Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Nama yang Disembunyikan
Asap masih menggantung di udara Astra City ketika matahari mulai terbit. Cahaya pagi memantul di kaca gedung yang pecah, memperlihatkan betapa parahnya kerusakan akibat pertarungan semalam.
Raka berdiri di atas puing-puing beton, napasnya berat. Energi biru di tubuhnya sudah meredup, hanya menyisakan kilau tipis di matanya.
Kayla berjalan mendekat, wajahnya lelah tapi tegas.
“Kau tidak boleh terus memaksakan diri seperti itu, Raka.”
Raka tersenyum lemah.
“Kalau aku tidak memaksakan diri, mungkin setengah kota sudah jadi abu.”
Kayla menatapnya tajam.
“Jangan bercanda. Kau hampir kehilangan kendali tadi. Aku bisa merasakannya. Energi itu… hampir menelanmu.”
Raka menunduk.
“Aku tahu. Tapi setiap kali aku mencoba menahannya… rasanya seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Sesuatu yang lebih besar dari diriku.”
Dari belakang mereka, suara langkah sepatu berat terdengar.
“Kalian berdua seharusnya tidak berada di sini.”
Beberapa pria dan wanita berseragam hitam-perak berdiri di antara kabut debu. Lambang matahari menyala terpampang di dada mereka.
Kayla mengecilkan gravitasi di sekeliling tubuhnya, bersiap bertahan.
“Helios Guard…”
Pemimpin mereka maju satu langkah. Seorang pria berambut putih dengan tatapan dingin.
“Aku Komandan Arkan. Dan kau, Raka Mahendra… akhirnya kami menemukanmu.”
Raka mengerutkan kening.
“Menemukan? Aku tidak bersembunyi.”
Arkan tersenyum tipis.
“Kau bersembunyi sejak lahir.”
Angin pagi berhembus lebih kencang.
Kayla menatap Arkan dengan waspada.
“Apa maksudmu?”
Arkan mengangkat tablet holografik. Wajah seorang bayi muncul di udara, dengan mata biru samar bercahaya.
“Dua belas tahun lalu, dalam Proyek Astralis, seorang bayi terdeteksi memiliki frekuensi energi kosmik yang tidak stabil. Bayi itu seharusnya tidak selamat.”
Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Jangan bilang itu aku…”
Arkan menatapnya lurus.
“Nama eksperimenmu bukan Raka Mahendra.”
Sunyi.
Kayla membeku.
“Eksperimen…?”
Arkan melanjutkan dengan nada datar.
“Nama aslimu adalah Subject A-01. Alpha Prime pertama.”
Raka mundur satu langkah.
“Itu tidak mungkin… orang tuaku—”
“Bukan orang tua kandungmu,” potong Arkan. “Mereka hanya keluarga pelindung. Kau dikeluarkan dari fasilitas Astralis malam sebelum laboratorium itu hancur.”
Kayla menoleh ke Raka, suaranya bergetar.
“Raka… kau tidak pernah bilang—”
“Aku tidak tahu!” bentak Raka. “Aku tidak pernah tahu!”
Energi biru mulai menyala lagi di tangannya.
Arkan mengangkat tangan, pasukannya bersiap.
“Kendalikan emosimu. Jika energimu melonjak lagi, kami akan dipaksa menahanmu.”
“Menahan?” Raka tertawa pahit. “Seperti eksperimen lagi?”
Tiba-tiba bayangan memanjang di belakang Helios.
Adrian muncul perlahan.
“Sepertinya Helios akhirnya menunjukkan wajah aslinya.”
Arkan menatap Adrian dingin.
“Eclipse tidak diundang.”
Adrian tersenyum samar.
“Kami tidak perlu undangan untuk menyaksikan kebohongan terungkap.”
Kayla menatap bergantian antara mereka.
“Berhenti! Satu kota hampir hancur dan kalian masih bermain rahasia?”
Arkan menatap Raka serius.
“Dengarkan aku. Energi dalam dirimu bukan hasil Gerhana Abadi. Kau membawa inti kosmik murni. Jika tidak dikendalikan, kau bisa merobek dimensi.”
Raka mengepalkan tangan.
“Jadi selama ini… aku bom berjalan?”
Arkan tidak menjawab.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Kayla melangkah di depan Raka.
“Kalau memang dia berbahaya, kenapa tidak kau hancurkan saja sejak dulu?”
Sunyi lagi.
Arkan akhirnya berbicara pelan.
“Karena dia satu-satunya harapan.”
Raka menatapnya tajam.
“Harapan untuk apa?”
Arkan menatap langit merah yang masih retak samar.
“Untuk melawan sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang bahkan Eclipse pun tidak tahu.”
Adrian menyeringai tipis.
“Oh, kami tahu. Dan itu sebabnya kalian takut.”
Raka merasakan dunia di sekelilingnya terasa sempit.
“Cukup!” teriaknya.
Ledakan energi biru meledak dari tubuhnya, membuat semua orang terdorong mundur.
Tanah retak.
Udara bergetar.
Kayla menahan dirinya dengan gravitasi, berteriak,
“Raka! Kendalikan!”
Raka terengah-engah.
“Aku muak! Kalian semua menyembunyikan sesuatu dariku! Aku bukan senjata! Aku bukan eksperimen!”
Arkan berdiri tegak meski terdorong beberapa meter.
“Kau benar. Kau bukan senjata.”
Ia menatap Raka dalam-dalam.
“Kau adalah kunci.”
Sunyi panjang.
Adrian mendekat sedikit, suaranya lebih lembut dari biasanya.
“Raka… apa pun yang mereka katakan, satu hal benar. Energi itu bukan kebetulan. Kau lahir untuk sesuatu yang lebih besar.”
Raka menatap tangannya yang masih bersinar biru.
“Aku tidak peduli tentang takdir… aku hanya ingin tahu siapa aku sebenarnya.”
Arkan menghela napas.
“Kalau begitu datanglah ke markas Helios. Kami akan menunjukkan semuanya. Data asli. Rekaman proyek Astralis. Kebenaran tentang malam kebakaran itu.”
Kayla menatap Raka ragu.
“Kita tidak tahu apakah ini jebakan.”
Adrian tersenyum tipis.
“Semua kebenaran adalah jebakan, tergantung siapa yang memegangnya.”
Raka mengangkat kepala perlahan.
“Baik. Aku akan datang.”
Kayla menatapnya kaget.
“Raka—”
“Aku harus tahu,” potongnya lembut. “Aku tidak bisa terus bertarung tanpa tahu siapa diriku.”
Arkan memberi isyarat pada pasukannya untuk mundur.
“Kami akan menunggu di Menara Helios. Tapi cepatlah memutuskan. Karena sesuatu yang lebih besar dari kita semua sedang bergerak.”
Helios pergi.
Debu kembali turun perlahan.
Kayla memandang Raka dengan campuran takut dan peduli.
“Kau yakin?”
Raka menatap langit merah.
“Aku tidak yakin tentang apa pun lagi.”
Adrian berdiri di sampingnya, bayangan bergerak pelan.
“Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Alpha Prime.”
Raka menoleh tajam.
“Jangan panggil aku itu.”
Adrian tersenyum tipis.
“Cepat atau lambat… kau akan menerima nama itu.”
Angin berhembus lebih dingin.
Di kejauhan, retakan di langit tampak sedikit melebar.
Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari—
Pertarungan semalam bukanlah ancaman terbesar.
Ancaman sesungguhnya… belum tiba.