NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Rebirth For Love / Obsesi / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - Nama yang Gugur

Raka Mahardika baru menyadari ia mulai hancur ketika orang-orang tidak lagi menatapnya dengan kagum, melainkan dengan ragu.

Dia masuk ke sekretariat BEM seperti biasa kemeja rapi, langkah terukur. Namun percakapan terhenti sepersekian detik saat ia membuka pintu.

Bukan hening total. Lebih buruk dari itu. Bisik-bisik.

"Aku dengar dokumen itu dari akun Aluna."

"Katanya Raka tahu, tapi diem."

"Emang masih bisa dipercaya?"

Raka menutup pintu perlahan. Meletakkan tasnya di meja. "Pagi." Katanya.

Beberapa menjawab. Beberapa pura-pura sibuk.

Raka duduk. Membuka laptop. Tapi fokusnya buyar.

Dulu, satu anggukan saja darinya cukup untuk membuat keputusan berjalan. Sekarang, ia merasa seperti tamu di ruang yang pernah dia kuasai.

Aluna datang sepuluh menit kemudian. Biasanya, kehadirannya selalu, disambut kursi ditarikkan, senyum dilemparkan. Hari ini tidak.

Dia berhenti di ambang pintu. "Kenapa pada diam?" Tanyanya ringan, seolah tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang menjawab.

Aluna melirik Raka. Tatapan mereka bertemu. Raka tidak menghindar. Tapi juga tidak menyelamatkan. Aluna merasakan sesuatu runtuh di dadanya.

"Raka, bisa bicara sebentar?" Bisik Aluna akhirnya.

Raka mengangguk. Mereka keluar ke lorong. Begitu pintu tertutup, senyum Aluna runtuh.

"Kamu bilang apa ke dosen?" Tanyanya cepat.

"Aku bilang aku tidak tahu." Jawab Raka datar.

"Terus?"Aluna mengejar jawaban lain.

"Terus mereka temukan riwayat email."

Aluna menelan ludah. "Kamu nggak bela aku?"

"Apa yang mau aku bela?" Nada suara Raka tenang. Terlalu tenang.

"Kamu tahu aku cuma mau lindungi kita."

"Dengan nyeret Nadira?"

Nama itu membuat rahang Aluna mengeras. "Dia udah pergi, Raka. Harusnya selesai."

'Harusnya." Raka mengulang pelan. "Tapi kamu bikin ini jadi masalah baru."

Aluna tertawa pendek. Pahit. "Jadi sekarang aku yang salah?"

Raka menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, dia melihat Aluna bukan sebagai sosok yang selalu ia percaya. Melainkan seseorang yang terlalu jauh melangkah tanpa izin.

"Iya." Katanya akhirnya. "Kamu salah."

Aluna terdiam.

Sore itu, rapat darurat digelar. Nama Aluna disebut. Nama Raka ikut terseret.

"Ini bukan cuma soal dokumen." Kata ketua divisi lain. "Ini soal integritas."

"Ada kesan konflik kepentingan." Tambah yang lain.

Raka duduk diam. Biasanya, dia akan bicara. Mengarahkan. Menutup diskusi. Hari ini, suaranya terasa berat di tenggorokan.

"Aku bertanggung jawab." Ucap Raka akhirnya. "Sebagai koordinator."

Ruangan sunyi. Bukan karena kagum. Karena terkejut.

"Langkah konkret?" Tanya seseorang.

Raka menghela napas. "Aku siap mundur dari posisi strategis sementara."

Bisik-bisik kembali muncul. Aluna menatapnya dengan mata membesar.

Kamu gila? tatapannya seolah berteriak.

Tapi Raka tidak menoleh.

Nama Aluna resmi dicoret dari struktur inti malam itu. Tidak diumumkan secara besar-besaran. Tapi cukup jelas. Group chat sepi. Undangan rapat berhenti datang.

Aluna duduk di kamarnya, menatap layar ponsel yang tak berbunyi. Dia membuka chat Raka.

[Kamu serius ninggalin aku gini?]

Pesan terkirim.

Centang dua.

Tidak dibalas.

Aluna melempar ponsel ke kasur. "Ini salah Nadira." Gumamnya. Tapi bahkan ucapannya sendiri terdengar rapuh.

Di sisi lain kota, Nadira berdiri di depan gerbang kampus baru. Tidak besar. Tidak megah. Tapi suasananya berbeda. Lebih tenang...

Dia menarik napas panjang.

"Siap?" Tanya Salsa di sampingnya.

Nadira tersenyum kecil. "Kayaknya."

Mereka berjalan masuk.

Gedung riset berada di belakang fakultas utama. Tidak banyak mahasiswa lalu lalang. Mayoritas sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Nadira merasa... tidak diawasi.

Hari pertamanya di program magang berjalan tanpa kejutan besar. Briefing. Pembagian tugas. Diskusi ringan.

Dr. Arvin masuk ruangan sekitar pukul sepuluh.

"Selamat datang." Katanya ramah. "Anggap tempat ini ruang belajar, bukan ruang uji."

Nadira mengangguk.

Dia tidak merasa jantungnya berdegup aneh. Tidak merasa dunia berwarna merah muda.

Hanya nyaman.

Saat diskusi kelompok, Nadira menyampaikan pendapatnya. Tidak ragu. Tidak berlebihan.

"Argumen kamu menarik." Kata Dr. Arvin. "Pernah kepikiran lanjut ke riset kebijakan?"

Nadira berpikir sejenak. "Belum. Tapi saya terbuka."

Arvin tersenyum. "Bagus. Jangan tutup pintu terlalu cepat."

Tidak ada nada menggoda. Tidak ada tatapan berlebihan. Dan justru itu yang membuat Nadira tenang.

Sore hari, Nadira menerima pesan tak terduga.

Dari Raka.

[Aku dengar kamu pindah program. Selamat.]

Nadira membaca. Tidak langsung menutup. Tidak langsung membalas.

Salsa melirik. "Dari siapa?"

"Raka."

"Terus?"

Nadira mengetik pelan.

[Terima kasih.]

Dua kata. Tidak lebih. Tidak ada pintu yang dibuka kembali.

Raka membaca balasan itu berkali-kali.

[Terima kasih.]

Bukan dingin. Bukan hangat. Netral. Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Dia duduk di tangga gedung fakultas, menatap layar ponsel seperti menunggu keajaiban. Tidak ada pesan lanjutan.

Dia tertawa pelan. Menutup mata. "Kamu beneran pergi." Gumamnya.

Malam itu, Aluna muncul di depan kos Raka. Tanpa janji.

Raka membuka pintu dengan wajah lelah.

"Kamu ngapain ke sini?" Tanyanya.

"Aku butuh kamu." Kata Aluna cepat.

Raka mundur memberi jalan. Mereka duduk berhadapan.

"Aku kehilangan semuanya." Kata Aluna, suara bergetar. 'Orang-orang menjauh. Namaku rusak."

"Kamu bikin keputusan sendiri." Jawab Raka.

"Aku lakuin itu buat kamu!"

"Tidak." Potong Raka. "Kamu lakuin buat mengamankan posisimu."

Aluna terdiam.

Raka menatapnya lama. Ada rasa bersalah, tapi juga kelelahan yang menumpuk.

"Aku nggak bisa terus begini." Katanya pelan. "Aku juga lagi jatuh."

"Jadi kamu ninggalin aku?" Suara Aluna meninggi.

Raka menggeleng. "Aku berhenti menutup mata."

Kalimat itu mematahkan sesuatu di diri Aluna. Dia tertawa pendek. Hampir histeris.

"Lucu ya." Katanya. "Kamu baru sadar sekarang."

Raka tidak membalas.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Nama Raka tidak lagi disebut sebagai panutan. Lebih sering sebagai pelajaran. Aluna menghilang dari lingkaran inti. Masih ada di kampus, tapi tak lagi terlihat.

Dan Nadira? Ia sibuk. Diskusi. Bacaan. Kota baru yang perlahan dikenalnya.

Suatu sore, Dr. Arvin duduk di seberangnya di kantin kecil kampus.

"Kamu kelihatan lebih ringan." Katanya.

Nadira tersenyum. "Mungkin karena saya berhenti membawa beban yang bukan milik saya."

Arvin mengangguk. "Itu keputusan dewasa."

Hening sejenak.

"Pak Arvin." Kata Nadira. "Kalau suatu hari saya pergi ke luar kota untuk program ini, apa itu akan jadi masalah?"

"Tidak." Jawab Arvin cepat. "Saya akan mendukungmu."

Nadira terkejut.

"Kenapa?"

"Karena kamu layak berkembang." Katanya sederhana.

Tidak ada janji. Tidak ada harapan tersembunyi. Dan itu terasa... aman.

Malamnya, Nadira menulis di buku kecilnya. Bukan tentang Raka. Bukan tentang Aluna. Tentang dirinya...

Tentang hidup yang akhirnya bergerak maju tanpa harus melukai orang lain. Cukup dengan berhenti bertahan di tempat yang salah.

Di sisi lain kota, Raka menatap langit malam dari balkon kosnya.

Dia kehilangan banyak hal. Nama. Posisi. Kepercayaan. Dan yang paling menyakitkan... Dia kehilangan Nadira bukan karena dibalas dendam. Melainkan karena dia terlalu lama diam.

1
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
Ridwan01
Terima kasih kak author, ceritanya menarik dan banyak pembelajaran juga dari cerita para tokoh di novel ini 👍🙏☺️
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ini udah end emang?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ibu juga ah
total 2 replies
Nada She Embun
makasih Thor... terbaikk.. 😭
Erchapram: Terima kasih, mampir baca yg on going lainnya Kak. 🙏
total 1 replies
Nada She Embun
nadira sudah mulai hidup... 😍... bagi org yg mungkin sedang kalut... tak perlu banyak bicara.. cukup diam dan selalu di sisi nya... itu lebih menenangkan dari sebuah saran... 💜
Nada She Embun
penuh makna novel author nihh. 👍
Kostum Unik
Aku bosan bacanya kk othor.. Maaf ya. Awalnya sangat menarik tapi ini kok kyk baca sajak. Karakter2 nya terlalu kaku.. Tp balik lg ke selera pembaca yaa. /Smile/
Ridwan01
hidup kamu memang milik kamu Nadira, tapi kalau kamu keras kepala, hidup kedua kamu akan sia sia.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
Winer Win: sama loo..aku juga greget..egois banget..keras kepala..sok kuat sok bisa sendiri..🤭🤭
total 2 replies
Dwi Setyaningrum
Nadira diberi kesempatan utk hdp lg tp malah rasanya hidupnya beban berat dan dlm otaknya ga mau mati lg tp langkahnya justru sukses menyiksa diri sndr berujung kematian kalau ego nya ttp dipertahankan..critanya ini saking beratnya smpe komenku juga berat thor🤭🤭
Erchapram: Trauma mati 🤣🤣
total 1 replies
Nada She Embun
trauma nadira😔...
Nada She Embun
terkadang jujur akan d anggap munafik.. 😔
Nada She Embun
cara penulisan novel yg berbeda.. alur cerita yg sulit d tebak... kamu bisa merasakan isi hati tokoh.. dialog yg sedikit tapi bermakna.. terbaik Thor.. 😍
Nada She Embun
novel author yg satu ini.. 👍... benar2 berani mengambil alur yg berbeda dari kebanyakan novel... novel yg sulit d tebak alur nya...

lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...

kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Winda Widiastuti
maaf Thor ni cerita soal apa ya ko muter2 Mulu
Erchapram: Soal di kampus
total 1 replies
Ita rahmawati
ini cerita apa sih jujur aku tuh gk mudeng yg begini² tuh 😂
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Dew666
🌹🌹💎
Faziana
Jujur sebagai seorang introvert menghadapi intrik2 semacam kisah Othor dalam kehidupan real benar2 menguras energi, itu yg pernah saya rasakan🤭
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍
Erchapram: Terima kasih jika cerita ini menginspirasi untuk tetap kuat. 🙏💪👍
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Soraya
salut dgn bahasanya lanjut thor
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!