NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#1

Musim hujan tiba. Udara di desa saat itu semakin lah dingin. Jika musim kemarau saja udaranya memang sudah sejuk, bagaimana denga musim hujan.

Kabut menyelimuti permukiman warga sampai jarak pandang pun terbatas. Bahkan saat bernafas pun kita akan merasakan bagaimana kabut terasa sesak masuk ke dalam rongga hidung.

Bekas hujan semalam masih menyisakan gerimis tipis.

“Jangan lupa bawa payungnya.”

“Iya, Mah.”

Nunung, seorang ibu rumah tangga sudah sejak pagi disibukkan dengan mempersiapkan sarapan untuk keluarga. Ada anak pertamanya yaitu Ayunda Maharani. Anak keduanya, Inggit Putra dan suaminya Muhamad Mulhat yang akrab dipanggil pak Mul.

“Kalian berangkat lebih awal saja. Masih hujan biar bapak nganternya sekalian saja.”

“Tapi anter aku dulu, nanti telat.”

“Aku dulu lah, kan jarak ke sekolah aku lebih deket.” Inggit tidak mau kalah. Jarak ke SMP inggit memang lebih dekat ketimbang SMA tempat Ayunda sekolah. Hanya saja arah mereka memang berbeda.

“Udah, kalian cepet aja sarapannya habiskan. Setelah itu kita berangkat maka tidak akan kesiangan. Kalau berantem terus sih udah pasti telat.”

Inggit dan Ayunda saling melotot satu sama lain.

“Mah, tolong ambilkan kunci mobil.”

“Iya, Pak.”

Meski tinggal di desa, hidup pak Mul memang berkecukupan. Dia adalah salah satu orang terkaya di kecamatan. Memang tidak terlalu kaya. Mungkin jika di kota mobil pajero Pak Mul akan dibilang kendaraan OKB (orang kaya baru). Namun, di desa kendaraan itu memang sudah sangat mewah.

“Aaahhhh, kenapa ke sekolah dia dulu sih, Pak?” Ayunda merajuk saat mobil berbelok menuju arah sekolah Inggitt.

“Bapak udah itung, kalian berdua tidak akan terlambat.”

Meski begitu, Ayunda tetap merasa kesal. Bukan karena takut terlambat.

Setelah mengantar Inggit, pak Mul segera memutar arah menuju sekolah putri sulungnya.

“Nah, gak telat kan?”

“Iya, nggak.”

Setelah menyalami tangan ayahnya, Ayunda segera turun dan berlari menuju gerbang sekolah.

“Kenapa harus lari sih, padahal jam masuk masih lama. Bahkan masih terhitung sepi, belum banyak anak yang masuk.” Pak Mul hanya geleng-geleng kepala saat melihat putrinya mengangkat rok tinggi-tinggi dan berlari begitu kncnga seolah dia kebelet ingin buang hajat.

Sesampainya di kelas dua sahabat Ayunda sudah menunggu.

“Lama bener datangnya. Kita udah nunggu dari tadi.”

“Sorry, aku tadi nganter Inggit dulu. Yuk, keburu yang lain pada datang.”

Ayunda mengajak Nisa dan Reni ke belakang. Di sana ada kebun mangga milik pak haji. Mangga kiojay berwarna merah terlihat sangat menggoda untuk dibiarkan begitu saja.

Tubuhnya memang tidak tinggi, tapi ayunda sangat handal dalam memanjat pohon. Dia memanjat sementara kedua teman nya menunggu di bawah.

“Hati-hati, Yun. Licin itu pohonnya,” teriak Nisa dari bawah.

“Jangan berisik, kehed! Nanti kedengeran sama pak hajinya.”

Dengan hati-hati dan sangat penuh perhitungan, ayunda memanjat pada dahan demi dahan hingga dia ada di atas.

“Siapa itu!” Teriak seseorang dari kejauhan sana yang tidak lain adalah pemilik kebun tersebut.

“Ahhhh sialan! Kenapa ketahuan pas baru aja hampir berhasil,” keluh ayunda. Tidak ingin ketahuan Dan dilaporkan pada pihak sekolah, dengan berat hati dia segera turun dan kembali ke arena sekolah.

“Yahhh, gagal.”

“Kamu sih teriak-teriak, jadi kedengeran sama orangnya.” Reni menyalahkan Nisa.

“Ya kan aku khawatir sama Ayunda.”

“Apa yang perlu dikhawatirkan? Dia itu kalau manjat pohon udah kayak monyet lincahnya.”

“Sialan!” Ayunda memukul bahu temannya.

Misi hari ini gagal, artinya acara rujakan mereka pas istrihat nanti pun gagal. Padahal mereka sudah membawa peralatan sesuai undian kemarin.

Ayunda membawa cobek, Nisa membawa ulekan dan cabai. Sementara Reni membawa garam, pisau dan gula.

Seperti kata pepatah. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jika hari ini gagal, tidak dengan esok hari. Mereka berhasil mengambil bahan rujakan tapi kali ini bukan mangga melainkan jambu kristal. Pun dengan hari berikutnya mereka kembali berhasil.

Sayangnya, dalam usaha menuju kesuksesan ada hal yang harus dikorbankan. Jidat, misalnya.

Ayunda berhasil mengambil buah mangga mengkal dari kebun pak haji, meski saat turun dia terjerembab hingga keningnya mengenai tanah sampai benjol dan memar.

Ponsel ayunda bergetar.

“Kakak di depan. Kalau udah selesai kelasnya langsung pulang jangan kelayapan ke kebun orang dulu.”

Aaarghhhhhh

Ayunda menjerit histeris hingga teman-teman kelasnya menoleh karena kaget.

“Apaan sih berisik banget!” Reni menyenggol sikut ayunda.

“Tidak, tidak. Kaca mana kaca?”

“Kaca? Itu di saku baju kamu apaan?”

Ayunda langsung mengambil kaca kecil yang ada di saku bajunya. Dia melihat kondisi keningnya yang memar dan benjol.

“Bahaya ini bahaya. Bagaimana bisa aku bertemu dengan dia dalam keadaan wajah amburadul kayak gini?”

“Muka kamu emang kapan bagusnya?” Ledek Reni.

Ayunda mencucu. Dia mengambil tisu basah milik Nisa lalu menempelkannya di luka bekas jatuh tadi.

Bel pun berbunyi.

Ayunda masih sibuk merapikan pakaiannya, bercermin entah yang ke berapa kalinya.

Ponsel kembali bergetar.

“Tinggal nih lama-lama.”

Mendapat pesan dari pujaan hatinya, ayunda mengangkat rok tinggi-tinggi dan langsung melesat pergi menuju depan sekolah.

“Anjayyyyy ayank gue,” ujarnya histeris sambil terus berlari menghampiri sang pujaan hati.

Brukkkkkk!

Ayunda berhamburan ke dalam pelukan Zayan. Pria tinggi itu mendorong kepala ayunda agar menjauh dari tubuhnya.

“Apa lagi ini? Kamu nyolong apa hari ini?”

“Jambu air. Kakak kapan datang? Kenapa gak kasih kabar? Tiba-tiba banget jemput aku. Mana kening aku penyok. Aku kan harus tampil cantik di depan calon suami.”

Zayan memalingkan wajah sambil menyunggingkan bibir atasnya.

“Mau ke mana? Ajak aku jajan ya? Seblak? Bakso? Batagor? Cilok? Apapaun itu asal sama kakak aku mau.”

“Berisik banget sih nih bocah. Pakai helm, kita ke rumah aku.”

“Ah, ke rumah? Ini aku mau dikenalin sama calon mertua apa gimana?”

“Kan kamu emang udah kenal, elah bocah.”

Ayunda nyengir kuda.

“Ayo naik.” Zayan yang sudah terlebih dahulu naik motor, mengulurkan tangannya untuk membentuk ayunda naik.

“Ya Allah, romantisnya abang gojek satu ini.”

“Buruan ah! Lagian punya badan kok cebol amat.”

“Tapi lucu kan?” Ayunda menggoda.

Zayan hanya diam sambil memegang tangan ayunda agar tidak terjatuh.

”Pegangan.”

“Pasti itu mah.” Ayunda memeluk erat tubuh Zayan. Bahkan Zayan merasa sesak karenanya.

“Ini gue lama-lama mati kehabisan nafas. Longgaron dikit napa.”

“Hehehe. Iya, sayang.”

“Merinding sebadan-badan gue dengernya.”

“Kenapa? Tersentuh ya.”

“Pala lo tersentuh. Udah lah, ayo kita jalan. Mama udah masak makanan kesukaan kamu. Kita makan siang di rumah.”

Ayunda mengangguk cepat. Dalam perjalanan gadis itu tidak berhenti berceloteh. Seperi tidak kehabisan ide, ada saja yang dia bahas. Serunya ayunda saat bercerita adalah ekspresi nya yang sangat mewakilkan isi cerita.

Zayan tersenyum tipis saat melihat wajah lucu ayunda dari spion motor.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!