Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 PULANG
Pintu ruang rawat itu terbuka. Aryo berdiri di ambangnya. Tangannya gemetar. Lututnya lemas. Kakinya yang pincang hampir tak mampu menopang badan.
40 hari.
40 hari ia tak lihat wajah itu. Tak dengar suara itu. Tak rasakan hangat pelukan itu.
Di dalam, Dewi duduk di kursi plastik. Membelakangi pintu. Rambutnya kusut. Bahunya turun naik. Menangis? Atau cuma lelah?
Di ranjang, Risma terbaring. Kecil. Sangat kecil. Selang infus masih menempel di tangan mungilnya.
Aryo mau melangkah. Tapi kakinya tak bisa bergerak. Mulutnya kaku.
"Ri..."
Suara itu keluar. Serak. Parau. Seperti orang habis teriak di padang pasir.
Dewi menoleh.
Matanya membelalak. Tubuhnya membeku. Lalu...
"MAS!"
Dewi bangkit. Berlari. Tersandung kursi. Jatuh. Bangkit lagi. Lalu ia sudah di pelukan Aryo.
Tangisnya pecah. Pecah sejadi-jadinya.
"MAS! MAS! MAS!"
Ia pukul-pukul dada Aryo. Lemah. Tapi keras.
"KAMU DI MANA AJA! 40 HARI! 40 HARI NGGAK ADA KABAR! AKU KIRA... AKU KIRA KAMU..."
"Maaf, Ri... maaf..."
Aryo nangis. Nangis di pelukan istrinya. 40 hari ia tahan air mata. Di rumah sakit, sendirian, dengan luka di kepala, dengan kaki patah, dengan ingatan yang hilang. 40 hari ia berjuang buat ingat. Buat pulang.
Sekarang, ia sudah pulang.
"Maaf, Ri... aku kecelakaan... truknya oleng... aku koma... seminggu nggak sadar... pas sadar, aku lupa semuanya... lupa nama, lupa alamat, lupa kamu..."
Dewi angkat muka. Matanya bengkak. "Lupa aku?"
"Iya. Aku lupa semua. Tapi setiap malam, aku mimpi. Mimpi seorang wanita. Dan bayi kecil. Mereka manggil-manggil. 'Mas... pulang...' 'Bapak... pulang...'"
Air mata Dewi makin deras.
"Dan aku ingat, Ri. Perlahan. Aku ingat kamu. Aku ingat Risma. Aku ingat rumah kita."
Mereka berpelukan lagi. Kencang. Seperti tak mau lepas.
Dari ranjang, suara kecil. Risma nangis.
Aryo lepas pelukan. Berjalan pincang ke ranjang. Ia lihat anaknya. Risma kurus. Sangat kurus. Lebih kurus dari 40 hari lalu. Matanya cekung. Tulang pipinya jelas.
"Nak... Nak... Bapak pulang..."
Aryo gendong Risma. Tubuh anaknya ringan. Terlalu ringan. Seperti gendong kapas.
Risma nangis. Tapi tangisnya lemah. Seperti kucing kehilangan induk.
"Udah, Nak... udah... Bapak di sini... Bapak nggak akan pergi lagi..."
Risma tenang. Perlahan. Matanya terbuka. Menatap Aryo. Lama.
Aryo tersenyum. Meski air matanya jatuh.
"Bapak sayang kamu, Nak. Bapak sayang banget."
Risma diam. Tapi tangannya bergerak. Meraih wajah Aryo. Menyentuh pipinya. Lembut.
Dewi lihat itu. Nangis lagi. Tapi kali ini nangis bahagia.
Mereka bertiga duduk. Aryo di kursi, Dewi di sampingnya, Risma di gendongan Aryo.
"Ri, cerita. 40 hari ini gimana?"
Dewi tarik napas. Panjang. "Berat, Mas. Berat banget."
"Aku tahu. Cerita."
Dewi cerita. Tentang jualan gorengan sambil gendong Risma. Tentang warga yang gunjing. Tentang stigma. Tentang Risma kejang dua kali. Tentang Bu Satinah yang bantu. Tentang rumah sakit. Tentang uang yang habis. Tentang sendirian.
Aryo dengar. Tangannya mengepal. Dadanya sesak.
"Maaf, Ri... maaf... aku nggak di sini waktu kamu butuh..."
"Udah, Mas. Yang penting kamu pulang."
"Risma? Sakit apa?"
"Infeksi paru. Kata dokter, karena daya tahan tubuhnya lemah. Harus kontrol rutin."
Aryo pandangi Risma. "Kita akan jagain dia, Ri. Bersama-sama."
Dewi mengangguk. Lalu bertanya, "Mas, kamu sakit apa? Kaki kamu?"
Aryo lihat kakinya. Masih pincang. "Kaki patah. Waktu kecelakaan. Udah dioperasi. Tapi masih pincang. Mungkin selamanya."
Dewi pegang tangannya. "Nggak apa-apa, Mas. Yang penting kamu hidup."
"Kepala juga luka. Di sini." Aryo tunjuk pelipisnya. Ada bekas jahitan. Masih merah.
Dewi usap pelan. "Sakit?"
"Udah sembuh. Tapi kadang pusing."
Mereka diam. Saling pandang. Lalu tertawa. Tertawa kecil. Di ruang rawat rumah sakit. Di tengah semua keterbatasan. Mereka masih bisa tertawa.
Seorang suster masuk. "Bu, administrasi."
Dewi bangkit. Ikut suster ke luar.
Aryo tinggal dengan Risma. Ia gendong anaknya. Jalan pelan-pelan keliling ruangan.
"Nak, Bapak janji. Bapak nggak akan pergi lagi. Bapak akan jagain kamu. Sampai kamu gede. Sampai kamu bisa jalan. Sampai kamu bisa ngomong."
Risma diam. Tapi matanya mengikuti Aryo.
"Bapak tahu kamu bisa denger. Bapak tahu kamu ngerti. Makasih ya, Nak, udah jagain Ibu. Makasih udah kuat."
Dewi masuk. Wajahnya pucat.
"Mas..."
Aryo lihat. "Ada apa, Ri?"
Dewi pegang tangannya. "Mas, biaya rumah sakit Risma 1,2 juta. BPJS cover setengah. Sisanya 600 ribu harus bayar."
Aryo diam. 600 ribu. Ia nggak punya uang.
"Terus, Mas... kontrakan... kita nunggak 2 bulan. Harus bayar 1 juta atau keluar."
Aryo masih diam.
"Total 1,6 juta, Mas. Kita nggak punya."
Aryo tarik napas. "Ri, aku... aku nggak tahu harus gimana."
Dewi nangis. "Mas, kita gimana? Pulang ke mana? Risma butuh istirahat."
Aryo pegang tangannya. "Tenang, Ri. Kita cari jalan."
"Jalan apa, Mas? Kita udah nggak punya apa-apa."
Dari luar, suara langkah. Seseorang masuk. Bu Satinah.
"Pak! Bu!"
Dewi kaget. "Bu Satinah? Kok ke sini lagi?"
Bu Satinah tersenyum. "Saya dapat kabar Pak Aryo pulang. Langsung ke sini."
Ia lihat Aryo. "Pak, syukur Bapak selamat."
Aryo tersenyum. "Makasih, Bu. Makasih udah bantu Dewi."
Bu Satinah mengeluarkan amplop. "Ini, Pak. Dari warga. Lagi-lagi kumpulan. Buat bayar rumah sakit."
Aryo terima amplop. Dibuka. Isinya 1 juta.
"Bu... ini..."
"Masih kurang? Saya usahakan lagi."
Aryo geleng. "Cukup, Bu. Makasih banyak."
Bu Satinah pegang tangannya. "Pak, jangan menyerah. Warga itu kadang suka gosip. Tapi mereka juga punya hati."
Aryo nangis. Nangis di depan Bu Satinah.
Mereka bayar rumah sakit. Sisa 400 ribu buat bayar kontrakan.
Pulang naik angkutan desa. Aryo, Dewi, Risma. Berdesakan di kursi belakang.
Sepanjang jalan, Aryo diam. Ia lihat kampungnya. Sawah, rumah-rumah, orang-orang. Semua sama. Tapi hidupnya berubah total.
Sampai di kontrakan, ia buka pintu. Kamar 3x4. Dinding triplek. Lantai semen. Bau apek. Tapi ini rumah mereka.
Dewi atur barang. Risma ditaruh di dipan. Aryo duduk di kursi plastik.
"Ri, kita mulai lagi dari nol."
Dewi tersenyum. "Iya, Mas. Bareng-bareng."
Malam itu, mereka makan malam. Nasi putih, sambal, dan gorengan sisa jualan Dewi. Sederhana. Tapi mereka makan bersama. Risma di tengah.
"Nak, kita makan ya," kata Aryo. Ia suapi Risma. Pelan. Sabar.
Risma makan. Sedikit. Tapi cukup.
Selesai makan, mereka tidur. Berdesakan di dipan kecil. Risma di tengah.
Aryo pegang tangan Dewi. Dewi pegang tangan Risma.
"Mas, kita bisa kan?" bisik Dewi.
"Bisa, Ri. Kita pasti bisa."
Dari luar, suara jangkrik. Malam tenang. Untuk pertama kalinya setelah 40 hari, mereka tidur nyenyak.
Tapi pagi harinya, pintu digedor keras.
"PAK ARYO! BUKA!"
Aryo bangun. Buka pintu. Seorang pria berdiri di sana. Setelan rapi. Wajah dingin.
"Pak Aryo? Saya dari bank. Bapak punya utang 5 juta. Ini surat peringatan terakhir. Minggu depan harus lunas. Kalau tidak, kami sita jaminan."
Aryo pucat. "Tapi saya nggak punya jaminan. Rumah ini kontrakan."
Pria itu tersenyum sinis. "Tapi Bapak punya istri. Punya anak. Itu bisa jadi jaminan."
Aryo kaget. "MAKSUD ANDA?"
Pria itu pergi. Meninggalkan surat. Aryo baca. Utang 5 juta plus bunga 2 juta. Total 7 juta. Jatuh tempo 7 hari.
Dewi keluar. "Mas, gimana?"
Aryo diam. Surat itu jatuh dari tangannya.
Dari dalam, Risma nangis. Nangis keras.
Aryo masuk. Gendong Risma. Anaknya nangis. Mungkin lapar. Mungkin takut. Mungkin tahu, hidup mereka lagi-lagi terancam.
"Udah, Nak... udah... Bapak di sini..."
Tapi air matanya sendiri jatuh. Jatuh di pipi Risma.
Hidup mereka baru mulai lagi. Tapi ancaman sudah datang.
7 hari. 7 juta.
Dari mana?
Tuhan... masih adakah jalan?
[BERSAMBUNG]