SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 - Kilas balik, Bayi tabung
Sejak mengetahui Galuh istri sirinya Isan, kesehatan papa mertuanya menurun, penyakit jantung membuatnya tak bisa bertahan akibat syok putranya sudah menyakiti gadis sebaik Andina.
Masih dalam suasana duka menyelimuti, Isan terang-terangan membawa Galuh ke rumah mereka, rumah yang papa mertuanya hadiahkan atas pernikahannya.
"Mulai hari ini tinggal di rumah ini, dia juga berhak berada di atas yang sama sama kita karena dia istriku juga."
"Kamu memelihara pelakor Mas, dan yang membuatku tak menyangka gundikmu itu ternyata anak dari wanita kedua bapakku."
Deg.
"Bohong! Justru kamu anak wanita kedua itu. Kamu dan ibumu sama-sama perusak hubungan orang!" balas Galuh.
"Lalu apa bedanya dengan kamu? Kamu juga perusak hubungan orang. Mana ada wanita baik-baik mau jadi istri kedua? Apa namanya kalau bukan gundik, pelakor, murahan. Tampilanmu syar'i tapi kelakuan iblis!"
"Kamu!" Galuh tersulut emosi.
"CUKUP! Kalian berdua diam! Kamu Andina, jangan banyak bicarakan jika masih ingin tinggal disini. Aku akan memfasilitasi semua kehidupan kamu dan anakmu asalkan diam tidak mengusik Galuh!"
Sejak saat itu, kehidupan Andina makin tidak baik-baik saja, tiada hari tanpa pertengkaran dengan Galuh dan selalu dia yang di salahkan bahkan mendapatkan kekerasan.
Rizki ingin membela tapi dia juga menjadi bahan amarah ketika menghalangi mereka melukai Andina. Bukan cuman dari Isan dan Galuh rasa sakit itu didapatkan, dari ibu mertuanya juga Andina rasakan. Terlebih mertua perempuannya terang-terangan mendukung Galuh dibandingkan dia. Galuh berhasil menghasut mereka untuk membencinya.
Hingga suatu hari, Isan datang kepadanya mengatakan keinginannya memiliki anak. Hal itu disetujui oleh mertua perempuannya dan Galuh dengan syarat menggunakan program bayi tabung karena mereka tidak mau Isan menyentuh Andina wanita murahan, hanya mentingin anaknya saja.
Ya, program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF) adalah metode yang memungkinkan terjadinya kehamilan tanpa hubungan seksual (penetrasi). Proses ini merupakan solusi medis bagi pasangan yang mengalami masalah kesuburan.
Tapi bagi keluarga Isan, program bayi tabung adalah sebuah pilihan dimana mereka tidak mau Isan menyentuh wanita lain dan ini atas permintaan Galuh yang enggan hamil karena takut badannya berubah gemuk.
Untuk prosesnya, prosedur bayi tabung dilakukan seluruhnya di luar tubuh melalui beberapa tahapan. Sel telur (ovum) diambil dari indung telur wanita dan sp3rma diambil dari pria, biasanya melalui masturbasi atau prosedur medis lain jika diperlukan.
Pembuahan di Laboratorium, Sel telur dan sp3rma dipertemukan dan dibuahi dalam cawan petri di laboratorium, bukan di dalam tuba falopi wanita. Setelah pembuahan berhasil dan terbentuk embrio, embrio tersebut akan ditanamkan ke dalam rahim wanita.
Poin pentingnya tidak ada bubungan badan, Seluruh proses pembuahan dan penanaman embrio dilakukan melalui prosedur medis tanpa memerlukan hubungan badan.
Meskipun tidak ada hubungan s3ksual, proses ini tetap membutuhkan sel sp3rma dan sel telur yang berasal dari pasangan suami istri yang sah, sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Indonesia yang membolehkan jenis ini karena menjaga kejelasan nasab.
Selain bayi tabung, ada juga metode lain seperti inseminasi buatan (Intrauterine Insemination/IUI) yang juga memungkinkan kehamilan tanpa penetrasi s3ksual, di mana sp3rma dimasukkan langsung ke dalam rahim menggunakan kateter.
"Aku harus hamil? Lalu gunanya Galuh apa jika anakku akan kalian bawa? Dia istrimu kan? Kenapa harus aku? Aku gak mau!" Andina menolak hamil setelah tahu alasannya, anak itu nantinya akan diambil darinya dan dia gak mau pisah sama anaknya.
"Mau tidak mau kamu harus mau, Andina. Kamu harus mencetak anak anak untukku!" kata Isan seraya menyeret paksa Andina membawanya ke rumah sakit.
"Enggak! Aku gak mau!" pekik Andina berontak.
Plak!
Lagi-lagi kekerasan Andina dapatkan jika ia menolak ataupun melawan.
"Om jahat! Lepaskan kakak ku!" pekik Rizki keluar dari persembunyiannya tak peduli sama permintaan Andina untuk tetap diam.
Anak laki-laki itu mendorong kuat Isan lalu menggigit tangannya.
"Aakhhhh!"
"Rizki jangan!" Andina mencoba berdiri namun Isan lebih dulu mendorong Rizki.
Bruk.
"Anak sialan! Kalian berdua sialan! Kalian harus di hukum!" Tanpa rasa kasihan Isan melepaskan ikat pinggangnya.
Mata Andina terbelalak dan segera memeluk Rizki.
Plak!
Satu cambukan mendarat ke tubuh Andina. Gadis itu meringis sakit melindungi adiknya, menangis tanpa suara.
"Kakak hiks hiks." Rizki mengeratkan pelukannya menangis dalam dekapan Andina, dia benci mereka semua, dia benci orang-orang yang sudah menyakiti kakaknya.
Plak!
"Kakak sudah bilang jangan keluar apapun yang terjadi."
"Isan, cukup!" Galuh memekik berlari menahan tangan Isan, ia syok pria itu begitu kasar melebihi bayangannya.
"Dia harus nurut sama aku, Galuh. Kalau kamu tidak nurut anak harammu itu yang akan mendapatkan akibatnya!"
"Iya, aku mau!" seru Andina mengalah, memilih kebaikan adiknya, dia gak mau Rizki menjadi korban kekerasan.
Andina terpaksa harus mengikuti program bayi tabung kalau menolak adiknya di jahati. Selama hamil, Andina dan Rizki sedikit aman dari kekerasan meski harus tinggal di bagian belakang rumah dan Andina juga mendapatkan perhatian Isan.
Apa pernah Andina berniat kabur? Jawabannya pernah, sayangnya Isan berhasil menemukannya dan makin menjadi murka.
Hingga suatu hari di usia kandungannya 7 bulan, Galuh membuat ulah di saat Andina hendak menuangkan air hangat ke dalam cangkir, perutnya terasa mual maka dia ingin minum air hangat.
"Woi gundik, buatin aku sarapan, dong!"
Andina tidak mendengarkan.
"Woi! Kamu tuli, hah! Dasar gundik!"
"Ibumu dan kamu yang gundik, Galuh!" sentak Andina kesal.
"Jangan nuduh ibuku, jelas-jelas ibumu sudah merebut bapakku dan dia meninggalkan kita berdua demi gundik seperti kalian!" Asal muka Galuh tidak menyukai keluarga Andina karena merasa mereka penyebab ibunya menderita.
"Heh, ternyata ibu dan anak sama-sama gila! Sama-sama jadi pelakor syar'i, sama-sama tukang membalikan fakta. Dulu ibumu menjadi penyebab goyahnya rumahtangga orangtuaku, untungnya bapak memilih ibuku saat tahu kamu bukan anak kandungnya, bibit murahan dan pelakor ternyata turun dari ibunya, gundik gak tahu malu!"
Galuh tidak terima, ibunya selalu bilang mereka penyebab dia dan ibunya menderita, merebut bapaknya dan menanamkan kebencian terhadap Andina dan keluarganya.
Galuh menarik tangan Andina mendorongnya kasar. "Gue benci elo, Andina! Elo dan ibu Lo menjadi penyebab ibu gue bunuh diri!"
Andina tidak menghiraukan sebab sakit begitu terasa di bagian perutnya.
"Kakak!" Rizki baru pulang sekolah, dia memang di daftarkan sekolah oleh mertua laki-laki Andina.
Langkahnya berlari berjongkok di hadapannya Andina.
"Sa-sakit, Ki. Perut kakak sakit."
"Halah, drama," ucap Galuh melenggang pergi dari dapur membiarkan Andina merintih kesakitan.
"Kak, kita ke rumah sakit, Iki bantu."
"Hubungi Mas Isan, Ki. To-tolong."
Di balik pintu menuju dapur. "Tidak akan ku biarkan kamu merebut perhatian Isan lagi."