kenapa, sih? Mukamu pucat banget kayak habis lihat hantu," ucap Anita sambil meletakkan buku cetak Fisika di atas meja.

Saka melihat sekeliling. Teman-teman sekelasnya sedang sibuk mencatat dari papan tulis. Di depan kelas, Pak Budiman—guru paling killer seantero sekolah yang seharusnya sudah pensiun sepuluh tahun lalu menurut ingatan Saka—sedang menulis rumus pegas dengan semangat.

Ini tidak mungkin. Saka menyentuh perutnya. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Hanya ada kancing seragam yang terasa sedikit sesak. Ia melirik kalender di dinding kelas: 10 September 2014.

Ia kembali ke masa lalu.

Saka terduduk diam selama sisa pelajaran. Pikirannya berputar hebat. Ia ingat hari ini. Ini adalah hari di mana ia pertama kali terlibat dalam perkelahian besar yang menjadi titik awal kehancuran hidupnya. Sore nanti, ia akan terpancing emosi oleh geng dari sekolah sebelah, yang kemudian membuatnya dikeluarkan dari sekolah, menjauhkannya dari pendidikan, dan membawanya ke lingkaran kriminal yang akhirnya membunuhnya di usia 30 tahun.

"Saka, kamu beneran oke?" Anita menyentuh kening Saka saat bel istirahat berbunyi. "Kita ke UKS ya?"

Saka menatap mata Anita. Sorot mata itu masih jernih, belum ada gurat kekecewaan yang ia lihat di masa depan. Tanpa sadar, Saka meraih tangan Anita dan menggenggamnya erat.

"Aku nggak apa-apa, Nit. Aku cuma... aku cuma senang bisa lihat kamu lagi," kata Saka dengan nada emosional yang membuat Anita tersipu malu sekaligus bingung.

"Dasar aneh! Ayo ke kantin, aku traktir bakso biar nyawamu balik utuh," ajak Anita.

Saka mengikuti Anita keluar kelas. Namun, di koridor menuju kantin, ia berpapasan dengan Rian, sahabatnya yang di masa depan menjadi musuh bebuyutannya. Rian tampak sedang memegang ponsel dengan wajah tegang.

"Saka! Pas banget! Anak SMA sebelah nantangin kita di lapangan belakang setelah pulang sekolah. Mereka bilang kita pengecut kalau nggak datang," ujar Rian dengan api di matanya.

Di kehidupannya yang dulu, Saka akan langsung mengiyakan. Ia akan memimpin barisan, memukul orang, dan merasa seperti pahlawan. Tapi kali ini, ia merasakan sensasi dingin di perutnya—ingatan akan rasa sakit saat pisau menembus kulitnya.

"Kita nggak usah datang, Yan," ucap Saka tenang.

Rian melongo. "Hah? Kamu waras? Mereka menghina nama baik sekolah kita!"

"Nama baik sekolah nggak akan hancur cuma karena kita nggak meladeni orang gila," sahut Saka. "Lebih baik kita belajar buat ujian minggu depan. Aku mau berubah, Yan. Kita semua harus berubah."

Anita yang berdiri di samping Saka tampak terkejut namun matanya berbinar penuh dukungan. Rian mendengus kesal dan pergi meninggalkan mereka, tapi Saka tidak peduli. Ia tahu, langkah kecil ini telah mengubah satu benang takdir.

Minggu-minggu berlalu. Saka menggunakan pengetahuan "masa depan"-nya untuk memperbaiki diri. Ia tahu soal-soal mana yang akan keluar di ujian, ia tahu tren investasi yang akan meledak (meski ia belum punya modal), dan yang terpenting, ia tahu cara menghindari konflik yang dulu menghancurkannya.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Takdir seolah punya cara untuk "memperbaiki" dirinya sendiri agar kembali ke jalurnya.

Suatu sore, saat ia mengantar Anita pulang dengan motor tua miliknya, mereka dihadang oleh sekelompok orang. Itu adalah geng yang dulu ia hindari. Rupanya, karena Saka tidak datang ke perkelahian di lapangan belakang, mereka merasa diremehkan dan memutuskan untuk memburu Saka secara pribadi.

"Lari, Nit! Masuk ke minimarket itu!" perintah Saka sambil turun dari motor.

"Tapi Saka—"

"Masuk sekarang! Panggil polisi!" teriak Saka.

Ada lima orang di depannya. Saka yang sekarang bukan lagi Saka yang jago berkelahi tanpa arah. Ia membawa mentalitas pria dewasa yang sudah sering melihat kerasnya jalanan. Namun, tubuh remajanya belum sekuat itu.

Pertarungan terjadi. Saka terkena pukulan di wajah, tapi ia berhasil menangkis serangan-serangan fatal. Ia tidak menyerang untuk menang, ia bertarung untuk bertahan hidup sampai bantuan datang. Saat salah satu dari mereka mengeluarkan pisau—pisau yang sama yang ia ingat membunuhnya di masa depan—Saka merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Trauma itu muncul kembali.

Ia melihat kilatan logam itu menuju ke arahnya. Namun, kali ini ia tidak diam. Ia meraih pergelangan tangan penyerangnya, memutarnya dengan teknik yang ia pelajari di masa depan yang kelam, dan menjatuhkan senjata itu.

Sesaat kemudian, sirine polisi terdengar. Geng itu kocar-kacir melarikan diri. Saka jatuh terduduk, napasnya memburu. Anita berlari keluar dari minimarket dan langsung memeluknya sambil menangis.

"Kamu terluka, Saka! Wajahmu berdarah!" tangis Anita.

Saka tersenyum tipis, merasakan darah di bibirnya. Rasanya sakit, tapi ini adalah rasa sakit yang "hidup", bukan rasa sakit "kematian" yang ia rasakan sebelumnya.

"Aku nggak apa-apa. Kali ini, aku yang menang," bisik Saka.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!