NovelToon NovelToon
This Is? Another World?

This Is? Another World?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Akademi Sihir / Fantasi Isekai
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Raphiel-Viel

Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.9 Sendiri Melawan Ilusi (Ely perspektif)

Aku duduk di batu besar di tepi sungai, punggung masih agak pegal setelah lari tadi. Kabut sudah mulai menipis, tapi malam tetap dingin. Air sungai mengalir pelan di depanku, suaranya seperti bisikan yang terus-menerus. Aku menggosok tangan yang terasa kaku. Telapak tangan dingin meskipun sudah kuselipkan ke dalam selimut. Aku menatap Nyx yang berdiri beberapa langkah di depan.

Dia tidak bergerak. Tubuhnya tegak, tapi matanya tertutup. Ekornya melengkung tinggi, ujungnya bergetar kecil. Telinganya berdiri tegak, seolah menangkap suara yang tidak ada di sekitar kami. Aku ingin bertanya apa yang dia dengar, tapi aku diam saja. Napasku sudah mulai teratur, tapi dada masih terasa berat. Bukan karena lelah lari. Lebih karena aku tahu sesuatu sedang terjadi.

Nyx tiba-tiba membuka mata. Cahaya perak samar di pupilnya berkedip sekali. Ia menoleh ke arahku. Wajahnya tenang, tapi ada kerutan kecil di dahi.

“Kak Ely,” katanya pelan. “Ada yang datang. Bukan orang. Bukan monster biasa. Ini… ilusi. Dari masa lalu.”

Aku langsung berdiri. Lutut terasa sedikit kaku, tapi aku abaikan. Tangan kanan menyentuh gagang katana. “Di mana?”

Nyx menggeleng pelan. “Tidak di sini. Di dalam kepalaku. Mereka mencoba masuk lewat pikiran. Mereka tahu aku sudah mengambil sebagian kekuatan. Mereka ingin mematahkan aku sebelum aku bisa menggunakannya sepenuhnya.”

Aku melangkah mendekat. “Kita lawan bersama. Kau tidak perlu sendirian.”

Nyx mengangkat tangan kiri. Telapak tangannya menghadap ke arahku. “Tidak, Kak Ely. Ini harus aku sendiri. Jika kau ikut masuk, ilusi itu akan menggunakanmu. Mereka tahu kau adalah kelemahanku.”

Aku terdiam. Dada terasa lebih berat. Aku ingin bilang bahwa aku tidak akan membiarkan dia sendirian. Tapi aku tahu dia benar. Aku pernah melihat Nyx ketika trauma masa lalu muncul. Matanya kosong. Tubuhnya gemetar. Jika ilusi itu menggunakan wajah Mama, Papa, atau Kakaknya, aku mungkin akan jadi beban.

Aku mengangguk pelan. “Baik. Aku di sini. Jika kau butuh aku, panggil saja.”

Nyx tersenyum kecil. Senyum yang lemah tapi tulus. “Terima kasih, Kak Ely. Aku akan kembali.”

Ia menutup mata lagi. Tubuhnya tetap tegak. Ekornya melengkung lebih tinggi. Telinganya bergerak kecil. Aku mundur beberapa langkah. Aku duduk kembali di batu besar. Tangan masih memegang gagang katana. Aku menatapnya tanpa berkedip.

Waktu berlalu pelan. Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin sepuluh menit. Mungkin setengah jam. Bara api di belakangku sudah hampir padam. Aku tidak berani menambah ranting. Aku takut suara kecil itu mengganggu. Aku hanya duduk diam. Menunggu. Dada terasa sesak. Napas terasa berat.

Tiba-tiba Nyx membuka mata. Matanya tidak lagi kuning keemasan biasa. Pupilnya melebar. Cahaya perak di dalamnya berkedip cepat. Tubuhnya gemetar kecil. Ekornya melengkung kaku. Telinganya merunduk ke belakang.

Aku bangkit. “Nyx?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan. Matanya kosong. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada di sini. Aku ingin maju. Tapi aku ingat kata-katanya tadi. Ini harus dia sendiri.

Nyx mengangkat tangan kanan. Telapak tangannya terbuka. Cahaya perak muncul lagi. Tapi kali ini tidak stabil. Cahaya itu berkedip-kedip. Seperti sedang berjuang. Nyx menggigit bibir bawah. Keringat mulai muncul di dahi. Ia menarik napas dalam-dalam. Dada naik-turun cepat.

Aku melihat bibirnya bergerak. Ia berbisik sesuatu. Aku tidak bisa mendengar jelas. Tapi aku tahu itu nama-nama. Mama. Papa. Kakak. Aku merasakan dada terasa lebih sesak. Aku ingin memeluknya. Tapi aku tetap berdiri di tempat.

Nyx menutup mata lagi. Tubuhnya gemetar lebih keras. Ekornya melengkung kaku. Telinganya merunduk sepenuhnya. Aku melihat tangan kirinya mengepal. Jari-jarinya memutih karena terlalu kuat mencengkeram.

Cahaya perak di telapak tangan kanannya membesar. Tapi tidak stabil. Ia berkedip cepat. Seperti sedang dipaksa keluar. Nyx menggigit bibir lebih keras. Aku melihat darah kecil mengalir dari sudut bibirnya. Ia tidak peduli. Ia terus berbisik. Suaranya semakin pelan. Tapi semakin jelas di telingaku.

“Mama… Papa… Kakak… kalian sudah pergi. Kalian tidak ada lagi di sini. Kalian… sudah aman.”

Suara Nyx pecah di akhir kalimat. Aku merasakan mata terasa panas. Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Aku tidak menangis. Hanya lelah. Dan sedih. Dan marah pada apa pun yang sedang menyiksa dia di dalam kepalanya.

Nyx tiba-tiba membuka mata. Pupilnya kembali normal. Cahaya perak di matanya meredup. Tubuhnya berhenti gemetar. Ekornya melengkung pelan lagi. Telinganya berdiri tegak. Ia menarik napas dalam-dalam. Dada naik-turun pelan.

Ia menoleh ke arahku. Matanya basah. Tapi tidak ada air mata yang jatuh. Ia tersenyum kecil.

“Aku… berhasil,” katanya pelan. “Aku melihat mereka. Mama, Papa, Kakak. Mereka muncul di depanku. Mereka bilang aku harus mati supaya mereka bisa hidup lagi. Aku hampir percaya. Tapi aku ingat kata-kata Kak Ely. Aku ingat kau menunggu di luar. Aku ingat kita janji bareng.”

Aku melangkah mendekat. Aku ingin memeluknya. Tapi aku berhenti di depannya. Aku hanya mengangguk pelan.

“Kau kuat, Nyx. Kau selalu kuat.”

Nyx mengangguk kecil. Ia menyeka sudut bibir yang berdarah dengan punggung tangan. Darah itu sudah kering. Ia menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar sedikit.

“Night Whisper… bukan hanya mendengar. Bukan hanya melihat. Ia juga bisa berbicara. Aku berbicara pada ilusi itu. Aku bilang bahwa aku tidak akan mati. Bahwa aku akan hidup. Bahwa aku akan menjaga cahaya yang Mama tinggalkan. Ilusi itu mulai memudar. Mereka menghilang. Tapi aku tahu… mereka akan datang lagi. Lebih kuat. Lebih nyata.”

Aku mengangguk pelan. Aku menggosok lengan. Dingin malam masih ada. Tapi sekarang terasa lebih ringan.

“Kita akan hadapi bersama,” kataku. “Kau tidak sendirian lagi.”

Nyx tersenyum kecil. Ia melangkah mendekat. Ia memelukku pelan. Tubuhnya yang sekarang lebih tinggi membuat kepalanya bersandar di bahuku. Aku memeluknya balik. Tangan kananku mengusap punggungnya secara pelan.

“Terima kasih, Kak Ely,” bisiknya. “Karena kau menunggu.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya memeluknya lebih erat. Dada terasa hangat. Bukan karena selimut. Bukan karena api unggun. Karena Nyx kembali. Karena dia berhasil melawan sendiri.

Kami berdiri di tepi sungai itu beberapa saat. Air mengalir pelan. Kabut semakin menipis. Angin malam menyentuh wajah. Dingin. Tapi tidak lagi menyiksa.

Aku melepaskan pelukan pelan. Aku menatap matanya. Cahaya perak samar masih ada di pupilnya. Tapi sekarang terasa lebih tenang.

“Kita lanjut,” kataku. “Kita harus sampai ke desa kecil itu sebelum pagi.”

Nyx mengangguk. Ia menggenggam tanganku lagi. Tangan yang lebih panjang dan lebih hangat.

Kami berjalan menyusuri tepi sungai. Langkah kami pelan. Tidak buru-buru. Malam masih panjang. Tapi kali ini, aku tahu kami tidak lagi lari dari masa lalu.

Kami berjalan menuju masa depan.

Dan Night Whisper yang pertama sudah menjadi bagian dari kami.

1
Wahyuningsih
q mampir thor
Raphiel-Viell: Iyah, makasih
total 1 replies
Raphiel-Viell
Mohon dikoreksi jika ada penulisan yg kurang Rapih dan kurang tepat
Bern
Menarik ya dengan berbeda perspektif gini
Nana
Gaya penulisan nya agak kaki, tapi it's okay sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!