NovelToon NovelToon
Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Keluarga Meninggalkanku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: richa dhian p.

Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri yang Dipertaruhkan

Aula pesta keluarga Hartono yang semula dipenuhi cahaya gemerlap kini berubah menjadi ruang penghakiman yang dingin. Musik telah dihentikan, para tamu berdiri dalam lingkaran tak kasatmata, menyaksikan drama yang lebih menarik daripada perayaan wisuda itu sendiri.

Reno masih merangkul Rhea yang sesenggukan di dadanya. Wajahnya merah padam oleh amarah.

" Aresha, tidak bisakah kamu, sedikit menyembunyikan hati jahatmu, ini bukan waktunya kau menjebak Rhea seperti empat tahun yang lalu." Bentak Reno sambil menenangkan Rhea yang sesegukan menangis, tangan Reno masih merangkul Rhea.

Kata-kata itu menggantung berat di udara. Empat tahun lalu. Luka yang belum pernah sembuh kini diseret kembali ke permukaan.

" Kamu masih tidak membiarkan Rhea pergi setelah, kamu di bebaskan dari penjara." Tambah Reno dengan nada tinggi.

Rhea tersenyum jahat melihat Reno mati - matian membelanya, namun senyum itu tersembunyi di balik wajah rapuhnya. Dia tetap diam di posisinya, bersandar lemah seolah tak sanggup berdiri sendiri.

"Ini petsa wisudanya." Reno masih membela adik kandungnya sementara Rhea masih terdiam di posisi.

Tatapan Aresha perlahan terangkat. Matanya tajam menatap Reno dengan penuh amarah, namun tak ada lagi teriakan. Amarahnya kini membeku menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya ketenangan.

Di sudut ruangan, bisikan para tamu mulai terdengar jelas.

"Pesta wisuda ini menjadi seperti ini, karna bekas narapidana ini." Bisik tamu wanita yang memegang minuman di tanganya.

"Iya , ya. Seharusnya  dia di tahan beberapa tahun lagi." Jawab tamu laki - laki di sebelahya.

Kata “bekas narapidana” terasa lebih menyakitkan daripada luka di lututnya. Aresha berusaha bangkit, telapak tangannya menekan lantai marmer yang dingin. Lututnya bergetar, tapi dia memaksa tubuhnya berdiri perlahan. Tatapannya tetap terarah pada Rhea yang masih berpura - pura sebagai korban.

"Ya, dia mempermalukan adiknya sendiri di depan tunangnya." Ucap tamu yang lain.

"Tapi Rhea menurutku juga salah, sebelumya Delon adalah tunagan kakaknya yang dia rebut." sahut tamu yang membele Aresha.

"Iya, aku setuju tidak mempungkiri kenyatanyaanya seperti itu, dia juga baru saja keluar dari penjara, pasti sangat sakit, melihat kenyataan seperti ini." Sahut tamu lainya.

Suara-suara itu bercampur, menjadi latar belakang yang memekakkan. Tidak ada satu pun dari keluarga Hartono yang menoleh padanya. Tidak ada tangan yang terulur membantu.

"Kakak, aku sangat malu bertemu dengan orang- orang, Hiks...hiks." Rengek Rhea, menyenderkan kepalanya kedada Reno.

Tangisnya terdengar menyayat, namun sudut bibirnya yang tersembunyi menyimpan kemenangan.

"Akankah Delon tidak menyukaiku?" Tanya Rhea masih berakting meneteskan airmanya.

Aresha menatap pemandangan itu dengan dada yang semakin sesak.

"Rhea, orang tuaku, kakak, dan tunanganku, kamu mengambil semuanya apapun miliku." Batin Aresha dia menatap semua keluarga yang berdiri di depannya. Tidak ada yang membantunya berdiri. Dia masih terjatuh di lantai yang dingin tadi, rasanya tetap seperti sendirian di tengah keramaian.

"Rhea tidak apa - apa , Delon selalu mencintaimu, dia tidak perduli dengan hal - hal kecil seperti ini." Ucap Mama sangat menghawatirkan putri kandungnya tanpa memikirkan perasaan Aresha.

Kalimat itu seperti vonis kedua.

"Delon, apakah yang dikatan mama benar?" Tanya Rhea menoleh kerah Delon.

Semua mata beralih pada Delon. Dia terdiam, rahangnya menegang. Untuk sesaat, dia tampak seperti pria yang terjebak di persimpangan takdir.

"Tentu saja itu benar." Sahut Reno memengang bahu Rhea menghadapkan kerahnya dengan lembut.

"Delon, kamu tunangan Rhea bagaimana menurutmu?" Tanya Reno menatap tajam Delon yang terdiam.

Tekanan itu nyata. Delon akhirnya bergerak. Dengan sigap ia menarik Rhea dengan lembut ke pelukannya sembari membenarkan jas untuk menutupi badan Rhea. Tindakan itu lebih keras daripada seribu kata penolakan bagi Aresha.

Arsha berusaha bangkit dengan sekuat tenaga, kakinya sangat sakit tapi dia tetap menahanya tidak ada tumpuan tidak ada bantuan yang datang untuknya.

"Aresha, minta maaf sama Rhea cepat!" Perintah Delon dengan nada tinggi.

Perintah itu memecahkan sesuatu yang tersisa di hati Aresha. Rhea menatap Aresha dengan senyum puas, senyum yang hanya bisa dilihat oleh orang yang menjadi sasarannya.

Di depan mereka, Aresha sudah bangkit dan berdiri. Punggungnya tegak, meski rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya.

"Aku tidak mendorongnya." Jawab Aresha dengan wajah tenang.

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan.

" Blak." Dari depan, Reno sudah mengepalkan tinjunya menuju Aresha, dan menghantam Aresha dengan keras. Suara pukulan itu terdengar jelas. Kepala Aresha terlempar ke samping, tubuhnya terhuyung menerima hantaman Reno yang sangat keras.

Beberapa tamu menjerit pelan. Namun tak seorang pun berani melangkah maju.

"Semua orang melihatnya, kamu masih berdebat dan tidak mengakuinya?" Bentak Reno tanpa rasa bersalah.

Darah terasa asin di sudut bibir Aresha. Ia mengangkat tangan menyentuh pipinya yang memanas, lalu menatap Reno tanpa ketakutan.

"Mintalah maaf pada Rhea sekarang." Tambah Reno dengan emosi.

Tatapan Aresha berubah semakin dalam.

"Bagaimana jika aku tidak mengakuinya?" Aresha dengan tenang menjawab Reno seakan dia tidak merasakan apapun.

Nada suaranya rendah, stabil, membuat beberapa tamu merinding.

"Tuan Reno apakah kamu akan memaksaku untuk berlutut?" Tambah Aresha dingin, sekan dia sudah tidak punya perasaan lagi.

Kalimat itu seperti tamparan balik. Reno terdiam sesaat, tak menyangka Aresha masih berani menantangnya.

Di pelukan Delon, Rhea tersenyum jahat melihat penderitaan Aresha. Senyum itu singkat, lalu kembali tersembunyi di balik wajah penuh air mata.

Aresha menunduk, menahan sakit bukan hanya di lututnya, bukan hanya di pipinya yang baru saja dihantam, tapi juga di hatinya yang seolah dihancurkan untuk kedua kalinya di tempat yang sama.

Namun kali ini berbeda.

Empat tahun lalu ia jatuh tanpa perlawanan.

Malam ini, meski sendirian di tengah keluarga dan dunia yang memusuhinya, Aresha berdiri dan di dalam tatapan dinginnya, tersimpan janji yang tak terucap bahwa semua ini belum berakhir.

Reno menatap Aresha dengan rahang mengeras. Aula terasa semakin pengap.

“Jangan menantangku, Aresha.” Suara Reno rendah namun mengandung ancaman.

“Kamu sudah cukup membuat malu keluarga ini.” Tambahnya.

“Malu? Sejak kapan keluarga ini peduli pada rasa maluku?” Aresha tertawa pelan, tawanya kosong tanpa sedikit pun kehangatan

“Cukup, hentikan semua ini! Kalian membuat tamu-tamu menonton kita!” Mama melangkah maju, wajahnya pucat.

“Jika ini terus berlanjut, reputasi keluarga Hartono bisa hancur malam ini.” Seorang tamu pria berjas abu-abu berbisik pelan pada rekannya,

“Aresha, berhentilah.” Delon akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih tegang dari sebelumnya.

“Tidak ada?” ulangnya lirih. “Lalu apa yang baru saja terjadi?” Tatapan Aresha beralih padanya.

Rhea semakin mempererat pelukan pada Delon.

“Kakak, aku benar-benar takut…” ucapnya pelan, namun cukup keras untuk terdengar oleh orang-orang di sekitar.

Beberapa tamu mulai mundur, sebagian mengeluarkan ponsel mereka diam-diam. Suasana pesta wisuda itu kini berubah sepenuhnya menjadi panggung pertikaian keluarga.

Dan di tengah lingkaran itu, Aresha berdiri sendirian terluka, namun tidak lagi tunduk.

***

1
Nina Erwina
saya suka.... tqpi gmn.kelanjutannya
sunflower
😭semangat kk thor
Trj Bader
baguss banget
Trj Bader
sukaa, pengen banget gampar muka Reno rasanyaa. sumpah kesel banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!