Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden ruang tamu terasa menyengat di mata Ziva. Namun, rasa silau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa nyeri yang menghujam perut bagian bawahnya. Rasanya seperti diremas-remas oleh tangan besi, menjalar hingga ke pinggang dan membuat kakinya terasa lemas.
"Aduh... kenapa harus sekarang sih," gumam Ziva pelan, suaranya parau.
Wajahnya pucat pasi, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melangkah keluar kamar dengan tangan yang terus menekan perut, berjalan tertatih-tatih menuruni tangga. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti perjuangan berat. Pikirannya yang tadi malam dipenuhi kekesalan soal "baju dinas" kini sirna, digantikan oleh rasa sakit yang membuat fokusnya buyar.
Di dapur, aroma roti panggang yang gurih menyeruak. Baskara sudah berdiri di sana, masih mengenakan kaus oblong hitam dan celana kain—penampilan santai yang jarang Ziva lihat karena biasanya pria itu sudah rapi dengan seragam cokelatnya. Baskara menoleh saat mendengar langkah kaki yang terseret.
"Kamu kenapa?" tanya Baskara. Alisnya bertaut, matanya yang tajam langsung menangkap gelagat tidak beres pada istrinya.
Ziva tidak langsung menjawab. Ia memilih bersandar pada pinggiran meja makan, memejamkan mata rapat-rapat menahan denyutan di perutnya. "Punya obat Paracetamol nggak, Kak?" tanya Ziva akhirnya. Suaranya kecil, nyaris berbisik.
Baskara meletakkan penjepit roti yang dipegangnya. Ia melangkah mendekati Ziva, namun tetap menjaga jarak aman agar tidak membuat gadis itu merasa terancam. "Buat apa? Kepala kamu pusing?"
"Perut gue kram," jawab Ziva pendek, masih dengan nada ketus meski tenaganya hampir habis. "Sakit banget. Biasanya minum Paracetamol langsung redaan. Aduh..."
Ziva meringis, tubuhnya sedikit membungkuk. Rasa sakit itu datang lagi dalam gelombang yang lebih kuat. Ia merasa seolah ada seseorang yang sedang meninju rahimnya dari dalam.
Baskara terdiam sejenak. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan militer dan kepolisian yang kaku, ia mungkin tidak terlalu paham detail siklus bulanan wanita, namun ia tahu satu hal: Paracetamol bukan obat terbaik untuk nyeri hebat seperti ini.
"Duduk dulu," perintah Baskara. Suaranya tidak lagi terdengar seperti polisi yang sedang menilang, melainkan lebih seperti seseorang yang sedang memberikan instruksi darurat.
"Nggak mau, gue mau obatnya aja. Cepetan, mana?" bantah Ziva keras kepala.
"Duduk, Ziva. Jangan membantah kalau lagi sakit," Baskara memegang pundak Ziva dengan lembut namun tegas, menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi makan.
Ziva hanya bisa pasrah. Tenaganya benar-benar terkuras untuk menahan nyeri. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja makan yang dingin, merasakan butiran keringat mulai membasahi dahinya.
Baskara tidak langsung memberikan obat. Ia justru berjalan menuju lemari atas, mengambil sebuah botol kaca dan mengisinya dengan air panas dari dispenser, lalu mencampurnya dengan sedikit air dingin. Ia juga mengambil sehelai kain bersih.
"Minum ini dulu. Air hangat bisa bantu otot kamu rileks," ucap Baskara sambil menyodorkan segelas air putih hangat di depan Ziva.
Ziva meminumnya perlahan, meskipun tangannya sedikit bergetar. Rasa hangat yang mengalir di kerongkongannya sedikit memberi ketenangan, namun badai di perutnya belum reda.
"Paracetamolnya mana?" tagih Ziva lagi setelah meletakkan gelas.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," kata Baskara. Ia menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja dan langsung melesat keluar rumah tanpa penjelasan lebih lanjut.
Ziva menatap punggung Baskara yang menghilang di balik pintu dengan bingung. "Dasar polisi aneh. Dimintain obat malah kabur," gerutunya pelan.
Sepuluh menit berlalu, yang bagi Ziva terasa seperti sepuluh jam. Ia nyaris ingin merangkak kembali ke kamar saat mendengar suara deru motor berhenti di halaman. Baskara masuk dengan napas sedikit memburu, di tangannya ada sebuah kantong plastik dari apotek terdekat.
Baskara tidak langsung memberikan obat. Ia kembali ke dapur, mengambil sebuah handuk kecil dan merendamnya di air panas yang baru saja ia siapkan, lalu memerasnya kuat-kuat.
"Ini, minum yang ini. Ini khusus untuk nyeri haid, lebih ampuh dari Paracetamol biasa," ucap Baskara sambil mengeluarkan satu strip obat bermerek feminine pain relief. Ia juga menyodorkan sebotol air mineral baru.
Ziva menerima obat itu tanpa banyak tanya. Ia langsung menelannya, berharap keajaiban segera datang.
"Sini," ucap Baskara lagi. Ia membawa handuk hangat yang tadi ia siapkan. "Baring di sofa depan."
"Nggak mau, gue mau ke kamar aja," tolak Ziva.
"Di sofa lebih luas, biar aku bisa kompres perut kamu. Ayo," Baskara tidak menerima penolakan. Ia membimbing Ziva ke ruang tamu, membantunya berbaring dengan bantal yang disusun tinggi agar posisi Ziva nyaman.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Baskara meletakkan handuk hangat itu di atas perut Ziva, di balik kaus tipis yang dikenakannya. Rasa hangat yang pas mulai meresap ke dalam kulit Ziva, perlahan-lahan meredakan ketegangan otot yang menyiksa.
"Enakan?" tanya Baskara pelan. Ia duduk di lantai di samping sofa, persis seperti posisi tidurnya tadi malam saat menjaga Ziva.
Ziva hanya mengangguk kecil. Ia menatap wajah Baskara dari samping. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok "Om-om pemaksa" atau "pembunuh kakaknya". Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang rela pergi terburu-buru pagi-pagi buta hanya untuk mencari obat yang tepat untuknya.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Ziva tiba-tiba. Suaranya sudah lebih tenang.
Baskara menoleh, menatap mata Ziva dengan pandangan yang dalam namun tetap kaku. "Karena itu tugas aku, Ziva. Menjaga kamu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakuin sekarang."
Ziva terdiam. Ia ingin membalas dengan kalimat pedas, ingin mengatakan bahwa semua ini tidak akan menghapus dosanya pada Kirana, tapi rasa sakit yang mulai mereda dan kehangatan kompres di perutnya membuatnya kehilangan kata-kata.
Pagi itu, di ruang tamu yang tenang, tembok kebencian yang Ziva bangun setinggi langit seolah terkikis sedikit demi sedikit oleh perhatian sederhana dari seorang polisi yang ia maki setiap hari. Ziva memejamkan matanya, membiarkan obat dan rasa hangat itu membawanya kembali ke dalam tidur, sementara Baskara tetap di sana, mengganti kompres hangatnya setiap kali suhunya mulai turun.
***
Keheningan ruang tamu hanya dipecahkan oleh detak jam dinding dan suara kicauan burung di luar sana. Ziva perlahan membuka kelopak matanya, merasakan pening di kepala yang mulai memudar, beriringan dengan rasa nyeri di perutnya yang kini hanya tersisa denyutan tipis. Efek obat dari apotek tadi benar-benar bekerja.
Namun, hal pertama yang ia sadari saat kesadarannya pulih adalah kehadiran seseorang. Baskara masih di sana. Pria itu tidak lagi duduk di lantai, melainkan duduk di kursi tunggal tepat di samping sofa, dengan sebuah buku laporan di tangannya. Ia tampak fokus, namun sesekali matanya melirik ke arah Ziva untuk memastikan istrinya masih tertidur pulas.
Ziva berdehem pelan, mencoba membenarkan posisinya menjadi duduk. "Lo ngapain masih di sini, Kak? Lo nggak kerja apa?" tanya Ziva dengan suara serak khas bangun tidur.
Baskara mendongak, menutup buku laporannya dengan tenang. "Aku ambil piket sore hari ini. Lagipula, mana mungkin aku tinggalin kamu dalam keadaan pingsan karena sakit tadi," jawabnya kaku seperti biasa, namun ada nada kekhawatiran yang terselip di sana.
Ziva mencebikkan bibir. "Gue nggak pingsan, cuma tidur. Udah sana, gue udah mendingan kok."
Ziva kemudian menurunkan kakinya ke lantai, berniat berdiri dan kembali ke kamarnya di atas untuk mandi. Tubuhnya masih terasa sedikit lemas, tapi ia tidak mau terlihat rapuh di depan "om-om" ini. Begitu ia berdiri tegak dan hendak melangkah, Baskara tiba-tiba ikut berdiri dengan gerakan cepat.
"Ziva, tunggu," cegah Baskara.
"Apaan lagi sih? Gue mau ke kam—"
Kalimat Ziva terputus saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan tebal melingkar di pinggangnya. Baskara baru saja melepas jaket bomber kepolisian miliknya yang berwarna hitam dan dengan cekatan mengikatkan kedua lengannya di pinggang Ziva. Jarak mereka begitu dekat hingga Ziva bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi deterjen dari tubuh Baskara.
Ziva mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romantis, tapi karena kaget dan bingung. "Ngapain sih?! Lepasin nggak!"
Baskara tidak melepasnya. Ia justru mempererat ikatan jaket itu agar menutupi bagian belakang celana kulot abu-abu yang dikenakan Ziva. Wajah Baskara tetap kaku, namun telinganya tampak sedikit memerah.
"Itu tembus," ucap Baskara pendek, suaranya sangat rendah seolah takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan pribadi ini.
Ziva mengernyitkan dahi. "Hah? Apaan yang tembus? Atap rumah bocor?"
Baskara menghela napas berat, matanya tidak berani menatap langsung ke arah pinggang Ziva. "Celana kamu. Di bagian belakang. Ada noda merah."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Ziva saat itu juga. Darah serasa naik ke ubun-ubunnya. Ia refleks meraba bagian belakang jaket yang melingkar di pinggangnya, dan kesadaran itu menghantamnya seperti truk kontainer.
"Ha? Astagaaa...!" teriak Ziva tertahan. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam, bahkan mungkin lebih merah dari noda yang sedang mereka bicarakan.
Rasa malu yang luar biasa menyergapnya. Ia, Ziva, sang lulusan ekonomi terbaik yang selalu tampil rapi dan perfeksionis, baru saja mengalami insiden "tembus" di depan pria yang paling ia benci sekaligus pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi!" pekik Ziva sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku juga baru lihat pas kamu berdiri," jawab Baskara pelan. "Sekarang cepat ke atas. Ganti baju kamu. Jaketnya pakai saja dulu sampai kamu masuk kamar."
Tanpa membalas sepatah kata pun, Ziva langsung berbalik dan berlari menaiki tangga dengan kecepatan cahaya. Ia memegangi ikatan jaket itu erat-erat agar tidak melorot, sementara suara derap langkahnya terdengar gaduh di sepanjang lorong lantai dua.
Brak!
Ziva membanting pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Ia langsung menghambur ke arah cermin besar di kamarnya. Begitu ia melepas jaket Baskara, matanya melotot melihat noda merah yang cukup kontras di celana abu-abunya.
"Ih, bego banget sih Ziva! Malu-maluin! Malu-maluin banget!" ia merutuki dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Mana itu jaket polisi dia lagi! Pasti kena noda juga!"
Ziva segera menyambar handuk dan pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Ia merasa ingin mengubur dirinya dalam tanah sekarang juga. Di dalam siraman air shower, pikirannya terus berputar. Bagaimana ia harus menghadapi Baskara setelah ini? Jaket itu... ia harus mencucinya sendiri. Ia tidak mungkin mengembalikan jaket bernoda itu begitu saja.
Sementara itu, di bawah, Baskara duduk kembali di kursinya. Ia menatap sofa yang sekarang kosong. Pria kaku itu mengusap tengkuknya, merasa canggung dengan situasi barusan. Ia adalah seorang polisi yang terbiasa melihat darah di tempat kejadian perkara, tapi melihat noda di celana istrinya memberikan perasaan yang jauh berbeda—perasaan ingin melindungi yang sangat kuat.
Baskara beranjak ke dapur, mengambil deterjen dan ember. Ia tahu Ziva pasti sedang panik di atas. Sebagai pria yang telaten, ia mulai membersihkan sisa noda yang mungkin tertinggal di sofa agar Ziva tidak perlu merasa lebih malu lagi saat turun nanti.
"Ziva, Ziva... kamu benar-benar bikin aku nggak bisa fokus kerja," gumam Baskara pelan dengan senyum tipis yang sangat jarang muncul di wajah kakunya.