Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
"Sampai besok, Hana!" seru Arabelle kepada manajernya begitu jam kerjanya di kedai kopi lokal itu berakhir.
"Sampai besok, Arabelle! Hati-hati di jalan!" balas Hana dari balik meja kasir dengan senyum lebar.
Arabelle meraih tas kecilnya dan segera pulang. Dua puluh menit perjalanan dan itu pun sudah termasuk berkah, mengingat kemacetan sore hari yang selalu berhasil menguji kesabarannya.
"Hei, sayang," sambut ibunya dari dapur, langsung memeluk Arabelle begitu ia masuk.
"Hei, Ayah," ucap Arabelle kepada sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu.
"Gimana tadi kerjanya?" tanya ayahnya.
Arabelle mengangkat bahu sambil sedikit menggelengkan kepala. "Biasa aja. Pelanggannya ada yang menyenangkan, ada yang bikin sebel. Ramai juga tadi. Tapi ya udah, sudah terbiasa."
Ayahnya tertawa kecil. "Ya sudah, istirahat sana. Pasti capek."
Arabelle mengangguk, lalu naik ke kamarnya. Ia meletakkan tas di atas meja, mengambil piyama pendek dari lemari, dan melangkah masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran air hangat, ia memutar musik pop kegemarannya, Bruno Mars dan Lady Gaga menemaninya sampai selesai.
Setelah mandi, ia mengoleskan lotion beraroma vanila ke seluruh tubuh, berpakaian, lalu merapikan rambutnya yang kini mulai tumbuh sedikit lebih panjang dari biasanya.
Tiba-tiba, suara ribut terdengar dari bawah.
"Sekarang! Bayar sekarang!"
Arabelle mengernyit. Suara itu asing, bukan suara siapapun yang ia kenal. Ia menyambar sandal bulu-bulunya dan menuruni tangga dengan cepat.
"Ayah? Ibu? Ada apa?" tanyanya begitu tiba di ruang tamu.
Pandangannya langsung jatuh pada seorang pria yang berdiri di depan pintu. Arabelle berhenti sejenak. Pria itu tinggi, sangat tinggi. Matanya berwarna cokelat madu, rambutnya cokelat gelap, dan di balik kemeja lengan panjangnya yang terkancing rapi, lekuk otot-ototnya terlihat jelas. Kalau boleh jujur, ia memang tampan. Sangat tampan, malah.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Masuk lagi saja," kata ayahnya, tetapi nada suaranya sedikit tegang.
Arabelle tidak beranjak. "Siapa kamu?" tanyanya langsung kepada pria itu.
Pria itu menatapnya dengan ekspresi setengah terkejut, setengah geli. "Kamu benar-benar tidak tahu?"
Kenapa harus tahu? Arabelle menatap balik tanpa gentar.
Ayahnya menghela napas panjang. "Ini Lorenzo Devereaux. Di dunia bawah, orang-orang mengenalnya sebagai Damon. Dia pemilik klub tempat Ayah bekerja sebagai manajer."
Arabelle terdiam. Lalu matanya membulat.
Damon?!
Nama itu sudah terlalu sering ia dengar di berita. Nama yang selalu disebut dalam bisik-bisik gelap, dalam kasus-kasus yang tak pernah tuntas di pengadilan.
"L-lalu... apa yang dia mau dari Ayah?" tanyanya, dan tanpa sadar suaranya sedikit gemetar.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," jawab ayahnya. "Ayah hanya punya tagihan yang belum bisa dibayar sekarang."
Saat itu, ibunya muncul sekilas dari dalam rumah, lalu kembali ke dalam karena Mila, adik kecil Arabelle, menangis.
Lorenzo atau Damon, sebutan yang terasa jauh lebih sesuai dengan caranya berdiri, dengan caranya menatap, hanya berdiri dengan tenang sambil tersenyum tipis. Senyum yang entah mengapa membuat Arabelle merasa lebih kesal daripada takut.
"Pergi dari sini," ucap Arabelle datar.
"Tidak mau," jawabnya santai, matanya bertemu dengan mata Arabelle tanpa berpaling.
Arabelle mengambil napas. "Berapa yang kurang? Aku punya tabungan untuk liburan, mungkin bisa--"
"Arabelle, jangan," potong ayahnya cepat. "Itu uang yang sudah kamu kumpulkan lama sekali. Jangan dipakai untuk ini."
"Ini bukan hal sepele, Ayah," balas Arabelle.
Lorenzo memandangi keduanya bergantian, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Satu bulan," katanya kepada ayah Arabelle. "Kamu punya waktu satu bulan."
Ayahnya mengangguk dengan lega.
"Kenapa kamu mau kasih waktu?" tanya Arabelle, kali ini dengan nada yang lebih tajam dari yang ia rencanakan.
Lorenzo meliriknya. "Karena aku mau."
"Kalau begitu, selamat tinggal," ucap Arabelle.
Lorenzo mengangkat satu jari dengan peringatan. "Satu minggu."
Hah?
Sebelum Arabelle sempat memprotes, ia menutup pintu tepat di depan wajah Lorenzo. Ia berdiri sejenak di balik pintu, menghela napas panjang.
Menyebalkan.
**
Malam itu Arabelle mengepang rambutnya, memasak telur ceplok dengan salad dan sayuran segar, lalu makan sendirian di meja dapur. Setelah itu ia duduk di sofa sambil menonton TV, sampai matanya terasa berat dan ia memutuskan untuk naik ke kamar. Begitu badannya menyentuh kasur dan selimut hangat menyelimutinya, ia tertidur nyenyak.
Keesokan paginya, hari Jumat, Arabelle terbangun tanpa bantuan alarm. Hari ini tidak ada jadwal kerja. Ia ke kamar mandi, sikat gigi, cuci muka, lalu merapikan kamar.
Sebuah pesan masuk dari Tori. Lalu dari Chloe. Lalu dari yang lain. Singkatnya, malam ini mereka sepakat untuk keluar bersama, ke sebuah klub.
Arabelle langsung semangat. Ia pergi ke mal, mampir ke beberapa toko, dan akhirnya menemukan gaun yang sempurna, potongannya pas, warnanya cocok. Ia membelinya tanpa berpikir dua kali, lalu berkeliling sebentar sebelum kembali ke rumah.
Sore hari berlalu dengan menyenangkan. Ia bermain dengan Mila dan menghabiskan waktu bersama Mochi, anjingnya yang berbulu cokelat lebat dan wajahnya yang selalu tampak menggemaskan.
Pukul tujuh malam, Arabelle mulai bersiap. Ia mandi cepat, memakai piyama sementara, lalu mengeringkan rambut dengan catokan. Riasannya ia jaga tetap natural, blush on tipis, maskara, lip color, sedikit eyeliner dan eyeshadow. Ia berdiri di depan cermin.
Sempurna.
Belakangan ini Arabelle mulai belajar hal yang perlahan mengubah cara ia melihat dirinya sendiri, bahwa tidak ada manusia yang tanpa cela, dan justru di situlah letak keunikannya. Ia sedang belajar mencintai apa yang dulu sering ia kritik. Dan malam ini, ia merasa itu berhasil.
Ia meraih tas selempang hitam berkilau, lalu memasukkan uang tunai, pengisi daya, lip color, dan beberapa keperluan lainnya ke dalamnya.
**
Mereka berangkat berenam. Arabelle bersama Dylan, sahabat laki-lakinya yang selalu tenang; Tori, sahabat perempuan terbaiknya yang sudah seperti saudara; Chloe, yang selalu tahu cara membuat suasana menjadi hidup; Nora, si ratu drama yang konyol tapi tak pernah membosankan; dan Cole, satu-satunya yang paling jujur pada dirinya sendiri di antara mereka semua. Cole baru saja putus dengan pacarnya yang berkhianat, tapi malam ini, ia datang dengan senyum paling lebar.
Club Oscuro berada di pusat kota. Begitu mereka masuk, aroma campuran alkohol, asap rokok, dan keramaian menyerbu hidung Arabelle. Lampu remang berwarna-warni berputar di atas lantai dansa yang penuh sesak.
Mereka duduk di bar dan memesan beberapa shot. Satu, dua, tiga, Arabelle sudah kehilangan hitungan. Mereka beranjak ke lantai dansa, bergerak mengikuti musik yang berdentum kencang sampai nafas mereka tersengal-sengal. Ketika kembali ke bar, Chloe memesan dua shot lagi dan keduanya langsung menghabiskannya.
Kepala Arabelle mulai terasa berputar. Ia tetap menari, semakin larut dalam musik, sampai ia menyadari ia sudah tidak bisa melihat Chloe maupun yang lain di sekitarnya.
Lalu seseorang bergerak mendekat.
Dalam kondisinya yang setengah sadar, Arabelle tidak terlalu peduli. Ia terus menari. Orang itu tidak menjauhinya, dan Arabelle pun tidak berusaha menjauh. Tangan itu kemudian mencengkeram pinggangnya dengan ringan, memutarnya.
Arabelle mendongak.
Matanya bertemu dengan mata cokelat madu yang tadi siang menatapnya dengan tatapan yang sama, tenang, terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya canggung.
Lorenzo.
Arabelle langsung mundur. Ia berbalik dan menerobos kerumunan menuju toilet. Begitu masuk ke dalam bilik, mual yang sudah lama ia tahan akhirnya menyerang. Ia berlutut di depan kloset, dan semua alkohol yang masuk malam itu seolah meminta jalan keluar sekaligus.
Terasa menyiksa.
Tapi yang lebih mengejutkannya, ia merasakan tangan seseorang mengangkat rambutnya dengan lembut.
"Arabelle, kamu baik-baik saja?"
Suara Lorenzo.
Arabelle tidak menjawab. Setelah selesai, ia berdiri, menyeka mulutnya, dan melangkah menjauh darinya tanpa sepatah kata.
Ketika ia keluar dari toilet, Lorenzo sudah ada di sana. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Arabelle sebelum ia sempat pergi.
"Aku yang antar kamu pulang," katanya.
"Tidak perlu. Aku naik taksi. Atau aku cari Tori dulu—"
Lorenzo tidak merespons. Ia berjalan, dan karena tangannya masih menggenggam pergelangan Arabelle, mau tidak mau Arabelle ikut.
Mobilnya terparkir tidak jauh dari pintu keluar. Hitam, bersih, dengan tampilan yang terasa terlalu mahal untuk seseorang yang baru saja ia minta pergi dari depan rumahnya.
Di dalam mobil, Lorenzo tidak banyak bicara. Arabelle pun tidak.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya akhirnya, matanya tidak lepas dari jalan.
"Ya. Kepala sedikit pusing. Sampai rumah nanti aku minum obat," jawab Arabelle singkat.
Lorenzo hanya mengangguk.
Sesampainya di depan rumah Arabelle, mobil itu berhenti. Arabelle membuka pintu.
"Selamat malam," ucapnya dengan nada yang lebih dingin dari yang ia niatkan, lalu menutup pintu.
Ia mendengar ban mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman ketika ia memutar kunci dan masuk ke dalam.
Di dapur, ia mengambil parasetamol dari laci dan meminumnya dengan segelas air. Lalu ia naik ke kamar, melepas gaun dan sepatu, dan masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Ia mandi, membersihkan riasan, lalu mengenakan piyama yang nyaman dan membiarkan rambutnya terurai.
Arabelle naik ke kasur, menarik selimut hingga ke dagu, dan menyalakan Netflix. Sebuah serial mulai berjalan di layar. Ia menontonnya sambil rebahan, dan sebelum episode pertama selesai, matanya sudah terpejam.