Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 01 — Mati dan Terlahir Kembali
Elizabeth Valerie selalu mengingat satu hal, pembunuh keji sepertinya tidak pantas mati dengan tenang. Suatu hari, ia akan mati dan membayar semua perbuatannya. Namun ia tidak menyangka, kematiannya akan datang lebih cepat melalui tangan yang pernah ia lindungi.
Lampu kristal di langit-langit ruang makan di rumahnya berkilau lembut, memantulkan cahaya ke gelas-gelas anggur yang tersusun rapi. Meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi hidangan mahal. Daging panggang yang masih mengepulkan asap, roti hangat, dan aroma anggur tua yang menusuk halus ke indera penciuman.
Elizabeth, sang pemimpin sekaligus penguasa rumah megah itu duduk di ujung meja, seperti biasa. Ia duduk tegak dengan ekspresi datarnya, matanya yang tampak kelabu itu menyapu wajah-wajah di hadapannya satu per satu.
Mereka semua tersenyum, seolah bahagia dengan kehadiran Elizabeth di sana. Salah seorang di antara mereka, pria dewasa dengan tampilannya yang rapi, mengangkat gelas anggurnya ke atas. “Ayo bersulang.”
“Untuk kerja sama yang panjang dan menguntungkan,” ujar seorang pria berambut pirang yang duduk di seberang meja, ikut mengangkat gelas anggurnya. “Untuk ratu kita.”
Elizabeth mengangkat gelasnya menyusul. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang bahkan tak pernah mencapai mata. “Juga untuk kepercayaan kalian padaku,” balasnya singkat.
Mereka bersulang. Bunyi gelas kaca yang beradu terdengar nyaring di telinga Elizabeth. Namun, denting itu terdengar seperti lonceng kematian yang tertunda baginya.
Elizabeth meneguk anggurnya sekali. Rasa pahit yang khas langsung menyentuh lidahnya, rasa yang normal baginya. Ia sudah meminum racun berkali-kali dalam hidupnya, baik secara sengaja maupun tidak. Lidahnya sudah terlatih untuk mencecap racun.
Namun detik berikutnya, sesuatu terasa aneh. Elizabeth merasa sesuatu yang panas mengalir. Tetapi bukan di tenggorokan, melainkan menjalar dari perut ke dada, seperti bara api yang dinyalakan perlahan. Elizabeth berhenti mengunyah. Jari-jarinya yang menggenggam garpu mengendur sedikit.
Ia mengangkat pandangannya, matanya yang tajam melihat wajah-wajah di hadapannya, mereka masih tersenyum. Tapi, senyum itu terasa lain di matanya. Ada kilatan puas di mata mereka, juga perasaan lega dan menang.
Elizabeth meletakkan garpunya perlahan. “Luar biasa,” gumamnya pelan. “Kalian memilih racun jenis ini.”
Pria dengan setelan rapi dan mata kecoklatan itu terkekeh kecil. “Kau selalu pintar dalam mengenali racun, Liz. Kami sama sekali tidak akan terkejut jika kau tahu niat kami di detik terakhir hidupmu. Bagaimana rasanya?”
Napas Elizabeth mulai terasa berat. Tubuhnya belum lumpuh. Tapi ia tahu, racun itu bekerja perlahan, mematikan sistem saraf satu per satu, membiarkan korban tetap sadar saat tubuhnya memilih berhenti patuh.
Tragis, ia justru akan mati oleh racun yang pernah ia gunakan sendiri untuk membunuh seseorang.
“Berapa lama kalian merencanakannya?” tanyanya tenang.
Pria berambut hitam di sampingnya, bersandar santai. “Sejak kami menyadari satu hal,” katanya datar dan dingin. “Saat kau tak bisa dikendalikan lagi. Kenapa kau bertanya? Kau merasa kesal karena sudah dikhianati? Kau tidak pernah menduganya, kan?”
Elizabeth tertawa kecil. Suaranya terdengar serak, tapi tetap memancarkan aura ketakutan. Ia melihat dengan jelas wajah-wajah itu. “Jadi … ini soal ketakutan kalian.”
“Ini soal bertahan hidup,” sahut seseorang dari ujung meja sambil menggeleng pelan. “Monster sepertimu akan menjadi ancaman yang berbahaya bagi kami. Jadi, daripada terus membiarkanmu, bukankah lebih baik membuatmu pergi ke neraka secepatnya?”
Elizabeth mulai merasakan tubuhnya kian melemah, rasa panas itu mulai berubah menjadi rasa nyeri yang tajam. Seperti pisau yang memotong organ tubuhnya dari dalam secara perlahan. Elizabeth menekan telapak tangannya ke meja, mencoba berdiri, namun gagal.
Kakinya tidak bergerak.
“Ah … tidak kusangka akhir hidupku akan menjadi seperti ini.” Elizabeth menggumam pelan, sambil mendengarkan tawa puas dari orang-orang itu.
Ia menghela napas pendek. Dadanya terasa sesak, bukan karena racun itu akan segera membunuhnya, melainkan karena kekecewaan.
“Ini sangat lucu,” katanya pelan, suaranya mulai bergetar. “Aku membunuh demi kalian. Membersihkan kekacauan yang kalian ciptakan. Dan inilah balasan yang kuterima.”
Tak ada yang menjawab. Mereka hanya menonton dan menikmati detik-detik kematian yang menyiksa Elizabeth.
Pandangan Elizabeth mulai kabur. Tapi pikirannya tetap tajam, ia akan mengingat wajah-wajah ini satu per satu. Mengukirnya dalam ingatan terakhirnya. Jika ia pergi ke neraka, Elizabeth berharap bisa menyeret mereka bersamanya ke alam baka.
Racun itu mulai mencapai paru-parunya. Napasnya terputus-putus. Bibirnya mulai terasa dingin dan membiru. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang menggema di ruangan sunyi.
Mereka kemudian berdiri dan mengelilingi Elizabeth dengan tersenyum puas. Kemudian, mereka sama-sama membungkukkan badan, seolah memberikan penghormatan terakhir, padahal hanya ingin menonton kematiannya.
“Selamat tinggal, Elizabeth.”
Elizabeth menatap mereka dengan sisa kesadarannya dan tersenyum. Senyuman terakhir yang penuh dendam.
“Ini semua belum selesai,” bisiknya lirih tak terdengar. Perlahan, matanya menutup bersamaan dengan napas terakhirnya.
Namun kematian tidak datang seperti yang pernah Elizabeth saksikan. Ia tidak pergi ke neraka seperti kisah-kisah yang sering dibacanya mengenai tempat mengerikan di mana ia harus menebus semua dosa-dosanya.
Ia hanya melihat kegelapan, tidak ada api yang berkobar, tidak ada jerit ketakutan, Elizabeth seolah terjebak di keheningan abadi yang menyiksa.
Kemudian, ia merasakan sensasi jatuh yang mengerikan, seolah-olah jiwanya telah diseret, ditarik paksa menembus lapisan demi lapisan kegelapan.
Suara-suara asing terdengar menggema. Disusul tangisan dan teriakan permohonan yang putus asa. Elizabeth merasakan kesakitan, namun rasa sakit yang berbeda dari sebelumnya.
Kemudian, Elizabeth tersentak, ia terbatuk keras, paru-parunya terasa terbakar oleh udara. Tubuhnya menegang, lalu menggeliat. Aroma lembab langsung memenuhi hidungnya, bau dinding tua, kain basah, dan sesuatu yang amis.
Ia membuka mata perlahan. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit reyot menyambutnya. Ada retakan panjang membelah cat kusam yang menguning. Lampu kecil di sudut ruangan berkedip-kedip, hampir mati.
“Ini bukan neraka, ini jauh lebih buruk,” bisik Elizabeth pada dirinya sendiri. “Di mana aku sebenarnya? Dan bagaimana aku bisa hidup kembali?”
Ia berusaha bangkit, tubuhnya terasa sangat ringan. Elizabeth mengangkat tangannya yang kecil dan tampak kurus. Kulitnya tampak pucat dengan bekas lebam samar yang banyak, hampir sekujur tubuh.
Dengan napas tercekat dan tubuh yang lemah, Elizabeth bangkit terseok dan melangkah ke arah cermin retak yang tergantung di dinding kusam itu. Pantulan wajah asing menatapnya balik. Mata coklat besar yang dipenuhi ketakutan. Pipi tirus dan bibir pecah-pecah. Pantulan yang dilihatnya adalah seorang gadis muda.
“Tidak,” bisiknya. “Tidak … ini bukan tubuhku.”
Kepalanya tiba-tiba terasa seperti dihantam palu. Ia terjatuh berlutut saat ingatan asing membanjiri pikirannya tanpa ampun. Elizabeth memegangi kepalanya yang terasa berdentum keras disertai rasa nyeri yang hebat.
Elijah berlari melewati lorong gelap dan pengap di tengah hujan besar. Dengan memeluk tubuhnya yang kecil, Elijah memegang erat bajunya yang robek-robek. Rasa sakit dan hina memeluknya erat. Ia menangis keras saat langkahnya menjauh dari bangunan megah mengerikan itu.
Elizabeth terengah-engah, mencengkeram lantai dingin. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan saat kilasan kenangan itu muncul di kepalanya tanpa permisi. “Apa yang sebenarnya ku alami? Mungkinkah aku terlahir kembali?”
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇