NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

istana baru dan debaran baru

Matahari pagi di Desa Aethelgard tidak pernah sedamai ini. Desa kecil yang terletak di lembah tersembunyi, tepat di titik di mana sihir cahaya dan kegelapan berbaur menjadi udara yang sejuk, kini menjadi saksi bisu transformasi terbesar dalam sejarah Benua Eternum. Mantan Raja Kegelapan yang paling ditakuti, Ferdi, kini tidak lagi memegang pedang Ebon-Slayer. Sebagai gantinya, tangannya yang kekar kini menggenggam palu kayu dan sekop besar.

Keringat bercucuran di pelipis Ferdi, membasahi kemeja linen kasarnya yang sudah compang-camping di bagian lengan. Sejak fajar menyingsing, ia sudah sibuk di halaman samping rumah kayu mereka. Suara hantaman kayu dan galian tanah menjadi musik pagi yang membangunkan burung-burung di sekitar sana.

"Sedikit lagi ke kiri... ya, di sini," gumam Ferdi pada dirinya sendiri.

Ia sedang mematok kayu-kayu jati untuk memperluas pagar yang mengelilingi rumah mereka. Bukan sembarang pagar, Ferdi membangunnya dengan ketelitian seorang arsitek istana. Baginya,

pagar ini adalah benteng suci. Di dalam perut Vani, ada sebuah kehidupan kecil yang sedang tumbuh—seorang ahli waris yang akan mewarisi cahaya ibunya dan bayangan ayahnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu merangkak sampai ke hutan, jagoan kecil,"

bisik Ferdi sambil menghujamkan patok kayu terakhir ke tanah dengan satu hantaman tangan kosong yang bertenaga.

"Hutan itu penuh serigala, dan meskipun ayahmu adalah raja iblis, aku tidak mau kau digigit kutu hutan sebelum bisa bicara."

Ferdi menyeka keringatnya, menatap ke sekeliling dengan bangga. Dalam waktu singkat, ia telah memperluas area peternakan ayam mereka menjadi dua kali lipat. Di sisi lain, sawah kecil mereka kini sudah membentang luas hingga ke pinggir sungai. Namun, proyek terbesarnya hari ini adalah kolam ikan. Ia ingin anaknya nanti bisa melihat ikan-ikan mas berenang di bawah pantulan sinar matahari tanpa harus pergi jauh ke danau besar.

"Ferdi! Demi para dewa yang sudah pensiun! Apa yang kau lakukan dengan kebun mawar kesayanganku?!"

Suara melengking itu memecah konsentrasi Ferdi. Tanpa menoleh pun, ia tahu siapa pemilik suara itu.

Ratu Cahayanya yang cerewet baru saja bangun.

Vani berjalan keluar dari pintu rumah kayu mereka dengan tangan berkacak pinggang.

Perutnya sudah mulai membuncit, membuat gaun rumahannya terasa agak sesak di bagian tengah. Meskipun sedang hamil, aura kepemimpinannya tidak hilang; hanya saja sekarang aura itu digunakan untuk mengomeli suaminya.

"Aku memperluas pagar, Sayang," jawab Ferdi dengan nada santai, sengaja memberikan senyum miring yang paling menyebalkan. "Kebun mawarmu tidak hilang, hanya sedikit... tergeser oleh calon kolam ikan anak kita."

"Tergeser?! Kau menimbun setengah tanaman lavendarku dengan tanah galian itu, Ferdi!"

Vani berjalan mendekat dengan langkah gusar, meskipun ia harus berhati-hati karena perutnya yang besar. "Kau ini benar-benar tidak bisa diam, ya? Kemarin kau merombak atap, lusa kau memperluas kandang ayam sampai ayam-ayam itu terlihat seperti pasukan infanteri, dan sekarang kau mau membuat danau buatan di depan pintu?"

Ferdi meletakkan sekopnya dan berjalan mendekati istrinya. Ia mencoba menyentuh pipi Vani, tapi Vani segera menepisnya dengan wajah cemberut.

"Jangan sentuh! Kau bau keringat, bau tanah, dan bau... entahlah, bau naga yang belum mandi!" omel Vani sambil menutup hidungnya. Namun, matanya tidak bisa berbohong. Ia menatap pagar yang mengelilingi rumah mereka dengan binar kagum yang tersembunyi.

"Pagar ini penting, Vani," ucap Ferdi, suaranya melembut. Ia berlutut di depan Vani, menyamakan tingginya dengan perut buncit istrinya. "Anak kita nanti akan sangat aktif. Aku tidak mau dia lari ke hutan atau terjatuh ke jurang saat kita lengah. Aku ingin dia punya dunia kecil yang aman di sini.

Besok, aku akan membuatkan taman kecil. Ada ayunan dari kayu cendana, kolam ikan dengan air pancuran, dan mungkin sebuah rumah pohon."

Vani terdiam. Amarahnya yang biasanya setinggi gunung mendadak lumer melihat binar di mata Ferdi. Ia tahu suaminya sedang menyalurkan seluruh insting "pelindungnya" ke rumah ini. Jika dulu Ferdi melindungi kerajaan dengan ketakutan, sekarang ia melindungi keluarganya dengan kerja keras.

"Kau berlebihan, Ferdi," bisik Vani, jemarinya perlahan mengelus rambut hitam suaminya yang berantakan. "Dia bahkan belum lahir, dan kau sudah membangunkan sebuah kerajaan kecil untuknya. Kau ingin dia menjadi anak yang manja?"

"Aku ingin dia menjadi anak yang bahagia," koreksi Ferdi. "Sesuatu yang tidak pernah didapatkan diriku saat dulu masih kecil."

Vani mendesah pelan, hatinya menghangat. "Ya, ya, Ayah yang sangat hebat. Tapi sekarang, berhenti bekerja sejenak! Aku lapar, dan anakmu ini sepertinya ingin makan buah-buahan segar."

Vani kemudian berjalan ke arah kebun mereka yang mulai rimbun. Dengan gerakan anggun, ia memetik beberapa buah pisang yang sudah menguning dan beberapa apel merah yang tampak sangat manis. Ia juga berjalan ke peternakan ayam di sisi rumah. Suara riuh ayam-ayam itu menyambutnya.

"Lihat ini, Ferdi! Ayam-ayammu sudah terlalu banyak! Kita tidak bisa memakan telur sebanyak ini!" seru Vani dari arah kandang.

"Jual saja ke pasar desa besok," sahut Ferdi sambil mulai meratakan tanah untuk taman.

Vani mengambil beberapa butir telur yang masih hangat, namun ia membiarkan sebagian besar lainnya tetap di bawah induknya. "Aku akan membiarkan yang ini menetas. Kasihan induknya jika semua anaknya kita jadikan sarapan."

"Kau terlalu lembut, Ratu Cahaya," ejek Ferdi dari jauh.

"Dan kau terlalu ambisius, Raja Bayangan!" balas Vani tak mau kalah.

Sore hari tiba dengan semburat warna jingga yang cantik di langit Aethelgard. Ferdi akhirnya meletakkan palunya. Pagar kayu yang mengelilingi seluruh area—mulai dari rumah, sawah,

peternakan, hingga kebun—telah selesai berdiri dengan kokoh. Area peternakan kini jauh lebih luas, memberikan ruang bagi ayam dan kambing mereka untuk berlarian.

Ferdi berdiri di tengah halaman, memandangi hasil kerjanya dengan napas terengah. Besok masih ada pekerjaan besar: kolam ikan dan taman bermain. Ia ingin semuanya sempurna sebelum bulan depan, saat sang bayi diperkirakan lahir.

Dengan langkah gontai karena lelah, Ferdi berjalan menuju pintu rumah. Namun, tepat di ambang pintu, sosok Vani sudah berdiri menghalanginya. Vani memegang sebuah kain lap dan ember air.

"Eits! Mau ke mana kau, Tuan Tanah?" tanya Vani dengan nada menginterogasi.

"Masuk, Sayang. Aku lapar. Bau masakanmu sampai ke luar dan perutku sudah protes," jawab Ferdi mencoba menerobos masuk.

Vani mendorong dada Ferdi dengan telapak tangannya. "Tidak boleh! Lihat dirimu! Kau penuh lumpur, baju itu baunya seperti kotoran ayam, dan wajahmu sudah seperti tambang batu bara. Mandi di sumur belakang sekarang juga!"

"Vani, ayolah... aku lelah sekali. Hanya makan sebentar, lalu aku mandi," bujuk Ferdi dengan wajah memelas yang dibuat-buat.

"Tidak ada negosiasi! Mandi atau kau tidur di kandang ayam malam ini!" Vani berkacak pinggang, hidungnya kembang kempis menahan bau badan Ferdi yang memang sangat "maskulin" namun menyengat. "Kau mau anak kita mencium bau seperti ini? Dia bisa pingsan di dalam sana!"

Ferdi memutar bola matanya. "Kau selalu saja punya alasan untuk mengomel. Baik, aku mandi. Tapi kau harus menjamin makan malamnya luar biasa."

"Makan malamnya sudah siap di meja! Ada sup jagung manis dan ayam panggang . Tapi semua itu tidak akan menyentuh lidahmu kalau kau belum wangi!" Vani mengibaskan tangannya, mengusir Ferdi pergi.

Ferdi berjalan menuju sumur belakang sambil menggerutu pelan, "Dulu orang bersujud saat aku lewat, sekarang aku diusir dari rumah sendiri karena bau ayam. Takdir benar-benar suka bercanda."

"Aku mendengarmu, Ferdi!" teriak Vani dari dalam rumah.

Ferdi terkekeh. Meskipun diomeli habis-habisan, ia merasa sangat puas. Ia mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang dingin, membersihkan sisa-sisa tanah dan debu perjuangannya hari ini.

Saat ia menyiram kepalanya, ia menatap rumah kayu mereka yang semakin terlihat seperti istana kecil yang hangat.

Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, Ferdi masuk ke rumah. Aroma harum masakan Vani langsung menyambutnya. Di atas meja kayu yang juga dibuat oleh tangan Ferdi, berbagai hidangan sudah tersaji. Vani sedang menata piring dengan teliti.

Ferdi mendekat dari belakang dan tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang Vani,

menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Lepaskan, Ferdi! Aku sedang memegang piring panas!" omel Vani, tapi ia tidak memberontak. Ia justru menyandarkan kepalanya sedikit ke arah Ferdi. "Bau apa ini? Tumben kau pakai sabun aroma pinus yang kuberikan?"

"Agar istriku yang cerewet ini berhenti mengomel," bisik Ferdi. "Bagaimana? Rumah kita makin bagus, kan?"

Vani menghela napas, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan pagar kokoh dan area sawah yang luas di bawah cahaya senja. Senyum tulus muncul di wajahnya. "Iya. Bagus sekali. Kau benar-benar bekerja keras hari ini. Terima kasih, Ferdi."

Ferdi tertegun. "Tunggu, apa aku tidak salah dengar? Ratu Vani baru saja mengucapkan terima kasih tanpa embel-embel omelan?"

Vani langsung mencubit perut Ferdi. "Jangan merusak suasana! Makan saja supmu sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu tidur di luar!"

Ferdi tertawa, ia menarik kursi dan mulai makan dengan lahap. Di tengah makan malam itu, mereka mulai merencanakan hari esok.

"Besok kolam ikannya jangan terlalu dalam," ujar Vani sambil mengunyah apel. "Dan tamannya, aku mau ada bunga matahari di sudutnya. Anak kita butuh cahaya."

"Tentu," sahut Ferdi. "Dan aku akan membuatkan pagar kecil di sekeliling kolamnya juga. Keselamatan nomor satu."

"Dan jangan lupa perbaiki atap gudang, aku dengar ada bunyi tikus di sana," tambah Vani lagi, memulai rentetan tugas barunya.

Ferdi hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ia tahu, omelan Vani adalah bensin bagi semangatnya. Di desa terpencil ini, mereka mungkin bukan lagi raja dan ratu, tapi mereka sedang membangun sesuatu yang jauh lebih abadi daripada sebuah kekaisaran: sebuah rumah yang penuh dengan cinta, tawa, dan tentu saja, adu mulut yang tidak pernah berakhir.

"Ferdi," panggil Vani saat mereka selesai makan.

"Ya?"

"Aku senang kita di sini. Jauh dari peperangan. Jauh dari takhta." Vani menggenggam tangan Ferdi di atas meja.

Ferdi membalas genggaman itu, merasakan kehangatan yang dulu hanya ia mimpikan. "Aku juga, Vani. Ternyata, membuat kolam ikan jauh lebih memuaskan daripada menaklukkan sebuah kota."

Vani terkekeh. "Tentu saja. Karena di kota yang kau taklukkan, tidak ada aku yang mengomelimu setiap hari."

"Benar sekali," sahut Ferdi. "Dan itulah kemenangan terbesarku."

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!